
Hari berikutnya
Ashley masuk ke ruangan sang atasan. Felix menatapnya datar, entah apa tujuannya memanggil Ashley.
"Maaf tuan, ada apa Anda memanggil saya? " tanya Ashley dengan wajah gugupnya.
"Kemasi barang barangmu mulai hari ini kamu di pecat! " ujar Felix dengan wajah datarnya. Ashley terkejut mendengar pernyataan sang atasan.
Gadis itu meminta maaf atas kejadian yang kemarin namun tak di tanggapi Felix. Dia pun ke luar dari ruangan Felix, pergi ke belakang. Ashley segera mengambil tasnya kemudian bergegas ke luar dari perusahaan.
"Akhirnya si udik itu pergi juga. " ujar salah satu karyawan wanita di sana yang bergerombol menggosipkan Ashley.
Ashley merasa pagi ini pagi yang sial untuknya. Dengan langkah gontai dia pergi menuju ke jalan raya. Meski begitu dia berusaha tak menyerah, mencoba mencari pekerjaan lain. Gadis itu mengeluarkan ponselnya, dia mencoba mencari pekerjaan di internet. Ashley memilih penyimpan ponselnya dalam tas, dia segera masuk ke dalam bus.
"Aku enggak ingin merepotkan ibu terus terusan. " gumam Ashley.
Kini Ashley turun dari bus, dia berjalan kaki menuju ke taman kota. Di sana dia langsung duduk di bangku taman. Fokusnya tertuju pada keluarga kecil yang tampak bahagia.
Ashley pun berulang kali menghembuskan nafas berat. Dia berusaha mencari jalan ke luarnya agar dia mendapat pekerjaan lagi.
"Aku memang tidak cocok bekerja di perusahaan. " gumam Ashley lirih. Dia merasa kecewa pada dirinya sendiri yang tak berguna. Selama ini Ashley memilih menjauh, dia tak suka dengan keramaian. Ya hidupnya memang monoton, dia terlihat ceria saat bersama ibu Lasmi dan adik adiknya di panti.
Setelah tenang Ashley langsung pergi dari sana, mulai mencari pekerjaan lain sesuai kemampuan nya.
Sorenya Ashley pun pulang membawakan makanan untuk adik adiknya. Gadis itu segera membagikan makanan, kemudian mengobrol dengan sang ibu.
"Aku di pecat dari perusahaan Bu. " ungkap Ashley.
"Kenapa kamu bisa di pecat sayang, memangnya kamu berbuat salah nak? " tanya Bu Lasmi. Ashley menjelaskan apa yang terjadi, gadis itu merasa dirinya tak bisa melakukan apa apa. Bu Lasmi merasa bersedih melihat putrinya menyalahkan dirinya sendiri.
Dia mengusap kepala Ashley dengan lembut. Bu Lasmi berusaha memberikan semangat untuk sang anak. Gadis itu mengeluarkan ponselnya, ternyata sisa gaji di bayarkan oleh sang atasan untuknya.
"Bu, aku berangkat lagi ya. Aku mau mencari pekerjaan asalkan pekerjaan itu tak melanggar peraturan. " ungkap Ashley.
"Sebaiknya lanjutkan saja besok
nak. " tegur Ibu namun di tolak halus Ashley. Ashley langsung pamit, meski terik matahari menyengat kulitnya namun dia tak menyerah begitu saja.
Hingga perjuangannya membuahkan hasil. Ashley di terima bekerja di sebuah Cafe. Di sana dia bekerja sebagai pelayan, Ashley tentu saja menerimanya dengan senang hati.
Lovely Coffee Shop
Saat ini Ashley telah mengganti pakaiannya dengan seragam. Siang ini dia mulai bekerja sesuai arahan dari atasannya. Gadis itu membersihkan meja, membawa bekas piring kotor menuju ke dapur.
Selain itu dia juga membantu pelayan lain menyapu lantai. Kali ini dia tak boleh melakukan kesalahan sedikit pun.
Sorenya
"Aku Ezra kau siapa? " tanya Ezra dengan lembut.
"Ashley Joy. " jawab Ashley singkat. Ezra memintanya istirahat namun Ashley hanya menggeleng. Melihat sikap Ashley yang seakan menjaga jarak membuat Ezra merasa tak nyaman dan merasa canggung.
Ezra berlalu pergi, Ashley melanjutkan pekerjaannya hingga selesai. Tak lama lelaki itu kembali, menyuruhnya duduk kemudian memberikan air mineral padanya.
"Terimakasih. " Ashley meneguk air putih dari dalam botol yang dia pegang. Ezra sendiri melarangnya untuk memforsir tenaganya. Lelaki itu justru menggantikan Ashley, merapikan meja dan kursi.
Tepat pukul empat sore kafe mulai tutup. Ashley langsung pamit pulang pada Ezra, seseorang yang menjadi teman pertamanya. Tanpa sengaja di jalan gadis itu bertemu dengan mantan bosnya.
Ashley melanjutkan jalannya tanpa menyapa sedikitpun pada Felix. Gadis itu menaiki salah satu bus yang tersisa. Felix menatap kepergian Ashley tanpa mengatakan apa apa.
"Untuk apa aku memikirkan cleaning servis rendahan itu. " gumam Felix tak ambil pusing. Pria itu masuk ke dalam mobil dan melesat kencang. Setelah beberapa menit, Felix sampai di kediaman orang tuanya.
Setelah turun dari mobil, dia langsung masuk ke dalam dan menemui kedua orang tuanya. Pria tampan itu mencium pipi sang bunda kemudian duduk berhadapan dengan sang daddy. Felix mengabaikan tatapan tajam dari sang daddy tercinta.
"Come on Dad, aku ini putramu bukan rivalmu. " ucap Felix membelo jengah melihat kelakuan sang daddy yang cemburu melihat dirinya mencium pipi sang bunda.
"Yeah Daddy tahu tapi Bunda kalian ini istri Daddy, jadi suka suka daddy dong. " balas Daddy Gio tak mau kalah. Bunda Anna hanya menghela nafas panjang, perdebatan seperti ini sudah menjadi hal biasa untuknya.
Felix hanya bisa mencibir ucapan sang daddy. Saat ini dia sangat malas jika harus berdebat dengan Daddy Sergio. Bunda Anna mencubit paha Daddy agar berhenti mengajak putera mereka berdebat.
Melihat keromantisan orang tuanya membuat Felix mengulum senyumnya. Pria itu lekas bangkit, pamit pada sang bunda. Setelah kepergian putra sulung mereka, Daddy kembali mengobrol dengan santai bersama sang istri.
Sementara di kamar Felix teringat dengan Ashley. Dia merasa tak menyesal sama sekali memecat gadis itu dari pekerjaannya.Felix merasa Ashley tak becus dalam bekerja hingga melakukan kecerobohan.
"Untuk apa aku memikirkan gadis
itu. " gumam Felix acuh. Felix membuka jas kemudian melemparnya kearah ranjang kotoran setelah itu melesat ke kamar mandi.
Beberapa menit berlalu dia ke luar. Felix segera memakai pakaian santai kemudian menyambar ponselnya. Dia menjawab telepon dari sang kekasih hati.
"Hai sayang, kau di mana
sekarang? " tanya Felix sambil tersenyum.
"Apartemen, kau mau ke sini
Honey? " tawar seorang gadis pada Felix.
"Baiklah nanti malam saja kita pergi ke Club. " ujar Felix. Mereka terus mengobrol dengan di warnai canda tawa. Setelah puas melepaskan rasa rindunya Felix segera menutup sambungannya. Pria itu melempar asal ponselnya kearah ranjang.
Kemudian Felix menjatuhkan dirinya di atas ranjang king sizenya. Dia menatap langit langit kamarnya dengan lekat.Entah apa yang pria itu pikirkan saat ini.
"Apa Bunda akan menyetujui hubunganku dengan Irene? " gumam Felix penuh keraguan. Sepertinya dia perlu berbicara dengan sang bunda. Felix berharap bundanya itu mau memberikan restu nya pada hubungan dirinya dengan Irene.
Dia kembali bangun, lekas ke luar dari kamar. Felix menuruni tangga dan pergi ke ruang tamu. Di sana pria itu langsung menanyakan hal yang ada dalam pikiran nya saat ini. Bunda Anna diam saja, tak lama dia memberikan tanggapan atas pertanyaan Felix.
"Bunda harap kamu memilih calon istri yang tak memiliki niat aneh aneh Felix. " ungkap Bunda dengan lembut.