Sistem Kekayaan Pria Soleh

Sistem Kekayaan Pria Soleh
34. Sat set sat set


Lalu pria yang ditutupi oleh jaket itu memberi kode kepada anak buahnya agar segera mengejar dua remaja tadi. Mereka semua melaju dengan kencang membuat Aziel menyadari bahwa ada orang yang mengikuti mereka.


Aziel menekan klakson agar temannya yang berada di bagian depan segera mempercepat laju kendaraan. Joki melirik spion dan ia segera melaju dan berbelok masuk area sekolah diikuti oleh Aziel.


"Woooii! Ini sekolah! Bukan area balapan!" hardik beberapa siswa yang hampir terserempet oleh mereka berdua.


Sementara itu, orang-orang yang mengikuti mereka menghentikan laju kendaraan. Memukul stang motor dengan perasaan kesal.


"Awas kalian! Kita tak cukup sampai di sini!" Setelah itu, mereka semua balik kanan menuju markas.


Di area parkiran, Joki melepas helm fullface yang menutupi wajahnya. Aziel pun melakukan hal yang sama. Membuat siswa lain yang berada di area parkiran terperanjak tak percaya melihat siapa yang hadir di sana.


"Kalian? Haha! Sekarang motor-motor ini yang kalian maling?" sinis siswa yang tak lain masih dari kelompok Dandy.


Joki mengerutkan kening mengejar mereka. Teringat saat Yuda berhasil dilumpuhkan oleh Aziel, membuat mereka secara refleks mengernyit melindungi diri dengan kedua tangannya.


"Lu bilang maling? Enak aja!" Joki mengeluarkan dompetnya memamerkan bukti pembelian motor tersebut secara kontan.


"Aziel yang beliin gue nih! Emangnya Dandy bisa belikan ini buat kalian?" Senyum sinis sekaligus bangga terhias di bibir Joki.


"Kalian semua begok! Mau aja jadi kacungnya Dandy? Padahal dia mah bukan apa-apa! Beda sama Aziel yang selalu kalian hin4! Sat set sat set, ngasih duit buat orang miskin. Sat set sat set, ngasih duit ke mesjid. Sat set sat set—"


"Ekheeemmm!"


"Saya tidak memerlukan semua itu!" Aziel berlalu masuk ke area sekolah.


"Nah, itu! Lihat temen gue! Gak sama kayak Dandy yang suka pamerin duit bapaknya!" Joki memberi kode jemari telunjuk dan jempol terjepit. Raut wajahnya mencibir dan ia beranjak mengikuti Aziel.


Sementara itu anggota Dandy yang tadinya berada di sana, terlihat saling kode menatap dua punggung yang semakin menjauh.


Dalam pelajaran, semua siswa terheran melihat Aziel yang biasanya tiduran di bangku paling belakang dan berada di pojokan, beberapa hari terakhir terlihat semakin aktif. Tidak hanya para siswa yang heran, guru pun turut heran menyadari Aziel yang tiba-tiba berubah menjadi perhatian dan pembicaraan sesama rekan guru di ruang guru. Biasanya, Aziel adalah sasaran penghapus papan karena kedapatan selalu tidur dalam jam pelaharan sekolah, atau cabut dan kabur lewat pagar belakang sekolah.


Saat istirahat pun Aziel memilih untuk masuk ke perpustakaan. Meskipun ia merasa tak kesulitan sama sekali dalam materi apa pun, Aziel memilih mencari suasana tenang. Tanpa ia sadari, banyak mata siswi cantik sekolahnya terus saja memperhatikan mereka sambil cekikikan.


"Ekheeemmn!" Guru dan penjaga perpustakaan melirik para gadis itu membuat siswi-siswi yang tiba-tiba jatuh hati berubah pura-pura membaca buku kembali.


Sementara itu, Aziel sendiri merasa bangga melihat siswa yang berada di dalam perpustakaan ini. 'Mereka adalah anak-anak hebat calon penerus bangsa nantinya. Mereka akan tumbuh bersama anakku di masa depan nanti. Mereka harus baik kepada Aziel di saat aku sudah tidak ada,' batin Arsen dalam diri Aziel.


Ia merogoh kantong dan berjalan mendekati siswi dan siswa itu satu per satu. "Hai, semangat ya belajarnya." Aziel menyelipkan selembar uang merah di dalam buku yang mereka baca.


Siswa yang tiba-tiba mendapat jajan secara tiba-tiba, mata mereka terlihat berbinar.


"Aziiieell, i love you!"