Adik Antagonis

Adik Antagonis
CHAPTER 28


"tuan muda, anda mau kemana ?, nanti tuan besar mencari anda"


teriak Jordan yang memanggil-manggil Elvano sambil mengejar tuan mudanya dengan ngos-ngosan, apalagi sekarang Elvano yang asih asik berlarian sana Sini dengan aktifnya tanpa menghiraukan Jordan yang sepertinya sudah kelelahan.


awal kejadian ini, Elvano yang sebelumnya masih asik melihat pemandangan kota dari jendela merasakan bosan.


Jordan yang merasa jika tuan mudanya bosan pun memberikan ide untuk mengelilingi kantor milik Erik.


Elvano uang di ajak tentunya senang, dan dengan semangat dia pun menarik tangan Jordan dengan tangan mungilnya, untuk segera mengajaknya mengelilingi kantor milik Erik.


Namun sepertinya Jordan merasa menyesal memberikan ide untuk mengajak tuan mudanya berkeliling, dia tidak menyangka bahwa mengurus tuan mudanya sangat sulit, Apalagi seperti Semarang tuan mudanya tidak mendengar panggilannya dan malah menambah kecepatan pada lariannya hingga membuat Jordan merasa letih dan ngos-ngosan mengejar tuan mudanya itu


Jordan yang letih pun lebih memilih untuk berhenti dari lariannya, dan duduk di atas lantai tanpa takut mengotorkan pakaiannya, dan hanya lesehan di lantai sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding, tanpa mempedulikan tatapan orang-orang yang melihat kelakuannya, karena Jordan hanya ingin untuk beristirahat.


Sedangkan Elvano, tidak menyadari bahwa Jordan tidak mengikutinya lagi, dan dia hanya sibuk melihat dan mengagumi berbagai hal yang belum dia lihat.


Karena sibuk menatap mengagumi, tiba-tiba


brukk


Elvano menabrak sesuatu, dan membuat dia terjatuh, Elvano yang terjatuh tentunya merasa malu, apalagi pantat yang pertama mencium kerasnya dan dinginnya lantai.


Rasanya Elvano ingin menangis, dan tanpa disadarinya mata bulatnya berkaca-kaca, dan kapan pun siap untuk mengeluarkan air mata.


Sedangkan seseorang yang berada di depan Elvano, tentunya terkejut, dan tidak sadar jika dia sudah menabrak seorang anak kecil, dan dia pun segera menolong Elvano yang terjatuh.


"kamu tidak apa-apa nak?"tanyanya kepada Elvano


Elvano yang ditanya hanya diam, namu tidak dalam hatinya yang merasa dongkol.


"tentu aja sakit, pantai gue ni sakit, pantai enggak apa-apa si, cuman malunya itu, muka gue harus ditaruh kemana?"batin Elvano yang merasa kesal kepada orang yang berada di depannya yang tidak peka.


seseorang itu langsung saja membantu Elvano untuk berdiri, dan tak lupa untuk membersihkan debu yang menempel di pakaiannya.


"om minta maaf ya nak, ada yang Luka?"tanya seseorang tersebut kepada Elvano lagi.


Elvano belum mengetahui siapa yang ada berada di depannya, dan hanya menunduk sambil menutup wajahnya dengan tangan mungilnya.


"nak, kamu kok diam aja?"tanya seseorang itu lagi kepada Elvano.


"ya ampun om-om ini enggak tahu apa, gue lagi malu ini"batin Elvano yang masih sibuk menutup wajahnya dengan tangan mungilnya.


"eh, kamu Elvano kan adiknya Erlangga?"ujar seseorang itu saat melihat wajah yang tidak tertutupi oleh Elvano.


Elvano yang dikenali oleh orang di depannya langsung terdiam, dan tanpa disadari olehnya dia menurunkan tangan mungilnya yang menutupi wajahnya.


"benar, kamu Elvano adiknya Erlangga"ujar seseorang itu lagi


Elvano pun mendongak, saat seseorang itu berseru kepada-nya saat mendongak dirinya terkejut jika orang yang di depannya itu ayah Riko, yaitu Kevin.


ya orang yang ditabrak oleh Elvano yang tidak lain adalah Kevin, seorang paruh baya yang sepantaran dengan Erik papanya Elvano, Kevin sendiri memang memiliki urusan dengan erik, dan sekaligus sahabatnya itu di waktu masa sekolah dulu.


"oh my God kok sekarang sih ketemunya?"batin Elvano yang berteriak, dia tidak menduga jika dia akan bertemu dengan Kevin secepat ini.


Bagaimana tidak dirinya sendiri belum siap untuk bertemu dengan Kevin, seseorang yang sudah dia anggap sebagai ayahnya sendiri.


Rasanya setiap dia bertemu dengan Kevin, ingin rasanya menangis karena akan rindunya kepada Kevin.


"nak, kamu kok bengong aja?"ujar Kevin kepada Elvano, yang membuat Elvano sadar dari lamunannya.


"enggak kok om, adek baik-baik aja"jawab Elvano dengan riang dan menunjukkan eyes smile nya kepada Kevin, untuk meyakinkan Kevin, jika dirinya baik-baik saja.


Kevin yang melihat keceriaan Elvano, terkekeh dan mengacak-acak rambut milik Elvano yang sangat halus, saat tangannya menyentuh rambut Elvano.


Elvano rambutnya yang diacak-acak tidak merasa marah, tapi dia hanya diam, entah kenapa dia merasa senang.


di kehidupannya dulu Kevin selalu mengacak-acak rambut Elvano jika dia merasakan gemas kepada setiap tingkah lakunya, dan Elvano pun pasti selalu merasa kesal, dan marah setiap rambutnya di acak.


Namun sekarang berbeda, Elvano merasa senang, apalagi dirinya sangat merindukan setiap Kevin membuat rambutnya berantakan. tiba-tiba


"sayang "teriakan seseorang yang suaranya dikenali oleh Elvano, teriakan itu pun membuat Elvano sadar, dan saat menoleh dia menemukan Erik papanya yang berteriak tadi sambil berlarian untuk menghampirinya dirinya.


Hingga di saat sampai di depan Elvano. Erik berhenti dengan ngos-ngosan, bagaimana tidak, saat menuju ke ruangannya, Erik tidak menemukan putra bungsunya sendiri, dan di saat mencari Erik hanya menemukan jordan yang masih lesehan di lantai, dan Erik pun yang panik, dia pun mencari putranya itu ke semua ruangan di kantornya sambil berlarian, dan dirinya menemukan putranya bersama kliennya sendiri sekaligus sahabatnya yaitu Kevin.


"kamu kemana aja si sayang, papa dari tadi nyari kami loh"ujar Erik dengan suara yang masih ngos-ngosan kepada Elvano.


Elvano yang melihat bagaimana Erik yang ngos-ngosan, apalagi pakaiannya sendiri dibasahi oleh keringat dan rambutnya yang hitam legam pun lepek, Elvano merasa bersalah, dirinya melupakan Erik yang pastinya akan mencarinya, bagaimana putra bungsunya yang baru melihat dunia, setelah koma, tiba-tiba hilang secara tiba-tiba.


"tapi bagiamana ya, perasaan mereka kalau sebenarnya Elvano yang asli udah enggak ada?"batin Elvano, dirinya sendiri secara tiba-tiba mengungkapkannya setelah melihat Erik yang penuh menatapnya dengan khawatir.


"kalau mereka tahu kalau gue bukan Elvano yang asli, sikap mereka berubah enggak ya?"batin Elvano lagi, sejak berada di tengah-tengah keluarga Anggantara, dirinya merasa senang, jika dia memiliki keluarga yang sejak dulu dia impikan.


di kehidupannya yang dulu hidup sebagai yatim piatu, tanpa mengetahui orang kandungnya sendiri, apalagi dirinya sejak bayi dititipkan ke panti asuhan, dari kecil hingga besar tidak ada yang mau mengadopsinya Elvano tentunya di masa itu, iri dan juga ingin merasakan bagaimana kehangatan pelukan keluarga, di khawatirkan, dan disayangi.


Memikirkan hal itu tanpa disadari oleh Elvano air matanya, sudah membendung di pelupuk matanya, hingga setetes air mata pun terjatuh, hingga membuat Elvano menangis. Menangis dengan sekencang-kencangnya.


Erik yang melihat putranya yang tiba-tiba menangis tentunya terkejut dan panik, dia tidak tahu apa yang menjadi penyebab putra bungsunya itu menangis dengan tiba-tiba.


"sayang, kenapa nangis, hmm?"tanya Erik dengan panik, dan berusaha membujuk putranya itu untuk berhenti menangis,


Namun bukannya mereda, tapi Elvano semakin mengencangkan tangisannya.


"adek, minta maaf, adek udah buat papa khawatir, adek nakal, adek anak nakal"ujar Elvano dengan suara yang lirih, dan disertai dengan tangisan kepada Erik.


Erik yang mendengar anaknya mengatakan itu tentunya terkejut, dan bingung karena anaknya yang tiba-tiba mengatakan hal tersebut.


"papa, enggak marah sama adek, terus apa tadi kata adek anak nakal?, adek bukan anak nakal, adek putra papa yang tampan dan kebanggaan papa, papa cuman khawatir sama adek, bagaimana tidak, risau nya papa sama adek, adek enggak ada di tempat ruangan papa tinggalin, pas mau ke tempat adek, adeknya enggak ada, tentunya papa khawatir sama adek, itu tandanya papa sayang sama adek apalagi adek ini kan kesayangannya papa"jawab Erik dengan lembut sambil memegang kedua pundak mungil milik putranya itu.


"udah ya sayang jangan nangis, nanti matanya bengkak loh, terus nanti ketampanan adek ntar hilang"ujar Erik terkekeh sambil menghapus lelehan air mata yang menempel di pipi Elvano.


Dan setelahnya dia pun memeluk Elvano dengan erat, Elvano yang dipeluk tentunya juga membalas pelukan Erik tentunya dengan pelukan dengan erat, dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher milik Erik sambil sesenggukan.


Erik yang melihat anaknya yang masih sesenggukan pun langsung mengelus punggung anaknya itu, untuk menenangkan putranya itu.


Dan mereka tidak menyadari jika masih terdapat seseorang yang masih berada di dekat mereka, seseorang itu merupakan Kevin.


Kevin yang melihat bagaimana Elvano yang tiba-tiba Menangis, hingga sampai Erik dan ekvano yang saling berpelukan pun hanya diam, dirinya hanya bingung bagaimana untuk berekspresi ataupun untuk dilakukannya, dan entah kenapa dirinya juga setiap melihat Elvano, dirinya juga mengingatkan masa lalunya kepada seseorang yang dia rindukan dan seseorang yang sudah dia anggap sebagai anak sendiri.


Entah kenapa sekarang tiba-tiba dia merasa rindu kepadanya.


"Erland sayang, kamu dimana sekarang, ayah harap kamu hidup dengan baik di luar sana"batin Kevin sambil melihat erik dan Elvano yang masih berpelukan.