
"Lah? Kenapa malah ke neraka? Harusnya surga dong? Kan udah berbagi sama siapa aja nih, ceritanya." Aziel terus melangkah kan kakinya sembari memegang alat tulis yang keluar dari tas, kini ia memasuki pekarangan gubuk reot yang ia tempati bersama Joki.
Namun, motor Joki ternyata belum terlihat. Kepala Aziel melirik ke arah jalan. "Kenapa dia belum pulang juga?"
Aziel memasuki rumahnya dan menaruh peralatan tulis ke atas nakas, tempat buku-buku pelajaran yang sudah tertata dengan rapi. Ia segera berganti pakaian. Sebelum keluar, ia menyeduh mie yang memang sengaja disiapkan ketika berbelanja bersama Joki.
[ Kau itu seorang dokter, kenapa malah mengonsumsi makanan tak sehat itu? ]
"Kau lihat sendiri, tak ada makanan lain selain ini!"
[ Kau sudah bisa membayar orang menjadi orang yang akan melayanimu ]
"Bener sih, tapi aku tidak mau mereka kaget saat melihat perbedaan mencolok dari gubuk ini. Jelek di luar, lumayan di dalam."
[ Kau sudah bisa membeli rumah dengan uang yang kau miliki! ]
"Tapi, uang itu adalah milik anakku nanti. Aku tidak mau dia kesulitan ketika aku sudah kembali ke alam barzah."
[ Belikan rumah! Kau masih memiliki 90 hari lagi untuk menjalani misi untuk menjadikan anakmu kaya raya. Tentunya kau harus semakin soleh! ]
Aziel tak lagi menjawab ucapan Sistem. Ia segera menghabiskan makanan itu, dan pikirannya membenarkan apa yang disampaikan oleh Sistem. Usai makan, ia segera keluar menuju lokasi ia menaruh sapu dan pengki. Kepala Aziel kembali melirik ke sisi kiri kanan jalan.
"Anak b0doh itu ada di mana? Kau tahu, Sist? Kira-kira, dia udah makan belum ya?"
[ Saat ini kau kerjakan dulu kewajibanmu! Setelah itu akan aku beri tahu. Supaya kau lebih fokus dengan apa yang menjadi tugasmu! ]
Aziel menghela napas panjang. Namun, seperti biasa dia bukan lah orang yang banyak berkomentar, memilih untuk mengerjakan tugasnya membersihkan sampah jalanan hingga berakhir di pekarangan mesjid.
"Hai, semangat ya!" sapa warga terhadap remaja tampan itu. Aziel membalasnya dengan anggukan tipis.
Aziel merenung sejenak, ia mencoba melebarkan sisi kiri dan kanan bibirnya. Namun, senyuman itu malah lebih terlihat bagai seringai mengerikan dan mata melotot, membuat orang yang menyapanya tadi menjadi takut dan pergi dengan cepat.
[ Senyuman tulus! Apa kau sudah lupa bagaimana cara tersenyum? ]
Aziel menyandarkan diri pada tangkai sapu lidi. Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali merasa benar-benar bahagia. "Sepertinya, aku terakhir tersenyum kala istriku baru saja sembuh dari penyakitnya, dan kami merayakan ulang tahun pernikahan yang ketujuh."
Namun, senyuman bahagia itu langsung pupus ketika Jovita memberitahukan kabar mengenai kehamilannya. Semenjak itu, bayangan menakutkan akan kehilangan istri terus mengusiknya. Dan, ia tak pernah lagi tersenyum setelah istrinya meninggal kala melahirkan Aziel.
[ Yah, kau memang sudah lama tak merasakan bahagia. Kenapa tidak kau ubah pola pikir dan hidupmu? ]
[ Harusnya, jalan yang kau pilih bukan lah menjadi seorang penj4hat! ]
[ Kau itu seorang dokter! Tugasmu sangat lah mulia! Kenapa kau memilih jalan yang sesat? ]
Aziel memejamkan matanya. "Karena tidak ada pilihan lain. Hanya itu sebagai jalan pintas mendapatkan uang yang banyak dalam waktu sekejap. Istriku membutuhkan banyak biaya, tetapi tak ada yang bisa menolongku."
Aziel kembali menghela napas panjang. Ia melirik kedua tangan anaknya. "Aku berharap, anakku tidak memilih jalan buruk seperti yang aku pilih dulu." Ia kembali melanjutkan pekerjaan.
Ia mencoba berlatih tersenyum sembari menyapu dan memasukan sampah menghayati cara tersenyum dengan tulus.
"Kamu kenapa tersenyum-senyuk kayak orang gila?"
Sebuah suara membuyarkan acara latihan senyumnya. Di hadapannya telah berdiri gadis berkerudung yang satu sekolah dengannya.
Aziel memperbaiki posisi dan rautnya kembali datar. "Bukan kah senyum itu ibadah?"