Adik Antagonis

Adik Antagonis
CHAPTER 35


Matahari yang awalnya yang menerangi bumi, mulai menenggelamkan dirinya hingga gelap mulai melingkupi bumi, di setiap rumah yang mulai menghidupkan lampu, gedung pencakar langit berserta dengan lampu yang berada di jalan raya yang dipenuhi oleh kendaraan yang melintas pun mulai hidup untuk menerangi kota, hingga di setiap sudut kota juga menghidupkan lampu, hingga membuat kota menjadi gelap gemilang.


Begitu juga di rumah keluarga Anggantara, yang mulai bersiap untuk melakukan makan malam bersama. Elvano dengan Erlngga yang sebelumnya sudah terbangun sejak awal pun , sudah berada di meja makan.


Mereka sekeluarga makan bersama, dan Erlangga yang sedang memangku adiknya itu di saat akan menyuapi adiknya itu, secara tiba-tiba


"Abang adek mau makan sendiri"ujar Elvano kepada Erlngga, namun membuat semua keluarganya yang berada di meja makan, langsung menghentikan acara makan malamnya dan semua mata tertuju kepada Elvano.


Kata-kata Elvano membuat mereka terkejut, dan bingung, bagaiman tidak Elvano yang biasanya sudah terbiasa di suapi oleh setiap keluarganya, secara tiba-tiba ingin makan sendiri,


Elvano yang menyadari jika semua tatapan keluarganya langsung tertuju kepadanya pun ikut bingung.


"Memang kenapa sih kalau gue pengen makan sendiri, lagian kan gue udah besar, walaupun ni tubuh bocah tapi kan jiwa gue anak berusia 18 tahun"batin Elvano yang merasa jengkel dan bingung dengan keluarga nya sendiri.


Diana yang sebelumnya juga ikut terkejut pin langsung menyadarkan dirinya sendiri.


"Memang kenapa kalau adek pengin makan sendiri, lagian kan adek udah besar, adek enggak suka dimanjain, terus sekarang kan umur adek udah 10 tahun masa iya makan masih di suapin"ujar Elvano kembali


"Sayang kok tiba-tiba, adek bilang kayak gitu?"tanya Diana kepada Elvano.


Diana dan sekeluarga tentunya paham kenapa Elvano yang secara tiba-tiba mengatakannya seperti, alasan mereka memanjakan Elvano pun mereka berpikir jika Elvano, pasti akan kebingungan bagaimana untuk makan sendiri, maupun melakukan hal-hal yang seharusnya sudah bisa dia lakukan sendiri di umurnya sekarang.


Apalagi elvano sudah tertidur selama 5tahin lamanya.


Tapi sepertinya semua keluarga Anggantara tidak mengetahui jika kalau jiwa Elvano sekarang dihinggapi oleh anak remaja berusia 18 tahun, bukan seorang bocah 10 tahun.


Erik selaku kepala keluarga yang sejak tadi hanya diam pun mengangkat suara


"sayang kami tahu kamu udah besar, tapi kami punya alasan kenapa memanjakan mu, lagian adek kan Anak yang paling bungsu"ujar


Erik yang mencoba memberikan pengertian kepada Elvano.


"tapi papa adek kan udah besar, masa iya harus di suapin makan, nanti kalau adek udah sebesar bang Erlangga, kan adek malu kalau terus di suapin"jawab Elvano yang merasa sedih dengan Erik.


"gimana bilangnya ya"gumam Erik kepada dirinya sendiri.


Salah satu yang menjadi penyebab Elvano di manjakan, karena dia ingin menghabiskan waktu deng putra bungsunya itu, apalagi sejak kejadian yang hampir merenggut nyawa putra bungsunya itu, dan penyebab lainnya dia hanya berpikir jika putra bungsunya yang sudah tertidur selama 5 tahun pastinya akan merasa bingung dengan cara hal mudah dilakukan, seperti makan sendiri, ataupun disaat akan mandi, jadi Erik dan lainnya berpikir untuk membantu Elvano dalam melakukan segala kegiatannya.


"memang kenapa sih kalau gue makan sendiri, mungkin gara-gara gue koma kemaren ya?, atau gara-gara kecelakaan yang kemaren di bicarakan?, tapi kan gue udah besar, gapapa sih kalau di suapin jadi kan gue udah kayak bos, Takutnya kalau nanti pas gue udah bilang sama Riko yang sebenarnya gimana tanggapannya kalau gue selama ini diperlakukan seperti bocah, ya walaupun gue bocah sih, tapi kan harga diri gue yang tercoreng"batin Elvano yang berkoar koar.


Namun sepertinya Elvano memiliki perbedaan pemikiran dengan keluarganya, walaupun jiwa nya seorang anak remaja, tapi kenyataannya kalau tubuh yang di tempatinya seorang anak kecil.


"bukannya papa, enggak bolehin, adek kan sebelumnya tidurnya lama, kami hanya khawatir"ujar Erik yang berusaha menjelaskan kepada putra bungsunya


Elvano yang mendengarnya tentunya terenyuh dengan ucapan Erik, dia tidak menyangka jika semua keluarganya mengkhawatirkannya, rasa kekhawatiran yang tidak pernah dia dapatkan dari keluarga kandungnya.


Tapi pada kenyataannya dirinya bukan Elvano yang asli, dirinya dapat dikatakan menumpang pada tubuh milik Elvano, dan pasti akan kembali ke tubuhnya yang asli, atau apakah dia sudah mati.


"Kalau di pikir-pikir tubuh asli gue dimana?batin Elvano yang panik dan bingung.


Elvano yang sibuk dengan pikirannya sendiri membuat keluarganya salah paham, dan menganggap jika Elvano merasa sedih dengan sikap keluarganya.


Diana yang di samping Elvano, langsung mengusap rambut milik Elvano yang lembut, dan hal itu pun membuat Elvano sadar dari pikiran sendiri.


"sayang kamu enggak pa-pa?"ujar Diana dengan menunjukkan wajah khawatirnya kepada Elvano.


Elvano yang melihat wajah Diana yang khawatir meringis dalam hatinya, dia hanya berpikir jika Diana salah paham dengan sikapnya.


"El enggak pa-pa mama"jawab Elvano dengan menunjukkan eyes smilenya agar Diana tidak mengkhawatirkannya.


Diana yang melihat keceriaan putranya kembali, dia pun ikut tersenyum kepada putranya itu.


"yaudah, adek makan dulu ya?, sini mama suapin nanti adek sakit perut, kalau telat makannya"ujar Diana kepada Elvano sambil mengambil piring milik putranya itu.


"okey mama"jawab Elvano dengan riang.