(Bukan)Pernikahan Impian

(Bukan)Pernikahan Impian
Bab 21 Sergio vs Shaka


Pagi ini Sergio harus pergi ke kantor. Mau tak mau dia terpaksa meninggalkan istrinya di mansion sendirian. Venia terkikik geli merasakan wajahnya di ciumi oleh suaminya terus menerus.


"Sudah mas, sebaiknya mas ke kantor sekarang. " ujar Venia menjauhkan wajahnya. Sergio berdecak pelan, sekali lagi dia mencium istri nya.


Pria itu berlutut, mengusap perut rata sang istri. Dia menyapa sang calon buah hati lalu berpamitan. Sergio kembali berdiri, Venia mengantarkan suaminya hingga ke depan.


Wanita hamil itu melambaikan tangan menatap kepergian suaminya. Dia kembali mengusap perutnya dengan lembut. Dia memilih duduk di sofa sambil menggenggam ponselnya.


"Kak Shaka, maaf aku tak ingin memberikan harapan besar untukmu. Lagipula aku hanya menganggap kamu sebagai seorang kakak, tak lebih. " gumam Venia lirih.


Venia memilih mengabaikan pesan dari Shaka. Dia hanya tak ingin menambah masalah dalam rumah tangganya dengan Sergio.


Di Perusahaan


Hawa di antara dua pria ini begitu dingin. Sergio menatap tajam melihat rivalnya yang berada di hadapannya saat ini.


"Aku yang lebih dulu mengenal Vee, lepaskan dia dan biarkan dia hidup bersamaku. " ungkap Shaka dengan nada dinginnya.


"Hah bermimpilah. Venia istriku dan dia bukan barang sialan. Kau tahu saat ini istriku tengah mengandung. " pungkas Sergio dengan nada seriusnya.


Shaka membulatkan mata mendengar pengakuan Sergio barusan. Dia langsung menarik kerah Sergio, memukulnya dengan keras.


Sergio tentu saja membalas pukulan Shaka. Keributan ini membuat para satpam datang dan berusaha melerai keduanya. Asisten dari Sergio segera menghubungi Venia, istri bosnya.


Beberapa menit berlalu Venia datang di antar sopir. Wanita hamil itu turun dari mobil dan menghampiri sang suami.


"Hentikan. " teriak Venia dengan keras. Dia berjalan menghampiri Sergio, mencoba menenangkan sang suami.


Hati Shaka berdenyut nyeri melihat wanita yang dia cintai memilih Sergio. Venia langsung menoleh kearah Shaka dengan tatapan sendu.


"Apa pesanku kurang jelas kak. Aku hanya menganggap kak Shaka sebagai teman dari dulu hingga sekarang. " ungkap Venia.


"Tapi aku mencintai kamu Vee sejak kita saling mengenal. " sahut Shaka dengan tatapan kecewanya.


"Sekali lagi maafkan aku, masalah pribadi tolong jangan bawa ke perusahaan. Kak Shaka harus profesional bekerja sama dengan suamiku! " tegas Venia.


Shaka kehilangan kata katanya. Wajah pria itu tampak memar di beberapa bagian. Luka hatinya jauh lebih sakit dari pada fisiknya. Pria itu lantas pergi dari sana dengan membawa kekecewaan lagi dan lagi.


Venia sendiri memeluk suaminya. Sergio mencium pucuk kepalanya, lalu mengajak istrinya masuk ke dalam perusahaan. Keduanya mengabaikan bisikan para karyawan di sana. Mereka berdua langsung masuk ke dalam lift.


"Mas aku tahu kamu marah sama aku, aku minta maaf. " gumam Venia sambil menggenggam tangan suaminya.


"Aku hanya kesal dengan Shaka yang tak berhenti mengejar


kamu. " keluhnya.


Ting lift terbuka keduanya ke luar dan segera masuk ke ruangan Sergio. Dia meminta asisten Damar untuk mengambilkan kotak obat. Asisten Damar menyerahkan kotak obatnya setelah itu pamit keluar.


Venia langsung mengobati luka di wajah sang suami. Dia merasa bersalah telah menjadi penyebab permusuhan antara sang suami dengan Shaka.


Setelah selesai mengobatinya, Venia bersandar di bahu sang suami. Sergio meminta istrinya untuk tak memikirkan hal ini. Pria itu hanya tak ingin istrinya kembali stress nantinya.


"Mulai sekarang, kamu harus ikut aku ke manapun sayang! "


"Tentu saja tidak, kehadiranmu justru membuat aku bersemangat dalam bekerja. " pungkasnya sambil tersenyum lebar.


Sergio langsung bangun, pria itu kembali ke meja kerjanya. Venia memperhatikan suaminya dalam diam. Wanita itu mengulas senyumnya melihat wajah serius sang suami.


"Sangat tampan. " gumam nya pelan.


Tepat pukul sepuluh siang Sergio menghubungi Damar untuk membelikan makanan. Pria itu beranjak dari kursinya kemudian menghampiri sang istri. Tak lama asisten Damar datang dan mengantarkan makanan yang di pesan. Venia dan Sergio fokus pada makanan masing masing.


Asisten Damar membisikkan sesuatu di telinga Sergio lalu pamit ke luar. Sergio hanya bisa mengumpat dalam hati, sepertinya Shaka memang mencari masalah dengannya.


Selesai makan siang bersama, Venia pamit pulang pada sang suami.Sergio tentu saja mengizinkan istrinya pulang di antar sopir. Wanita itu ke luar dari ruangan suaminya, masuk ke dalam lift.


Di lantai bawah dia berpapasan dengan para karyawan yang memperhatikan dirinya. Venia segera ke luar dan masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan, Venia tampak santai mendengarkan musik dari ponselnya.


"Tak selamanya aku selalu bergantung padanya. Mas Gio memiliki tanggung jawab besar pada perusahaan. " batin Venia dalam hati.


Tiba di mansion wanita hamil itu lantas turun dari mobil dan masuk ke dalam. Venia langsung pergi ke kamarnya di lantas dua. Dia pun mengambil paperbag yang dia beli kemarin, mengeluarkan beberapa lingerie.


Bumil cantik itu tampak memilih lingerie yang akan dia pakai nanti saat kepulangan sang suami. Setelah menentukan pilihannya, Venia kembali menyimpan lingerie nya ke dalam lemari.


Segera saja dia memakai lingerie tersebut. Lalu naik ke atas ranjang, mengambil ponselnya lalu memotret dirinya kemudian mengirimnya ke nomor sang suami. Venia menarik selimut menutupi tubuhnya.


Drt


Dia mengalihkan suara menjadi video call. Terdengar suara omelan dari ujung sana membuat Venia terkekeh pelan.


"Sayang, aku jadi pengen pulang jadinya. " rengek Sergio dengan manja.


"Sabar hubby, kamu bekerjalah dengan tenang sampai nanti. " cetusnya tanpa bersalah sama sekali.


Sergio mendengus pelan. Dia merasa di jahili istri nakalnya, bagaimana bisa dia bekerja sementara pusat gairahnya mulai terbangun. Venia berusaha mengalihkan obrolan, Dia sempat memberikan flying kiss pada sang suami.


"Aku mencintai kamu mas Gio. " ungkap Venia tiba tiba. Sergio tertegun mendengar pengakuan istrinya barusan. Hatinya membuncah bahagia, pengakuan cinta dari sang istri tentu saja menambah semangatnya dalam bekerja.


"Aku juga mencintai kamu mommy caby. " balas Sergio seraya tersenyum lebar.


Venia tersenyum geli mendengar panggilan khusus dari suaminya. keduanya terus mengobrol panjang lebar melalui video call. Setelah merasa cukup wanita cantik itu mengakhiri obrolan dengan sang suami.


Venia POV


Aku akan menciptakan kenangan indah bersamamu mas. Calon bayi kita kelak akan menjadi pelipur lara kamu saat aku tak berada di sisimu. Hanya kamu Sergio Cullen, pria yang aku cintai dan aku inginkan sampai kapanpun itu. Aku berharap kamu selalu bahagia bersama twins nantinya.


Venia POV end


Wanita hamil itu mengulas senyumnya sambil mengusap perut rata nya. Tak ada apapun yang di inginkan selain melihat orang orang yang dia sayang bahagia.


"Sayang kamu harus bahagia dan menuruti perintah Daddy ya sayang saat tumbuh besar nanti. " cuman Venia sambil tersenyum.