
Satu bulan kemudian
Kabar bahagia kini menyelimuti keluarga Cullen. Ashley tampak bahagia mendapati dirinya tengah mengandung buah cintanya dengan Felix, suaminya.
"Sekali lagi selamat atas kehamilan kamu sayang. " ucap Bunda Anna pada sang menantu.
"Terimakasih Bunda. " Ashley memeluk sang mertua, dia begitu bahagia di kelilingi orang orang yang menyayanginya.
"Ingat ya jangan melakukan hal berat nak. " tegur Bunda dengan halus. Ashley menganggukkan kepalanya, dia melepaskan pelukannya kemudian duduk kembali.
Felix datang memeluk bumil kesayangannya itu. Ashley cemberut, dia merasa suaminya menganggu kesenangannya. Pria tampan itu terkekeh pelan melihat sang istri merajuk.
"Felix jangan jahil nak. " tegur sang bunda pada anaknya.
"Menantu bunda ini sangat lucu saat merajuk Bun. " jawab Felix sambil tersenyum lebar. Daddy Diego menghela nafas panjang melihat kelakuan jahil putranya.
Berbeda dengan mereka yang tengah bahagia, Irene berada dalam dilema besar. Wanita itu tampak terpuruk setelah mendapati dirinya hamil. Dia merasa semua ini hanyalah mimpi buruk baginya.
Irene memilih diam di penthousenya, dia memilih diam di rumah tanpa melakukan apapun. Saat orang tuanya menghubungi, Irene menjawab apa adanya namun dia masih tetap tak bisa mengatakan keadaannya.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan. " gumam Irene dengan putus asa. Merasa bosan Irene memilih ke luar setelah mengambil tasnya.
Wanita itu menghubungi taksi dan masuk ke dalam. Sampai di sebuah pusat perbelanjaan, Irene langsung turun dari taksi. Dia masuk ke dalam dan mengambil trolinya. Irene membeli apa saja yang dia butuhkan termasuk susu ibu hamil.
Setengah jam berlalu Irene selesai dan membawanya ke kasir. Selesai bayar dia langsung ke luar dari sana.
Deg
"Henry. " Irene terkejut melihat Henry berada di hadapannya saat ini. Wanita hamil itu berusaha tenang, berjalan melewati Henry begitu saja tanpa menyapanya sama sekali.
Perempuan itu segera masuk ke dalam taksi, dia begitu panik jika sampai Henry curiga padanya. Irene menghela nafas panjang, semuanya telah terjadi dan dia hanya perlu beradaptasi.
Skip
Irene bersantai di teras sambil memakan buah apel yang telah di kupas. Dia lantas mengusap perutnya yang masih rata.
"Maaf aku harus menyembunyikan kamu dari dia. " gumam Irene. Terdengar suara helaan nafas panjang.
"Rupanya kau di sini *****. " ujar Henry dengan nada sinisnya. Melihat kehadiran Henry membuat mood Irene menjadi buruk.
"Yes i am *****, untuk apa kamu datang ke rumah wanita sepertiku hah? " tantang Irene dengan wajah datarnya. Henry berdecak sinis, pria itu mendekatinya lalu menyerahkan surat undangan padanya.
Irene menerimanya, ekspresinya tetap sama. Wanita itu melambaikan tangan dan meminta Henry untuk pergi dari penthouse miliknya.
"Tanpa kamu usir, aku juga akan pergi. " ketus Henry. Pria itu berbalik dan melangkah pergi dari sana dengan angkuh. Irene hanya menggeleng melihat kepergian Henry. Fokusnya kini kembali tertuju pada wedding card yang dia pegang.
"Biarkan saja dia menikahi wanita lain, aku tak akan sanggup jika hidup dengan pria sombong seperti dia. " gumam Irene.
Wanita itu menaruhnya kembali di meja, dia melanjutkan memakan buah dan segelas susu yang dia buat. Dia meraih ponselnya kemudian menghubungi Ashley dan melakukan panggilan video call.
"Aku baik. " jawab Ashley dengan ramah. Wanita itu mengatakan perihal kehamilannya pada Irene. Irene sendiri langsung meminta maaf atas sikapnya yang lalu pada Ashley.
Keduanya bertukar pikiran mengenai kehamilan. Irene begitu pintar menyembunyikan rahasianya. Setelah beberapa menit, Irene mengakhiri obrolannya, menaruh ponselnya di sebelahnya.
Irene tersenyum miris, dia harus terbiasa dengan cacian dari orang orang. Dia telah memutuskan akan membesarkan anaknya sendirian. Irene juga tak menginginkan pertanggung jawaban dari Henry mengingat sikap pria itu begitu angkuh.
Back to back.
Ashley merasa aneh dengan sikap Irene yang ingin tahu tentang kehamilan. Namun wanita itu tetap berpikir positif mengenai Irene. Dia merasa lega telah berbaikan dengan mantan rivalnya itu.
"Sayang siapa yang nelpon kamu? " tanya Felix.
"Irene By! "
"Tumben? " Felix merasa heran mendengar Irene menghubungi istrinya. Ashley menghela nafas panjang dan menjelaskan agar suaminya tak salah paham.
Felix mengangguk tanpa mengatakan apapun, dia kembali menyuapi istrinya dengan buah. Pria tampan itu begitu memanjakan sang istri.
Ashley begitu bahagia dengan perlakuan sang suami padanya meski sikap posesif Felix semakin bertambah. Wanita itu kembali mengusap perutnya dengan penuh kasih sayang.
"Sayang, terimakasih telah hadir di perut mommy. Mommy dan daddy gak sabar menanti kamu lahir ke dunia. " gumam Ashley penuh harap.
Felix mengecup pelipis sang istri dengan penuh cinta. Tak lama bunda Anna kembali membawakan salad untuk menantunya. Ashley tentu saja menerimanya dengan senang hati.
"Maafin Ashley ya bun, udah ngerepotin bunda! "
"Kamu bilang apa sih sayang, ini tugas bunda untuk membahagiakan kamu dan calon cucu bunda dalam perut kamu. " pungkas Bunda Anna sambil tersenyum.
Ashley tentu saja bahagia mendapati banyak limpahan kasih sayang dari keluarga sang suami. Canda tawa mewarnai obrolan mereka di ruang tamu.
"Nah dengerin tuh kata bunda sayang, kita semua ini keluarga kamu. Kamu tak perlu sungkan jika menginginkan sesuatu termasuk uang. " gumam Felix dengan nada sombongnya. Ashley langsung mencubit paha sang suami agar tak sombong.
"Bercanda sayang. " balas Felix sambil menciumnya. Ashley merasa malu saat suaminya mencium dirinya di depan kedua mertuanya. Felix kembali mendekap istrinya dari samping. Mereka benar benar menghabiskan waktu bersama, rencananya mereka semua akan pergi liburan.
"Oh ya kapan kita berangkat liburannya bunda? " tanya Ashley pada sang mertua.
"Tunggu sampai kandungan kamu sehat dan kuat dulu sayang, bunda gak ingin ambil resiko. " sahut Bunda dengan nada lembutnya. Ashley setuju dengan keputusan sang bunda.
"Bun, sepertinya aku juga ingin mengajak Mama Serena dan keluarga untuk ikut bersama kita bagaimana menurut bunda? " tanya Ashley memastikan.
"Itu ide yang bagus sayang, lebih ramai lebih baik. Lagipula kita belum pernah liburan bareng. " ungkap Bunda.
Ashley menoleh kearah sang suami. Wanita hamil itu telah memaafkan sang ibu kandung. Dia telah berdamai dengan dirinya sendiri dan menerima kehadiran mama Serena. Felix cukup lega dengan keputusan sang istri yang mau memaafkan Mama Serena.
"Aku bangga sama kamu, kamu telah memberikan kesempatan untuk mama. " bisik Felix sambil mencium pelipis Ashley.
"Iya mas, bukankah ini adalah kewajiban aku sebagai anak untuk memaafkan mama meski mama memiliki salah sama aku dulunya. " ungkap Ashley.
Bunda dan Daddy hanya diam mendengarkan obrolan menantu dan putranya itu. Keduanya memiliki peran dalam menasehati Ashley agar memaafkan mama Serena.