
Dan akhirnya Erlangga dengan Elvano serta Ryo mereka pun berangkat langsung menuju ke rumah Riko, Erlangga yang menyetir dengan Elvano yang duduk tepat di samping Erlangga.
Elvano saat tahu akan ke rumah Riko, tentunya membuatnya tidak sabar, akhirnya dia dapat bertemu lagi dengan Riko sahabatnya, namun dirinya juga gugup entah apa yang harus dia lakukan jika berhadapan dengan Riko lagi dan hari ini dia pastikan dirinya akan berbicara secara empat mata dengan Riko.
Hingga tanpa di sadari oleh Elvano, jika mereka pun akhirnya tiba di rumah milik Riko.
Erlangga pun segera memarkirkan mobilnya di halaman rumah yang luas, Lalu dia pun segera untuk turun dari mobil, dan menuju ke samping mobil tempat dimana Elvano berada.
Dia pun membuka pintu mobil tersebut, dan dapat dia lihat jika adiknya yang sedang gugup, dan gelisah di duduknya, dan tak lupa menghembuskan nafas berulang kali.
Erlangga yang melihat pun bingung dengan tingkah laku adiknya itu, dan langsung terkekeh melihat tingkahnya adiknya yang seperti bertemu mertua saja.
Lalu dia pun tanpa sepengetahuan adiknya segera menggendongnya, untuk segera masuk ke dalam rumah megah yang berada di depan mereka. Tapi sepertinya mereka melupakan sesuatu.
Hingga tiba-tiba, terdengar suara yang mengetok sesuatu dengan keras.
Dan saat di lihat, rupanya yang mengetok itu adalah Ryo, yang terkunci dalam mobil.
"Oi Er, bukain"ujar Ryo yang suaranya yang terendam dari balik jendela, sambil mengetok jendela mobil dengan keras.
Erlangga yang melihat, tanpa banyak kata langsung saja dia buka mobilnya yang dikunci, hingga akhirnya Ryo pun dapat keluar dari mobil.
Setelah keluar Ryo, menghela nafas lega, dan seperti orang yang ngos-ngosan, dan tak lama kemudian dia pun menoleh kepada Erlangga, dengan wajah yang kesal dan tatapan matanya yang tajam.
"Er, Lo jahat amat sih sampai ngunciin gue di mobil, emangnya gue figuran apa ?"ujar Ryo dengan seruan yang kesal.
"ya anda memang seorang figuran di dunia ini wahai saudara Ryo yang Budiman" batin Elvano yang menatap malas kepada Ryo.
begitu pun juga dengan Erlngga, Erlngga hanya memperhatikan Ryo yang mengomelinya tanpa ingin adanya meminta maaf kepada Ryo. Lalu, setelah melihat jika Ryo yang selesai mengomel. Elangga pun mengatakan "Udah?"ujar Erlangga secara singkat dengan tatapan wajah yang datar yang tertuju kepada Ryo.
Ryo yang melihat tanggapan Erlangga pun tentunya marah, dan di saat dia akan mengomel Erlangga kembali.
Er, lo kok-"belum sempat menyelesaikan perkataannya secara tiba-tiba Erlangga, tanpa mendengar perkataan Ryo, dia tanpa langsung pergi dari hadapan Ryo, dengan adiknya yang senantiasa berada di gendongannya, dan meninggalkan Ryo yang masih di parkiran mobil.
Ryo yang awalnya ingin mengomel Erlangga kembali, namun dia harus menelan perkataannya kembali, dan hanya bisa melongo karena sikap Erlangga yang langsung pergi tanpa adanya keinginan sedikit pun untuk menoleh kepadanya.
Ryo yang ditinggal, langsung saja mengejar Erlangga yang hampir tidak terlihat pada pandangannya.
"Oi er, tungguin gue"teriak Ryo kepada Erlangga yang sudah jalan duluan.
Dan sesampainya di dalam rumah, dapat dia dengar suara berisik yang teman-temannya yang berkumpul di ruang tamu, dan Erlangga pun segera menuju ke perkumpulan temannya itu.
begitu juga dengan Elvano yang sejak tadi hanya terdiam, tanpa ingin mengeluarkan suara, itu di karenakan dirinya yang merasa gugup, karena akan bertemu dengan Riko kembali, dan Elvano pun hanya berharap kepada dirinya sendiri, jika dirinya dapat menenangkan dirinya, agar tidak terulang kembali kejadian memalukan baginya yang dimana dia menangis dengan kencang, dan dari kejadian itu pun membuat dirinya merasa malu.
Dari perkumpulan dari teman Abangnya itu, dapat dia lihat, Riko sahabatnya yang hanya menyendiri tanpa ada keinginan untuk bergabung dengan lain. Tentunya hal itu pun membuatnya merasa sedih, sahabatnya yang dulu merupakan orang yang ramah dan friendly kepada semua orang, tapi apa yang dilihat sekarang, Riko tidak seperti sahabat yang dikenalnya.
Dan di saat sudah mendekati temannya itu, Erlangga pun segera ikut bergabung, dan duduk tepat di samping Riko, yang sibuk dengan di dunianya sendiri. Erlangga pun duduk dengan Elvano yang berada di pangkuannya.
Elvano yang tidak menyangka jika abangnya itu akan duduk di samping Riko, bertambah rasa gugupnya, dan ditubuhnya pun sudah keluar keringat dingin yang sebesar jagung.
Walaupun merasa gugup, Elvano tetap sekali-kali untuk mengintip ke arah Riko yang sibuk dengan bacaan buku milik, dan sekilas dia lihat jika yang dibaca oleh Riko merupakan buku novel yang Riko sendiri pinjamkan kepadanya yaitu novel yang berjudul RED ROSE, dan di saat akan mengintip Riko lagi, tahu-tahunya Riko, yang awalnya sibuk dengan novel yang di bacanya, tiba-tiba juga menatap ke arah Elvano. Elvano yang tidak mengira jika dirinya tertangkap basah, dia pun segera mengalihkan pandangannya dari Riko, dan tanpa di sadarinya jika wajahnya sudah memerah karena rasa malunya, dan untuk menutupinya elvano segera membalikkan badannya mengarah Erlangga, dan segera memeluk Abangnya itu.
Erlangga yang bingung dengan sikap adiknya itu pun hanya diam, dia berpikir mungkin saja adiknya itu mengantuk, dan dia pun segera membalas pelukan dari adiknya itu dan tak lupa dengan mengelus punggung adiknya.
Riko yang memang sejak tadi memperhatikan tingkah laku Elvano pun segera meminta Erlangga untuk mentidurkan adiknya itu ke kamarnya di rumahnya itu.
"Er, lebih baik Lo tidurin aja adik Lo di kamar gue"ujar Riko kepada Erlangga.
Setelah mengatakannya, tiba-tiba suasana yang awalnya yang berisik, tiba-tiba hening karena Riko yang bersuara, dan membuat pandangan semua orang mengarah kepadanya. Bagaimana mereka tidak terkejut, Riko yang mereka kenal merupakan manusia yang tidak peduli dengan sekitarnya, dan lebih memilih menyibukkan diri sendiri, dan tak ingin merepotkan dirinya tanpa ada keuntungan baginya.
Riko yang sudah tahu hal ini pun terjadi hanya menghela nafas, lalu dia menyibukkan kembali dengan bacaan, Dan
"kamar tamu di rumah gue belum di bersihin, jadinya pakis aja kamar gue, terus bukanya Lo mau main basket?, masa iya lo tinggalin adik Lo sendiri?"ujar Riko yang menjawab semua kebingungan semua orang, tanpa melihat ke arah semua orang itu.
Erlangga yang mendengar jawaban Riko, pun mengangguk kan kepalanya dan berpikir jika apa yang dikatakan oleh Riko itu masuk akal.
Lalu dia pun tanpa banyak kata, langsung menggendong adiknya itu, dan segera menuju ke lantai atas dengan membawa adiknya itu untuk menuju kamar milik Riko. Dan sesampainya di lantai atas, dirinya baru sadar jika dia tidak mengetahui letak kamar milik Riko. Dan saat akan kembali untuk menanyakannya kepada Riko. Dan secara tidak sengaja dia melihat tulisan yang tercantum di pintu, dan saat mendekati tulisan itu mengatakan Kamar milik Abang Riko, yang berarti jika pintu yang berada di depannya itu milik Riko.
Namun saat melihat tulisan itu, dirinya mengernyit bingung, karena setahu dia Riko itu anak tunggal, dan tidak memiliki saudara, dan tanpa ingin memusingkan kepalanya, Erlangga pun segera membuka pintu tersebut, dan saat dimasuki dia dapat mencium aroma wangi khas milik Riko, dan dikamar milik Riko sendiri, hanya di penuhi dengan berbagai barang yang berwarna hitam dan abu-abu tua, tempat kasur yang berwarna hitam, dengan dinding kamarnya yang berwarna abu-abu tua.
Setelah puas melihatnya Erlangga pun segera menuju tempat kasur milik Riko, dan mentidurkan adiknya itu, yang tertidur dengan lelap.
setelah mentidurkan adiknya, dan tak lupa mencium kening adiknya itu dengsn sayang, dan Erlangga hanya terkekeh melihat adiknya yang seperti mengecap sesuatu di mulutnya, hingga membuat pipi mochi miliknya bergerak naik turun. Ingin rasanya dia menggigit dan mencubit pipi adiknya, namun dia hanya dapat menahan rasa gemasnya, karena tidak ingin adiknya itu menangis, dan hanya membuat dirinya kelimpungan.
Namun saat akan ingin keluar, secara tidak sengaja dia melihat sebuah foto figuran yang terletak di atas nakas samping tempat tidur, dan dapat dia lihat di foto itu, terdapat sepasang laki-laki yang memakai baju sekolah SMA, dengan seorang laki-laki yang tinggi yang merangkul laki-laki satunya yang lebih pendek darinya, mereka berdua tersenyum dengan menghadap ke kamera.
Namun satu hal yang di janggal dia temukan, jika salah satu laki-laki itu merupakan Riko, yang dikenalnya sebagai orang yang irit bicara, dan selalu menunjukkan wajah yang datar tanpa ekspresi sedikit pun, namun di foto yang dia lihat, Riko tersenyum dengan lebarnya.
Namun karena fokus pada foto figuran tersebut, Erlangga tidak menyadari jika adanya seseorang yang memasuki kamar tersebut, dan tiba-tiba.
"Letakkan foto itu sekarang"ujar seseorang itu dengan suara yang marah