Sistem Kekayaan Pria Soleh

Sistem Kekayaan Pria Soleh
15. Mesjid di Wilayah Terpencil


[ Jadi, kamu mau mansion mewah? Tentu saja bisa! Tapi itu nanti! Saat ini kamu belum membutuhkannya. ]


Aziel menyugar rambutnya melirik gubuk yang ia tempati bersama Joki. "Baik lah! Kira-kira, misi besar apa yang harus saya lakukan malam ini?"


[ Selesaikan pembangunan mesjid yang terbengkalai gara-gara kekurangan biaya! ]


Aziel memutar otak sehingga terlihat memutar matanya. "Bagaimana cara aku bisa menemukan yang demikian?"


[ Ya, silakan kamu yang memikirkan semua. Semua bahan akan tersedia, berapa pun yang kamu butuhkan! ]


"Aku? Sendirian menyelesaikan semuanya?" Aziel memasang tampang tidak yakin. Ia merasa itu semua adalah hal yang mustahil.


"Aku ingat kisah Roro Jongrang pembangunan seribu candi. Sedangkan Bandung Bondowoso saja dibantu oleh jin. Maka, yang akan membantuku siapa?"


[ Kamu sendiri dengan tenaga yang kamu miliki. Sebelum jam dua dini hari, pekerjaanmu sudah harus selesai! Karena, kamu juga harus beristirahat! Saat azan Subuh harus bangun, setelah itu bersiap ke sekolah! ]


"Apaaa? Aku harus ke sekolah lagi?"


*


*


*


Usai melaksanakan salat Isya, Aziel menunggu Joki tidur hingga pulas. Setelah memastikan Joki telah pulas dalam lelapnya, Aziel beranjak. Ia seakan yakin menuju sebuah lokasi yang dipastikan memiliki mesjid yang terbengkalai.


Langkah kakinya terasa sangat cepat. Entah berapa puluh kilo meter yang telah ditempuhnya, tetapi ia bisa lewati dengan singkat karena bantuan Sistem.


Kali ini, Aziel telah tepat berada di depan mesjid yang belum selesai dibangun karena mengalami berbagai macam masalah. Mesjid ini berada di wilayah terpencil, sehingga untuk melakukan pengiriman material, membutuhkan dana yang sangat besar.


Tidak hanya itu, biaya untuk mengupah buruh pun membuat dana pembangunan itu menjadi semakin tersendat. Suasana di desa ini begitu sunyi. Aziel disambut oleh suara gonggongan anjing karena mendapati manusia asing tiba-tiba saja muncul di sana.


Aziel melihat bangunan mesjid yang terbengkalai itu. Ia mengusap dagu, tak tahu harus bagaimana dalam pembangunan ini. Semasa hidupnya hanya lah bertemu dengan stetoskop, gunting, pinset, dan alat-alat bedah lain yang digunakan dalam menanggalkan organ-organ manusia dari dalam tubuhnya.


"Hmmfff ...." Aziel menghela napas panjang.


"Bismillahirahmanirrahim!"


Pussss


Tanpa menghabiskan banyak waktu lagi, Aziel segera mencampurkan antara pasir, semen, dan air, dengan takaran yang muncul begitu saja di dalam otaknya. Setelah adonan semen itu jadi, dengan gerakan cepat ia melanjutkan pembangunan yang sudah setengah jadi itu.


Ia sendiri bingung kenapa tubuhnya yang tak pernah bekerja sebagai kuli, malah begitu lancar menempelkan bata, merangkai dan memasang besi sebagai penguat pondasi bangunan. Hingga perekatan kuda-kuda untuk tiang dan atap. Ia melakukan semua seolah bukan dirinya yang bekerja.


Setelah semua berhasil terpasang, giliran pelicinan dinding dan pemasangan lantai terbuat dari granit pun ia lakukan dengan cepat. Ketika bahan-bahannya habis, dengan ajaibnya benda-benda itu muncul sebelum diminta.


Aziel mengerjakan semuanya tanpa banyak bicara dan mengeluh hingga pemasangan kubah yang besar selesai. Dengan gerak ringan, ia mengangkat benda besar itu diletakkan di puncak bangunan yang telah ditentukan.


Waktu terus berjalan, dan gerakan cepat Aziel pun kini telah berada pada tahap finishing. Jendela dan pintu mesjid telah terpasang. Mesjid itu telah jadi dengan warna putih yang suci. Bagian yang terakhir adalah aktivasi penerangan yang ia ambil sendiri dari tiangnya.


Klik


Lampu mesjid telah bisa menyala dan mesjid pada desa terpencil itu tampak sangat indah dan mewah. Aziel menepuk kedua tangannya dengan senyum bangga.


"Sist, semua sudah beres. Apa aku sudah boleh pulang dan beristirahat?"


[ Tentu! Terima kasih atas kerja kerasmu dalam menjalankan misi kali ini! ]


[ Seperti yang sudah dijanjikan, kamu berhak mendapatkan reward sebuah rumah sederhana, lengkap dengan isinya. ]


[ Sekarang, jentikan jemarimu! Kamu akan sampai dengan segera! ]


Aziel yang masih berada di wilayah terpencil, kini menjentikan jemarinya seperti apa yang diperintahkan Sistem. Dalam waktu satu detik, kini ia telah berada dalam rumah yang cukup bagus untuk ia tempati.


Aziel berkeliling sejenak, dan menemukan Joki yang masih lelap dalam tidurnya. Setelah ia memperhatikan kembali lokasi rumahnya itu, tepat menggantikan gubuk reot yang tadinya adalah kandang mereka.


Aziel yang dikendalikan oleh Arsen, yang memang tidak banyak bicara, kali ini tidak mengambil pusing. Ia hanya bisa mengucapkan banyak syukur, mendapat rumah yang lebih layak dibanding sebelumnya. Setelah membersihkan diri, ia pun beristirahat.


*


*


*


"Aziieel! Aaaziiiel! Aziiiell! Banguuun! Banguuun!"


Tubuh Aziel diguncang hebat oleh Joki yang baru saja bangun. Ia terlihat sangat terkejut ketika baru bangun, mendapati rumah yang mereka tempati berubah drastis.