Demon Lord Reborn

Demon Lord Reborn
Chapter 15: Turnamen


“Yosh, semua persiapan telah selesai. Kuusahakan, misi ini tidak berlangsung lama, supaya kalian tidak bosan menetap di luar, kuharap kalian tetap selamat setelah aku kembali, ya!” Ucap Peace dengan menunjukkan wajah ramah lalu mulai melangkahkan kaki kirinya menjauh dari posisi Astaroth, Gram, Majhul dan Al'Aqwa.


“Jangan meremehkan kita, Peace! Kau kira kita selemah itu sampai-sampai mati sebelum kau kembali. Di sisi lain, kuucapkan selamat tinggal kepadamu, kuharap kau selamat sampai tujuan kita berakhir, yakni mengambil alih kerajaan Ular Cerdas kembali ke tangan kita!” Jawab Astaroth dengan penuh semangat.


“Lagipula, siapapun lawannya, mau itu Chronus ataupun Outsider lainnya, mereka akan kalah ditangan Ular Cerdas Petarung terkuat sepertiku. Bha ha ha ha ha ha ha ha! Tidak usah marah begitu, Al'Aqwa. Aku hanya bercanda, walaupun apa yang kukatakan adalah fakta. Bha ha ha ha ha ha!” Ucap Majhul sambil tertawa keras yang membuat Al'Aqwa kesal. Karena suaranya bisa mengundang musuh kemari, Astaroth melemparkan batu ke wajah Majhul untuk membuatnya diam.


Kembali ke Peace, dirinya telah sampai di depan gerbang kerajaan. Ia melihat-lihat sekitar karena merasa kagum kepada tembok batu yang menjulang tinggi sampai-sampai Peace tidak bisa melihat ujung dari tembok tersebut.


“Wah... Luar biasa... Tembok batu ini sangat tinggi dan kokoh... Untung saja kita tidak menggunakan strategi Artemis dan Break The Wall. Karena terbukti bahwa strategi itu tidak akan efektif jika digunakan sekarang.” Tutur Peace dengan kagum sambil terus melangkah ke arah gerbang.


“Hei, jangan melangkah sembarangan!” Ucap salah satu penjaga sambil melancarkan tombaknya ke wajah Peace dengan kecepatan yang lebih cepat dari suara. Namun dengan lihainya, Peace menggerakkan kepalanya ke kanan yang membuat serangan tombak tersebut meleset. Kemudian, Peace menarik tombak itu dengan kuat menggunakan tangan kirinya yang membuat sang penjaga terjatuh. Kini, tombak itu telah ada digenggaman Peace dan dengan kesal, Peace menodongkan tombak itu ke leher sang penjaga.


“Jangan menggangu, dasar serangga! Sadarilah posisimu sebagai mahkluk lemah yang takkan berkutik jika di hadapkan oleh sesosok Iblis.” Tiba-tiba mata Peace memerah, disertai oleh aura mengerikannya yang semakin membesar dan menguat. Bahkan, aura Peace berhasil membunuh salah satu penjaga setelah membesar dan menguat.


“A-Ampunilah aku! Saya akan membukakan gerbang untuk Anda dan berjanji untuk tidak memberitahukan kejadian ini kepada Tuan Chronus... S-Saya mengakui kesalahan saya barusan... Jadi, tolong maafkan kesalahan saya dan biarkan saya untuk terus hidup...” Ucap penjaga tersebut sambil berlutut di hadapan Peace.


“Baiklah, kumaafkan kau untuk kali ini. Kalau begitu, bukakan gerbang untukku, manusia.” Ujar Peace sambil menarik kembali tombaknya lalu dilempar sejauh mungkin. Perkataan Peace barusan langsung dituruti oleh sang penjaga, ia beranjak berdiri lalu berjalan ke arah gerbang kayu. Ia mendorong gerbang kayu yang menghalangi jalan Peace untuk masuk hingga terbuka.


“Ternyata masih banyak Ular Cerdas yang terperangkap di sini...” Ucap Peace setelah melihat puluhan Ular Cerdas yang sedang berlalu-lalang untuk melakukan tugasnya masing-masing. Di sisi lain, banyak juga pemain yang menetap di kerajaan Ular Cerdas untuk beristirahat. Kemudian, Peace mulai menginjakkan kaki kirinya ke gerbang kayu lalu berjalan seperti biasa entah ke mana.


“Hmm... Sebaiknya aku ke mana, ya? Meskipun iblis memiliki daya tahan yang tak terbatas dan tidak memerlukan tidur, makan apalagi minum, kurasa aku perlu istirahat disebuah penginapan. Ya... Tidur itu termasuk hobiku, sih. Setelah bangun, rasanya segar sekali.” Tutur Peace dengan lirih. Kemudian, ia berjalan ke sebuah penginapan yang ada di seberang jalan. Ia dorong pintu penginapan itu lalu masuk ke dalam dan menuju resepsionis.


“Ehm, saya... Memesan sebuah kamar dengan harga termurah... Hmm... Untuk pembayaran menggunakan apa, ya? Saya adalah pemain baru, jadi masih banyak hal yang belum saya ketahui.” Tanya Peace dengan terbata-bata kepada resepsionis yang adalah Ular Cerdas betina.


“Untuk kamar termurah masih tersedia dan untuk pembayaran bisa melalui kristal, kamar termurah sendiri seharga 1 buah kristal berwarna apapun.” Jawab Ular Cerdas betina yang membuat Peace menggagalkan rencanannya untuk beristirahat di penginapan. Pada akhirnya, Peace memutuskan untuk duduk saja dikursi yang telah disediakan.


Ketika Peace tengah melihat-lihat pemandangan di luar, dirinya didekati oleh sesosok pria berkulit putih dengan rambut pirang, mata biru, jas abu-abu, celana abu-abu dan alas kaki yang terbuat dari karet dan batu.


“Hei, kau membutuhkan kristal, 'kan? Jika iya, daftarlah ke turnamen yang baru saja diadakan oleh Tuan Chronus. Selain kristal, kita juga bisa mendapatkan surat undangan menuju istana dan bertemu Tuan Chronus jika memenangkannya. Kalau tertarik, saya atau yang biasa dipanggil Ananiel bisa mengantar Anda ke tempat pendaftaran. Bagaimana?” Tanya Ananiel sambil menarik kursi untuk duduk di sebelah Peace.


“Aura ini?! Apakah dia iblis? Turnamen, ya...? Jika menang kita bisa mendapatkan surat undangan menuju istana dan bertemu Tuan Chronus... Ya, hal ini dapat mempermudah untukku memanipulasi informasi yang diberikan Zombie dan mempermudah berbagai penyerangan yang akan terjadi! Emerald, apa yang terjadi jika penjagaan kerajaan diketatkan? Kuharap kau bisa menjawabnya.” Tanya Peace dari dalam hati.


[Ketika penjagaan diketatkan, pengecekan secara massif akan terjadi, dibarengi dengan pemasangan jebakan dibagian luar kerajaan. Dengan begini, tak ada seorangpun yang akan dibiarkan keluar maupun masuk.]


“Baiklah. Ananiel, aku tertarik dengan tawaranmu barusan. Jadi, antarkanlah aku ke tempat pendaftaran.” Ucap Peace dengan perasaan senang, karena merasa hal ini dapat mempermudah misinya.


“Baiklah, ikutilah saya dan jangan sampai tersesat. Para peserta turnamen juga akan senang kalau bertemu lawan yang menarik seperti Anda, Raja Iblis. Wajar jika saya bisa mengenali Anda dengan mudah, karena saya juga adalah sesosok iblis.” Jawab Ananiel sambil beranjak berdiri lalu berjalan keluar penginapan, diikuti oleh Peace dari belakang.


“Menarik... Walaupun aku bukan Raja Iblis lagi, sih. Di sisi lain, aku sedikit heran dengan orang-orang, mengapa mereka tidak merasakan auraku, ya? Apa mungkin auraku terlalu lemah hingga tak disadari orang-orang? Kurasa tidak begitu, sih.” Tutur Peace dari dalam hati.


Kini, mereka telah sampai ditempat pendaftaran turnamen. Tak lama kemudian, Ananiel langsung meninggalkan Peace untuk pergi ke suatu tempat, karena merasa misinya telah usai. Kini, yang harus Peace lakukan hanyalah mengantre di depan meja panitia untuk mendaftarkan dirinya sebagai peserta.


Bersambung...