
Dua hari kemudian
Irene dan suaminya menghadiri pernikahan Jerome dan Agnes. Tiba di Villa megah milik Jerome, keduanya segera turun.
Keduanya langsung menyaksikan kedua mempelai yang tengah mengucapkan janji suci pernikahan. Felix dan keluarga besarnya hadir dalam pesta pernikahan Jerome dan Agnes.
Kini Jerome & Agnes saling menyematkan cincin. Pria tampan itu membuka veil istrinya, lalu menarik pinggang Agnes kemudian menciumnya. Suara tepuk tangan memeriahkan pesta pernikahan mereka.
Jerome mengakhiri ciumannya, dia mengusap pipi merona sang istri. Mereka berdua mendapat ucapan selamat dari keluarga dan sahabat. Irene dan Henry datang mendekat, wanita itu menyerahkan kado dan juga mengucapkan selamat pada Jerome dan Agnes.
Agnes menyentuh lengan suaminya itu dengan lembut. "Bicaralah dengan Irene mas, sepertinya kalian perlu bicara berdua. " ujar Agnes.
Jerome menoleh, dia menatap lekat wajah cantik istrinya. Pria itu lantas menggeleng sambil berucap. "Tak ada yang perlu di bicarakan Nes. " ucapnya singkat.
Agnes memilih diam dan tak bicara. Gadis itu kembali menyalami para tamu.
Acara terus berlanjut dari sore hingga menjelang malam. Pengantin baru itu telah mengganti pakaian mereka saat ini.
Agnes memperhatikan suaminya yang tengah mengobrol dengan para tamunya. Dia pun memilih berlalu, gadis itu justru menghampiri Irene dan mengajaknya bicara.
"Gimana kabar kamu Rene? " tanya Agnes.
"Aku sehat Nes, sekali lagi selamat atas pernikahan kamu dengan Jerome. " ucap Irene dengan tulus.
"Terimakasih. " balas Agnes sambil tersenyum.
Keduanya mengobrol dengan santai, sekarang ini keduanya begitu akrab seperti sahabat. Jerome datang menghampiri, mengajak istrinya berdansa. Hal sama di lakukan Henry dan dua pasangan itu menjadi pusat perhatian para tamu.
Larut malam setelah pesta usai, Jerome mengajak sang istri ke kamar. Di dalam kamar, Agnes mengurai rambutnya. Dia lantas mengambil kado dari Irene kemudian membukanya.
"Er ini. " Agnes tampak gugup dengan lingerie yang dia pegang itu. Jerome masuk ke dalam kamar, Agnes segera menyembunyikan lingerie pemberian Irene.
"Ada apa Nes? " Jerome menghampiri sang istri. Pria itu langsung merebut apa yang di sembunyikan Agnes. Sudut bibirnya terangkat membentuk seulas senyum melihat lingerie yang dia genggam saat ini.
"Pakailah ini. " cetus pria itu. Agnes terdiam, dia merebut lingerie nya. Dia meminta sang suami melepaskan dress nya kemudian pergi ke kamar mandi.
Beberapa saat berlalu Agnes ke luar, segera menyemprotkan wewangian di tubuhnya. Gadis itu menghampiri suaminya yang telah bertelanjang dada.
Jakun Jerome naik turun melihat penampilan seksi istrinya malam ini. Dia langsung menarik istrinya hingga duduk di pangkuannya.
"Mas, kita tunda dulu ya. Bukankah kamu juga sama capeknya saat ini. " ujar Agnes dengan halus.
"Enggak perlu terburu buru dalam berhubungan suami istri mas. Kita lebih dulu saling terbuka dan mengenal lebih dalam satu sama lain. " pungkasnya.
"Aku tahu kamu dalam perasaan kecewa saat tahu Irene telah menikah dengan Henry? "
Ctuk
"Aduh. " Agnes mengaduh kesakitan kala dahinya di ketuk suaminya. Gadis itu menatap kesal pria yang menjadi suaminya ini.
"Sudahlah kau membuat moodku down. " ujar Jerome menurunkan istrinya. Pria itu lantas naik ke atas ranjang, berbaring memunggungi istrinya.
"Maafkan aku mas. " gumam Agnes.
Jerome berbalik, memeluk tubuh istrinya itu. Dia mengungkapkan apa yang dia rasakan di depan sang istri. Agnes mengusap wajah tampan Jerome.
Pria itu mendekatkan wajahnya, lalu mereka berdua berciuman dengan mesra. Dia mengukung tubuh sang istri dan merobek kain merah itu. Malam ini menjadi malam yang panjang dan menggairahkan untuk pasangan suami istri yang baru ini.
Selepas melakukan ritual malam pertama, keduanya lantas tertidur sambil memeluk satu sama lain.
Keesokan harinya Agnes terbangun lebih dulu. Wanita itu merasakan sekujur tubuhnya terasa sakit dan remuk. Dia menatap lekat suaminya sambil tersenyum. Agnes merasa bahagia telah menyerahkan hal berharga pada sang suami.
"Pagi sayang. " ucap Jerome membuka matanya. Pria itu merengkuh tubuh polos wanitanya.
"Pagi juga mas. " balas Agnes dengan malu malu. Jerome langsung menciumnya sebentar, kemudian mengeratkan pelukannya.
Setelah lima menit, Jerome menyibak selimutnya lalu menggendong istrinya ke kamar mandi. Setengah jam berlalu mereka segera ke luar dan berpakaian. Agnes membereskan ranjang dan mengganti spreinya di bantu sang suami.
"Awh. " Agnes tampak kesusahan dalam berjalan. Jerome yang melihatnya langsung menggendong istrinya dan membawanya ke luar dari kamar.
Pria itu menurunkan wanitanya di dekat meja makan. Kedua orang tuanya tampak senyum senyum sendiri melihat Jerome dan Agnes tampil mesra.
"Pagi mami, papi. " sapa Agnes.
"Pagi juga sayang. " jawab Mami Winna dengan senyuman hangatnya.
Mereka sarapan bersama di meja makan. Raut wajah mereka tampak bahagia. Seusai sarapan, Papi Revan menyodorkan tiket bulan madu untuk anak dan menantunya.
"Kalian, berangkatlah hari ini. Untuk urusan kantor biar papi yang menghandlenya. " ujar Papi Revan pada putranya.
"Baiklah Pi, kami akan bersiap siap lebih dulu. " ujar Jerome. Agnes lantas bangkit namun di tahan sang suami. Jerome memilih bangkit dan pergi ke kamarnya.
Setelah beberapa saat berlalu, Jerome menyerahkan tas sang istri. Mereka lantas ke luar, pria tampan itu memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil.
Dia menunggu istrinya yang masih berpamitan pada mami dan papi. Setelah selesai Agnes lantas masuk ke dalam mobil, dia membiarkan sopir melajukan roda empatnya. Mami dan papi menatap kepergian anak dan menantunya.
"Mansion pasti terasa sepi Papi." ungkap Mami Winna pada sang suami.
"Kamu benar Mami. " ujar papi Revan. Pria paruh baya itu mengajak istrinya kembali ke dalam setelah menutup pintu mansion.
Sementara sepanjang perjalanan Agnes dan suaminya banyak mengobrol. Wanita cantik itu bersandar di bahu sang suami, tangan keduanya saling bersahutan satu sama lain.
"Mas, memangnya kita mau honeymoon berapa hari? " tanya Agnes penasaran.
"Dua minggu sayang. " balas Jerome sambil menciumi kening istrinya.
Agnes mengangguk, keduanya mengobrol ringan seputar jadwal honeymoon mereka nantinya. Tawa renyah ke luar dari bibir Agnes setelah mendengar pernyataan konyol suaminya.
"Masa iya berada di dalam hotel terus, lagipula saat honeymoon nanti di sana kita perlu juga jalan jalan dan berkeliling mas. " protes Agnes yang di tanggapi gelak tawa Jerome.
"Lebih enak mengurung diri di dalam kamar sayang. " sahutnya lagi. Agnes kembali menabok lengan Jerome. Wanita itu mencebikkan bibirnya, merasa malu dengan pembahasan mereka saat ini.
Keduanya benar benar menikmati perjalanan mereka menuju ke bandara. Jerome mengecup tangan sang istri, dia telah berjanji akan membahagiakan wanita yang dia nikahi sekarang.