Adik Antagonis

Adik Antagonis
CHAPTER 27


Keesokan harinya, setelah Keluarga Demian dengan keluarga Anggantara, telah memutuskan pertunangan antara Celine dengan Demian. keluarga Anggantara kembali menjalani kehidupan seperti biasa, apalagi sekarang di kamar yang bertemakan warna biru langit dengan dipenuhi pernak-pernik warna biru, di atas tempat kasur terdapat anak kecil yang seperti buntalan kapas, yang tertidur dengan nyenyak.


Anak kecil itu merupakan Elvano, yang tidak seperti biasanya yang terbangun dengan sendirinya, Namun sekarang Elvano tetap tertidur dengan nyenyaknya, tanpa ada gangguan apapun.


Hingga seseorang membuka pintu kamar Elvano, seseorang itu melihat Elvano yang tertidur dengan nyenyaknya, tanpa terganggu sedikit pun.


dan seseorang itu menghampiri Elvano.


"sayang, ayo bangun udah pagi loh"ujar Erik papa Elvano.


Ya, orang yang membangunkan Elvano adalah Erik, entah apa dia pikirkan kalau Erik papanya itu membantunya dalam memandikannya.


Elvano yang dibangunkan seperti biasa tidak akan terbangun dengan semudah itu, dirinya bukannya bangun tapi lebih membalikkan badannya, hingga memunggungi Erik


Erik yang melihat putra bungsunya tidak bangun hanya bisa menghela napas, dia pun tetap berusaha membangun kan anaknya itu untuk segera bangun. Hingga


Elvano yang merasakan guncang an pada badannya merasa terusik dan membuka matanya dengan pelan, hingga hal yang pertama dia liat adalah Langit-langit kamarnya yang dipenuhi berbagai gambar bintang yang menemaninya tidur.


Dan dia pun menemukan Erik papanya yang duduk di pinggir kasur tidurnya, lalu Setelahnya bukannya bangun tapi Elvano tiba-tiba menutup matanya kembali dan menutupi kepalanya dengan selimut lembut kesayangan miliknya, dan Erik yang melihat anaknya yang seperti ingin melanjutkan tidurnya segera menahan selimut anaknya.


Elvano yang melihat itu pun langsung merengek kepada Erik papanya.


"papa~"rengek Elvano kepada Erik yang ingin melanjutkan tidurnya.


Namun Erik mengabaikan rengekkan anaknya itu, dan segera menggendong anaknya untuk membersihkan diri, dan sarapan bersama.


"papa, adek masih ngantuk~"ujar Elvano dengan lucunya, namun Erik tetap mengabaikan anaknya itu. Karena dia sudah akan terlambat menuju kantornya.


Di rumah sendiri, yang tinggal hanya Erik dengan Elvano putra bungsunya, istrinya Diana, pergi untuk menemui temannya yang masuk rumah sakit, sedangkan Celline dengan Erlangga, yang seperti biasanya sudah berangkat menuju ke kampusnya untuk kuliah.


Jadi, dia yang memalukan pekerjaan yang biasa dilakukan istrinya yaitu membangunkan si bungsu Anggantara, yang susah dibangun tidurnya minta ampun.


Setelah memandikan putranya, Erik pun memakaikan Elvano pakaian, namun saat dipakaikan. Elvano yang menyadari sesuatu, dan dia pun segera bertanya kepada Erik.


"papa, mama mana?, biasanya mama yang bangunin adek"ujar Elvano kepada Erik.


"Mama pergi mau temui temannya, jadi adek sama papa aja oke?"jawab Erik kepada putra bungsu itu.


akan tetapi sepertinya Elvano tidak merasa puas akan jawaban dari Erik.


"memangnya mama mau kemana pa, kenapa adek, kok enggak tahu"ujar Elvano yang protes kepada papanya karena mamanya yang juga pamit kepadanya.


"iya, tadi mama perginya buru-buru, tadi mama aja berangkatnya jam 6 pagi, teman mama ada yang masuk di rumah sakit. Jadi mama menjenguk temannya itu, apalagi temannya mama lagi sendirian di rumah sakit"jawab Erik dengan panjang lebar kepada putra itu, agar putra itu merasa puas dengan jawaban dan tidak bertanya-tanya lagi.


"iya, deh"ujar Elvano kepada Erik dengan wajah yang cemberut.


Bagaimana dia tidak cemberut, bagaimana bisa mamanya itu meminta Erik yang tidak pandai dalam hal memilihkannya pakaian.


Menurut Elvano, Erik itu payah, apalagi dalam hal pakaian.


"lihat aja nanti kalau adek harus kedinginan lagi karena hanya nunggu papa lama milih pakaian"ujar Elvano kepada Erik yang masih mempertahankan wajah cemberutnya.


Erik yang mendengar perkataan putra bungsunya itu, berbicara seperti itu hanya bisa berwajah masam, dan hanya bisa menghela napas, dirinya pun mengakui kalau dirinya tidak pandai dalam hal memilihkan pakaian, pakaian yang biasa dia pakai pun karena istrinya sendiri yang siapkan.


Untung saja sebelum istrinya pergi, dia sudah berpesan untuk memakaikan Elvano yang disukai putra bungsunya itu.


Setelah di pakaikan pakaian, Erik pun segera membawa Elvano keluar dari kamar milik putranya, dan segera untuk sarapan pagi bersama putra bungsunya itu.


Di meja makan, Erik menyuapi Elvano dengan telaten, sambil memangku putranya itu.


Elvano pun menerima suapan dari Erik, hingga makanan yang berwarna hijau yang disebut sayuran, akan di suapi padanya.


"papa, adek enggak suka sayurnya~"ujar Elvano dengan wajah yang cemberut, sambil menghalau makanan yang disebut sayuran itu masuk ke mulutnya.


Sejak dulu Elvano itu bermusuhan dengan yang namanya sayuran, baginya sayuran itu tidak enak, pahit dan hambar.


Erik yang melihat anaknya yang menolak makan sayur hanya dapat menghela napas, entah sampai kapan putra bungsunya ini mau makan sayur.


"sayang ayo dimakan, sayur ini enak loh"ujar Erik yang berusaha membujuk rayu putranya agar mau untuk makan sayur. Namun bukannya mau makan, tapi Elvano menutup mulutnya dengan tangan mungilnya itu.


akhirnya Erik pun menyerah, dan Elvano yang melihat Erik yang tidak membujuknya lagi langsung menurunkan tangannya.


"papa, ini sebagai orang tua enggak boleh maksain anak, nanti kalau adek nangis. papa mau tanggung jawab?, nanti kalau adek ketemu sama mama adek adukan papa"ujar Elvano dengan suara imutnya yang dibuat-buat untuk mengancam Erik papa.


Erik yang mendengar perkataan anaknya yang berusaha mengancamnya hanya bisa menahan gemasnya kepada putra itu.


Bagaimana bisa putra yang imut ini pandai bersilat lidah, apalagi sok-sok kan mengancam dengan suaranya yang dibuat imut.


"iya dek, enggak papa maksain lagi"ujar Erik kepada Elvano.


Elvano yang mendengar Erik yang akhirnya tidak akan memaksanya untuk makan sayuran tersenyum senang.


"yaudah, ayo adek ikut papa"ujar Erik tiba-tiba


Elvano yang diajak oleh papanya langsung bingung.


"memang mau kemana papa?"tanya Elvano yang bingung


"ke kantor papa, kalau begitu sekarang ayo kita berangkat"ujar Erik kepada Elvano yang masih kebingungan dengan jawaban Erik.


Erik pun berdiri dari duduknya sekaligus menggendong elvano, dan mengabaikan putra itu yang masih kebingungan.


mereka pun berangkat dengan menggunakan mobil dan keluar dari pekarangan halaman rumah.


Di dalam perjalanan hanyalah hening yang tercipta, hingga tiba-tiba Elvano yang akhirnya sadar dari kebingungan, tiba-tiba menyelutuk


"papa kok adek pergi sama papa?"tanya Elvano kepada Erik yang fokus menyetir mobil.


"adek enggak mau"jawab elvano dengan lugas


"mangkanya adek papa bawa"ujar Erik kepada Elvano.


Akhirnya Elvano dengan Erik pun sampai di perusahaan milik Erik.


...****************...


Sesampainya di parkiran perusahaan Anggantara, Erik pun keluar dari mobilnya dan membukakan pintunya dan juga untuk putranya Elvano, dan menggendong putranya itu yang sepertinya sibuk mengangumi ataupun terpesona dengan gedung tinggi yang berada di depannya, yang merupakan perusahaan milik keluarga Anggantara.


Perusahaan milik keluarga Anggantara ini sendiri merupakan perusahaan yang terbesar dan terkenal baik di dalam maupun di luar, perusahaan ini merupakan perusahaan turun temurun dari keluarga Anggantara sendiri, dan setiap generasinya, perusahaan ini akan selalu mengalami kemajuan di setiap di pimpin oleh generasinya.


Erik yang menggendong putranya pun hanya dapat terkekeh melihat putranya itu yang menatap gedung yang ada didepannya dengan mata yang berbinar-binar dan tak lupa mulut kecilnya yang mangap, melihat tingginya gedung yang ada di depannya.


Erik pun masuk ke dalam gedung yang ada di depannya dan di saat dia masuk semua karyawan yang berada di lobi menatap kepada atasan mereka yang tidak lain adalah Erik Anggantara, namun ada yang beda, Erik yang biasanya selalu sendirian yang datang kantor, namun menggendong seorang anak kecil yang sebelumnya tidak pernah terlihat, dan tidak mereka ketahui. hingga membuat Elvano menjadi bahan pembicaraan para karyawan.


Elvano yang melihat dan mendengar semua karyawan, dan menjadi dirinya sebagai bahan pembicaraan hanya menghela napas.


Dan Elvano merasakan risih karena pembicaraan mereka yang menurutnya itu sangat keterlaluan baginya.


"ya ampun mereka udah tua tapi suka amat gibahin orang lain, gini-gini gue anak bungsu kesayangan atasan kalian sendiri ya, di depan atasan kalian sendiri, omongin gue, berani amat mulut kalian itu, dasar"batin Elvano yang merasa kesal saat dikatakan bahwa dia anak di luar nikah.


Dan Elvano yang semakin risih hanya semakin mengeratkan pelukannya kepada Erik dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Erik.


Erik yang mengetahui anaknya risih, langsung saja dia berhenti di tengah-tengah lobi, dan menatap tajam kepada orang-orang yang sudah berani-beraninya membicarakan anaknya tanpa tahu apapun.


"apa maksud kalian bicara seperti itu, memang kalian pikir saya tidak punya telinga apa?, apa kata kalian anak di luar nikah, jadi manusia itu jangan sok tahu.


Dan pasang telinga kalian baik-baik, ini adalah Elvano Anggantara, putra kandung saya dengan Diana dan jika ada yang masih membicarakan yang tidak benar tentangnya di belakang saya, saya tidak segan-segan akan membuat kalian dipecat dan membuat karir kalian hancur"ujar Erik dengan berteriak kepada karyawannya yang membicarakan hal yang tidak benar tentang anaknya, dengan suara yang mengancam dan datar, dan membuat siapapun yang mendengarnya akan merinding.


Setelah mengatakannya Erik pun melanjutkan perjalanannya menuju ruangannya.


"Rasain itu, makanya jangan macam-macam sama bapak gue"batin Elvano yang merasa bangga dengan ancaman Erik kepada karyawannya yang hanya bisa ghibah.


Dan akhirnya mereka pun sampai di ruangan milik Erik yang berada di lantai paling atas.


Dan saat memasukinya, ruangannya yang besar dengan bertemakan klasik, memiliki ruangan kamar untuk istirahat, dan memiliki sofa untuk tamu yang datang, dan tak lupa di bagian belakang kursi kebesaran milik Erik yang memiliki jendela yang secara langsung dapat melihat pemandangan kota dari atas.


Erik yang memasuki ruangan milik Erik lagi-lagi tidak dapat untuk tidak menampilkan rasa terpesonanya dengan ruangan yang di masuki, apalagi dia dapat melihat jendela yang besar yang dapat melihat pemandangan kota, apalagi jika di lihat di malam hari.


"papa adek mau turun, adek mau lihat itu"ujar Elvano kepada Erik, sambil menunjuk jendela yang sejak awal masuk sudah dilihatnya.


Erik pun menuruti keinginan putranya itu dan menurunkannya Elvano, dan mengikuti putra itu untuk memperhatikan putranya itu agar tidak kenapa-napa, sambil menelpon asistennya untuk menemuinya segera.


Elvano yang sudah diturunkan tentunya langsung lari menuju ke jendela yang sudah menjadi incarannya,dan mengabaikan perkataan papanya.


Dan sesampainya di jendela tersebut, Elvano tidak dapat mengangumi pemandangan yang terlihat pada matanya, dia dapat melihat kota yang dilihat sekaligus di matanya, dan melihat jalan raya yang dipenuhi oleh berbagai transportasi yang berlalu-lalang.


Erik yang melihat anaknya yang senang, tentunya juga ikut senang melihat anaknya. Untung saja dia membawa putra itu, dan berpikir jika dia tinggalkan Sebentar mungkin anaknya itu akan tenang.


Dan di saat itu, pintu yang berada di ruangan tersebut di buka dan membukanya adalah asisten Erik yang bernama Jordan, seorang paruh baya pria yang sepantaran dengan Erik, dan sekaligus sudah menjadi sahabat Erik sejak masa sekolah.


Jordan di saat memasuki ruangan milik Erik, terkejut melihat anak kecil yang berada di ruangan atasannya, apalagi sepertinya atasannya itu yang sudah akrab dengan anak kecil tersebut.


"Tuan"ujar Jordan kepada Erik


Erik yang dipanggil langsung menoleh kepada Jordan, dan melihat Jordan yang menghampirinya dan menatap bingung kepadanya.


"sayang ayo ke sini sebentar"panggil Erik kepada Elvano, yang masih sibuk melihat pemandangan yang ada di depannya, dan dia pun menoleh kepada Erik yang memanggilnya dan Elvano pun menghampiri Erik. Hingga


"ini anak ku, anak bungsu Anggantara, Elvano Anggantara"ujar Erik dengan tegas kepada Jordan dan sekaligus menjawab kebingungan Jordan.


Jordan yang mendengar perkataan Erik pun mengangguk, dan menjadi paham jika anak kecil yang bersama Erik adalah putra bungsunya yang sebelumnya mengalami koma selama lima tahun.


Selama bekerja dengan Erik Jordan memang tidak pernah melihat bagaimana wajah dari putra bungsu Erik, dan dia hanya tahu bahwa putra bungsu Erik itu mengalami koma selama lima tahun dikarenakan kecelakaan yang di alaminya dengan sekeluarga.


"hallo, Om Nama adek, Elvano Anggantara, om bisa panggil adek Elvano atau El"ujar Elvano dengan pembawaannya yang khas.


Jordan yang melihat nya pun tentunya tersenyum kecil melihat anak dari atasannya yang lucu menurutnya, dan dia pun menyamakan tingginya dengan Elvano.


"hallo, Tian muda Elvano nama om, om Jordan"jawab Jordan yang sekaligus memperkenalkan dirinya kepada Elvano.


"salam kenal om Jordan"ujar lagi Elvano kepada jordan. Jordan yang melihatnya hanya terkekeh. Hingga


"akhrmm"deheman Erik yang membuat acara perkenalan mereka terhenti.


"sayang, papa mau rapat dulu ya, adek mainnya sama om Jordan ya?"ujar Erik yang akan melakukan pertemuan rapat dengan kliennya.


Elvano yang paham jika papanya akan bekerja, langsung mengangguk dan menjawab kepada papanya.


"okey papa"ujar Elvano kepada Erik.


Erik yang melihatnya merasa gemas dan langsung mengelus rambut putranya yang saat disentuh dengan tangannya akan terasa lembut. Dan saat berhadapan dengan Jordan wajah Erik langsung berubah menjadi datar.


"Jordan jaga anakku"ujar Erik dengan datar


"baik tuan"jawab Jordan dan membungkukkan kepalanya dengan sopan kepada Erik.


Setelah itu Erik pun pergi dari ruangan dan bergegas untuk menemui kliennya itu.


Setelah kepergian Erik, Jordan pun membalikkan badannya menghadap Elvano.


"jadi tuan muda, kita akan bermain apa?"tanya Jordan kepada Elvano.


Elvano yang ditanya hanya tersenyum dengan misterius