
"Le-lepaskan gua!" Napas Baron tersengal, seluruh persendian pada tubuhnya terasa terjepit.
"Saya hanya meminta satu hal dan kau harus berjanji untuk memenuhinya. Jika kau tidak mampu memenuhinya, saya akan pergi dan membiarkan kau membusuk dengan keadaan begitu tanpa ada yang memedulikanmu!"
Aziel mulai melangkah pergi. Mata Baron menegang takut ditinggal dalam keadaan seperti ini. Aziel berjalan tanpa ragu dan tak sedikit pun menoleh ke belakang.
"Tu-tunggu!" Suara Baron tercekat, nyaris tak terdengar.
"Tunggu!" Sekali lagi ia coba mengeluarkan suara berharap Aziel mendengarnya.
Dan benar, lelaki muda ini menghentikan langkahnya. Namun, ia mematung tak bergerak sama sekali.
"Ba-baik lah! Gua akan bertobat!" rintih Baron di ujung napas yang tersengal. "Gua mau masuk surga. Berikan kesempatan untuk gua hidup!" tambahnya.
Aziel akhirnya memutar tubuh dan menatap Baron dengan datar. Kedua tangannya terlipat di dada. "Apa hanya kau saja?"
Baron mengernyitkan alis mencoba memahami apa yang dimaksud oleh bocah ini. Lalu, ia melihat pada arah anak buahnya yang tergeletak diiringi ringis kesakitan pada tubuhnya.
"Apa kau ingin mereka bertaubat juga?"
Aziel melirik orang-orang yang ada di sana. Banyak diantaranya yang sudah mencoba untuk bangkit, tetapi ambruk lagi karena mendapat hantaman dan pukulan kilat darinya.
Aziel sendiri tidak menyangka, kemampuan 100% yang diberikan Sistem bisa seperti ini. Tubuhnya terasa begitu ringan melayang dan berpindah. Ini tidak pernah ia rasakan selama menjadi pelarian sebagai mafia dalam diri seorang Arsen.
"Apa kau mau mengajak mereka semua?"
"Ba-baik! Gua akan mengajak mereka semua! Jika mereka tidak mau bertaubat, nyawa gua yang menjadi taruhannya!"
Satu jam kemudian, Joki telah duduk di samping Aziel, di dalam mesjid. Mereka berdua menyaksikan, para pria bertampang mengerikan, dengan tubuh dipenuhi tato dan gambar-gambar menyeramkan, membaca kalimat syahadat dengan sepenuh hati.
Puluhan orang, memenuhi mesjid itu terlihat dalam keadaan kotor dan babak belur. Mereka semua terdiri dari Kano dan kawan-kawan, beserta Baron dan anak buahnya.
Ustadz Syahrul yang membimbing mereka dalam pelafalan yang benar. Wajah beliau tampak cerah. Karena mereka bertaubat, mereka ingin mengulang kembali menjadi seorang muslim mulai dari nol.
"Sebenarnya, tidak perlu lah kalian mengucapkan kalimat syahadat kembali jika memang kalian sudah terlahir dalam keadaan muslim," jelas Ustadz Syahrul.
"Tapi, kamu sudah sangat lama tidak salat, Pak Ustadz. Bahkan, Bapak lihat sendiri bukan, tubuh kami ini sangat kotor penuh dengan tato," terang Kano.
"Kalian semua cukup bertaubat mengingat Allah saja. Sesungguhnya, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Allah akan membuka dengan sangat lebar pintu taubat bagi setiap hambanya yang ingin kembali menjadi hambanya yang taat. Namun, jika kalian merasa lebih mantap dengan demikian, maka tak ada larangan bagimu untuk mengulang syahadat kembali," jelas Ustadz Syahrul dengan bersahaja.
Semua yang mendengarkan penjelasan Ustadz Syahrul menundukan kepala. Beberapa jemaah mesjid yang menyaksikan kejadian ini, membuat mereka mulai takjub kepada Aziel. Pikiran negatif tentang kej4hatan bocah itu kita mulai terbenam dengan sifat Aziel yang mereka kenal saat ini.
[ ding ding ]
[ Kau menjalani misimu dengan sempurna, Bro! ]
[ Aku sampai terharu melihat mereka semua tampak sungguh-sunggu di dalam hati ]
[ Aku membutuhkan wadah yang besar! Bersiap lah menampung 10000 gram emas yang aku janjikan! ]