
Sesampainya di rumah, Erik pun memarkirkan mobilnya dihalaman rumah, dengan menggendong putra bungsu yang masih tertidur dengan lelap. Dan di saat keluar dia pun melihat mobil milik istrinya Diana, dan dia merasa bingung dengan cepatnya kepulangan istrinya yang sebelumnya mengatakan bahwa dia akan menginap di rumah sakit tempat temannya di rawat.
Lalu Erik pun memasuki ke rumah dan di saat akan melewati ruang tamu dia menemukan istrinya yang berada di ruang tamu, dengan seorang wanita yang sepantaran istrinya.
Diana yang asik berbicara dengan tamunya langsung menoleh saat mendengar suara langkah kaki, dan di saat menoleh dia pun menemukan suaminya Erik dengan putra bungsunya Elvano yang tertidur di gendongan suaminya. Dan Diana pun menghampiri suaminya itu.
"kamu sudah pulang mas, kok tumben cepat?"tanya Diana kepada Erik, sambil mengelus rambut putra bungsunya yang tertidur dengan menyandarkan kepalanya di pundak milik Erik tanpa terusik sedikit pun.
Dan Diana merasa gemas dengan cara putranya itu tertidur, dan tak lupa menoel pipi mochi milik Elvano yang seperti akan tumpah.
Walaupun di ganggu Elvano tetap tertidur tanpa terusik sedikit pun.
"mas, tadi bawa adek ke kantor, tadi adek asik main, sama makan jadinya ketiduran"jawab Erik dengan seadanya kepada Diana yang masih asik mengganggu tidur nyenyak Elvano.
Setelah asik mengganggu tidur nyenyak Elvano, Diana pun langsung menatap Erik, yang ingin mengatakan sesuatu kepada suaminya itu. Sebelum mengucapkannya Erik yang terlebih dahulu menanyakan kebingungannya kepada Diana
"bukannya kata kamu, kalau kamu masih di rumah sakit?"tanya Erik kepada Diana
"oh?, aku sudah selesai menjenguk tadi, terus-"ujar Diana yang menghentikan perkataannya dan langsung menoleh kepada tamu yang berbicara kepadanya
"Erik yang melihat arah pandang istrinya pun mengikuti arah pandang istrinya tersebut, dan menemukan seorang wanita yang sepantaran dengan istrinya yang sedang duduk di atas sofa yang berada di ruang tamu dengan sebuah koper besar yang berada di kakinya.
Dan Erik pun melihat wanita tersebut hanya memandangnya dengan datar, tanpa adanya senyuman di wajahnya. Wanita tersebut yang ditatap oleh Erik pun hanya dapat menundukkan wajahnya dan merasakan kegugupan yang melandanya.
Diana yang melihat wajah suaminya pun juga ikut gugup, dan merasa ragu untuk mengatakannya kepada suaminya itu.
"mas itu bolehkah-" sebelum menyelesaikan ucapannya Erik langsung memotong ucapan Diana
"tidak boleh"ucap Erik dengan tegas, dan tidak ingin dibantah.
"tapi mas-" sebelum menyelesaikan ucapannya, lagi-lagi Erik memotong ucapan Diana.
"tidak ada tapi-tapian, sekarang minta dia keluar, atau saya sendiri yang akan menelpon suaminya itu untuk datang ke sini"ujar Erik dengan tegas dan final.
Diana yang melihat suaminya yang tidak ingin ucapannya di ganggu pun hanya dapat terdiam. Dan dia pun tidak dapat berbuat apa-apa jika suaminya tidak mengizinkannya sejak awal.
Awalnya Diana akan meminta izin untuk suaminya agar memperbolehkan temannya untuk menginap di rumahnya, namun sebelum mengatakannya pun suaminya sudah tidak mengizinkan, dan dia pun tidak dapat melawan suaminya yang keras kepala, apalagi ada alasan kenapa suaminya itu melarangnya.
Dan Diana yang mengerti pun tidak memaksa suaminya itu.
Tanpa disadari oleh mereka berdua, Elvano yang sedang tertidur di gendongannya Erik ,merasa terusik dengan pertengkaran Diana dengan Erik.
Dan dia pun mengangkat kepalanya, sambil mengusap matanya dengan tangan mungilnya.
Erik yang merasa pergerakan pada gendongan pun menoleh kepada putranya dan menemukan putra itu terbangun, dan dia pun langsung mengusap punggung putranya agar kembali tidur.
Namun Elvano tidak merasa mengantuk, dan hanya sibuk mengusap matanya dengan tangan mungilnya itu, Erik yang melihatnya pun langsung menghentikan kegiatan putranya
"sayang jangan di usap, nanti matanya memerah"ujar Erik kepada Elvano sambil menghentikan perbuatan putranya itu.
Elvano yang mendengar suara Erik tidak menjawab perkataan erik, karena dia masih sibuk mengumpulkan nyawanya kembali, dan setelah nyawanya terkumpul, dia merentangkan kedua tangannya hingga mengenai wajah Erik.
Dan meminta Erik agar segera menurunkan dirinya.
"papa, adek mau turun~"rengek Elvano yang meminta turun kepada Erik sambil menggerakkan badan di gendongan Erik untuk segera diturunkan.
Erik yang melihat putranya yang asik menggerakkan badannya itu membuatnya kelimpungan dan akhirnya dia pun menurunkan Elvano ke bawah.
"iya, sabar sayang jangan gerak-gerak, nanti jatuh"ujar Erik kepada Elvano dan dia pun segera menurunkan Elvano.
Setelah di turunkan oleh Erik, Elvano pun langsung menubrukan badannya kepada Diana secara tiba-tiba.
Dan hal itu pun membuat Diana merasa terkejut dengan serangan Elvano yang tiba-tiba, namun saat mendengar Elvano yang mengatakan sesuatu membuatnya hanya bisa tersenyum
"Mama, adek rindu mama~" ujar Elvano dengan suara yang terendam dengan pakaiannya Diana.
Diana yang melihat putranya yang bersikap menggemaskan kepadanya hanya dapat tersenyum, lalu dia pun mensejajarkan dirinya dengan Elvano.
"kok bisa putranya imut mama ini merindukan mamanya"ujar Diana kepada Elvano sambil mencubit lembut pipi mochi milik putranya.
"adek enggak tahu ma, soalnya entah kenapa di hati adek ada yang kosong pas mama enggak ada di pandangan adek, rasanya ada yang beda, rasanya itu terus rindu sama mama"jawab Elvano kepada Diana, seperti kata-kata menggombal.
Diana maupun Erik tentunya terkejut dan bingung dengan perkataan putranya mereka, ya ampun dari mana putra imut mereka ini belajar menggombal.
Sedangkan Elvano baru menyadari dengan kata-katanya yang keluar dari mulutnya.
"mampus gue, ya ampun ni mulut kok cerocos Mulu sih, ya tapi kan enggak pa-pa soalnya mama cantik"batin Elvano yang tidak menyadari wajah orang tuanya sendiri.
"adek, dari mana belajar kata-kata itu?"ujar Diana kepada Elvano.
"itu ma, adek lihat di televisi ma, terus katanya kalau seseorang itu enggak di pandangan kita atau di hati kita merasa kosong gitu berarti kita rindu kan, lagian kok mama tinggalin adek sendiri, adek stress sama papa"jawab Elvano kepada Diana dan tidak tahu kenapa jika mengingat kejadian tadi pagi membuatnya merasa kesal, dan protes kepada mama cantiknya yang tega meninggalkannya dengan Erik.
Diana yang mendengar perkataan Elvano hanya dapat terkekeh, sedangkan Erik yang mendengar perkataan putra yang tidak terima jika dia ditinggalkan bersamanya hanya dapat berwajah suram.
"sayang kok gitu sih, tadi kan enggak lama papa ngambil pakaiannya, terus jangan sok stress dek"ujar Erik yang protes dengan putranya, bagaimana bisa putranya yang sebelumnya menangis dengan kencang dan memeluknya yang seolah-olah akan menghilang, saat bertemu dengan Diana mamanya tiba-tiba dia langsung melupakan dirinya.
Akan tetap Elvano hanya mengabaikan Erik, tanpa menoleh kepada erik sedikitpun.
"mama~"rengek Elvano kepada Diana yang mengadukan Erik kepada Diana.
Diana yang melihat pertengkaran putra imutnya dengan suaminya hanya dapat terkekeh, Dan hal itu membuat mereka mengabaikan seorang wanita yang berada di sofa, namun seorang wanita itu awalnya tidak ingin merusak suasana hangat antara Diana dengan keluarganya, akan tetapi karena dia ingin segera pergi dari rumah milik temannya karena tidak ingin merasa merepotkan kepada Diana. Dan wanita itu pun menghampiri Diana dengan pelan
"Diana"panggil wanita tersebut dengan pelan, hal itu pun membuat ketiga orang tersebut menoleh kepadanya, dan hal itu membuat dirinya merasa gugup
"Diana, aku pergi dulu ya, terimakasih sudah menolong aku"ucap wanita tersebut kepada Diana dengan senyuman kecil.
"memangnya kamu mau kemana, bagaimana kalau-"jawab Diana, namun belum menyelesaikan perkataannya tiba-tiba Erik memotong perkataannya
"sayang"ujar Erik dengan tegas
Dan hal itu pun membuat Diana langsung menghentikan ucapannya dan hanya dapat menghela napas.
"Bagaimana begini aja, aku antar kamu ke apartemen milik aku dulu, kamu bisa sementara tinggal di situ"ujar Diana dan langsung menoleh kepada suaminya untuk meminta persetujuan
"boleh kan mas?"tanya Diana kepada Erik
Erik melihat istrinya yang keras kepala hanya dapat menghela napas, dan akhirnya menganggukkan kepalanya yang bertanda memperbolehkan.
Melihat suaminya yang memperbolehkan, akhirnya Diana merasa senang dan lega, karena temannya itu mempunyai tempat untuk tinggal.
Sedangkan Elvano yang sejak tadi yang melihat pembicaraan mamanya dengan papanya yang tidak diketahuinya, hanya dapat menatapnya dengan bingung, ditambah dengan kehadiran seorang wanita yang tidak diketahui membuatnya bertambah bingung.
Apalagi wajah dari perempuan itu, tidak dapat dilihat, namun satu hal yang disadari oleh Elvano, dia merasa pernah melihat wanita yang berada di depannya, tapi entah dimana dia pernah melihatnya
Karena penasaran yang tinggi, dia pun langsung menarik pakaian milik Diana
"Mama, Tante ini siapa?"tanya Elvano dengan wajah yang menatap bingung dengan wanita dihadapannya.
Diana yang melihat kebingungan Elvano, langsung saja memperkenalkan temannya kepada Elvano.
"ini teman mama, namanya Tante Gira, Gira ini putra bungsuku yang pernah aku ceritakan namanya Elvano"ujar Diana kepada Gira.
Gira, yang melihat pandangan Diana pun, ikut menoleh kepada Elvano, dan hal itu membuat elvano yang akhirnya dapat melihat wajah milik gira teman mamanya.
Namun saat diperlihatkan wajahnya membuat Elvano merasa terkejut, karena dia tidak menyangka dengan apa yang di hadapannya.
Namun dia pun segera merubah mimik wajahnya agar tidak ada yang menyadari rasa terkejutnya. Bagaimana dia tidak merasa terkejut dengan wanita hadapannya. Karena
wanita yang berada di hadapannya, memiliki wajah yang sangat mirip dengan mama Riko sahabatnya, dan sekaligus mantan istrinya Kevin, seseorang yang sudah dia anggap sebagai ayah
"ya ampun sebenarnya ada apa dengan alur novel ini sih"batin elvano yang berteriak kesal