
Malamnya Felix membawa Irene ke rumahnya. Kini mereka berkumpul di meja makan. Bunda mengobrol dengan Irene, menanyakan kabar orang tua gadis itu. Irene pun menjawabnya dengan santai.
"Sebaiknya tentukan saja tanggal pernikahan kalian nak? " cetus Bunda dengan nada lembutnya.
Irene tersentak kaget mendengar pernyataan calon mertuanya itu. Gadis itu menghela nafas panjang, fokusnya kembali tertuju pada Bunda Anna.
"Maaf Tante, untuk urusan pernikahan sepertinya aku belum siap untuk hal itu. " balas Irene dengan senyuman canggung nya. Semua orang tersentak kaget dengan jawaban yang di berikan Irene.
"Irene. " protes Felix. Pria itu begitu kecewa dengan jawaban yang di berikan sang kekasih.
"Sebaiknya makan dulu baru di lanjutkan obrolannya. " sela Bunda Anna.
Mereka makan malam dalam suasana tegang. Violet dan Alexa hanya mampu melirik satu sama lain. Keduanya tak ingin ikut campur dalam urusan Felix, kakak mereka.
Lima belas menit berlalu selesai makan malam, mereka melanjutkan obrolan di ruang tengah. Violet dan Alexa pamit ke kamar mereka masing masing.
"Apa alasan kamu belum siap menikah nak? " tanya Bunda pada calon menantunya.
"Aku masih muda bun, masih ingin bebas dan menghabiskan waktu mudaku bersama teman teman. " ungkap Irene tanpa ada yang ditutupi.
Bunda menghela nafas panjang, dia gak akan memaksa gadis di depannya ini. Felix sendiri langsung bangkit, mengajak Irene berbicara di luar. Pasangan paruh baya itu membiarkan keduanya mengobrol berdua. Daddy langsung bangkit, mengajak istrinya pergi ke kamar mereka.
Di luar mansion
Felix segera melepaskan cekalan tangannya. Pria itu menatap sang kekasih dengan tatapan kecewanya.
"Setelah menikah nanti, kamu masih bisa bertemu dengan teman teman kamu Rene! " ujar Felix.
"Maaf kak, aku benar benar belum siap untuk menikah. " tegas Irene. Dia tak peduli jika sang kekasih tampak kecewa padanya.
"Baiklah kalau begitu kita putus. " ujar Felix dengan tegas membuat Irene membulatkan mata. Gadis itu berusaha membujuk sang kekasih namun Felix menepis tangannya. Pria tampan itu berbalik masuk ke dalam mansion mengabaikan teriakan Irene.
Irene sendiri mengumpat pelan, dia menghubungi sopir untuk menjemputnya. Gadis itu tengah menghentakkan kakinya kesal, ke luar dari halaman kediaman Cullen.
Felix pergi ke kamarnya untuk segera beristirahat.
Skip
Keesokkan harinya wajahnya tampak masam. Selesai sarapan pagi Felix langsung berangkat ke kantor setelah berpamitan pada sang bunda.
Kini hanya ada pasangan paruh baya dan putri bungsu mereka Alexa. Bunda Anna hanya bisa menghela nafas panjang. Dia melirik kearah putri bungsunya dengan senyuman hangat.
"Sayang, kakak kamu Vio mana? " tanya Bunda dengan halus.
"Kak Vio sudah berangkat duluan mom, sepertinya mau mengikuti mata kuliah dosen incarannya. " ceplos Alexa. Bunda Anna hanya tersenyum menanggapi ucapan si bungsu.
Di sisi lain Felix telah sampai di perusahaan miliknya. Asisten Raffi sayang menyambut kehadirannya. Seperti biasa dia memasang wajah datarnya kala melewati para karyawan yang menyapa dirinya.
Felix masuk ke dalam lift bersama sang asisten. Aura pria itu begitu dingin pagi ini, tak ada senyum di wajahnya.
Ting
Tepat di lantai lima Felix segera masuk ke ruangan nya di ikuti Raffi. Dia memperhatikan apa yang di lakukan sang atasan.
"Raf, hari ini aku tak ingin di ganggu. Jika ada meeting, kamu yang gantikan aku! " ujar Felix dengan nada datarnya. Dia langsung meminta Raffi pergi dari ruangannya. Raffi menuruti keinginan sang atasan.
"Sebenarnya dia benar benar mencintaiku atau tidak sih? " gumam Felix dengan nada kesalnya. Pria itu mengeluarkan ponselnya, ada pesan masuk dari Irene namun memilih di abaikan.
Felix menghela nafas panjang. Keputusannya untuk mengakhiri hubungannya dengan Irene memanglah tepat. Gadis itu masih labil dan kekanakan menurutnya.
"Menyebalkan. " gerutu pria itu. Pria itu memilih tak ambil pusing mengenai masalahnya dengan Irene. Dia melonggarkan dasi yang melilit di lehernya. Ingatannya tertuju pada sosok Ashley, Felix langsung menepis pemikiran gilanya itu.
"Untuk apa aku kepikiran gadis aneh itu. Tapi aku sudah berjanji pada Bunda untuk meminta maaf pada gadis itu " gumamnya. Felix berdecak pelan, dia mengambil ponselnya kemudian menghubungi salah satu teman lamanya.
"Aku ada pekerjaan untukmu, kamu awasi seorang gadis yang bekerja di Lonely Cofee shop. " pinta Felix.
"Kau tak perlu tahu tujuanku. " Felix langsung menutup sambungannya begitu saja. Setelah menyimpan ponselnya, Felix kembali bersandar pada kursinya. Saat ini moodnya sedang buruk.
Di Kafe
Ashley merasa ada yang mengawasi dirinya. Dia berharap bukan orang suruhan wanita yang dia benci itu. Gadis itu memilih melanjutkan mengurusi para pelanggan yang datang.
Sementara pria suruhan Felix berada di sudut ruangan Cafe, dia mengenakan kaca mata hitam. Diapun langsung memanggil Ashley dan memesan makanan. Ashley langsung mencatat nya kemudian pergi dari sana.
Beberapa menit berlalu Ashley kembali dan menyerahkan pesanan pria di meja nomor sepuluh itu. Ashley sendiri mengurus pembeli lain yang memanggil dirinya.
Visual Ashley Joy
Tepat pukul 11 siang, Ashley segera menyingkir ke luar sebentar. Gadis itu memijit kepalanya yang terasa pusing. Ashley berusaha menahan dan membiarkan rasa pusing mendera kepalanya namun semakin lama rasa pusing itu semakin menjadi
Gadis itu lekas bangkit, dia berniat masuk ke dalam. Langkahnya sempoyongan, penglihatannya teras buram. Ashley kehilangan keseimbangan, namun ada seseorang yang menahannya dari belakang.
"Ashley hei bangunlah. " gumam Felix. Pria itu datang setelah mendapat laporan dari temannya. Melihat Ashley pingsan membuatnya panik. Riska datang dan terkejut, dia meminta Felix untuk membawa Ashley ke rumah sakit.
Felix langsung pergi dari sana, menaruh Ashley ke dalam mobil dan melesat kencang.
Skip
Rumah sakit
"Bagaimana keadaan Ashley
Dokter? " tanya Felix.
"Nona Ashley kekurangan cairan, dia terlalu memforsir tubuhnya hingga drop seperti ini. " ucap dokter panjang lebar menjelaskan keadaan sang pasien. Selain itu dokter juga menyerahkan vitamin pada Felix.
Setelah kepergian dokter, fokus Felix beralih pada Ashley. Rupanya gadis itu telah tersadar.
"Berbaringlah, kata dokter kamu kelelahan hingga drop seperti ini. " ujar Felix dengan nada datarnya.
"Tidak, aku harus kembali bekerja. " Ashley menolak di bantu oleh Felix. Felix sendiri berdecak pelan, pria itu menekannya untuk kembali berbaring sambil menatapnya tajam.
"Jangan keras kepala, jika ingin bekerja fisik kamu harus kuat dan tak lemah seperti sekarang. " ketus Felix. Ashley terdiam, gadis itu memalingkan wajahnya kearah luar jendela.
Felix sendiri duduk di kursi di dekat Ashley, pria itu melipat tangannya di dada sambil mengawasi Ashley.Kini suasana terasa sunyi, tak ada obrolan apapun di antara mereka.