Adik Antagonis

Adik Antagonis
CHAPTER 48


Elvano hanya diam, memandangi langit-langit kamar miliknya, dia masih bingung dengan semua hal yang terjadi kepadanya.


Setelah makan, Elvano lebih memilih berdiam diri di kamar, dan dia pun beralasan jika dia sudah mengantuk kepada Bima.


Dan dia tidak tidur, dia hanya diam, namun di otaknya dia berpikir dengan keganjilan yang terjadi.


 Bagaimana tidak, Dia yang bertemu secara tiba-tiba dengan Riko sahabatnya, Di tambah lagi Bima omnya, yang di dalam novel tidak pernah terungkap, tapi dia bertemu dengannya.


"Arghhh, pusing gue"ujar Elvano dengan lirih, entah kenapa semua ini bisa terjadi dengannya, hal yang tidak pernah dia sangka, jika dia bertransmigrasi ke novel.


Karena hal itu hanya membuatnya pusing kepalanya dia pun memutuskan untuk tidur, dan dia pun dan perlahan-lahan matanya tertutup. Hingga terdengar dengkuran halus yang terdengar dari mulut Elvano,


Lalu tiba-tiba ada, seseorang yang memasuki ke kamar milik Elvano, orang itu berpakaian hitam, dengan kamar yang keadaan gelap, tidak diketahui siapa seseorang itu. Namun saat dia mendekati Elvano yang tertidur di atas tempat tidur, rupanya dia itu seorang pria yang dibentuk dengan cahaya rembulan yang menembus jendela, hingga masuk ke kamar Elvano.


Pria itu hanya memandangi wajah nyenyak Elvano, lalu dia mengarahkan bibirnya ke telinga Elvano.


"Ini baru permulaan, kau harus menuntas ini semua sendirian"ujar pria itu kepada Elvano. Setelah mengatakannya dia kembali memandangi Elvano dengan tatapan yang datar.


Lalu setelahnya dia pun pergi dari kamar Elvano melalui jendela. Dan setelahnya hanya keheningan yang melanda, dengan jendela kamar yang terbuka hingga membuat angin sepoi-sepoi malam menerbangkan gorden jendela yang tipis. Hingga masuk ke kamar Elvano. Namun Elvano tidak merasa terganggu sedikitpun malahan dia hanya membalikkan badannya dengan selimut yang menutupi semua badannya hingga kepalanya.


Keesokan paginya, mentari mulai bersinar dengan terang, burung-burung yang hinggap di dahan pepohonan berkicau dengan merdu menyambut pagi yang cerah. Namun sepertinya bagi Elvano hal itu lebih di anggap sebagai mengganggu tidurnya nyenyak, bunyian kicauan burung itu membuatnya tidak dapat tertidur dengan nyenyak kembali.


Elvano pun bangkit dari tidurnya, dan menoleh ke arah burung-burung yang berkicau tersebut, dapat Ia lihat burung itu berkicau dengan nyaringnya membuat Elvano merasa kesal kepada keberadaan burung itu.


Lalu dia turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju ke jendela, dan menatap dengan kesal ke arah sekelompok burung tersebut. Hingga


"aaaaaaa"teriakkan dari Elvano yang tentunya membuat sekelompok burung itu terkejut, dan dengan buru-buru terbang menjauh dari elvano.


Elvano yang melihat tidak adanya lagi sekelompok burung itu pun tersenyum dengan senangnya, karena tidak adanya lagi hal yang membuatnya terganggu.


Lalu dia pun kembali menuju ke tempat tidurnya dan kembali untuk melanjutkan tidurnya. Namun di saat beberapa meniti kemudian tiba-tiba


Braakk


"adek"teriak seseorang yang membuka pintu kamarnya dengan kerasnya, membuat Elvano dengan terpaksa kembali membuka matanya dan dia menemukan abangnya Erlangga yang ngos-ngosan, sepertinya abangnya itu berlarian menuju ke kamar milik Elvano.


Setelahnya Erlangga pun langsung menuju ke tempat adiknya itu. Dan dengan paniknya dia pun memeriksa keadaan adiknya.


"adek kenapa enggak kenapa-napa kan?, ada sakit dimana bilang sama Abang?"tanya Erlangga dengan tanpa henti-hentinya.


Namun Elvano hanya diam, tanpa ada keinginan untuk menjawab abangnya itu, dia hanya memandang kosong ke arah depan tanpa memperdulikan keberadaan abangnya itu.


Erlangga yang melihat keterdiaman adiknya tentunya bingung, dan melihat arah pandang adiknya itu dan dia hanya melihat dinding kamar milik Elvano.


"adek kenapa kok diam aja?"tanya Erlangga kepada Elvano.


akhirnya Elvano pun menoleh kepada abangnya itu dan menunjukkan wajah yang ingin tidur, namun abangnya itu tidak peka. Dan Elvano hanya bisa menghela nafas.


Hal itu membuat Erlangga bertambah kebingungan, dan dia tidak mengerti dengan tingkah laku adiknya itu.


"Abang adek mau tidur"ujar Elvano dengan suara seraknya.


"kok tidur lagi, udah pagi sekarang Lo dek"jawab Erlangga lagi kepada Elvano, sepertinya dia tidak memahami situasinya.


Elvano hanya diam, namun kediamannya itu sedang menahan amarah agar tidak menumbuk kepala abangnya itu.


Lalu secara tiba-tiba, Elvano pun mentidurkan kembali tubuhnya untuk melanjutkan tidurnya. Namun itu tidak terjadi Erlangga menahan tubuh milik adiknya agar tidak berbaring kembali.


"adek jangan tidur lagi, kita harus sarapan dek"ujar Erlangga kepada Elvano. Dan selanjutnya Erlangga pun mengangkat tubuh milik Elvano dan menggendong adiknya itu untuk menuju ke kamar mandi.


Elvano hanya diam tanpa ingin bertengkar dengan abangnya itu, karena Ia tidak memiliki sedikit pun tenaga. Dan dia pun hanya meratapi kesedihannya yang tidak bisa tertidur dengan nyenyak lagi.


Lalu mereka pun turun ke bawah untuk sarapan bersama. Dengan kepala yang bersandar ke bahu milik Erlangga, Elvano dapat melihat kakaknya Celine serta Bima omnya, mereka sudah berada di meja makan sambil berbincang. Hingga saat Erlangga dengan Elvano sampai di meja makan, barulah mereka menyadari keberadaan mereka berdua.


Kemudian Erlangga pun menduduki adiknya di kursi, di sampingnya namun Elvano lebih memilih mengeratkan pelukannya kepada Erlangga.


"adek enggak mau duduk sendiri, pengen dipangku Abang aja"ujar Elvano dengan wajah yang menahan ngantuk.


"kenapa, bukannya adek pengen makan sendiri?" bukannya membiarkannya Erlangga malahan bertanya kepada adiknya itu. Hal itu pun tentunya membuat Elvano merasa kesal, ia hanya ingin segera menyelesaikan sarapannya karena ia hanya ingin tidur tanpa ada gangguan sedikitpun, kenapa bisa dia memiliki Abang yang bisanya hanya nyinyir dan membiarkannya sendiri.


"Abang jangan ngajak adek bertengkar ya, Adek malas, adek ngantuk pengen cepat-cepat tidur"ujar Elvano dengan sabar menjawab pertanyaan abangnya itu.


Erlangga yang paham pun akhirnya membiarkan Elvano di pangkuannya dengan sabar dia menyuapi adiknya itu, Namun saat sendok ke tiga, tiba-tiba Elvano sudah tertidur. Erlangga hanya bisa menghela nafas, melihatnya ia khawatir jika adiknya itu akan sakit mag jika tidak makan.


"adek ayo makan, katanya tadi pengen cepat-cepat tidur, adek hah" ujar Erlangga, namun sepertinya Elvano tidak ada keinginan untuk bangun lagi. Dan Erlangga pun hanya bisa menghela nafas.


Bima yang sejak tadi melihat percakapan Erlangga dengan adiknya itu pun tiba-tiba buka suara


"udah biarin aja dulu, nanti kalau lapar pasti bangun tu"ujar Bima melihat Erlangga yang berusaha untuk membangunkan Elvano.


akhirnya Erlangga pun menghentikannya, dan membiarkan adiknya itu tertidur dengan nyamannya di pangkuannya.


Hingga sarapan milik Erlangga sudah habis, Elvano tidak bangun malahan dia lebih menyamankan tidur tanpa ingin bangun sedikitpun.


Elangga yang melihat saat akan membangunkan lagi adiknya itu, tiba-tiba adiknya itu bangun. Dan tanpa banyak kata dia pun menyuapi adiknya itu. Elvano yang tidak paham situasi pun menerima setiap suapan dari abangnya itu, dan begitu seterusnya hingga makanan miliknya pun habis. Bima hanya bisa melongo melihat kegiatan yang dilakukan oleh kedua saudara itu, dan dia pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Sepertinya untuk kedepannya dia harus membiasakan dirinya untuk melihat ini.