Sistem Kekayaan Pria Soleh

Sistem Kekayaan Pria Soleh
51. Sedekah Subuh


*Yuhuu, maaf ya slow up karena beberapa hari lalu Author mudik dan agak sulit untuk up di jalan. Buat yang mudik, semoga selamat sampai tujuan yah 🙏*


...****************...


[ Lima menit! Bukan sepuluh menit! ]


Mata Aziel terbuka dengan sangat lebar mendengar informasi dari Sistem barusan. Ia melonjak keluar dan mencari sesuatu di dalam kulkas. Di saja ia menemukan sebuah kotak yang berisi kurma yang telah ia siapkan. Tak hanya itu, ia juga menarik UHT yang berdiri tegak di pintu kulkas.


Aziel menyiapkan dua gelas dan memindahkan isi cairan UHT ke dalamnya sembari memasukan tiga biji kurma sekaligus. Ia langsung menenggak s*su putih itu sampai habis lalu bergerak cepat mendobrak pintu kamar Joki. Joki masih tidur dan ia mengambil tiga kurma lalu membuang bijinya bersama segelas minuman putih dari sapi tadi.


"Jok, bangun!"


[ Waktu tersisa enam puluh detik lagi! ]


Aziel menarik tangan Joki membuat remaja pria kurus kering itu membuka mata lemas.


"Lu ngapa—hap!"


Tiga kurma tadi didorong paksa masuk ke dalam mulut Joki.


"Hmmm?" Joki terbelalak melihat perlakuan rekan sejawat yang membuatnya tak bisa tidur semalaman ini. Tak hanya itu, segelas cairan putih langsung disodorkan ke mulutnya.


"Cepat habiskan! Sebentar lagi imsak!"


Joki tersedak dan hampir mengeluarkan apa yang dipaksa masuk oleh Aziel tadi. Akan tetapi, Aziel mengangkat dagu Joki membuat lelaki muda itu menelan apa yang ada dimulutnya bulat-bulat.


"Sia—"


"Allahuakbar Allahualbar ...."


Suara azan Subuh pun mulai terdengar. Kedua remaja itu tampak tercengang. Kedua tangan menengadah sejenak dan beberapa detik kemudian ia usapkan pada wajah. Tanpa mengatakan apa-apa, Aziel keluar dari kamar Joki dan segera menyiapkan diri menuju mesjid.


"Eeh, lu barusan ngapain? Kerongkongan gue sakit tau nggak?" teriak Joki menyadari baru saja diperlakukan semena-mena oleh Aziel.


Joki bangkit dan ingin membuat perhitungan mencari Aziel. Namun, ternyata pemuda bermata coklat itu telah siap dengan baju muslim dan peci di kepalanya.


"Lu tadi ngapa—" Semakin lama, nada yang tadinya semakin tinggi, menjadi semakin hilang karena menatap mata coklat membulat sempurna menantang matanya.


"Ah, oh ... Lu mau ke mana?" tanya Joki menggaruk kepala bagian belakang.


Joki memutar bola matanya merasa canggung dan kikuk. "Aah, iya. Gue luoa hari ini kita puasa. Tadi malam lu berisik amat ngaji semalam suntuk."


"Iya, soalnya target mau khatam saat akhir Ramadhan nanti. Kamu juga ikutan! Biar nambahin pahala dan nyenengin orang tua yang udah berada di alam penantian."


Joki tertawa kikuk. "Tapi lu tau gue kagak pandai ngaji."


Aziel teringat akan sesuatu. "Ayo kita ke mesjid dulu."


Joki menggangguk masuk kamar dan telah berganti pakaian mengajak Aziel ke mesjid. Suasana Ramadhan pertama Subuh ini terasa begitu kental. Mesjid yang biasanya tidak begitu ramai, kali ini tampak begitu penuh. Apalagi diisi oleh pria-pria bertampang maco bertubuh kekar.


Ketika melihat kehadiran Aziel pada mesjid itu, mereka menundukan kepala. Membuat Joki yang berjalan di sampingnya menegakan kepala.


"Entah kenapa gue merasa menjadi Boss di antara para mafia ya?"


Aziel melirik Joki sejenak dan bibirnya tersenyum tipis. Karena, baginya ini sesuatu yang sangat biasa ia jalani sebagai Arsen, dulunya.


Usai melaksanakan salat Subuh berjamaah, Aziel menarik satu genggam uangnya.


"Tolong bagikan pada orang-orang yang sekiranya membutuhkan. Sebagian lagi bisa dimasukan pada tempat ibadah yang ada di sekitar sini. Kalian juga bisa membaginya pada panti asuhan dan rumah fakir yang ada di sekitar sini. Kepada driver yang sudah bekerja pada pagi ini juga bisa kalian bagi."


"Saya tidak akan meminta kejujuran kalian. Saya serahkan kepada kalian semua. Namun, jika ada yang mencoba bermain dengan dana sedekah untuk subuh ini, saya akan mengetahuinya."


Para pria bertubuh kekar itu melirik uang yang berada di tangan masing-masing. Ada yang terpaku menatap jumlah uang bewarna merah yang tidak sedikit itu, ada yang juga memikirkan ke mana saja uang-uang itu akan diberikan.


"Sekarang, silakan untuk membagikan sedekah subuh ini. Semua uang yang ada di tangan kalian harus habis sebelum ufuk timur menjadi merah."


Para pria itu mulai membubarkan diri dan mengikuti alur sesuai arahan Tuan Muda Aziel. Ada yang memberikan kepada driver ojol yang sudah mengais rezeki di pagi buta ini. Ada yang diberikan kepada orang yang mendorong gerobak besar sebagai wadah memulung sampah. Ada yang diberikan pada panti asuhan, rumah-rumah fakir yang dianggap pantas menerima, dan fasilitas ibadah kecil dan besar yang ada di sekitar tempat tinggal itu.


Namun, memang tak semua yang mampu bersikap jujur pada uang yang diserahkan kepada mereka. Ada yang langsung memasukan ke dalam kantong lalu kembali ke warung ayam yang kini menjadi basecamp para pria bertampang sangar itu.


Ternyata, di warung tersebut, Aziel telah membersihkan warung yang terlihat cukup berantakan tak ditata oleh para anak buahnya. Baron, sangat terkejut melihat kehadiran Aziel di sana.


"Ah, lu di sini?" tanya Baron gugup.


"Iya, saya sedang merapikan tempat ini. Karena saya akan membeli bahan untuk ayam goreng kita pagi ini." Aziel menyadari gelagat Baron tak tenang. Mata kosongnya melihat pada kantong celana yang masih penuh tak berkurang sedikit pun.


"Apa yang bisa membuatmu puas dengan rezeki yang telah Allah beri supaya kamu tidak melakukan dosa lagi? Pernah kah kamu membaca atau mendengar dosa bagi yang memakan sedekah bagi kaum fakir dan anak yatim?"