Demon Lord Reborn

Demon Lord Reborn
Chapter 16: Peace vs Hel


Di bawah tanah, seorang wanita manusia berkulit putih dengan rambut hitam yang dikepang, berkacamata hitam, bermata biru dan berpakaian serba hitam naik ke atas panggung dengan anggun. Kemudian, ia berjalan mendekati mikrofon yang telah disediakan sebelumnya, ia berniat untuk mengumumkan para peserta di hadapan ribuan mata pengunjung.


“Selamat siang, semuanya! Saya Alice Sinarmoon akan mengumumkan nama-nama pemain yang ikut serta dalam turnamen berdarah ini beserta peraturannya. Peserta nomor 1 akan melawan peserta nomor 2 dan peserta nomor 3 akan melawan peserta nomor 4, hal ini terus berulang sampai peserta nomor 8. Ya, kalian benar. Dari banyaknya pendaftar, kami hanya menerima 8 peserta yang memiliki aura paling mengerikan, yakni peserta nomor 1, Siyah Peace. Peserta nomor 2, Hel. Peserta nomor 3, Esir. Peserta nomor 4, Freya. Peserta nomor 5, Judas Iscariot. Peserta nomor 6, Issac Neutron. Peserta nomor 7, Ares. Peserta nomor 8 atau yang terakhir, Aka Manah. Pertarungan akan dimulai tak lama lagi, yakni sejam lagi. Diharapkan para peserta untuk memanfaatkan waktu yang sebentar ini sebaik mungkin. Sekian pengumuman dari saya. Pesan saya untuk para peserta, semoga beruntung!” Ucap Alice sambil menatapi wajah Peace dengan raut muka serius.


“Gila... Mana bisa latihan selama sejam. Omong-omong, mengapa wanita itu menatapiku dengan begitu serius, ya? Mencurigakan sekali tingkah lakunya...” Ujar Peace dari dalam hati, ia pun menetapkan rasa curiga terhadap Alice karena wanita itu terus menatapi Peace dengan wajah yang serius.


Acara di bawah tanah pun berakhir dengan lancar, Peace beranjak berdiri dari kursinya lalu berjalan ke belakang panggung untuk bersiap-siap. Di sana, ia melihat Esir, Neutron dan Ares yang tengah berlatih dengan sungguh-sungguh. Karena penasaran dengan identitas para peserta, Peace bertanya kepada Emerald, “Emerald, aku perlu mengetahui identitas para peserta. Bisakah kau melakukannya?”


[Tentu saja saya bisa melakukannya, jangan pernah meragukan saya, ya! Mulai dari yang terkuat, yakni manusia laki-laki, Issac Neutron, levelnya 10.000 dengan julukan Aspiring Star. Kedua, Dewa Ares dengan level 5.000, ia dijuluki God of War. Ketiga, iblis laki-laki, Aka Manah dengan level 3.000, dirinya dijuluki Mind King. Keempat, Dewi Freya dengan level 1.000, ia dijuluki Dewi Ketakberuntungan. Kelima, manusia laki-laki, Judas Iscariot dengan level 500, ia tidak memiliki julukan. Keenam, iblis wanita, Hel dengan level 300, ia tidak memiliki julukan. Ketujuh atau yang terakhir, manusia laki-laki, Esir dengan level 100, ia juga tidak memiliki julukan. Sekian informasi dari saya, Tuan Peace.]


“Oh, baiklah, Emerald... Esir, Neutron dan Ares, kalian sangat menarik. Tubuh kalian bertiga besar dan kekar, nampak mengerikan jika dilihat... Namun, bagaimana denganku? Lawanku, Hel memiliki level yang terpaut jauh dariku. Satu-satunya cara untuk mengalahkannya... Bagaimana, ya? Sebelum pertandingan dimulai, sebaiknya aku bertanya terlebih dahulu kepada Emerald. Namun kini, aku harus fokus untuk berlatih terlebih dahulu.” Ucap Peace dari dalam hati. Ia melihat sebuah lemari dan rak yang diisi oleh senjata dan baju zirah, merasa ia memerlukannya, Peace menandai salah satu baju zirah dengan berkata kepada penjaga, “Kau, jangan sampai senjata dan baju zirah itu terambil oleh orang lain, karena aku akan menggunakannya dipertandingan pembuka.” Penjaga itu menjawab perkataan Peace dengan mengangguk.


Kemudian, Peace duduk di kursi yang telah disediakan untuk menyegarkan tubuhnya di sana. Diwaktu yang sama, Hel dan Aka Manah datang lewat jalan yang sama seperti Peace. Hel adalah wanita berambut hitam dengan tanduk hitam dan mata berwarna hitam. Ia mengenakan gaun yang juga berwarna hitam disertai alas kaki dari batu dan karet. Di sisi lain, Aka Manah adalah seorang pria kurus dengan rambut pendek berwarna hitam disertai mata berwarna hitamnya, gigi Aka Manah nampak sangat tajam dengan baju, celana dan sepatu berwarna hitam. Setiap melangkah, mereka berdua selalu mengeluarkan aura mengerikannya yang bahkan bisa membunuh seseorang.


Sejam berlalu, Peace telah bangun dari tidurnya dan mulai bersiap-siap sebelum pertandingan dimulai. Sementara itu, Hel nampak tidak memperdulikan apa pun, ia langsung berjalan ke arena tanpa melakukan persiapan. Merasa heran, Peace bertanya kepadanya sambil mengenakan baju zirah, “Mengapa kau tidak bersiap-siap? Nampaknya kau terlalu meremehkanku, Hel! Mungkin menurutmu aku bukanlah lawan yang istimewa. Namun bersiaplah, kau akan tunduk di hadapan yang terbaik!”


Peace merasa kesal dan mencoba untuk menyerang Hel dari belakang. Namun tiba-tiba, suara Issac membuatnya berhenti melakukan tindakan gegabah itu, Issac berkata, “Belajarlah dari tanah, tetap diam meski diinjak-injak. Tapi ada masanya tanah akan mengubur semua yang menginjaknya. Balas dendam terbaik adalah menjadikanmu lebih baik darinya.”


Pada akhirnya, Peace berhasil menahan amarahnya saat ini seraya berkata kepada Hel, “Kupendam amarahku ini dalam-dalam. Namun nanti, kaulah yang kukubur dalam-dalam.” Setelah mengenakan baju zirah, ia ambil sebuah tombak besi yang telah ditandainya untuk digunakan ketika pertandingan dimulai. Kemudian, ia berjalan naik ke atas tangga untuk pergi ke arena pertandingan, mengikuti Hel dari belakang.


Sesampainya mereka ke pintu masuk arena pertandingan, mereka berdua langsung disambut hangat oleh para penonton dengan meriah. Para penonton yang terdiri dari Ular Cerdas dan pemain memuji-muji Hel karena kecantikannya yang melebihi manusia. Sementara itu, para penonton malah menghina-hina Peace karena memiliki aura yang lebih lemah dari iblis wanita.


“Tch, menyebalkan... Lihat saja nanti, setelah pertandingan ini usai, kan kuberikan kalian pelajaran yang sangat berharga...” Ucap Peace dengan amarah yang semakin meluap-luap. Di sisi lain, Hel berkata dari dalam hati, “Setelah ratusan manusia telah kubunuh, mereka masih saja memuji kecantikanku ini.”


“Mari kita sambut pertandingan pembuka dengan meriah! Perbedaan level antara kedua peserta memang terbilang jauh, namun level bukanlah patokan dalam mencari siapakah pemenangnya. Level hanya menunjukkan kalau si Pemain lebih aktif dalam pemburuan Monster maupun Pemain lain. Kalau begitu, saya akan segera memulai pertandingan ini setelah kedua peserta berdiri diposisinya masing-masing.” Ucap Alice menggunakan mikrofon dari ruangan lain.


Peace pun berjalan ke bagian kiri arena. Sementara itu, Hel berjalan ke bagian kanan arena, membuat mereka berdua saling berdiri berhadap-hadapan dengan jarak sepanjang 10 meter. Merasa kedua peserta telah siap, Alice berkata, “Baiklah, kedua peserta telah siap untuk bertarung sekuat tenaga mereka. Peace menatap lawannya dengan penuh intimidasi dan Hel menanggapinya dengan santai. Bersiaplah semuanya! Pertandingan dimulai dalam hitungan... 3... 2... 1!” Kata Alice dengan semangat.