
Setelah mendengar hal yang membuatnya terkejut, Elvano hanya diam, tidak ada keinginan untuk berbicara. Dia hanya merasa bingung, panik dan putus asa mengetahui jika dia sudah selama 3 tahun di dunia novel.
Riko yang melihat sahabatnya yang tidak bersemangat, tentunya juga ikut sedih. Dengan semua yang di alami oleh sahabatnya itu, tiba-tiba jiwanya masuk dunia novel, ke tubuh bocah lagi, ditambah tidak mengetahui jika waktu sudah berjalan lama.
"Er, Lo enggak usah sedih gitu, Lo bisa kembali ke tubuh asli kok, gue udah bilang tadi, kalau gue pasti bantuin Lo, lagian juga kita kan belum coba"ujar Riko yang berusaha membuat Elvano bersemangat kembali.
Elvano yang hanya menundukkan kepalanya, langsung mendongak saat mendengar perkataan Riko, benar apa yang dikatakan oleh Riko seharusnya dia tidak mudah patah semangat sebelum coba, kalau belum coba gimana tau hasilnya. Hingga
Terdengar suara yang ternyata berasal dari handphone milik Riko. Riko pun segera mengambilnya dan dia menemukan jika si penelpon adalah Erlangga.
Elvano yang ingin tahu pun akhirnya bertanya kepada Riko. "Siapa Rik?"tanya Elvano kepada Riko yang masih sibuk dengan handphonenya.
"Erlangga, kalau gitu gue angkat dulu ya"jawab Riko dan di pun mengangkat telpon dari Erlangga.
Elvano yang paham akhirnya mengangguk mengerti, dan membiarkannya Riko menjawab telpon dari abangnya itu.
"pasti tu orang baru ingat gue dah"batin Elvano yang baru mengingat jika dia ditinggalkan oleh abangnya sendiri. Elvano hanya menghela nafas, namun dia juga bersyukur Abangnya itu meninggalkannya hingga dia dapat berbicara kembali dengan Riko.
Elvano pun kembali memperhatikan Riko yang masih berbicara dengan abangnya.
Hingga dia melihat Riko sudah menyelesaikan menjawab telpon dari Erlangga.
Karena memiliki penasaran yang tinggi, Elvano pun kembali bertanya kepada Riko.
"Kenapa Rik?"tanya Elvano kepada Riko.
"Erlangga, Abang Lo itu mau kesini jemput Lo"jawab Riko yang seadanya kepada Elvano.
Elvano yang mendengarnya hanya manggut-manggut kan kepalanya, hingga terdengar suara bel yang memenuhi ruangan rumah Riko, hingga ke kamarnya riko.
Hal itu pun membuat Elvano dan Riko secara serentak menoleh kepada ke asal suara.
"kayaknya Abang Lo udah datang tu"ujar Riko yang berpikiran jika Erlangga sudah sampai ke rumahnya. Lalu Riko pun berjalan menuju ke pintu, untuk turun ke bawah. Elvano yang melihat Riko yang akan pergi pun juga mengikuti langkah Riko.
Sesampainya di depan pintu utama, Riko pun membukakan pintu, dan menemukan Erlangga dengan keringat yang membasahi tubuhnya hingga membuat bajunya basah dengan helaan nafas yang keluar setiap dari mulutnya.
Elvano yang berdiri di belakang kaki Riko, mengintip ke arah orang yang membuka pintu, lalu dia menemukan abangnya yang ngos-ngosan. "Abang~"seru Elvano kepada Abangnya itu.
Erlangga yang mendengar suara adiknya, tentunya menoleh ke arah suara tersebut, dan dia melihat adiknya yang berada di balik kaki Riko yang sedang mengintip ke arahnya. Dia yang melihat keberadaan adiknya, langsung tersenyum dengan lebarnya dan melupakan bagaimana paniknya dia.
"Adek"ujar Erlangga kepada Elvano. dan tak lupa dia pun segera menarik adiknya dan memeluk adiknya itu.
Elvano yang dipeluk oleh Abangnya tentunya juga membalas pelukan dari abangnya itu.
"Abang kok balik lagi, memang ada yang lupa?"tanya Elvano dengan polosnya kepada Erlangga, namun pertanyaan itu baginya sedang menyindirnya.
Riko hanya diam tanpa ingin ikut campur, dia hanya melihat drama kedua saudara itu dengan wajah datar, namun lain halnya di hatinya dia sudah mentertawakan erlangga yang hanya bisa cengir di hadapan adiknya.
Dia merasakan kasihan dengan Erlangga, pasti sulit baginya dengan semua tingkah laku adiknya.
"bisa cengir kan Lo sekarang, makanya jangan tinggalin gue. Masa iya adiknya yang imut ni di lupain"batin Elvano yang merasa puas akan kebingungan Erlangga.
"yaudah sekarang kita pulang ya?, udah malam juga"ujar Erlangga kepada adiknya agar segera kembali ke rumah.
"okey"jawab Elvano dengan riang kepada Erlangga, sepertinya Elvano sudah melupakan semua kekesalannya terhadap Erlangga.
Erlangga yang melihat keceriaan adiknya sudah kembali akhirnya dia dapat menghela nafas lega, Lalu dia pun menoleh ke arah Riko yang sejak tadi hanya diam.
"ahh, Rik gue balik dulu, makasih udah jagain adik gue"ujar Erlangga dengan tulus kepada Riko.
"ya, sama-sama"jawab Riko dengan datar
Erlangga yang mendengar jawaban Riko hanya tersenyum tipis, kemudian dia pun mengajak adiknya untuk segera pulang.
"adek ayo kita pulang"ajak Erlangga kepada adiknya, mengadakan tangannya kepada adiknya itu.
Elvano yang di ajak pulang oleh abangnya hanya menurut, dan menerima uluran abangnya itu, karena seharian ini dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan menangis. Dan membuat dia tidak sabaran untuk segera tiduran di atas tempat tidur empuk miliknya.
Lalu dia pun menoleh kepada Riko yang sejak tadi sudah memperhatikannya. "bang Riko adek pulang bye-bye"ujar Elvano kepada Riko.
"ya"jawab Riko dengan singkat.
Elvano yang mendengar jawaban Riko, ingin rasanya dia menumbuk kepalanya Riko.
Melihat Abangnya yang tidak menoleh kepadanya, dia pun menoleh kepada Riko dengan menunjukkan kepalan tangannya yang kecil kepada Riko, seolah-olah dia akan memukul Riko.
Lalu dia pun segera menurunkan kepalan tangannya itu saat abangnya yang seperti akan menoleh kepadanya, Kemudian mereka berdua pun segera menuju ke arah mobil, hingga mobil yang mereka tumpangi tidak nampak di penglihatan.
Riko masih berdiri di depan pintu yang terbuka, dia mengingat sahabanya yang Ingin memukulnya entah kenapa hal itu membuatnya ingin tertawa dia pun tanpa sadar tertawa kecil jika mengingat itu. Dia terus tertawa dan tidak menyadari jika ada seseorang paruh baya yang ingin memasuki rumah, paruh baya itu menatap bingung ke arah anaknya itu.
"Kalau kenapa Rik?"tanya kevin kepada Riko.
Ya orang itu adalah Kevin yang merupakan ayah Kevin.
Riko yang mendengar suara ayahnya, dia pun menghentikan tawanya, dan hanya menatapnya datar ayahnya yang berada di depannya.
Lalu dia pun tanpa banyak kata, dia pun hanya berlalu lalang dari hadapan Kevin, tanpa ingin menjawab, dan meninggalkan Kevin yang masih berada di pintu utama rumah.
Kevin yang melihat kepergian anaknya hanya menatap bingung anaknya itu. Lalu tanpa ingin pusing untuk memikirkannya, dia pun hanya mengangkat bahunya dan masuk ke dalam rumah.