
Seusai makan malam, Anna kini menggaruk pipinya yang tak gatal mendapati suami kontraknya memasuki kamarnya. Gadis itu memilih mengambil selimut lain lalu membawanya ke sofa. Sergio pun menghela nafas berat, segera melepaskan kaosnya.
"Tidurlah di atas ranjang, istriku akan marah jika kamu berada di situ
Anna. " ketus Sergio.
Tak ingin membuat masalah Anna langsung bangkit dan kembali ke ranjang. Dia segera berbalik memunggungi sang suami. Sergio segera merebahkan tubuhnya yang cukup lelah di sebelah Anna. Dan malam ini keduanya tidur saling membelakangi.
Tengah malam sekitar pukul dua belas malam. Anna terbangun dengan keringat bercucuran di dahinya. Sergio menoleh, dia ikut terbangun mendengar teriakan Anna.
"Ada apa Anna? " tanya Sergio penasaran.
"Saya mimpi buruk tuan. " gumam Anna sambil menyeka keringatnya. Terdengar suara helaan nafas berat ke luar dari bibir gadis itu. Diapun memilih turun dari ranjang kemudian pergi ke balkon.
Anna memilih duduk di lantai di dekat balkon. Dia sangat menyukai kesunyian dalam malam. Sergio hanya diam memperhatikan dari balik pintu balkon. Entah apa yang di pikirkan gadis itu saat ini.
"Kak Devan. " gumam Anna sambil memeluk kedua kakinya. Dia hanya bisa menyesali semuanya harusnya dia tak kabur dari rumah dan menjadi pelayan di hotel. Anna tak akan mengalami ini semua.
"Siapa Devan, Anna? " Tanya Sergio menghampiri istri kontraknya itu. Pria itu memilih duduk di sebuah sofa yang terletak di samping kiri Anna.
"Devan Arbian Sastra, pria yang mencintai aku Tuan, hubungan kami di tentang oleh paman Hendra. " gumam Anna. Sergio terdiam mendengar inti masalah dari istri keduanya itu.
"Apa kau menggodanya hingga pria itu mencintai kamu Anna. " tuduh Sergio dengan tatapan sinisnya. Anna hanya diam saja tanpa membalas tuduhan menyakitkan yang di layangkan Sergio padanya.
Sergio langsung bangkit, dia kembali ke dalam dan tak lupa mengajak Anna. Anna tak menanggapi ajakan suami kontraknya itu. Diapun membiarkan angin malam menerpa kulitnya yang hanya terbalut dress.
Merasa tak kuat Anna langsung bangun dan masuk ke dalam. Dia menutup pintu balkonnya, kemudian berbaring kembali di atas ranjang. Gadis itu melepaskan kalung yang berada di lehernya, memperhatikan benda itu dengan tatapan sendu.
"Sekarang aku bukan lagi Anna yang kakak kenal dulu, aku berharap kak Devan melupakanku dengan
segera. " gumam Anna. Dia memakai kembali kalung nya, setelah itu segera memejamkan kedua matanya.
Keesokan harinya Anna bangun lebih dulu. Dia segera mandi dan bersih bersih. Setelah selesai Anna menghampiri suaminya, dia berniat membangunkan Sergio. Tampak ada keraguan, dia takut Sergio akan marah marah padanya.
"Tuan Sergio bangun, ini sudah
pagi. " ucap Anna sambil menyentuh lengan suaminya. Sergio segera mengeluarkan tubuhnya kemudian membuka matanya. Anna sendiri langsung menjauh mendapati suaminya telah terbangun. Dia sudah bersiap hendak turun ke bawah.
"Mau ke mana? "
"Ke dapur, saya ingin membantu para pelayan lainnya. " gumam Anna tanpa memandang wajah Sergio. Sergio mengibaskan tangannya, dia membiarkan Anna pergi. Pria iru sendiri segera ke luar dari sana dan kembali ke kamarnya untuk bersih bersih.
Satu jam berlalu
Suster mendorong kursi roda Venia menuju ke meja makan. Dan pagi ini kembali terjadi keributan di antara pasutri itu. Sergio yang kesal segera memanggil Anna untuk sarapan bersama. Mereka sarapan bersama dalam suasana tegang dan dingin.
Venia begitu baik memperlakukan madunya itu. Sergio yang melihatnya berdecak sebal, dia merasa sang istri terlalu baik pada Anna.
"Anna, kamu jangan hiraukan sikap mas Gio ya. Sebenarnya mas Gio itu pria yang baik namun terkadang menyebalkan. " sindir Venia dengan terangan terangan.
"Em iya nyonya. " jawab Anna dengan canggung. Venia menghela nafas berat, dia meminta Anna mengubah panggilan nya namun Anna menolak.
Anna menatap sekitarnya yang penuh dengan beragam jenis bunga. Dia terus mendorong kursi roda madunya lalu berhenti. Gadis itu memilih duduk di sebuah kursi sambil memperhatikan Venia.
"Umurku tak lama lagi An, mungkin saja aku tak akan bisa mendampingi mas Gio dan kedua putra kembar kami. " gumam Venia membuka obrolan yang membuat Anna terperanjat kaget.
"Nyonya tak boleh putus harapan begitu saja. Masih banyak yang menyayangi nyonya Venia. " sahut Anna sambil tersenyum.
"Aku capek Anna, rasa sakit dalam perutku terus membuatku lemah. " gumam Venia. Anna terdiam, dia memperhatikan wajah pucat madunya. Rasa bersalahnya pada Venia kian besar, dia merasa menjadi wanita jahat yang telah menodai rumah tangganya Venia dan Sergio.
Tak lama pelayan datang menghampiri mereka. Anna pun meminta pada pelayan untuk membelikan kertas origami. Setelah menaruh minuman di meja, sang pelayan segera pergi dari sana.
Tak lama pelayan segera memmbentangkan tikar di tanah, lalu kertas origami di atas tikar. Anna segera duduk di bawah, mulai membuat origami burung dengan warna berbeda beda.
"Kau sedang membuat apa Anna? " tanya Venia dengan kening berkerut.
"Origami nyonya. " jawab Anna sambil tersenyum.
Gadis itu terus sibuk membuat origami sebanyak mungkin. Dia pun berharap dengan membuat hal ini membuat Venia terhibur. Venia tampak antusias melihat apa yang tengah di lakukan Anna saat ini.
Dua jam kemudian
Anna selesai membuat origami yang dia gantungkan pada sebuah gantungan dengan ada beberapa tali yang menjulur ke bawah.
"Selesai. " ucap Anna dengan senyuman puasnya.
"Wah bagus banget, Anna bisakah kamu membuat lagi. " ungkap Venia sambil mengangkat jempol tangannya. Anna pun tentu aja mengangguk setuju dengan permintaan Venia.
Dari jauh Sergio memperhatikan kedua istrinya. Tak lama Suster datang dan menjemput Venia. Suster mendorong kursi rodanya dan membawa wanita itu kembali ke dalam meninggalkan Anna sendirian.
Gadis itu fokus pada kertas origami hingga tak sadar akan kehadiran Sergio di dekatnya. Pria itu langsung duduk di tikar berhadapan dengan Anna. Merasakan ada pergerakan membuat Anna menoleh dan terkejut.
"Apa kau sengaja ingin mengambil hati istriku dengan origami agar kamu bisa memanfaatkannya? " tebak Sergio dengan wajah datar nya.
"Mungkin. " jawab Anna singkat. Fokusnya kembali pada kertas di tangannya. Sergio hanya bisa berdecak pelan, dia semakin tak suka akan kehadiran seorang Joana Larkin. Pria itu berusaha menganggu istri keduanya, dia berniat menghancurkan rencana jahat Anna.
Anna yang kesal karena kegiatannya terganggu, langsung melempari kertas yang dia remas kearah suami kontraknya. Terdengar suara ringisan namun tak membuat Anna berpaling.
Huh
Beberapa saat kemudian Anna yang merasa lelah memilih berhenti sejenak. Gadis itu berusaha menjaga jarak dari Sergio. Anna memilih bangkit, berkeliling memperhatikan berbagai jenis bunga di sekitarnya.
Sret Sergio mencekal tangannya membuat Anna menoleh. Dia pum memperhatikan kartu yang dia genggam saat ini. "Ini bayaran untukmu, aku harap kamu melupakan kejadian kemarin. " tegas Sergio.
"Aku harap kamu tak melewati batasmu sebagai istri kontrakku. " tegas Sergio dengan sorot mata tajam nya. Setelah itu pria tampan itu pergi meninggalkan Anna.
Annapun masih diam mematung, memperhatikan kartu dalam genggaman tangannya. Terdengar suara helaan nafas berat, ke luar dari bibirnya.