
Berbeda dengan Jerome dan Agnes yang hendak pergi honeymoon. Irene justru sibuk mengurus si kecil Ryn sedangkan suaminya ada di kantor.
Oek
oek
"Sayang kenapa kamu menangis? " tanya Irene dengan paniknya. Dia menyentuh dahi si kecil Ryn, Irene membulatkan mata. Dia memanggil sang pengasuh kemudian mengajaknya ke rumah sakit.
Irene melajukan mobilnya dengan kencang. Tiba di rumah sakit mereka langsung pergi ke ruangan dokter anak. Wanita itu memperhatikan dokter yang tengah memeriksa Ryn.
Setelah selesai memeriksa, dokter menghampiri Irene. "Ryn hanya demam dan saya sudah memberikan obat penurun demam nya. " ungkap Dokter menyerahkan sirup untuk si kecil yang di terima Irene. Dokter juga menyarankan agar si kecil Ryn di jaga keadaannya.
"Terimakasih dokter. " ucapnya yang di angguki Dokter. Irene langsung menggendong putrinya lalu membawanya ke luar dari ruangan dokter.
"Sayang maafin mommy ya nak, mommy akan menjagamu dengan ketat setelah ini. " gumam Irene.
"Mbak, kamu yang gendong Ryn lagi ya. " ujar Irene.
"Iya nyonya. " Mbak Laras menggendong baby Ryn. Sampai di parkiran mereka langsung masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana.
Tiba di mansion mereka langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam. Irene pergi ke kamar putrinya, dia memperhatikan mbak Laras yang menidurkan Ryn dalam box bayi.
Wanita cantik itu tampak menangis, dia tak kuasa melihat putri kecilnya sakit.
Hingga sorenya Henry pulang dari kantor, mendapati suasana sepi. Pria itu langsung pergi ke lantai dua, menuju ke kamar putrinya. Dia lantas mengajak istrinya kembali ke kamar dan berbicara di sana.
"Sayang, ada apa kenapa mata kamu sembab? "
"Tadi badan Ryn panas Hen, aku panik dan langsung aku bawa ke rumah sakit. " ungkap Irene menjelaskan keadaan si kecil Ryn padanya.
Henry langsung memeluk sang istri. Dia sangat paham jika Irene begitu sayang pada Meryn, meski bukan putri kandung mereka. Dia pun meregangkan pelukannya, berusaha menenangkan sang istri.
"Kamu tenangkan diri kamu, aku mau mandi lebih dulu. " ucap Henry sambil menghapus air mata istrinya. Irene mengangguk, dia membiarkan suaminya pergi ke kamar mandi.
Irene memilih ke luar dari kamar dan pergi ke kamar Ryn. Wanita itu memperhatikan putri kecilnya yang tertidur setelah di beri bubur yang di haluskan. Pluk Henry merengkuh bahunya membuat wanita cantik itu menoleh.
"Sayang ayo turun ke bawah, mami dan papi datang. " bisik Henry pelan. Irene mengangguk, keduanya ke luar dari kamar Ryn. Mereka menuruni tangga dan pergi ke ruang tamu.
Irene langsung memeluk Mami Ivy dengan erat melepaskan rindunya. Setelah itu mengajak sang mami duduk di sofa dan mengobrol. Wanita itu mencurahkan isi hatinya pada sang mami.
"Namanya Meryn Lannister, nama yang cantik sayang. Mami dukung kalian merawat si kecil Ryn. " ungkap mami Livy.
"Terimakasih mom, aku kira kalian tak akan setuju dengan keputusanku ini. " ucap Irene sambil tersenyum sumringah.
Henry hanya diam saja, pria itu memperhatikan raut bahagia yang tergambar jelas di wajah sang istri. Pria itu memilih membiarkan Irene mengobrol dengan mami. Papi Trevor memperhatikan menantunya dalam diam.
"Sebentar. " Mami Ivy mengeluarkan sesuatu lalu menyerahkan tiket pada sang anak.
"Pergilah bulan madu, aku yakin cinta itu akan tumbuh seiring sejalannya waktu. Mengenai Ryn, mami dan papi yang akan menjaga cucu cantik kami itu. " ujar mami Ivy sambil tersenyum hangat.
Irene melirik kearah suaminya begitu juga sebaliknya.Wanita itu kembali menatap sang mami kemudian mengangguk.Sepertinya ide dari sang mami tak salah untuk dia coba.
"Kami akan honeymoon ke tempat yang tak jauh mami, tak masalah 'kan? " tanya Henry.
"Itu sih terserang kalian saja. " sahut Mami sambil tersenyum. Papi Mengajak menantunya berbicara, Henry tentu saja setuju. Kedua pria itu beranjak dari ruang tamu dan pergi ke ruangan kerja Henry.
Mami Ivy langsung berpindah duduk di sebelah putrinya. Dia mengusap kepala sang anak dengan penuh kelembutan. Wanita paruh baya itu sedikit memberikan nasehat untuk sang anak. Irene tentu saja menerima nasehat dari sang ibu dengan suka cita.
"Oh ya sayang mami bawakan hadiah untuk kamu, pokoknya gaun ini harus kamu pakai saat honeymoon nanti. " ungkap Mami Ivy menyerahkan dua paperbag pada sang anak.
Irene mengerutkan kening, dia begitu penasaran namun tetap menerima hadiah tersebut. Dia langsung mengucapkan terimakasih pada maminya itu.
"Aku taruh di kamar bentar ya. " Irene lekas bangkit dan berlalu pergi ke pantai dua. Lima menit berlalu dia kembali dan melanjutkan obrolan mereka.
Rencananya mami dan papi akan menginap beberapa waktu di villa Henry untuk menjaga si kecil Ryn.
Sore harinya ibu dan anak itu begitu kompak membuat waffle dan puding, serta minuman segar. Setelah selesai membuatnya mereka memindahkan ke piring, lalu membawanya ke ruang tengah. Irene sendiri menikmati es buah buatannya itu sesekali menyuapi suaminya dengan puding.
"Kalian berdua harus sering sering berkomunikasi nak. " ujar mami Ivy.
"Setelah pulang honeymoon nanti, mami dan papi akan mengadakan pesta pernikahan sebagai peresmian untuk kalian. " ucap mami lagi.
"Aku setuju mam, kami serahkan semuanya pada mami. " sahut Irene. Henry yang mendengarnya mengulum senyumnya. Dia pun memperhatikan istrinya secara diam diam.
Mereka terus mengobrol sambil menonton acara gosip di tv. Para pria hanya pasrah dan mengikuti keinginan para wanita.