
Setelah sarapan rencana untuk tidur pun tidak jadi, sekarang Elvano hanya diam diri di kamar miliknya tanpa berkeinginan untuk melakukan apapun. Namun hal itu hanya membuatnya merasa bosan, rasanya dia ingin melakukan sesuatu tapi dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Lalu tanpa sengaja dia menoleh ke arah jendela miliknya yang terbuka, dia hanya mengamati dunia luar jendela tersebut, dapat yang dia lihat pemandangan langit yang cerah dengan pohon yang berdiri tinggi rimbun hingga nampak dari kamarnya sendiri. Angin luar yang memasuki kamar miliknya membuat Elvano merasa terlena untuk sementara.
Hingga, dia mengingat sesuatu hal yang membuatnya langsung duduk dari acara berbaringnya, dia baru menyadari jika jendela sudah terbuka sejak dia belum bangun, dia mengingat bagaimana dia kesal dengan kicauan sekelompok burung-burung yang mengacau tidurnya hingga membuatnya berteriak ke arah burung tersebut. Tapi siapa yang membuka jendela kamarnya.
Di lain tempat
Riko yang sedang rapi dengan pakaiannya sepertinya Ia ingin pergi ke suatu tempat, Dia akan pergi ke rumah keluarga Anggantara untuk bertemu Elvano. Dia tidak peduli jika Erlangga temannya bingung dengan kedatanganya, karena keinginannya untuk bertemu dengan Elvano.
Dia hanya ingin bertemu dengan sahabatnya itu, sebenarnya ingin rasanya dia mengatakan kepada keluarga Anggantara jika Elvano itu bukan lagi bagian dari keluarga Anggantara, Namun karena tidak ingin Elvano mengamuk karena keegoisannya dia mengurungkan untuk melakukannya. Jadi dia akan berpura-pura ingin bertemu sekaligus bermain dengan Elvano. Akan tetapi jika Riko mendatangi rumah keluarga Anggantara sepertinya Elvano akan tetap mengamuk karena tidak memberi tahu kedatangannya.
Kemudian Riko pun turun keluar kamarnya dengan membawa paper bag yang tidak diketahui apa isinya. Ia turun ke bawah untuk menuju meja makan, sarapan pagi bersama ayahnya. Di meja makan dia melihat ayahnya Kevin sudah duduk di kursi tempat kepala keluarga biasanya duduk. Lalu Riko pun duduk di kursi, barulah mereka sarapan bersama.
Berbeda dengan keluarga Anggantara, Riko dengan ayahnya tidak pernah saling bertemu, walaupun mereka tinggal seatap, mereka hanya akan bertemu di meja makan, akan tetapi itu hanya untuk sarapan pagi, tanpa berkeinginan untuk berbicara satu sama lain.
Dulunya ada satu orang yang dapat mencairkan suasana canggung ini, tapi orang tidak pernah ikut lagi sejak dinyatakan hilang.
Kevin memperhatikan putranya yang lahap dan makan dengan terburu-buru, hingga dia baru sadar jika pakaian putranya itu rapi dengan paper bag yang terletak di samping.
Karena memiliki tingkat penasaran yang tinggi dia pun bertanya kepada putranya itu
"Mau kemana?"tanya Kevin secara langsung kepada Riko
Riko yang merasa jika ayahnya bertanya kepadanya dia menjawab"keluar"jawab Riko dengan singkat
Kevin yang masih penasaran bertanya kembali "iya keluar kemana?"tanya Kevin kembali kepada Riko
"main"jawab Riko kembali namun dengan singkat
Riko tau maksud ayahnya namun dia tidak ingin memberitahu kemana dia akan pergi, karena dia tipe yang tidak suka jika ada yang bertanya -tanya kemana dia pergi, baginya hal itu privasi pribadinya.
Sedangkan Kevin yang tidak mendapatkan jawaban yang di inginkannya hanya menghela nafas, dia merasa kesal dia jawaban putranya yang hanya singkat.
Lalu dia pun tidak bertanya lagi dengan Riko. Dan di meja makan tersebut kembali menjadi hening.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Riko pun pamit kepada ayahnya, kemudian dia pun berjalan menuju ke pintu utama untuk pergi ke rumahnya Elvano dan tak lupa dengan membawa paper bag di tangannya. Lalu dia pun berangkat dengan menggunakan mobilnya hingga mobilnya tersebut keluar dari pekarangan rumahnya.
Di lain tempat
Elvano masih termenung dengan pikirannya, dalam diamnya, dia masih memandangi jendela kamarnya itu. Namun dia tidak menemukan apapun, Setahunya yang biasa membuka jendela kamarnya hanyalah mamanya Diana, namun Diana sendiri tidak berada di rumah, melainkan pergi ke luar negeri bersama papanya karena pekerjaan
Dan entah kenapa, suasana di kamarnya berubah menjadi horor, dia merasa merinding dengan milik kamarnya sendiri, hingga membuatnya waspada dengan kamarnya dan melihat sekeliling kamarnya sendiri.
Tok, tok, tok
Orang yang mengetuk pun langsung membuka pintu itu dengan terburu-buru
"adek"ujar orang itu yang ternyata abangnya Elvano Erlangga, dia yang awalnya ingin menemui adiknya, namun bukan mendengar jawaban akan tetapi dia hanya mendengar teriakkan dari dari kamar milik adiknya. Namun saat masuk dia tidak menemukan apapun dan hanya menemukan buntalan yang ditutupi dengan selimut.
Erlangga hanya bisa menghembuskan nafasnya melihat tingkah laku adiknya itu, lalu dia pun mendekati Elvano, sambil berkacak pinggang dia hanya memperhatikan adiknya yang seperti orang yang ketakutan.
Kemudian dia melihat jika adiknya itu sudah berhenti bergerak, lalu dia pun membuka selimut yang membungkus Elvano, kemudian
"akhhhh"teriakkan Elvano yang kembali bergema hingga Erlangga yang mendengarnya dapat merasakan bagaimana telinganya sakit oleh teriakkan membahana milik adiknya itu.
Kemudian dia segera menutup mulut milik adiknya, Elvano yang merasakan seseorang yang membekap mulutnya pun dia membuka matanya dan menemukan Abangnya Erlangga yang hanya menatapnya dengan datar.
Merasa malu dengan sikapnya, Elvano duduk dari acara berbaringnya dia hanya tidak menyangka jika abangnya orang yang rupanya mengetuk pintu kamarnya.
Demi menjaga muka dai pun dengan berani menatap abangnya, lalu menanyainya
"a-abang ngapain masuk ke kamar adek?"tanya Elvano dengan suara tergagap keada abangnya.
Namun Erlangga hanya diam dengan pandangan yang sama datar, tanpa berkeinginan untuk menjawab.
Elvano yang melihat keterdiaman abangnya hanya terkekeh dengan canggung, dan menggerutu dirinya sendiri, karena tidak paham suasana. Ia pun hanya menundukkan kepalanya dan memainkan selimut yang berada di pangkuannya.
"adek minta maaf"ujar Elvano dengan suara yang kecil kepada Elangga.
Akhirnya Erlangga pun menghela nafas, dia khawatir dengan adiknya namun apa tadi, dia menanyai alasan dia berada di sini. Memang siapa yang tidak akan panik tiba-tiba terdengar suara orang yang berteriak.
"adek tadi kenapa teriak?"tanya Erlangga kepada Elvano.
"adek kan tadi terkejut, makanya adek teriak"jawab Elvano kepada Erlangga.
"itu gara-gara jendela bang"ujar Elvano kembali dengan menunjuk jendela yang terbuka dengan jarinya.
Erlangga bingung dengan adiknya ini, apa hubungannya teriak dengan jendela, seperti adiknya sudah kehilangan akalnya.
Melihat Abangnya yang tidak percaya lalu Elvano kembali melanjutkan perkataannya
"tadi itu kan bang, adek kan bangun-bangun pagi terus, adek baru nyadar kenapa jendela bisa sudah terbuka, biasanya enggak kebuka bang kemaren aja seharian jendela tutup kan biasanya yang buka mama, tapi mama lagi enggak ada di rumah"ujar Elvano panjang lebarnya kepada abangnya itu agar percaya dengannya. Akan tetapi
"hantu maksudnya masa iya ada hantu siang bolong ini, bisa aja kan pelayan di rumah yang buka disuruh sama mama buat dibuka, lagian adek ini ada-ada aja"jawab Erlangga kepada Elvano yang tidak percaya dengan adiknya tersebut
Elvano pun membenarkan perkataan abangnya itu dan berpikir jika apa yang dikatakan oleh Abangnya itu bisa saja benar.
Namun Elvano tidak sadar jika seseorang telah memasuki kamarnya.