SENJA ASMARALOKA

SENJA ASMARALOKA
BAB 91. Pergi Entah Kemana


...Menyatakan Perasaan mungkin mudah. Namun menjaga Perasaan Tentu Tidak Mudah....


...🍁...


Bunga mekar di pagi Hari, indah dan pasti harum mewangi. Meski tidak jarang ada pula yang tidak wangi seperti kebanyakan bunga, namun tentu dia memiliki pesona lainya, Karena bunga akan selalu indah di pandangan mata.


Berbeda hal nya dengan duri , dia memang setia karena melindungi tuannya. Namun mungkin saja dia juga kecewa, karena takdirnya dia kerap kali melukai pengagum nya.


Pagi ini seperti biasa ibukota akan cerah dengan matahari teriknya. Polusi udara dan kebisingan kota sudah menjadi makanan bagi penghuni nya.


Hal yang biasa jika ibukota sudah sibuk dengan segala aktifitasnya.


Sudah hampir Satu bulan rupanya Asmara menjadi bagian dari ibukota, jujur mungkin hanya jenuh saja, namun pada kenyataanya kesehatan masih sangat membutuhkan kesabaran diri nya untuk tetap bertahan dan tinggal di ibu kota lebih lama.


Setelah kejadian Kejang tempo hari Asmara sudah tidak lagi mengalami hal yang sama, hanya saja Loka yang masih terlalu khawatir pada Asmara. Meski dokter telah mengizinkan Asmara untuk pulang.


Meski sudah baik-baik saja, namun sesuatu berbeda tentu di rasakan oleh Asmara, terutama pasca operasi yang mengakibatkan dia sering mengalami sakit kepala, meski begitu hal ini tidak menjadi masalah baginya, karena bagian tubuh lainya menunjukan respon jika dia sudah baik-baik Saja.


Asmara telah di pindahkan ke kamarnya, setelah serangkaian penanganan yang di berikan dokter padanya, tentu hal itu di lakukan juga karena kondisi Asmara sudah mulai lebih baik dari sebelumnya.


Didalam ruangan dengan cat warna putih, Asmara hanya berdua bersama sosok tua yang selalu di hormati nya. Wanita yang tidak pernah kehilangan aura cantiknya meski dia sudah berusia senja.


'Oma Ima'


Mungkin ini kali pertama Asmara dan Oma bertemu sejak setelah tragedi yang menimpa Asmara.


Keterbatasan Oma ima lah yang membuat dia tidak bisa sering-sering ke kota, selain karena faktor kelelahan, juga karena ibukota sangat tidak nyaman bagi wanita tua di hadapan Asmara.


Meski begitu , Asmara kerap menghubungi Oma, melalui ponsel pak Basuki atau pun Loka. Karena Ponsel milik Asmara sendiri entah kemana. Asmara sudah tidak lagi mengingatnya sejak kejadian kecelakaan yang menimpa dirinya.


Alasan jarang ke ibu kota, meski anaknya sukses di sana mungkin karena Oma Ima sudah cukup merasakan asam garam berada di ibukota sewaktu muda, sehingga saat ini dia begitu menikmati tinggal di desa, dengan segala kearifan yang ada di sana.


Keduanya tampak serius berbicara, entah apa yang tengah di bicarakan Oma, namun Asmara hanya mengangguk saja.


Tidak jarang pula Asmara mengatakan sesuatu yang entah apa itu, dan Oma tampak mendengar kan secara seksama.


Wajah teduh Oma Ima mampu membuat Asmara merasa tenang, nasihat bijaknya selalu membuat Asmara bahagia menjadi bagian dari keluarga Wiratmaja, meski hanya Oma dan Loka saja yang menerima diri nya.


Beberapa kali terlihat Asmara menganggukkan kepala, entah apa yang tengah di bicarakan dua wanita beda usia disana.


Namun yang jelas Asmara tampak bahagia dengan kedatangan Oma yang khusus untuk menemui dirinya.


Tidak jarang keduanya terlihat tertawa bersama, hingga Asmara merasa saat ini dirinya tidak lagi di rumah sakit. Melainkan Di rumahnya sendiri.


Bahagia bersama Oma ?, Tentu saja. Karena selain Loka memang hanya Oma saja yang tulus menerima Asmara dalam lingkaran keluarga Wiratmaja.


Sejujurnya selain mereka ada juga Bi Asih yang setia menemani Oma kemana saja. Hanya saja untuk saat ini Oma hanya ingin bersama Asmara, sehingga Bi i Asih lebih memilih menunggu di luar kamar saja.


Sementara Asmara bersama Oma, saat ini Loka tengah sibuk mengantar Pak Basuki Senja dan Bu Retno ke bandara.


Kurang lebih 3 hari mereka berada di ibu kota, sehingga sudah waktunya mereka untuk kembali ke desa. Terutama pak Basuki yang memang tidak bisa berlama-lama meninggalkan tugas dan kewajiban nya.


Sementara Bu Retno sendiri juga sudah membaik setelah mendapatkan perawatan dan cukup istirahat sebelumnya, sehingga saat ini mereka telah siap untuk melakukan perjalanan.


Setelah memastikan kondisi Asmara baik-baik saja, mereka memutuskan untuk kembali ke Desa, dan rencana nya pak Basuki akan kembali setelah Asmara pulih sepenuhnya. Tentu tujuannya tidak lain hanya untuk menjemput putrinya.


Guratan kekecewaan jelas terlihat di wajah bapak mertua Loka, meski banyak cara Loka lakukan untuk meyakinkan nya, namun agaknya untuk saat ini kemarahan pak Basuki belum dapat Loka redakan.


Setelah Asmara kembali pulih saja, mungkin Loka akan benar-benar meyakinkan bapak mertuanya, meski dia harus memohon dan terus meminta, Loka akan tetap melakukanya, terlebih diantara mereka kini sudah tubuh buah hati di rahim Asmara.


"Hati-hati pak, Semoga selamat sampai tujuan" Sopan Loka berkata pada bapak mertuanya.


"Em. Ya." Jawab pak Basuki


Lambaian tangan dan senyuman tidak lupa Loka perlihatkan untuk mengantarkan kepergian orang tua dari istri nya. Meski lambaian tangan Loka tidak bersambut dari sosok yang berada di sana.


Meski Loka begitu hangat mengantarkan Pak Basuki dan yang lainya, namun agaknya pak Basuki hanya menampakkan respon datar saja. Namun hal itu tidak masalah, karena Loka jelas tahu semua itu karena kesalahan nya.


Jika di telisik kembali ke belakang, memang semua karena Loka yang tidak tegas dengan keputusannya, Seandainya saja waktu itu Loka kekeh mempertahankan rumah tangganya, tidak mengikuti kemauan orang tuanya untuk menikah dengan Luna , mungkin Rasa sakit pak Basuki tidak akan sedalam ini.


Kalau hanya karena kecelakaan, mungkin saja pak Basuki tidak akan Semarah ini, karena namanya takdir bisa menimpa siapa saja, tidak terkecuali Asmara.


Kata maaf memang masih terasa jauh, namun yang terpenting bagi Loka adalah kesembuhan Asmara.


Setelah selesai dengan semua urusannya, Loka bergegas kembali ke rumah sakit.


Tut Tut Tut


'Arman' batin Loka.


Segera Loka menggeser ikon tanda hijau di layar ponselnya, dan panggilan keduanya terhubung seketika.


"Halo Man !"


Sosok di ujung telepon yang merupakan Asisten Loka, memberitahukan jika ada kendala yang memerlukan Loka datang dan menyelesaikannya, karena memang urusan yang sangat mendesak sehingga tidak bisa di wakilkan.


Sejujurnya Loka sangat berat meninggalkan Asmara, terlebih urusan kali ini mengharuskan Loka datang ke Bandung yang jaraknya bisa 2 jam perjalanan.


Jujur berat.


Untuk sesaat Loka terdiam, berfikir, dan meremas stir mobil nya, mencari solusi dari semua kendala yang tengah di alaminya.


Namun hasilnya tetap sama, Loka tetap harus datang ke sana untuk menyelesaikannya.


Cukup lama Loka bergelut dengan pikirannya, hingga pada akhirnya dia menghubungi Oma yang saat ini tengah bersama Asmara. Tidak lupa Loka meminta izin dan menitipkan Asmara pada Oma nya.


Jika berangkat saat ini mungkin malam nanti dia sudah akan kembali , namun semua bergantung pada lancarnya perjalanan yang akan di tempuh Loka nantinya.


Tidak ingin membuang waktu sia-sia segera saja Loka mengemudikan mobilnya, memecah padatnya jalanan dan kendaraan di ibu kota.


***


Malam pun tiba.


Sesuai prediksi Loka jika dia akan kembali ke ibu kota saat malam telah menyapa.


Suasana ramai rumah sakit sudah biasa bagi Loka. Karena cukup lama Loka menginap di sana, rumah sakit sudah seperti rumahnya. Meski sejujurnya dia tidak suka, namun demi Asmara, Loka akan melakukan apa saja untuk wanita nya.


Ceklek.


Ruang kamar Asmara tampak gelap gulita. Entah mengapa mendadak Loka merasakan perasaanya tidak baik-baik saja. Mungkinkah Terjadi sesuatu dengan Asmara?.


'Namun kenapa tidak ada yang mengabarinya ?' batin Loka.


Cukup lama Loka diam dalam lamunannya, hingga dia menyalakan saklar lampu di ruangan tersebut.


Tidak hanya sepi, namun ruangan juga kosong, 'Kemana Asmara?' Batin Loka


Tidak patah semangat Loka mulai mencari keberadaan Asmara di ruang samping kamarnya namun Asmara tidak berada disana, bergegas Loka mencari Asmara hingga ke kamar mandi, namun nyatanya disana dia juga tidak Ada.


Kalut perasaan Loka, menyadari Asmara tidak ada di kamarnya. Mungkin Asmara tengah tidak baik+baik saja. 'Batin Loka'


Namun tidak ingin berlama-lama Loka bergegas mencari Asmara ke unit pelayanan, mungkin saja Asmara berada disana.


Hingga Loka tepat berada di depan ruang perawat jaga.


"Bapak Cari Bu Asma ?"


Seorang perawat lebih dulu menyapa Loka. Dengan cepat Loka meng iya kan pertanyaan perawat di hadapannya.


"Pagi tadi setelah Visite , Dokter sudah memperbolehkan Bu Asma untuk pulang"


"Kami sempat menjelaskan untuk menunggu bapak, tapi mereka mengatakan jika Pak Loka sedang ada kepentingan"


"Dan tidak lama setelahnya Bu Asma di bawa pulang oleh keluarganya"


Jelas perawat di hadapan Loka. Untuk sesaat Loka terdiam.


Carut marut Loka memikirkan siapa yang telah membawa Asmara, sementara baru pagi tadi Pak Basuki kembali ke Desa, rasanya tidak mungkin dia yang membawa Asmara.


Hingga pikiran buruk Loka mengarah pada mantan suami Asmara 'Mungkin saja Bima membawanya' batin Loka.


Bergegas Loka menemui Bima, beruntung orang tua Bima tengah di rawat di rumah sakit yang sama, sehingga tidak butuh waktu lama bagi Loka untuk menemukan batang hidungnya.


Nahas. Sia-sia Loka mencari Bima, tidak di sangka 2 hari yang lalu ternyata orang tua bima sudah di bawa pulang ke rumah nya.


Harapan Loka hanya pada 'Arman' Asisten pribadinya, sementara Arman melacak keberadaan Bima. Loka memilih pergi menemui Orang tuanya.


Bukan curiga, hanya saja Loka mengkhawatirkan kondisi Asmara, rentetan kejadian yang menimpa nya berawal dari kedua orang tuanya yang tidak menyetujui hubungan Loka dengan Asmara.


"Kemarahan Loka memuncak seketika, membayangkan kalau saja Asmara tengah di bawa oleh kedua orang tuanya"


***