
"Iya, beneran. Selama ini Tuan Muda lah yang menyiapkan segalanya untuk kami."
Aziel menutup kedua telinganya. "Kalian jangan bicara omong kosong lagi! Aku tidak seperti yang kalian katakan! Papa juga bukan seperti yang kalian ceritakan!" teriaknya bergerak meninggalkan warung ayam, menuju gubuk tempat yang ia tinggali bersama Joki.
Ia terheran melihat dua motor sport terparkir di halaman gubuk tersebut. Ada satu yang paling menarik dan ia terperangah menatapnya. Aziel meneliti dan mengusap benda mahal yang hanya 120 unit di dunia ini.
"Gila? Motor siapa yang parkir di sini? Cari penyakit dia!" Aziel menaiki kendaraan tersebut dan masih mengusap benda metalik tersebut dengan wajah kagumnya.
Entah apa yang terlintas dalam pikirannya, Aziel tersenyum tipis turun menuju pojokan bangunan reot itu. Di sana ada sebuah karung yang berisi peralatannya setiap dinas membongkar rumah orang.
"Nah, ini!" Aziel tersenyum licik melirik ke kiri dan ke kanan.
"Siapa pun yang memarkirkan motornya di sini, selamat! Dia sudah salah masuk ke kandang harimau!" Aziel pun mulai mengotak atik motor tersebut.
Tiiit
Tiit
Tiit
Sebuah suara nyaring keluar dari dalam motor itu. Aziel tampak panik kembali melirik ke kiri dan ke kanan, khawatir bila seorang yang memiliki datang dan langsung menangkapnya.
Dari dalam gubuk, leher Joki telah panjang melirik jendela menengok pada arah motor yang mengeluarkan suara alarm. Ia melihat tingkah Aziel yang tampak aneh, seakan ketakutan berusaha menghentikan suara alarm tersebut.
"Tu anak ngapain sih?" Joki melirik kunci motor yang masih berada pada posisinya. Ia menggelengkan kepala membawa kunci motor tersebut keluar.
Aziel terlihat cemas mengotak-atik motor tersebut dengan obeng mencoba mencongkel sumber suara alarm motor tersebut. Namun, alarm itu terdengar semakin nyaring.
"Lu ngapain sih?" Joki memasukan kunci pada kontak motor dan memutarnya. Suara berisik itu hilang dengan seketika. Aziel terkekeh melihat apa yang dilakukan oleh Joki barusan.
"Dapat kunci motor dari mana lu?" Aziel kembali menaiki kendaraan roda dua itu dan menyalakannya.
Terdengar deru berat tetapi terdengar gagah dari motor tersebut. "Wuuuzzz kereeen!" celetuknya kagum.
Joki yang sedari tadi memperhatikan tingkah Aziel menatapnya dengan wajah heran. "Lu abis kesambet apa? Kayak yang nggak pernah melihatnya aja?"
"Seumur-umur, gue baru lihat motor beginian di sekitar sini. Kalau dijual, kita tidak perlu mencuri selama satu tahun ke depan. Ayo, kita bawa kabur! Nanti kita kasih harga bagus kepada penadah. Ini barang langka! Pasti mahal harganya!" Aziel bergaya di atas motor itu dengan wajah sumringahnya.
Sementara itu Joki menggaruk pelipisnya melirik motor yang ada di sebelah motor yang dinaiki Aziel. "Jadi, sekarang lu mau jual motor itu?"
"Iya lah! Mayan buat setoran sama Bang Baron! Kita gak perlu kerja selama satu tahun hingga hasil penjualan motor ini habis! Mantap nggak tu? Tinggal ongkang ongkang kaki dan nggak perlu sembunyi terus dari kejaran polisi." Aziel terus menceracau.
Akan tetapi wajah Joki tampak semakin bingung. "Uang lu kan udah banyak? Ngapain juga motor ini dijual? Capek-capek beli aja dong?"
Aziel memutar kepala cepat usai mendengar pernyataan Joki. "Apa tadi lu bilang? Beli? Siapa yang beli?"
"Bukannya ini lu beli pakai duit lu yang terus keluar dari kantong pakaian lu? Aaah, elu ini kenapa aneh begini sih?" Joki pun melakukan hal yang sama seperti para Om-Om yang melihat Aziel di dekat makam Arsen tadi.
"Lu sakit apa kesambet?" tanya Joki kembali.
Aziel menolak tangan Joki. "Apaan sih lu? Gue kaga ngarti apa yang lu bilang! Numpang duduk di atas motor kayak gini aja gue berasa mimpi. Masa iya kantong baju gue udah kayak gudang duit seperti yang elu bilang?"
"Eh, lu mau ke mane? Masa lu juga lupa Bang Baron itu udah KO melawan elu?"
Aziel kembali tersentak, mematikan mesin motor tersebut takut salah mendengar. "Tadi lu bilang ape?"
"Lu udah ngalahin Bang Baron!"
Aziel menatap Joki dengan wajah kosong. "Gue udah bilang, dosa kita udah banyak! Jangan lu tambah lagi!" Aziel kembali menyalakan mesin motor dan ia melaju meninggalkan Joki.
"Eeeh, si Kampret itu kenapa lagi? Jangan mengada-ada dia jual motor itu!" Joki langsung menaiki motornya dan mengejar Aziel.
Aziel yang menyadari tengah dikejar oleh Joki, meningkatkan laju kendaraannya, memutar gas dan ia makin melesat di antara kendaraan yang ada di jalanan itu. Joki yang tak mau kalah, memgejar dengan kecepatan tertinggi yang ia bisa.
Tanpa mereka sadari, polisi yang sedang berpatroli, langsung mengejar mereka yang kebut-kebutan di jalan raya. Aziel tak memedulikan padatnya jalanan, terus melesat melewati kemacetan dengan sangat mulus.
Polisi yang merasa tidak bisa mengejar sendirian, memanggil kawanan yang lain untuk mencegat kendaraan yang berjalan melampaui kendaraan dengan brutal.
"Aduh, gawat!" Joki melihat polisi bergerak turun di jalanan mengejar mereka. Ia memilih berbelok pada jalan kecil dan bersembunyi.
Tinggal lah Aziel yang terus melawan angin seakan lepas memamerkan kemampuannya dalam berkendara menggunakan motor mewah itu. "Gue dilawan? Terlalu cepat sepuluh tahun lu!" cengirnya melirik pada spion.
Cengiran itu berubag dengan seketika. Wajahnya mulai terlihat ketakutan menyadari para polisi sedang mengikutinya.
"Siiiaaall!" Aziel pun melihat persimpangan dan berbelok sembarang arah. Namun, ternyata di sana telah berbarik pasukan polisi menunggunya. Dengan cepat ia mencoba berputar arah dan ternyata di belakangnya juga sudah dipenuhi oleh jejeran pria bersereragam kepolisisan lalu lintas.
*
*
*
"Pak, lepaskan saya! Saya mohon!" Aziel mendekam pada sel tahanan sementara.
"Kami menunggu orang tuamu! Kamu sudah mengganggu ketentraman dan keamanan pengendara lain di jalanan! Kamu tidak memiliki surat-surat sah sebagai pengendara! Sebelum orang tuamu hadir ke kantor polisi ini, untuk sementara kamu di sana dulu!"
Aziel terduduk pasrah berharap ada yang segera datang untuk melepaskannya.
Namun, hari pun semakin gelap. Akan tetapi, tak satu pun yang hadir untuk membebaskannya. Perutnya terasa sangat lapar. Ia baru teringat, belum makan dan minum satu apa pun. Di sana, ia melihat beberapa polisi tengah menikmati santapan berbuka puasa.
"Pak ... Pak ... Bagi untuk saya juga? Saya belum berbuka," ucapnya memelas.
"Loh? Ternyata berandal jalanan berpuasa tah?"
Malam pun semakin larut, tetapi tak satu pun yang hadir mencarinya hingga ke sana. Karena, para mantan mafia itu, sudah takut duluan ketika mendapat kabar dari Joki. Mereka tidak berani menginjakan kaki ke kantor polisi.
Rasa lelah yang mendera membuat Aziel ketiduran. Beberapa menit kemudia, ia kembali terbangun.
[ Selamat datang Arsen. Apa kau sudah cukup puas setelah beristirahat seharian? ]
Tubuh muda itu bangkit. Kepalanya liar melirik ke kiri dan ke kanan. "Kenapa saya dipenjara?"