
Jarrel dan keluarganya tampak marah besar pada Nyonya Serena dan suaminya.
"Kami akan mencabut saham dari perusahaan kalian. " ujar ayah dari Jarrel tersebut.
"Tuan saya mohon untuk tidak menarik saham kalian. " pinta Papi. Pria paruh baya itu berusaha membujuk rekan kerjanya. Namun Ayah dari Jarrel menolak, mereka lantas pergi begitu saja dengan kemarahan besar.
Nyonya Serena hanya mampu menangis dalam pelukan suaminya. Mereka gagal meyakinkan calon besannya.
"Bagaimana ini Pi, mami tak ingin hidup dalam kemiskinan. " gumam Mami dengan panik.
"Ini semua ulah Alicia, gadis itu tak berguna sama sekali. Dia telah mengecewakan kita Papi. " racau mami sambil menangis tergugu.
"Papi akan memarahi Alicia dia harus bertanggung jawab Mam! " tegas Papi.
Jam sebelas siang Steven menepati janjinya, menjemput sang istri dan membawanya ke mall. Mereka di sana banyak belanja kebutuhan untuk Alicia.
Selesai belanja, mereka berdua mampir lebih dulu di sebuah restauran. Mereka makan siang bersama di sana. Alicia merasa tak nyaman kala mendengar bisik bisik dari para pengunjung di sekitarnya.
Gadis itu memilih tak peduli, dia melanjutkan makannya. Steven segera memanggil pelayan, menyerahkan selembar uang kemudian menarik istrinya pergi.
Skip
Mansion
Tepatnya di dalam kamar
Alicia segera membersihkan diri kemudian mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Gadis itu menguncir rambutnya hingga menyisakan bagian bawah.
Grep sepasang lengan kekar memeluk nya dari belakang. Alicia langsung berbalik, menatap kekar wajah pria yang menjadi suaminya.
"Simpanlah ini dan gunakan sesukamu. " Steven melepaskan pelukannya kemudian menyerahkan Black card pada istrinya. Alicia terdiam, tanpa membantah dia langsung menyimpannya ke dalam tas.
Gadis itu memperhatikan suaminya yang duduk di atas ranjang. Alicia mendekat, dia hanya pasrah kala Steven menariknya hingga duduk di paha pria itu.
"Apa saja yang pria itu lakukan sama kamu Cia? " tanya Steven.
"Dia memaksaku menggunakan pakaian seksi. " gumam Alicia lirih. Steven mengangkat dagu sang istri, dia langsung mencium bibir Alicia.
"Tapi aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku tak membiarkan pria brengshake itu menyentuh tubuhku. " ungkap Alicia.
Steven langsung memeluknya. Alicia menikmati dekapan hangat pria asing yang menjadi suaminya ini.
Pria tampan itu meregangkan pelukannya.
"Mami dan Papi marah sama aku Steve, aku harus apa sekarang. " gumam Alicia. Steven mengusap kepala sang istri dengan penuh kelembutan.
"Aku akan bicara dengan mereka besok, kamu tenanglah Cia. " ujar Steven. Alicia mengangguk, dia kembali memeluk suaminya.
Keduanya memutuskan ke luar dari kamarnya. Mereka sama sama menuruni tangga dan bergegas ke luar. Steven memutuskan mengajak istrinya menemui keluarganya.
Di kediaman Brawijaya
Steven mengenalkan Alicia pada orang tuanya. Kini mereka mengobrol di ruang tamu. Nyonya Melisa menyambut hangat kehadiran menantunya itu.
"Mami, apa Steven memiliki saudara? " tanya Alicia.
"Iya, kakaknya namanya Karamel. Saat ini Kara tengah honeymoon dengan Finn, suaminya. " jelas mami Melisa dengan nada lembutnya.
"Maaf kalau saya melibatkan Steven dalam masalah keluarga saya
mami. " ujar Alicia dengan canggung.
"Tak perlu formal nak, kami ini juga orang tua dan keluarga kamu mulai sekarang.Mami yakin lambat laun cinta di antara kalian akan hadir seiring sejalannya waktu. " ungkap mami Melisa.
"Ya semoga saja mami. " balas Alicia sambil tersenyum.
Steven sendiri tak banyak bicara, dia hanya menyimak obrolan mommy dan istrinya. Papi Shaka turut menyela obrolan istri dan menantunya.
"Steven, papi ingin berbicara dengan kamu berdua. " ujar papi Shaka dengan serius. Steven mencium kening sang istri kemudian bangkit dan menyusul sang papi menuju ke ruang kerjanya.
Mami Melisa mengernyit heran, penasaran dengan apa yang ingin di bicarakan suami dan anaknya itu. Fokusnya kembali tertuju pada sang menantu.
"Nak kamu tunggu di sini. " ujar Mami Melisa yang di angguki Alicia. Wanita paruh baya itu bergegas menuju ke kamarnya. Alicia sendiri lekas bangkit, dia menatap sekitarnya dan atensinya tertuju pada figura besar di sudut ruangan.
Gadis itu melihat keluarga Brawijaya yang tampak bahagia. Alicia menghela nafas panjang, dia teringat dengan kedua orang tuanya.
Dia kembali duduk di ruang tamu dengan perasaan campur aduk. Tak lama Mami Melisa datang,dia langsung duduk di sebelah sang menantu.
"Sayang jaga baik baik gelang ini nak. " ujar Mami Melisa yang memakaikan gelang berlian di tangan Alicia. Alicia tentu saja terkejut tak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Tapi mam aku? "
"Sst, dulu mendiang orang tua papi Shaka memberikan gelang sejenis seperti ini pada mami dan sekarang mami memberikan satu untukmu. " ujar mami dengan senyuman hangatnya.
"Terimakasih atas hadiahnya mi, aku janji pasti akan menyimpannya dengan baik baik. " ungkap Alicia.
"Sama sama sayang. " balas mami tersenyum tipis. Mami Melisa mengambil sebuah album foto lalu menunjukkannya pada sang menantu.
Keduanya kini asyik mengobrol membahas masa kecil Steven. Canda tawa mereka bisa terdengar hingga Steven dan Papi yang kembali dari ruang kerja papi. Kedua pria itu mengerutkan kening, segera bergabung bersama para istri masing masing.
"Kenapa sih kayaknya seru banget. " timpal Papi Shaka.
"Ini lho Pi, kami melihat foto masa kecil Steven yang dulu pernah
botak. " ungkap mami.
"Mami jangan bongkar aib aku. " protes Steven.
"Telat nak. " ujar Mami sambil tertawa. Steven menghela nafas panjang, dia memilih pasrah kala dirinya di jadikan obyek pembicaraan sang mami dengan istrinya.
Alice tentu saja meminta foto itu pada mertuanya kemudian memotretnya sebentar. Steven yang melihat kelakuan istrinya hanya mampu mendengus sebal.
"Steven kau sangat lucu saat botak. " seru Alicia dengan tawa kerasnya.
"Tertawa lah dengan puas, tunggu saja hukumannya nanti malam. " gerutu Steven. Alicia masih menertawakan Steven, hal itu membuat Steven merasa kesal. Papi Shaka menghela nafas berat, menepuk pundak putranya agar mengalah.
Alicia begitu nyaman berada si tengah tengah keluarga sang suami. Dia merasa menjadi dirinya sendiri berada di dekat sang mertua. Gadis itu hanya bisa berandai andai, berharap kedua orang tuanya mau memaafkan dirinya dan menyadari kesalahan mereka.
"Maafin aku mami, papi. Aku tahu kalian saat ini marah dan benci sama aku tapi aku tak bisa menikah dengan Jarrel. " gumam Alicia dengan nada pelan nya. .
Dia mengusap wajahnya pelan, berusaha mengontrol dirinya agar tetap tenang. Alicia hanya tak ingin merepotkan banyak orang atas masalah keluarganya. Dia selama ini merasa tak berguna bagi siapapun.
"Sayang kenapa kamu melamun? " tanya Steven membuat Alicia tersadar dari lamunannya.
"Aku enggak papa, hanya kepikiran mami dan papi. " jawabnya sambil tersenyum tipis.