Sistem Kekayaan Pria Soleh

Sistem Kekayaan Pria Soleh
52. Beratnya Puasa Hari Pertama


Baron tergagu tertangkap yang tak terduga oleh bocah yang ia anggap tiba-tiba saja menjadi tajir dan berkuasa ini.


Bola matanya berputar, masih jelas dalam bayangannya akan rasa sakit yang diberikan Aziel kepadanya beberapa waktu lalu.


"Ah-oh ... Apa yang lu maksud?"


Aziel tersenyum tipis. Ia menjentikan jemari membuat lembar demi lembar uang yang ada dalam kantong Baron, berhamburan keluar. "Kau tidak akan bisa menipuku!"


Mata Baron terbelalak dan ia menggeleng tak percaya melihat apa yang dilakukan remaja laki-laki ini padanya. "Lu ... Lu ini sebenarnya siapa?" Baron perlahan mundur. Ia teringat akan beberapa hal yang dilakukan saat menyerang markasnya. Itu sungguh mustahil dilakukan oleh manusia pada umumnya.


"Menurutmu, saya siapa?" Aziel terus melangkah mendekati Baron. "Apa kau selalu seperti ini? Mengkh1anati sesuatu yang disebut dengan kepercayaan?"


Baron pun mundur dengan sendirinya. "Lu mau apa? Jangan mendekat!"


"Sebenarnya kau mau taubat atau tidak itu bukan urusan saya. Namun, jika kau pernah melihat dan merasakan betapa panasnya api neraka, kau akan memilih untuk tidak akan pernah dilahirkan ke dunia ini!"


Baron terus melangkah mundur. Ada sebuah ketakutan tersirat di matanya. "Berhenti! Jangan mendekat!"


"Sekarang kau harus pilih! Saya tidak akan memberi yang namanya kesempatan kedua. Jika satu kali sudah mencoba berkhianat, maka, enyah lah dari hadapanku!"


Baron berlutut menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Ia teringat di mana ketika ia dihajar oleh bocah ajaib ini. "Jangan! Gue mohon beri kesempatan sekali lagi buat gue. Uang itu akan gue bagikan sekarang juga. Gue janji tidak akan berkhianat lagi." Baron memunguti uang-uang yang berserakan dari dalam kantongnya tadi.


Aziel menatap dingin Baron yang memunguti uang-uang tersebut. Baron menyadari itu dan tak berani menatap Aziel. Setelah berhasil mengumpulkan semua uang yang ada, Baron lari kocar kacir keluar dari warung ayam tadi.


Aziel melipat kedua tangannya memperhatikan Baron yang semakin menjauh. "Apakah dia bisa dipercaya?"


[ Tunggu saja kabar selanjutnya. ]


Aziel mengangguk sejenak dan melanjutkan pekerjaannya membersihkan warung tersebut.


Sekitar setengah jam kemudian, para anggota mulai kembali ke warung satu per satu dengan wahah cerah dan senyuman terkembang pada bibirnya.


Aziel telah menyelesaikan proses pembersihan membuat orang-orang itu tercengang mendapat kondisi berbeda dengan yang mereka tinggalkan.


"Ini semua, Tuan Muda yang membersihkannya?"


"Lalu menurut kalian siapa lagi? Apa kalian tidak bisa membersihkan sisa remahan tersebut setelah dipakai?" Seperti biasa, Aziel memasang wajah datarnya.


Orang-orang tersebut menundukan kepala. "Maaf, Tuan Muda. Keburu Azan Subuh, jadinya kami langsung menuju mesjid dulu. Rencananya, kami akan membersihkan semua ini setelah kembali nanti."


Aziel menghela napas panjangnya. Ia mengendalikan emosi berhubung teringat sedang melaksanankan ibadah puasa. "Baik lah, lain kali coba lah untuk membersihkan semua peralatan yang telah dipakai agar nanti saya tidak repot membersihkannya terlebih dahulu sebelum memasak ayam-ayam yang akan kita bagikan kepada masyarakat."


"Baik, Tuan Muda," ucap mereka tertunduk.


*


*


*


Menjelang siang, anggota-anggota yang bisa dipercaya mengangkat kantong-kantong besar berisi daging ayam potong. Wajah mereka tampak lelah.


"Seumur-umur, ini baru pertama kali gue berpuasa." Keringat telah membanjiri wajahnya.


"Gue juga udah lama sekali gak puasa. Dulu jauh masih pakai seragam putih merah gara-gara dipaksa mak bapak gue. Duh, gue kelaparan banget." Ia melirik isi yang ada di dalam kantong yang dibawanya.


"Kayaknya, jika ini ayam goreng yang dibuat Tuan Muda, bisa habis satu kantong penuh dalam sekejap."


[ Bagaimana? Ternyata tidak mudah menuju ketaatan seorang pria soleh? Masa begini saja kau sudah menyerah? ]


'Berisik!'


Aziel terus melangkahkan kakinya hendak kembali ke warung ayam yang terasa begitu jauh. Mereka harus menaiki angkot agar bisa sampai tujuan itu.


"Tuan Muda, apa saya boleh minum sedikit saja agar melepaskan dahaga?" tanya Kano yang berada tepat di belakangnya.


"Kau mau menambah dosa? Apa kau siap untuk ditendang sang pencipta ke neraka saat ini juga?"


"Saya sudah tidak kuat lagi, Tuan Muda. Saya janji akan melanjutkan puasa setelah saya minum," ucap Kano setengah memohon, disambut anggukan oleh anggotanya yang lain.


Aziel sendiri merasa sudah tidak kuasa melawan dahaga di panas terik siang ini. Namun, saat teringatnya hawa panas pintu neraka, ia menggengkan kepala dengan cepat.


"Jika kalian seperti anak kecil begini, kapan kalian akan berhasil melewatinya? Kalian akan terus begini tiap hari. Ingat! Umur kalian sudah di atas empat puluhan semua! Usia umat Nabi Muhammad tak lain sekitar usia beliau wafat menyelesaikan misi di atas dunia ini."


"Saya, hanya manusia biasa yang bertugas mengingatkan bahwa kita bukan makhluk kekal yang diciptakan bagai malaikat dan ibl1s. Kecuali kalian dijadikan di antara salah satu dari keduanya."


"Malaikat kekal dan tercipta untuk selalu menaati perintahnya. Surga sudah menjadi tempat yang dijanjikan untuk mereka."


"Tapi, apa kalian ingat segala kejahatan yang telah diperbuat? Lebih dekat dengan Ibl1s yang dijanjikan menjadi penghuni kekal neraka? Apa kalian tidak bersyukur jika diberikan kesempatan untuk bertaubat memperbaiki diri dari segala dosa masa lalu?"


Pria-pria bertato tersebut tampak sesegukan berurai air mata. "Kami tak kuat masuk neraka, Tuan Muda."


"Kami akan mencoba bertahan."


"Kami harus bisa melewati hari pertama ini."


Semua yang ikut dengan Aziel saat ini berjanji meneguhkan hatinya untuk melanjutkan puasa pertama yang memang terasa sangat menyiks4.


Aziel tersenyum tipis melihat sebuah showroom mobil yang tepat berada di seberang jalan.


"Ayo, sepertinya kita butuh sebuah kendaraan agar tidak seperti gembel begini lagi."


Semuanya menganggukan kepala lalu menyeberang jalan masuk ke showroom tersebut. Namun, orang-orang yang ada di sana tampak ketakutan melihat kedatangan pria-pria berwajah sangar masing-masing membawa kantong yang sangat besar.


"A-ada apa? Kenapa kalian ke sini?"


Di antara kerumunan pria berwajah sangar itu, muncul laki-laki muda yang memiliki wajah tanpa d0sa.


"Maaf, kami ingin mencari kendaraan yang paling nyaman bisa menempuh banyak orang. Saya akan membeli tiga unit sekaligus!"


"Kau jangan bercanda, Bocah!" ucap salah satu pria yang bekerja di sana dengan suara berat.


"Saya tidak bercanda, Om."


Pria tadi berjalan cepat mendekati Aziel. "Kalau mau nge-prank, jangan di sini!" Pria itu menoyor kepala Aziel.


Melihat Tuan Muda mereka diperlakukan demikian, kantong-kantong yang ada di tangan mereka lepas jatuh ke atas lantai.


"Apa yang kau lakukan terhadap Tuan Muda kami?"


Mereka menyingsingkan lengan baju yang tadinya menutupi tato-tato. Saat ini terlihat jelas tato tersebut membuat karyawan tadi mundur ketakutan.