
"Saya dengar anak saya dipukuli sampai pingsan tak berdaya," ucap ketuan Yayasan sekolah Aziel dan Joki.
Aziel saling bertatapan dengan Joki. Mereka heran kenapa orang tua Dandy malah mendapat laporan seperti itu? Padahal mereka hanya melaporkan Dandy dibawa kw rumah sakit.
"Maaf, Pak. Sepertinya Bapak mendapatkan informasi yang salah," ucap Aziel berusaha menutupi kenyataan. Ia tidak ingin dua anak buahnya mendapat masalah oleh orang tua Dandy ini.
"Tapi, saya mendapat kabar itu dari dua pria yang berdiri di depan sana. Mereka mengaku sendiri. Sekarang polisi ini akan mengecek separah apa keadaan anak saya! Kenapa kamu menutupi ini? Apa kalian memiliki hubungan dengan mereka?"
Aziel tercekat karena informasi tersebut. Ia tak menyangka, mereka sendiri yang mengaku tanpa sepengetahuan.
[ Apa tujuanmu menyembunyikan kejahatan anak buahmu itu? ]
'Maaf, bagaimana pun mereka adalah anggotaku yang sangat setia. Namun, jika mereka memilih untuk mengaku, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa.'
Keluarga Dandy yang tidak mendapat jawaban segera masuk ke dalam ruang di mana anak mereka dirawat. Sementara itu, Joki menyikut Aziel yang sedari tadi memilih diam.
"Gawat, Bro. Mereka malah bawa polisi segala. Kalau Dandy melapor ada campur tangan kita gimana? Pasti ikutan ditangkap kita?"
Aziel memutar badan meninggalkan lokasi tersebut. Baginya, sudah cukup urusannya dengan Dandy. Ia ingin melihat secara langsung kedua orang tadi yang telah diamankan oleh beberapa pihak kepilisian.
Namun, di saat Aziel mulai mendekat, salah satu dari dua pria itu memberi kode gelengan kepala dan beberapa kode mata yang menyiratkan agar ia tidak mendekat. Aziel mengangguk dan berputar arah menuju parkiran memilih kembali ke warung ayam, Joki mengikuti arah Aziel.
Pria muda itu langsung mencari Kano. Ternyata Kano sedang menyiapkan dapur yang telah rampung direnovasi bersama. Kepalanya langsung tegak menyadari kehadiran sang Tuan Muda.
"Wah, udah datang Tuan Muda?" Namun, Aziel hanya memberikan respon datar terhadap Kano.
"Tuan Muda memikirkan apa? tambah Kano.
"Hmmm, nanti tolong urus Beno dan Deded di kantor polisi."
Kano tersentak memutar kepala kiri dan kanan. "Perasaan mereka tadi manjat ke atas masang papan nama toko kita. Kenapa tiba-tiba udah di kantor polisi saja?"
"Pokoknya nanti tolong mereka ya?" Aziel menyerahkan sejumlah uang ke tangan Kano. "Jika mereka diberikan kebebasan bersyarat, ini bisa digunakan."
Kano menggaruk kepalanya terlihat bingung. "Tuan Muda dapat uang dari mana sih? Kenapa nggak pernah habis?"
*
*
*
Keesokan hari, di mana menjadi hari pertama untuk salat tarwih, Aziel bersama anggota lainnya mulai membuka bisnis ayam goreng mereka.
Kali ini, yang menjadi koki untuk meracik bumbunya adalah, salah satu anggota yang bernama Gino yang menurut mereka sangat pintar memasak. Waktu yang terlalu singkat, membuat mereka belum bisa menemukan ahli masak yang sesungguhnya.
Aziel yang keras kepala, memaksa warung ini harus buka hari ini. Jadi lah, ayam goreng racikan Gino, ahli masak dibanding anggota yang lain.
"Mulai hari ini, Kita akan memperkenalkan ayam goreng ini kepada masyarakat. Ingat, semua ini kita bagikan gratis kepada mereka. Jangan ada yang meminta bayaran sedikit pun!" ucap Aziel berdiri memimpin kawanan makhluk bertato itu.
"Tuan Muda, udah nyicip ayam goreng kita belum?" celetuk salah satu dari mereka.
"Hmmm, saya percayakan saja kepada kalian. Kalian bilang Gino jago masak, saya percaya saja. Semoga masyarakat suka."
Namun, Joki menyodorkan ayam goreng itu begitu saja masuk ke dalam mulut Aziel. Aziel mengernyit karena ayamnya tidak bisa digigit.
"Bagaimana? Masih percaya aja pada mereka begitu saja?" gumam Joki tersenyum sinis. Dia menjadi orang yang pertama kali mencoba ayam goreng itu. Yang ternyata sekeras batu.
Aziel mencoba menggigitnya lagi. "Krek!"
Lelaki muda itu merasakan ngilu di giginya. "Hmmm, sepertinya yang pertama ini kita saja yang menghabiskannya dulu."
"Ziel, gue denger Kirana pinter masak tu. Gimana kalau dia aja yang kita jadikan koki kita? Mumpung libur sekolah," tawar Joki.
"Kami nggak mau makan ayam itu, Tuan Muda! Nanti gigi kami lepas!" teriak anggota dari belakang.
"Habiskan! Dari pada mubazier. Kalau kalian yang habiskan, tidak apa. Kalau diberi buat orang lain itu mesti yang terbaik. Sembari membuka warung ini, saya akan berusaha mencari koki profesional untuk warung kita."
Para anggota mafia yang turun pangkat menjadi pramusaji warung ayam itu saling sikut seakan tidak rela menyantap makanan luar biasa keras itu.
Aziel dan Joki mendatangi rumah keluarga Ustadz Syahrul. Dengan mengucap salam, mereka disambut baik oleh guru mengaji sekaligus imam mesjid yang ada di dekat sana.
"Maaf, Pak Ustadz. Kami sengaja ke sini ingin meminta izin Pak Ustadz untuk membawa Kirana. Kami membutuhkan bantuannya hari ini." jelas Aziel kepada gurunya itu.
Ustadz Syahrul melirik ke arah bagian rumah. "Kalian berdua mau apa dengan anak saya?"
"Kami membutuhkan bantuannya untuk memasak di warung ayam yang tak jauh dari sini, Pak Ustadz," jelas Aziel kembali.
Ustadz Syahrul terkekeh mendengar penjelasan Aziel barusan. "Kenapa kalian malah jadikan anak saya tukang masak? Apa yang ingin kalian rencanakan?"
"Hmmm, kami sudah mencoba memasaknya sendiri tadi Pak Ustadz, tapi ternyata malah nggak bisa dimakan. Saya dengar, Kirana pintar memasak. Jadi, saya langsung datang ke sini. Karena kami memiliki misi membagikan ayam gratis kepada masyarakat, untuk menyambut Ramadhan ini."
"Subhanallah ...." gumam Ustadz Syahrul. "Waaah, kalau begitu silakan bawa Kirana. Tapi saya juga ikut."
*
*
*
Kirana telah sibuk dengan ayam goreng yang terendam dalam wajan deepfrying yang ada di sana. Ia melirik kiri kanan kagum.
"Sekarang, warung ini milik kamu?"
"Iya, tolong ajarkan kami memasak ayam goreng yang lezat. Agar masyarakat menyukai makanan yang kami tawarkan." ucap Aziel to do point.
"Gampang aaah, bikin ayam goreng itu!"