Adik Antagonis

Adik Antagonis
CHAPTER 16


Keheningan melanda diantara Erik dengan Celline. Celine setelah menyampaikannya pun hanya terdiam, dan tidak berani mendongak kepada Erik.


Lalu dia mendengar Erik menghela napas.


Erik yang mendengar perkataan putrinya itu terdiam, inilah hal yang dia tunggu-tunggu sejak lama, sejak mengetahui kalau putrinya itu di sakitin oleh tunangannya, apalagi yang dia dengar tunangannya itu berpacaran dengan perempuan lain, di saat statusnya itu masih melekat sebagai tunangan putrinya.


Erik sudah sejak dulu ingin memberhentikan pertunangan anaknya dengan Demian, apalagi Celine itu sangat mencintai Demian.


Dan bersikeras untuk tetap melanjutkan pertunangan itu.


Setiap malam dia akan mendengar Celine menangis karena tunangannya itu selalu menyakitinya.


Sejak awal ini salah dia, tidak seharusnya dia menjodohkan putrinya itu dengan pria yang tidak mencintai putrinya.


putrinya itu selalu sendiri, dan dia pun tidak memiliki sandaran, apalagi di masa Elvano yang koma, kami sekeluarga sangatlah canggung. Dan hanya menyibukkan diri urusan kami, tanpa mempedulikan yang lain.


Dia juga mengetahui anak laki-lakinya juga turut untuk menyakiti adiknya sendiri. Dia masih ingat untuk mengintograsi anak laki-lakinya itu.


"kamu yakin?", kamu tidak menyesal?"tanya Erik kepada Celline untuk memastikannya.


Celline yang ditanya langsung dengan yakin menjawab


"Celline yakin pa"jawab Celine dengan yakin.


"Baiklah, papa senang mendengarkannya besok papa akan secara langsung menemui keluarga mereka, sekaligus meminta pertanggungjawaban anak mereka karena menamparmu"ujar Erik dengan tegas.


Celine yang mendengar perkataan papanya terkejut dia tidak menyangka kalau Erik mengetahui tentang kejadian yang membuatnya masuk rumah sakit.


Tapi Celine hanya diam, Menurutnya Demian sudah keterlaluan kepadanya dan hanya diam apa yang akan dilakukan oleh papanya.


"Kemarilah, apa kamu tidak ingin memeluk papamu ini?"ujar erik dengan tangan yang merentangkan kepada Celline. Celine yang mendengarnya tidak dapat untuk tidak menahan tangisannya, dia tidak mengingat kapan terakhir dia memeluk Erik yang merupakan papa kandungnya sendiri.


Dan dia pun langsung menghampiri Erik yang berada di seberangnya yang hanya dibatasi oleh meja, dan lsngsung memeluk Erik dengan erat, Dan Erik pun tidak kalah pun memeluk anaknya itu dengan erat juga, dia merasakannya, perasaan bersalah selama 5 tahun karena mengabaikan putri satu-satunya di keluarga Anggantara.


Dan diruangan kerja Erik hanya terdapat tangisan haru dari Celline, dengan permintaan maaf dari Erik.


...****************...


di lain tempat, Elvano berada di kamar Abangnya itu.


Elvano yang sibuk dengan permainan puzzle yang diberikan oleh abangnya sedangkan Erlangga, hanya sibuk memperhatikan adiknya itu sambil mengerjakan tugas kuliahnya yang akan di kumpulkan besok. Lalu


Bunyi deringan handphone milik Erlangga, membuat kamar sebelumnya yang hening, menjadi berisik karena asal dari deringan handphone milik Erlangga.


Erlangga pun segera mengambilnya, dan mengangkat telpon yang sepertinya dari temannya.


Sedangkan Elvano sibuk dengan permainan puzzlenya, dan tidak terusik karena bunyian deringan yang berasal dari handphone abangnya itu. Namun dia langsung melihat Abangnya, yang sedang bersiap-siap, dan seperti akan pergi ke luar. Elvano yang melihatnya langsung menyelutuk.


"Abang, Abang mau kemana?"tanya Elvano kepada abangnya.


Erlangga yang ditanyain adeknya pun menoleh. Dan menghampiri adeknya yang menatap bingung dengannya.


"Abang mau keluar, mau ketempat teman Abang, memangnya kenapa dek?"jawab Erlangga untuk menjawab kebingungan adeknya itu.


Elvano yang mendengar langsung memegang lengan abangnya dengan tangan mungilnya.


"Abang, adek mau ikut sama Abang ya?"kata Elvano yang masih memegang lengan abangnya itu, sambil menatap abangnya dengan tatapan mata yang berbinar-binar.


Erlangga yang melihat tatapan adeknya, tentunya tidak dapat menolak keinginan adeknya itu, apalagi adeknya itu menatap penuh harapan padanya.


Erlangga menghela napas, lalu mengangguk kepada adeknya itu, lalu


"Baiklah, adek boleh ikut Abang, tapi adek enggak boleh jauh dari Abang oke?"ujar Erlangga


"okey"jawab Elvano.


"Yaudah, kalau begitu ayo adek bersiap-siap dulu"ujar Erlangga kepada Elvano dan segera untuk menggendong adeknya itu menuju kamar adeknya.


Setelah bersiap-siap mereka pun, langsung turun kebawah. Di saat turun mereka bertemu dengan Diana, Lalu Diana pun bertanya kepada kedua anaknya itu.


"Adek, sama Abang mau kemana?"tanya Diana yang melihat kedua anaknya itu yang rapi.


"Erlangga mau ketemu teman ma, adek juga katanya mau ikut. Yaudah abang ajak aja sekalian"jawab Erlangga.


"Baiklah, hati-hati di jalan, adek nanti disana jangan bandel ya, dengerin kata abangnya"ujar Diana yang memberikan nasihat kepada Elvano.


"okey, mama cantiknya adek"jawab Elvano dengan riang.


Diana yang melihat anaknya yang menjawab dengan riang hanya terkekeh, lalu membiarkan kedua anaknya itu untuk keluar.


Elangga dengan Elvano pun berangkat dengan menggunakan mobil, dan mereka pun mulai berangkat dan meninggalkan pekarangan rumah.


selama di perjalanan Elvano hanya melihat ke jendela mobil, dia menatap kagum dengan gedung tinggi yang dilihatnya, dan mobil dan motor yang lalu lalang. Dan jika tidak mengetahuinya hal yang dilihatnya, dia akan bertanya kepada Abangnya.


Lalu sampailah mereka di tempat Erlangga nongkrong bersama teman-teman yang lain.


Tempatnya berupa rumah mewah yang merupakan salah satu rumah dari milik temannya. Dan Elvano yang melihatnya tidak dapat menutup kekaguman rumah yang ada di hadapannya. Dan setelah mobil yang dikendarai Erlangga berhenti, lalu dia pun turun dan tak lupa untuk membukakan pintu untuk adiknya dan segera mengendong adiknya yang masih terpesona dengan rumah yang ada di hadapannya.


Erlangga yang melihat adeknya yang terpesona hanya terkekeh, lalu mencium pipi mochi milik adeknya. Namun, hal itu tidak membuat Elvano sadar, dia masih tetap menatapnya dengan kekaguman karena besarnya rumah yang berada di hadapannya.


Dan tanpa disadari oleh Elvano, dia sudah memasuki rumah dan langsung tersadar setelah mendengar suara ribut yang berasal dari rumah tersebut.


"Er, Lo udah datang?"ujar Ryo kepada Erlangga yang menghampirinya dengan kedua temannya yang lain.


Elvano, yang mendengar suara teman abangnya yang bernama Ryo itu, segera memeluk abangnya dengan erat, dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher abangnya. Dia merasakan kegugupan yang melanda hatinya.


Erlangga segera menghampiri ketiga temannya itu, dan ikut duduk di dekatnya.


Ryo yang sejak tadi melihat, anak kecil yang berada di pangkuan Erlangga, langsung bertanya


"Er, ini siapa?, adek Lo" tanya Ryo, yang sepertinya tidak mengingat kalau dia sudah bertemu dengan si kecil elvano, serta mengklaim Elvano sebagai adeknya.


"hmm"deheman Erlngga yang menjawab pertanyaan Ryo.


Elvano yang masih menggelamkan wajahnya di ceruk leher abangnya, mendengar suara teman Abangnya Ryo langsung kesal sebab bagaimana teman Abangnya itu secepat itu melupakannya wajahnya yang imut ini,


"Masa iya udah lupa, ya ampun baru ketemu kemaren udah lupa lagi, memang ni orang ya masih muda tapi udah pikun, masa iya muka gue yang imut ini sampai dia lupain dasar "Batin Elvano yang kesal dengan Ryo yang dengan mudah melupakannya, dan tak lupa ucapan percaya drinya


Ryo yang masih penasaran, akan membuka tudung kepala Elvano, namun belum sempat tangannya menyentuhnya, tangannya langsung di tepis oleh Erlangga, dan menatapnya dengan tajam.


Ryo yang melihatnya pun hanya cengir. Lalu, tiba-tiba dia mengingat sesuatu.


"oooh, iya gue baru ingat ini adek Lo Elvano yang imut itu kan?"ujar Ryo dengan hebohnya dan membuat Elvano langsung menoleh kepada Ryo yang berisik itu.


"Abang kok berisik amat, telinga adek sakit tau"ujar Elvano kepada Ryo dengan wajah yang dibuat kesal dan marah kepada teman abangnya itu. Dia tidak menyadari kalau dia menunjukkan wajahnya itu kepada teman Abangnya itu, hingga membuat kedua teman Abangnya itu juga ikut menoleh kepada Elvano.


Salah satunya adalah Demian, yang akan segera menjadi mantan tunangannya Celline. Dia melihat Elvano, ingin menyapa namun akhirnya tidak melakukannya, karena mengingat bagaimana adek dari Erlangga itu yang menendang tepat di tempat bagian sensitifnya. Dia masih bisa merasakan ngilu dan bagaimana sakitnya saat itu.


Sedangkan yang satunya dikenal sebagai nama Kai, seseorang yang berwajah tampan dan Kai ini tipe seseorang yang ramah kepada semua orang, yang berbeda dengan Demian dan Erlangga yang cuek dan datar, Dan beda juga dengan Ryo yang walaupun ramah juga, namun masuk tipe yang sangat cerewet. Dia tidak kuliah, namun memiliki usaha cafe, dan dia pun sering ikut bekerja untuk menjadi barista di cafenya.


Kai, yang sejak tadi hanya diam tertawa mendengar perkataan Elvano yang mengomel Ryo. Dan tertawaannya itu membuat Elvano pun menoleh kepadanya dan menatap bingung kepadanya. Kai yang merasa di tatap langsung berhenti tertawa dan tersenyum manis kepada Elvano. Dan dia pun yang peka terhadap Elvano yang masih bingung dengannya, Kai pun memperkenalkan dirinya kepada Elvano.


"Halo adek, nama adek Elvano kan? kalau Abang namanya Kak adek panggil aja Bang Kai oke?"ujar Kai kepada Elvano dengan tetap mempertahankan senyuman manisnya kepada Elvano.


Elvano yang disenyumin oleh kai kepadanya langsung memeluk abangnya itu, dan menyembunyikan wajahnya di leher Erlangga.


Dia tidak tau, tapi dia merasakan kalau pipinya itu langsung memerah, dan merasakan malu karena mendapatkan senyuman manis dari teman abangnya yang bernama Kai.


"Buset kok ganteng amat ya, bang Kai. akkh, pengen punya Abang kayak bang Kai, tapi kok tiba-tiba gue malu ya, bodoh amatlah"batin Elvano yang masih merasakan malu, namun sepertinya dia melupakan sesuatu, kalau dia sudah mempunyai Abang yaitu Erlangga.


Kai, yang melihat Elvano yang malu, terkekeh melihatnya, Menurutnya adik dari temannya itu sangat imut, apalagi badannya yang masih mungil. Ingin rasanya dia memeluk Elvano.


Elvano setelah menetralkan rasa malunya, dan dia pun langsung melihat kepada Kai dengan tatapan mata yang berbinar-binar.


Kai, yang ditatap seperti itu hanya terkekeh, sebenarnya, dia tidak tahu bagaimana cara untuk berhadapan dengan anak kecil.


Lain halnya dengan Kai, Erlangga abang Elvano cemburu melihat kedekatan adiknya dengan temannya itu. Tiba-tiba


"Abang Kai~, Abang kok ganteng. Abang mau nggak jadi Abang adek?"tanya Elvano dengan tatapan yang masih sama.


Dan sepertinya dia tidak merasakan bagaimana aura abangnya yang sedang memangkunya itu diselimuti aura hitam, Elangga bertambah cemburu kepada adeknya itu, Bagaimana bisa adek kesayangannya itu bisa mengatakan sesuatu yang membuatnya kesal.


Sedangkan Kai, yang ditanya hanya bisa tersenyum canggung, Dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia peka terhadap Erlangga saat Elvano mengatakannya dan juga merasakan bagaimana temannya itu menatapnya dengan tajam dan menusuk tepat di matanya.


"Enggak boleh, adek kan udah punya abang"ujar Erlngga yang berusaha menarik perhatian adeknya itu, agar tidak menatap Kai lagi


Tapi Elvano hanya mengabaikan perkataan abangnya itu dan tetap memilih menatap dan mengajak Kai bicara.


Erlangga yang diabaikan oleh adeknya itu hanya menghela napas, dan membiarkan adeknya itu bicara dengan Kai dengan asyiknya hingga membuat dia lupa dengan abangnya sendiri.


Ryo yang melihat Elangga yang diabaikan oleh adeknya sendiri hanya tertawa dengan terbahak-bahak, dan meledeknya.


"Sabar Er, mungkin memang takdirnya Lo, Kai menjadi pengganti abangnya adek lo"ujar Ryo dengan ceplas-ceplos


Elangga yang mendengarnya tentunya tidak terima perkataan Ryo kepadanya, inginya dia memukul temannya itu. Tapi karena ada adiknya disini dia hanya dapat memendamnya,


Elvano juga merasakannya bagaimana abangnya itu marah, jadi dia menoleh kepada abangnya itu, dan membalikkan badannya kearah Abangnya dan memeluk abangnya sambil mendongak kepada abangnya yang tinggi tersebut.


"Abang enggak pa-pa?"tanya Elvano kepada Erlangga, sambil menatap abangnya itu dengan matanya yang bulat dan tatapan yang polos kepadanya, apalagi adeknya itu menatap khawatir padanya.


Erlangga yang mendapatkan serangan imut dari adeknya, dia merasakan kalau wajahnya itu memerah hingga ke telinganya dan dia pun langsung memeluk adeknya itu dan dia pun menyembunyikan wajah adeknya di pelukannya.


Elvano yang dipeluk juga ikut memeluk abangnya, hingga wajahnya yang menempel pada dada abangnya mendengar bunyian yang terasa keras dan cepat.


Masih sambil berpelukan Elvano menanyakannya kepada abangnya itu.


"Abang kok di dalam dada abang ada bunyi-bunyi ya, terus juga cepat bunyinya"


"enggak kenapa-napa kok itu tandanya Abang merasa senang dipeluk adek"jawab Elangga,


Erlangga dengan Elvano hanya sibuk berpelukan, dan mengabaikan ketiga temannya yang menatapnya dengan suram. Mereka merasakan iri dengan Erlangga karena dapat memeluk Elvano yang seperti buntalan kapas Bagi mereka. Hingga


tanpa disadari mereka, seseorang menghampiri mereka. Hingga barulah salah satu dari mereka menyadari kehadirannya.


" Riko Lo, udah datang?"


Elvano yang mendengar seseorang memanggil Riko langsung melepaskan pelukannya dengan abangnya dan dia melihat seseorang yang berdiri di hadapannya yang sangat mirip dengan seseorang yang sangat dirindukannya,


"Riko?"