
“Apa-apaan itu? Heitari...? Sial... Jurus ini sangat mudah untuk dihindari! Berikanlah jurus terkuat kalian, dasar bodoh! Jurus seperti ini terlalu lemah bagiku. Hua ha ha ha ha ha ha!” Ucap Zombie dengan nada meremehkan. Disaat yang sama, Heitari sudah berada di hadapan Zombie, namun dengan mudahnya, ia menghindari Heitari. Ketika ia menghindar, Astaroth tak sengaja terjatuh dari kepala Zombie dan malah terhempas ke hadapan Heitari. Hal ini membuat Peace dan Gram panik ketakutan.
“Sialan! Aku akan mati! Tidak! Teman-teman, tolong aku...! Tidak, aku tidak boleh membuat mereka repot akan kesalahanku sendiri, aku harus mencari cara untuk bertahan hidup tanpa bantuan orang lain, aku tidak bisa terus-terusan seperti ini... Teman-teman! Hiraukan saja aku dan tetap fokus untuk mengalahkannya!” Kata Astaroth dengan keras dan lantang.
“Baiklah jika itu maumu, penakut! Gram, tebaslah Zombie dari kepalanya! Jika gagal, aku siap membantu dari bawah!” Ucap Peace sambil berlari mendekat ke arah Zombie. Di sisi lain, Gram membalas, “Tanpa Anda beritahupun, saya akan melaksanakannya!”
Grampun mengangkat Fiery Scythe-nya tinggi-tinggi lalu melayangkan tebasannya ke kepala Zombie. Merasa dirinya sedang diserang, Zombie menggelengkan kepalanya dengan kencang yang membuat Gram hilang kendali dan seketika terjatuh dari sana. Ketika terjatuh, Gram melihat ada sebatang pohon yang tak jauh dari posisinya, membuat Gram kepikiran untuk memegang batang pohon tersebut supaya tidak jatuh ke tanah secara langsung.
Merasa kesal, Zombie melayangkan tangan kanannya ke arah Gram yang masih berusaha untuk meraih batang pohon tersebut. Namun tiba-tiba, muncullah sebuah racun dari arah kanan menghujani kaki kiri Zombie yang tak terjaga, membuatnya kesakitan hingga terjatuh ke tanah.
“Skill Fly memungkinkanku untuk terbang menghindari Heitari yang apinya mulai padam, kurasa itu ulahmu, Peace.” Ucap Astaroth sambil mengeluarkan jurus pamungkas yang membuat para ular mengeluarkan racun dari mulut mereka ke arah Zombie yang membuatnya tergeletak di tanah. Kecepatan racun itu jauh lebih cepat dari cahaya, sehingga tidak ada kesempatan untuk Zombie menghindarinya.
Toxic Hell-pun menghujani tubuh Zombie dengan racun yang membuat tubuhnya berhenti beregenerasi dan perlahan meleleh. Meski begitu, kesadarannya belum menghilang dan hanya rasa sakit yang ia rasakan.
“Inilah akibatnya setelah kau menyerang desaku... Rasakanlah kepedihan dari racunku ini!” Astarothpun berhenti terbang dan terjatuh ke tanah, namun tidak terlalu sakit sebab ia terjatuh dari ketinggian yang rendah. Grampun ikut serta melompat ke tanah dengan pendaratan yang lebih mulus.
“Kerja bagus, teman-teman! Walaupun aku tidak membantu, sih...” Ucap Peace sambil berjalan menghampiri Astaroth dan Gram.
[Selamat! Level meningkat menjadi 47. Selamat! Fragment bertambah menjadi 10.] Kata Hope kepada Astaroth.
“Saatnya meningkatkan kekuatanku, Status!” Ucap Astaroth. Setelah berkata demikian, muncullah hologram Status miliknya.
...[Status]...
...Nama : Astaroth...
...Umur : 129 tahun...
...Ras : Ular Cerdas...
...Skill : Poison King, Fly, Adaptation, Eternal, Grow...
...Senjata : Tidak ada...
...Level : 47...
...‹ ›...
...Inventaris Statistik...
...[Keluar]...
...[Statistik]...
...Fragment : 0...
...STR : 6 [+]...
...AGI : 42 [+]...
...VIT : 1 [+]...
...MP : 100 [+]...
...HP : 100...
...« ‹...
...Inventaris Status...
...[Keluar]...
“Yosh, semuanya selesai! Kalau begitu, ayo kita lihat situasi di tempat lain. Mungkin saja, mereka membutuhkan bantuan.” Ucap Astaroth sambil berjalan keluar gerbang, diikuti oleh Peace dan Gram.
Di sana, mereka melihat Majhul yang tengah membantai Zombie satu per satu. Di sisi lain, secara tiba-tiba semua Zombie dari sisi manapun berjuang keras untuk kabur terbirit-birit dari desa penampungan ke arah timur, meninggalkan teman-temannya yang sudah tak berdaya, bahkan apapun akan mereka lakukan demi melarikan diri dari kejaran para Ular Cerdas Petarung.
“Mengapa mereka semua berbondong-bondong lari ke arah timur, ya...? T-Timur?! Arah timur dari desa penampungan adalah kerajaan Ular Cerdas! Peace, Gram dan Majhul, jangan sampai kehilangan jejak mereka, ayo kita ikuti para Zombie itu!” Ucap Astaroth sambil berlari ke arah timur, mengikuti jejak para Zombie yang tercetak di mana-mana. Tanpa berlama-lama, Peace, Gram dan Majhul ikut berlari ke arah timur dari belakang, diikuti oleh Al'Aqwa yang juga tengah mengincar para Zombie.
Di perjalanan, mereka melewati banyak pohon tumbang akibat tertebas sesuatu yang sangat panas, bahkan panasnya terasa sampai lingkungan desa penampungan. Tiba-tiba, angin berhembus kencang menerpa wajah mereka semua, dedaunan juga terbang ke arah yang sama, di dampingi suasana yang tiba-tiba terasa damai setelah matahari mulai terbit dari utara. Peace, Astaroth, Majhul dan Al'Aqwa merasa keheranan dengan kejadian ini, namun tidak bagi Gram, dirinya malah merasa déjà vu dengan kejadian ini.
Setelah melakukan perjalanan cukup lama, akhirnya Peace, Astaroth, Gram, Majhul dan Al'Aqwa sampai di lingkungan kerajaan Ular Cerdas. Para Zombie diperbolehkan masuk lewat gerbang yang dijaga ketat oleh 2 prajurit bersenjata lengkap, sementara itu, mereka berlima masih bersembunyi dibalik semak-semak yang berada tepat di depan gerbang kerajaan.
“Kita salah langkah, semuanya tak sesuai rencana... Sekarang, kita harus berbuat apa? Pulang ke desa penampungan? Kurasa kurang bijak, karena bisa saja mereka sudah menyiapkan jebakan yang mematikan. Mungkin kalian penasaran, mengapa aku bisa menebaknya? Mudahnya, Zombie pasti akan mengadukan semua yang terjadi kepada Chronus, dan Chronus tentunya tidak akan berdiam diri saja, dia pasti akan segera menyiapkan jebakan di sekeliling lingkungan kerajaan Ular Cerdas demi menangkap kita berlima.” Ucap Astaroth sambil memperhatikan sekitar dengan seksama.
“Hmm... Kurasa aku akan menciptakan identitas baru, yakni pemain dengan jubah dan alas kaki. Di sana, aku akan memanipulasi informasi yang diberikan Zombie kepada Chronus supaya penjagaan bisa diringankan. Bagaimana, setuju? Jika iya, berikanlah jubah dan alas kaki kalian, Astaroth dan Majhul.” Kata Peace sambil melepas topi fedoranya menggunakan tangan kiri.
“Ya, aku setuju! Namun, lebih baik kau gunakan alas kakiku saja, karena alas kaki Majhul terlalu bau untuk dipakai.” Ucap Al'Aqwa sambil melepaskan alas kakinya, perkataan Al'Aqwa barusan membuat Majhul kesal, namun untungnya ia masih bisa menahan amarahnya kepada Al'Aqwa.
Astarothpun membuka jubah yang selama ini menutupi ular-ular dibagian tubuhnya dan memberikan jubah itu kepada Peace. Setelah diterima menggunakan tangan kanan, Peace menaruhnya ke tanah bersamaan dengan topi fedoranya. Tak lama kemudian, ia melepas baju dan sepatunya lalu ditaruh ke tanah. Ia mengambil kembali jubah Astaroth dan langsung dipakai. Setelahnya, Peace berjalan ke arah Al'Aqwa untuk memasang alas kaki dikedua kakinya.
Bersambung...