Sistem Kekayaan Pria Soleh

Sistem Kekayaan Pria Soleh
17. Salat Subuh Rasa Salat Ied


"Maksudnya?" Ustadz Syahrul terlihat semakin heran.


"Biarkan saya yang Azan. Saya datang ke sini untuk itu," terang Aziel memasang wajah penuh harap.


"Kenapa tiba-tiba mau jadi muazin?"


'Tentu saja karena reward yang dijanjikan Sistem. Kalau bukan karena itu, ya ogah,' batinnya.


Ustadz Syahrul hanya bisa terkekeh karena tidak mendapat jawaban dari remaja yang ia tanya. "Apa kamu serius?"


"Tentu," jawab Aziel dengan muka datarnya.


"Oh, baik lah. Silakan!" Ia segera menyerahkan mikrofon kecil yang ada di tangannya.


Namun, di saat benda kecil itu telah berada di tangannya, rasa tidak percaya diri, tiba-tiba datang melanda. Ustadz Syahrul dan Joki sudah bersiap menunggu ia mengumandangkan Azan Subuh, tetapi tak kunjung disuarakan juga.


[ Cepat lakukan! Waktu Subuh bisa habis jika kau terus terlihat meragu seperti ini! ]


[ Jika dalam waktu tiga detik azan belum juga dimulai, maka misi kali ini dianggap gagal! ]


[ Dana tiga kali lipat itu dibatalkan dan saldo yang ada akan dipotong sebesar tiga puluh persen! ]


"Ekhemmm ...." Tanpa sadar, Aziel berdehem dengan keras tepat di depan mikrofon yang ia pegang.


Ustadz Syahrul memberi kode kedua tangan menggantung melambai dengan pelan. Ia seakan mengerti bahwa saat ini remaja yang masih parau itu mencoba azan untuk pertama kali.


"Jangan lupa baca basmalah!" titah Ustadz Syahrul.


[ Tiga ]


[ Dua ]


"Bismillah hirrahman nirrohim ... Allahuakbar Allahuakbar!"


ngiiiiing


Speaker mesjid itu berdenging hebat, membuat orang-orang yang tinggal di sekitarnya merasa cukup terganggu. Warga yang tadinya masih tidur dengan lelap, tersentak langsung berdiri dengan muka masam.


"Siapa itu yang azan? Kenapa beda suaranya dibanding biasa?" rutuk seseorang dari rumah yang lain lagi. Ia turut merasa terganggu.


Azan yang dikumandangkan oleh Aziel, memiliki irama yang berbeda dibanding biasanya. Tinggi rendah ketukan masih belum pas. Hal itu membuat masyarakat yang ada di sekitar mesjid cukup merasa terganggu. Ditambah lagi, soud sistem ketika berada di tangan Aziel seakan tak bersahabat dengannya. Membuat suara denging yang terasa cukup mengganggu di telinga masyarakat.


"Baaang, sekalian bawa sarung aja!" teriak istrinya yang mendapati suaminya hanya koloran menuju mesjid.


Kali ini, orang yang datang ke mesjid sangat lah ramai. Wajah mereka tampak berkerut mencoba melihat siapa yang menjadi muazin azan kali ini. Wajah itu terlihat cukup familiar bagi mereka. Wajah kesal yang tadinya merasa terganggu karena suara azan yang tidak merdu sama sekali, kini tampak semakin marah.


Ustadz Syahrul mendengar suara yang ramai dari arah luar kini memandang ke luar dengan wajah tak percaya. Ini adalah sesuatu yang sangat langka, melihat masyarakat berbondong mendatangi mesjid seramai ini kala Subuh.


"Subhanallah ... Udah kayak mau salat Ied aja nih yang datang salat Subuh." Ustadz Syahrul mengusap jenggotnya memutar kepala memperhatikan remaja yang belum menyelesaikan kumandang Azan Subuh-nya.


"Kenapa dia yang Azan, Pak Ustadz?" tanya salah satu warga yang hadir.


"Ooh, dia buru-buru datang ke sini minta izin agar bisa mengumandangkan Azan Subuh," terang Ustadz Syahrul.


"Kenapa diizinkan? Bukan kah warga sudah menentukan siapa saja orang yang boleh mengumandangkan azan?" bentak seorang pria berbadan cukup bongsor.


"Assolatukhoirumminannaum ...."


Terdengar kumandang azan yang membuat Ustadz Syahrul menjawab dengan, “Shadaqta wa bararta.” (Engkau benar dan engkau telah berbuat kebajikan)


Membuat semua orang turut hening menundukan kepala. Setelah Aziel menyelesaikan misinya, kedua tangannya ditangkup dalam keadaan gemetar. Hatinya terasa luluh, tak percaya bisa mengumandangkan azan yang dulunya seakan tak pernah ia dengar.


Usai membaca doa usai azan, Aziel segera mengambil posisi sholat sunah tanpa menyadari ada kericuhan di luar bangunan mesjid.


"Dari pada Bapak dan Ibuk hanya marah-marah, membuat amalan pagi ini sia-sia, alangkah baiknya semua yang ada di sini langsung menuju tempat berwudhu," tutur Ustadz Syahrul.


Semua yang hadir menganggukan kepala. Lalu mereka sepakat untuk menuju tempat berwudhu. Keramaian warga yang hadir saat ini, membuat tempat berwudhu berdesakan dan antri. Ustadz Syahrul kembali memandangi remaja itu yang melaksanakan salat sunah.


"Sepertinya dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain," guman Ustadz Syahrul bermonolog. Ia pun dengan segera menuju shaff depan dan melaksanakan salat sunah.


Pagi ini, untuk pertama kalinya jemaah yang melaksanakan salat subuh di mesjid ini sampai tumpah ruah. Bahkan, ada yang harus salat di beranda mesjid karena di bagian dalam mesjid sampai sesak seperti ini.


Ustadz Syahrul yang menjadi imam dalam salat berjamaah kali ini tanpa sadar meneteskan air mata merasakan haru di dalam hatinya.


Setelah selesai, Ustadz Syahrul memberikan kultum mengenai keutamaan salat subuh berjamaah.


"Saya sungguh sangat terharu melihat jemaah yang antusias mendatangi mesjid kita yang tercinta ini di kala waktu subuh. Seandainya semua tahu, siapa saja yang melaksanakan saat subuh berjamaah, maka banyak sekali yang akan dia dapatkan."


"Selain 25 pahala, keutamaan sholat subuh berjamaah adalah pahala yang lebih besar 27 derajat daripada sholat sendirian. Sabda Rasulullah SAW tentang hal ini diriwayatkan dalam hadist HR Al-Bukhari."


Jemaah yang tadinya datang dalam keadaan marah merasa terganggu akan istirahatnya yang terasa belum puas, kini mulai mencari sosok yang mereka benci itu. Tampak Aziel yang dudul di pojok bersama temannya yang mereka tahu adalah pencuri cilik.