(Bukan)Pernikahan Impian

(Bukan)Pernikahan Impian
Bab 107 Extra part 7 Irene & Henry : Honeymoon


WARNING


Hari ini Irene dan Henry berangkat honeymoon. Rencananya mereka pagi ini akan pergi ke sebuah desa yang letaknya jauh, lebih tepatnya di desa Clewis, Kota Visley.


Setelah menempuh lima jam, akhirnya mereka sampai di kota Visley.



Ya Henry memiliki satu rumah di kota Visley. Pria itu segera mengeluarkan koper mereka kemudian menyeret kopernya ke dalam di ikuti Irene.


Mereka lebih dulu pergi ke kamar untuk beres beres. Selesai memasukkan pakaian mereka. Irene mengganti pakaiannya dengan bikini yang di balut bathrube. Dia ke luar dari kamar dan pergi ke teras belakang.


Dia lepaskan bathrubenya, lalu melompat ke dalam kolam renang. Wanita itu menenggelamkan dirinya ke dalam air. Beberapa saat kemudian dia muncul kembali ke permukaan, menikmati suasana sejuk di sekitar rumah milik Henry.


"Beautiful. " gumam Irene.


Irene terhenyak kala sepasang lengan kekar memeluknya dari belakang. Henry meregangkan pelukannya, membalik tubuh istri tercintanya.


"Apa kau suka tempatnya atau tidak sayang. Kalau tidak kita bisa pindah besok? " tanya Henry.


"Cukup di sini saja Hen, enggak perlu honeymoon jauh jauh. " balas Irene tersenyum tipis.


Tatapan pria tampan itu tertuju pada penampilan seksi istrinya saat ini. Henry menelan Saliva nya, memilih memalingkan wajahnya. Irene yang melihatnya mengerutkan kening.


Henry melepaskan pelukannya, pria itu menenggelamkan dirinya ke dalam air kemudian muncul lagi. Irene sendiri hanya diam memperhatikan suaminya tanpa mengatakan apapun.


"Kenapa Henry menghindari aku? " gumam Irene heran.


Wanita itu kembali menyelam, berenang menghampiri sang suami. Kini keduanya berada di sudut kolam. Irene memeluk punggung kekar sang suami. Tubuh Henry menegang kala istrinya memeluknya dari belakang.


"Gimana kalau aku tak bisa mencintai kamu Hen? " ucap Irene dengan pelan.


"Aku akan menunggu sampai kapanpun itu. " balas Henry dengan tenang tanpa membalikkan tubuhnya.


Irene termenung, wanita itu membalikkan tubuh suaminya. Dia mengapungkan tangannya ke leher sang suami. Tubuh keduanya tampak merapat, Henry masih diam saja.


"Sentuh lah aku. " gumam Irene menatap lekat wajah suaminya.


"Kau yakin? " tanya Henry memastikan. Irene mengangguk, setelah berpikir beberapa akhir ini. Sudah saatnya dia menyerahkan dirinya pada sang suami.


Henry segera mengajaknya naik ke atas, membopong istrinya dan masuk ke dalam rumah. Keduanya langsung pergi ke kamar, melepaskan pakaian mereka dan memulai penyatuan.


"Sayang, kamu harus rileks. Aku akan melakukannya dengan


lembut. " bisik Henry.


Irene mengangguk, memeluk suaminya kala hujaman Henry kian liar dan dalam. Suara merdu itu memenuhi kamar mereka. Terbukti Henry menepati ucapannya saat ini.


Dua jam kemudian kegiatan penuh keringat itu berakhir. Mereka tengah mengatur nafas mereka yang tersengal. Irene bersandar di tubuh suaminya, Henry menarik selimut menutupi tubuh mereka.


Irene membelai dada bidang suaminya dengan halus. Henry langsung menggenggam tangan istrinya, mengecupnya berulang kali.


"Semoga segera hadir buah hati kita sayang dalam perut kamu. Aku tak sabar memberikan Meryn adik. " gumam Henry.


Irene hanya tersenyum, dia masuk ke dalam pelukannya suaminya. Setelah beberapa menit, mereka lantas pergi ke kamar mandi.


Skip


Selesai berpakaian dan beres beres. Henry tengah membantu istrinya mengeringkan rambut. Keduanya memilih ke luar dari kamar dan pergi ke dapur.


Selesai membuat camilan berupa kue dan minuman segar, mereka langsung membawanya ke ruang tamu. Henry tampak meminum kopinya dengan santai, lalu menaruh cangkirnya kembali ke atas meja.


Pria itu dengan nakal mengedipkan matanya kearah sang istri. Irene mencebikkan bibirnya, dia sangat tahu arti pandangan suaminya itu.


"Mesvm. " cibir Irene yang di tanggapi Henry dengan gelak tawa.


Wanita cantik itu asyik menikmati cake buatannya sendiri. Henry langsung berpindah tempat di samping istrinya.


"Besok kita keliling ke desa tak jauh dari rumah ini? " tawar Henry. Irene tentu saja setuju dengan rencana suaminya itu.


Henry diam diam mengusap punggung terbuka istrinya. Irene mengenakan gaun dengan tali di bagian leher dan pinggang. Wanita cantik itu menghentikan makannya, dia menoleh dan menatap tajam sang suami.


"Henry. " pekik Irene panik kala suaminya melepaskan tali dress di pinggangnya. Henry terkekeh pelan, pria itu justru merapatkan tubuh mereka.


Dia langsung membaringkan istrinya di sofa, menurunkan dress tipis Irene. Tak lama kembali terjadi penyatuan di atas sana. Irene hanya bisa memanggil nama suaminya kala Henry menghujamnya kian dalam.


Dia mengubah posisi, kini Irene berada di atasnya. Henry meminta sang istri untuk bergerak sesuka hatinya.


"Faster baby. " geram Henry. Irene meliukan tubuhnya dengan cepat di atas sang suami.


Tak lama merekapun mencapai puncak kenikmatan. Irene jatuh di atas tubuh suaminya, keduanya mengatur nafas masing masing. Henry mengusap peluh di dahi sang istri.


cup


"Kau canduku Rene, maaf atas kejahatan yang aku lakukan padamu dulu. " bisik Henry dengan pelan.


Irene mengangkat wajahnya, menatap lekat wajah sang suami. Tangannya terulur membelai wajah Henry dengan halus.


"Aku sudah memaafkanmu Hen, bukankah kita ingin membuka lembaran baru bersama si kecil


Ryn. " ungkapnya.


Henry tersenyum, dia mencium bibir istrinya kemudian memakai kembali pakaian mereka. Pria itu menyisir rambutnya kebelakang. Saat ini Irene masih berada di pangkuan pria tampan itu.


Irene sendiri membenamkan kepalanya di dada bidang sang suami. Dia begitu menikmati percintaannya dengan Henry. Tangan keduanya saling bertautan satu sama lainnya.