
Akhirnya Elvano dengan Elangga bersiap-siap untuk pergi keluar. Elvano dengan hatinya yang gembira, sedangkan abangnya Erlangga dengan lesu dan berwajah suram. Dia hanya ingin adik kesayangannya itu tidak kenapa-kenapa, tapi Kenyataannya tidak sesuai dengan keinginannya.
Erlangga hanya bisa menghela napas, lai dia melihat adiknya yang lebih bersemangat darinya. mungkin saja dia hanya bersikap berlebihan, dan hanya akan membuat adiknya itu risih.
"Abang, ayo berangkat~"rengek Elvano kepada abangnya yang hanya asik melamun sendiri.
Erlangga yang awalnya hanya sibuk dengan pikirannya. akhirnya tersadar dari lamunannya karena suara rengekkan adiknya yang memintanya untuk segera berangkat. Lalu dia pun menoleh kepada adiknya itu, dan dia hanya menemukan wajah adiknya yang imut yang seperti biasa dan mata polos yang menatapnya dengan imutnya.
Erlangga menghela napas kembali, bagaimana bisa dirinya yang sibuk berfikir apa yang yang akan terjadi jika adiknya bertemu kembali dengan Riko, namun apa yang dilihatnya malahan adiknya itu merengek untuk menyuruhnya segera berangkat. Apa semua anak kecil cepat lupa terhadap kejadian yang di alaminya.
Sepertinya lebih baik menjadi anak kecil yang cepat melupakan permasalahan yang terjadi dan kembali riang seolah-olah sudah tidak terjadi masalah. Daripada menjadi orang dewasa yang sibuk berpikir, dan bagaimana untuk kedepannya. Dan sepertinya Itu kelebihan dari anak kecil.
"Abang~"rengek Elvano kembali terdengar.
"iya, iya sabar dek"jawab Erlangga dengan nahan gemas terhadap adiknya itu.
Erlangga pun menghidupkan mobil dan mulai berangkat ke tempat tujuannya. dan keluar dari pekarangan rumah.
Hingga sampainya mereka berdua di tempat tujuan mereka yaitu rumah milik teman Erlngga, yang sebelumnya pernah mereka datangi. Tempat kejadian yang membuatnya kebingungan karena tingkah laku adeknya. Erlangga sebelum keluar dari mobil dia terlebih dahulu menghembuskan napasnya dengan perlahan, dan dirasakan sudah tenang barulah dia turun keluar dari mobil. Dan membukakan pintu untuk adiknya dan segera menggendongnya.
Berbeda dengan Abangnya Elangga. Elvano kembali sibuk terpesona akan dengan rumah yang ada di depannya. matanya tidak dapat untuk menunjukkan kekagumannya terhadap rumah megah yang bagaikan istana baginya.
Hingga mereka berdua mendengar suara bising yang terdengar dari dalam, dan hal itu pun tentunya membuat Elvano gugup dan membuat jantungnya berdebar dengan kencang, dan ia tidak sabar untuk kembali bertemu dengan Riko sahabatnya itu.
Hingga sesampainya mereka di dalam rumah tersebut yang berada di ruang tamu, ada wajah yang Elvano kenalin namun ada juga yang tidak ia kenal.
Erlangga pun melangkah menghampiri teman-temannya itu dengan Elvano yang berada di gendongannya, dan dari salah satu temannya yang melihat kedatangan Erlangga langsung memanggilnya.
"Er, Lo udah datang"ujar teman Erlangga.
Dan tentunya itu membuat semua teman abangnya Erlangga menoleh kepadanya dan salah satunya Riko yang menatap penasaran dengan Elvano yang berada di gendongan Elangga, dan itu tentunya membuat Elvano merasakan kegugupan yang meningkat dan ia pun mengeratkan pelukannya kepada abangnya itu, lalu ia menenggelamkan wajahnya di ceruk abangnya agar Riko tidak melihat wajahnya.
Semua teman Erlangga yang sebelumnya melihat secara langsung kejadian sebelumnya yang ditimbulkan oleh Elvano, tentunya bingung kenapa Erlangga kembali membawa adiknya itu. Apalagi saat ini ada Riko yang datang juga.
Erlangga yang melihat keterdiaman temannya tentunya menghela napas. Bagaimana tidak, seharusnya dia tidak membawa adiknya itu kembali, tapi karena rasa sayangnya kepada Elvano itu besar jadi dia tidak dapat menolak keinginan adiknya.
Melihat keterdiaman temannya Erlangga hanya diam dan hanya duduk tanpa mau menjelaskan, dan merespon temannya yang sangat ingin tahu. bagaimana pun juga dia tidak ingin kejadian yang ditimbulkan oleh adiknya dibicarakan oleh teman-temannya itu. Apalagi sekarang ada adiknya bersamanya.
Sedangkan Elvano masih dengan kediamannya, dan tanpa mau melepaskan pelukannya dari abangnya itu. Entah kenapa dia tidak memiliki muka berhadapan dengan teman Abangnya itu dan apalagi ini Riko sahabatnya juga berada disini.
"Mati gue, kok kepercayaan diri gue langsung hilang ya, gimana caranya bicara berdua sama Riko ya?"batin Elvano. dan itu Membuat Tanpa sengaja melepaskan pelukannya dari abangnya Erlangga, dan mukanya itu dapat di lihat oleh teman abangnya.
"Akhh, imut amat adiknya Lo Er"ujar Ryo dengan hebohnya, dan itu membuat Elvano yang sibuk dengan pikirannya menjadi kaget.
Erlangga yang merasakan adiknya kaget karena suara Ryo yang heboh, langsung saja memberikan tatapan tajamnya itu.
Dan Ryo pun yang melihatnya hanya bisa nyengir.
Lalu halnya dengan Ryo yang memang mengetahui Elvano adiknya Erlangga, teman Erlangga yang lain, yang sebelumnya yang memang tidak datang, penasaran dengan anak kecil yang seperti buntalan kapas bagi mereka yang ada di dipangkuan Erlangga. Dan itu termasuk Riko yang hanya diam sejak tadi, ikut penasaran dengan adik temannya Erlangga.
Seperti Ryo sebelumnya, mereka juga tidak tahu kalau Erlangga mempunyai adik laki-laki yang masih kecil, Dan setahu mereka Erlangga hanya mempunyai adik perempuan yang bernama Celine yang hanya memiliki jarak umur 2 tahun.
"Er, ini adik Lo?'tanya teman Erlangga yang baru dilihat oleh Elvano.
Erlangga yang ditanya hanya menganggukkan kepalanya itu, karena dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
Sedangkan Elvano yang melihat abangnya yang tidak memiliki semangat saat mengakui dirinya sebagai adiknya, hanya bisa melihat kesal abangnya itu. Bagaimana bisa abangnya tidak memperkenalkan dirinya.
"Susah benar ya, kalau punya abang yang enggak peka"batin Elvano, tanpa diketahui Elvano bahwa Erlngga itu sibuk mengkhawatirkan dirinya. Dan bisa-bisanya Elvano menganggap bahwa abangnya tidak peka. Bukannya seharusnya dirinya yang tidak peka, sudah menimbulkan kekacauan yang membuat semua orang bingung, dan dengan entengnya meminta abangnya itu membawanya.
Dan dengan senyum manis dan tanpa beban Elvano pun memperkenalkan dirinya kepada teman abangnya itu.
"Hallo, Abang-abang semuanya nama adek Elvano Anggantara, adek biasanya dipanggil Elvano, terus bang Erlangga itu Abang adek, terus kak Celline kakaknya perempuannya adek, sama nama papa adek itu Erik, nama mamanya adek Diana"ujar Elvano dengan panjang lebarnya, sambil melirik Riko yang ternyata menatapnya.
"Rik, Lo pasti tahu kan kalau ini gue, gue kan sering panjang lebar kalau memperkenalkan diri gue"batin Elvano yang merasa yakin kalau Riko seharusnya merasakan dirinya ini sahabatnya dulu. karena dulunya dia jika memperkenalkan dirinya selalu dengan panjang lebar, apalagi di awal pertemuan mereka pun dia memperkenalkan dirinya dengan panjang lebarnya kepada Riko.
Namun yang terjadi, Riko yang awalnya menatapnya namun kembali sibuk dengan handphone yang berada di tangannya.
"Tu bocah kok enggak ngeh sih kalau ini gue?. Kalau pun enggak kan, seharusnya dia bisa rasain kek dengan cara bicara gue yang sama kayak dulu, kalau gue bilang aib Lo mampus Lo"batin Elvano yang merasakan kesal dengan sifat Riko yang cuek menurutnya, dan rencana awalnya yang dilaksanakannya itu pun gagal total.
Sedangkan yang lain berbeda dengan Riko mereka menatap Elvano dengan tatapan yang kagum, bagaimana tidak Elvano yang berwajah imut dengan mata yang bulat dengan tatapan polosnya, dengan pipi mochi yang merona ditambah jika kesal, marah ataupun ngambek, ia akan memanyunkan bibirnya itu, ataupun merenggut dengan imutnya.
"Hallo dek, nama abang Sebastian, salam kenal ya"
"Hallo dek, kalau Abang adek panggil aja bang Dirga, salam kenal dek"
"iya salam kenal abang-abang semuanya"jawab Elvano dengan senyum manisnya yang membuat teman-teman abangnya terenyuh dengan senyuman dari Elvano.
Adiknya yang sibuk berbicara dengan teman-temannya, Erlngga sejak tiba dia selalu melihat Riko yang lebih memilih menyendiri tanpa adanya ingin bergabung.
"Kai, Lo udah datang"
Elvano yang mendengar seseorang menyebut nama Kai langsung menoleh dan dia menemukan kai yang berdiri di dekat pintu yang sepertinya baru datang. Elvano yang melihatnya langsung menatap kai dengan tatapan berbinar-binar. Bagaimana tidak, kai yang sudah dia anggap sebagai abangnya sendiri itu datang dengan kerennya, dengan memakai jaket hitam dan tangan yang menyugar rambut yang berwarna hitam kelamnya, setelah melepaskan helm yang melindungi kepalanya. Elvano yang awalnya berada di pangkuan abangnya Erlangga langsung saja bangkit dan berlari menuju tempat kami yang berdiri, dan menubrukkan dirinya kepada Kai dan memeluk kaki kai karena tingginya yang hanya seimbang, Kai yang mendapatkan serangan secara tiba-tiba tentunya kaget, untungnya kai dapat menjaga seimbang tanpa terjatuh. Dan saat tahu kalau yang memeluknya itu Elvano dia hanya bisa terkekeh.
"Bang Kai, adek kangen ~"ujar Elvano dengan tetap memeluknya.
Kai yang melihatnya pun langsung tersenyum dan berjongkok di depan Elvano yang hanya setinggi pinggangnya hingga membuat pelukannya terlepas.
"Iya, bang Kai juga kangen kok sama adek"jawab Kai kepada Elvano.
Elvano yang melihatnya tidak dapat membunyikan pipinya yang memerah dan langsung saja dia memeluk leher kai yang masih di depannya. Dan membunyikan wajahnya yang memerah di ceruk leher kai
Erlangga yang melihat kedekatan adiknya dengan Kai hanya dapat berwajah masam, dia merasa cemburu karena kedekatan mereka, apalagi adiknya yang sampai malu-malu kalau berada di dekat kai, namun jika di dekatnya adiknya itu tidak pernah seperti itu.
Dan ada juga salah satu dari teman Erlangga yang juga merasakan kecemburuan atas kedekatan Elvano dengan Kai, dia tidak tahu kenapa dengan dirinya, namun dia hanya merasakan kalau dia tidak suka dengan kedekatan mereka. Dan dia merasakan kalau Elvano itu orang yang sangat berharga baginya.
Ya orang yang merasakannya perasaan itu yaitu Riko.
Sepertinya awal rencana Elvano berjalan dengan sukses tanpa disadarinya.