
"Baik lah, jika uang saya tidak diterima di sini, mungkin lebih baik saya memberikannya pada tempat yang lebih menghargai." Aziel beranjak dengan wajah datarnya.
Namun, seorang gadis berkerudung menghalangi langkah pria dalam tubuh muda itu. "Jika kamu mau berbuat baik, jangan setengah-setengah gitu dong? Kenapa tidak kamu lanjutkan?"
Aziel kembali melirik ke arah belakang, menatap nanar dua orang yang tak bergeming karena ia tiba-tiba beranjak pergi. Aziel menyodorkan setumpuk uang yang ada di tangannya kepada gadis itu.
"Ambil ini! Mau kamu apakan, terserah kamu!"
Aziel berlalu melanjutkan langkahnya. Tiba-tiba, dari arah pinggir jalan Joki muncul dengan cengiran memamerkan pengki yang sudah dipenuhi oleh sampah.
"Nah, ini! Gue udah nyapu keliling kampung sini. Mana janji lu belikan gue baju yang bagus?"
Aziel yang hening dalam rasa jengkel pergi tanpa mengatakan apa-apa. Wajah sumringah Joki yang memamerkan peralatannya berubah kebingungan. Ia melihat teman sekolahnya yang merupakan salah satu anggota OSIS memandang heran benda yang ia pegang.
Dalam tangan teman sekolahnya itu, ia melihat setumpuk uang dan Joki berlari kecil mendekati gadis itu. "Kirana, hai," sapa Joki dengan akrabnya.
"Tuh duit kok banyak amat? Apakah di mesjid ini baru saja ada hujan uang? Kenapa bisa ada uang sebanyak itu?" Joki sama sekali tidak menyembunyikan rasa kagetnya.
Kirana menautkan kedua alisnya. "Bukannya ini uang dari kawan serumahmu?"
"Hah?" Joki terperangah. "Masa sih?"
"Iya, ini Aziel yang menyerahkan untuk dikasih ke mesjid," terang Kirana kembali.
Joki memutar kepala mencari sosok yang baru saja mengacuhkannya. Ketika ia melihat sosok itu, Joki tersenyum sumringah. Sejenak ia pamit pada Kirana dan berlari mengejar Aziel.
"Woi! Lu budeg atau napa?" Joki memukul pelan punggung Aziel yang berjalan lurus bagai orang kesetanan.
Aziel tak mengubris terus menjauh menuju rumahnya masuk ke dalam kamar mengunci diri. Pemuda itu, memukul dinding kamar tersebut beberapa kali dan Joki merasakan sedikit getaran karena ulah Aziel ini.
Joki terpaku karena Aziel yang saat ini, benar-benar sangat lah berbeda. Aziel yang dulu ia kenal hanya lah anak lemah yang selalu ia manfaatkan. Namun, sepertinya kali ini ia sudah tidak bisa lagi berbuat begitu. Raut wajahnya ketakutan, Joki mundur terduduk di atas sofa tak tahu lagi harus seperti apa pada Aziel yang terasa begitu ajaib.
"AAAAGHH ... KENAPA? HARUSNYA DARI DULU SAYA MENCARINYA!"
Suara Aziel terdengar berat dibanding biasanya. Kedua kaki Joki terlipat naik dan dirangkul dalam pelukan. Ia melirik pada pintu kamar yang terkunci itu.
"Se-sepertinya gue gak bisa main-main lagi dengan anak itu," gumamnya gugup.
Braaakk
"Bisa kau ceritakan bagaimana kehidupanku yang dulu?"
"Aaah, maksud lo gimana? Sumpah gue nggak paham!" Joki mencoba mendorong tangan yang terkepal erat, menyemburkan semburat hijau yang mencuat di punggung tangannya.
[ Tenang lah! Kendalikan dirimu! ]
Namun, Aziel yang dikendalikan emosi seorang Arsen, melempar tubuh lelaki muda itu hingga ia terbentur pada dinding rumah itu.
Joki terlihat kesakitan. Ia mencoba bangkit dan menatap nanar pada Aziel. "A-apa yang lu lakukan?"
[ Sudah berapa kali kubilang? Tugasmu hanya menjadi soleh. Sikap soleh adalah sikap yang mampu mengendalikan diri. Selalu mengingat Allah jika dalam setiap laku dan perbuatan! ]
[ Apa kau lupa bahwa setiap perbuatan baik dan burukmu ada dua malaikat yang mencatatnya? ]
Napas Aziel memburu. Ia bagai tak terkendali karena buncahan amarah yang meledak. Kali ini ada rasa bersalah dan tidak terima pada semua yang terjadi pada anaknya, di kala Aziel menjalani kehidupannya tanpa sosoknya sebagai ayah.
[ Masih belum bisa mengendalikan diri? Hanya ada satu jalan yang bisa menenangkanmu! ]
Sistem kembali memberikan sengatan sentruman pada tubuh Aziel yang sudah tidak bisa dikendalikan. Kali ini sengatan yang diberikan sungguh dahsyat. Aziel meringkuk merasakan setiap inci pada rubuh ini mendapat sengatan listrik.
Joki yang melihat Aziel kesakitan, mencoba bangkit dan ingin menyentuh Aziel. "Lu kenapa?"
Namun, ketika ia menyentuh Aziel, ia turut merasakan sengatan membuatnya terperenjat. Joki tidak bisa berbuat apa-apa, dengan wajah bingung hanya melihat tubuh rekan rumahnya itu tenang dan tidak bergerak lagi.
Beberapa waktu kemudian, Joki mengecek Aziel dengan sedikit ketakutan. Ternyata, tubuh itu tidak menyentrum lagi.
"Ziel? Aziel?" Joki mengguncang tubuh itu beberapa kali.
Tak lama kemudian, perlahan mata itu terbuka. "Jok?" tanyanya pelan.
"Syukur lah, lu udah sadar. Lu kenapa?"
Akan tetapi, mata Aziel terbuka lebar melirik seluruh isi rumah. Netra itu berganti melirik pada tubuhnya memandangi baju yang ia kenakan.
"Kita berada di mana?"