SENJA ASMARALOKA

SENJA ASMARALOKA
BAB 41. Bertemu


...Mungkin Tidak Sekarnag, Bisa jadi nanti namun itu Pasti !...


...🍁...


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, hingga Loka mengarahkan mobilnya pada sebuah rumah yang layak di sebut istana, terlihat begitu besar dan luas jika di bandingkan dengan yang sebelumnya Asmara lihat.


Asmara cukup terpukau dengan pagar rumah yang tiba-tiba terbuka tatkala mobil yang di kemudikan Loka, memasuki rumah tersebut.


"Mas"


Asmara tampak bergetar dengan jantung yang berdebar.


Loka tersenyum manis pada Asmara, Usapan lembut di puncak kepala menjadi bukti jika Loka akan selalu disamping Asmara.


Loka sendiri dapat merasakan bagaimana tangan Asmara sangat dingin, meski kini berada dalam genggamannya.


Keduanya turun dan melangkah menyusuri taman dengan kolam ikan di samping kanan kiri rumah besar tersebut.


Tampaknya kedatangan Loka telah disambut oleh keluarga nya , terlihat beberapa pelayan menyambut kedatangan mereka.


Asmara semakin mengeratkan pegangan tangannya, menyadari siapa sosok yang kini berdiri disampingnya. Mungkin benar dan Asmara telat menyadari jika memang Loka bukan dari keluarga biasa-biasa saja.


Ceklek.


"Selamat Datang Mas" Sapa seorang pelayan.


Loka menjawab dengan anggukan kepala serta senyum terbaiknya.


"Mas Loka , Ibuk Sudah menunggu"


Ucap seorang pelayan yang seketika mengagetkan batin Asmara.


"Mama dimana Bi"


"Ibuk dan Bapak sedang di Teras belakang. Mau saya panggilkan ?"


"Tidak perlu, saya akan kesana"


"Baik Mas" Jawab sang pelayan dengan sopan.


Beberapa pelayan disana memberi jarak agar Loka dan Asmara dapat masuk kedalam rumah. Masih dengan posisi yang sama Loka setia menggandeng tangan Asmara.


Sejujurnya Asmara sedikit merasa tidak nyaman dengan perlakuan Loka, namun Loka sendiri tidak sekalipun melepaskan pegangan tangannya.


Cukup panjang langkah yang harus Asmara dan Loka ayunkan, pasalnya ruang tersebut memang sangat luas dan besar.


Hingga keduanya telah berada di teras belakang rumah yang tepat menghadap kolam renang, disana Disana berdiri dua orang paru baya, yang di yakini Asmara merupakan kedua orang tua Loka.


"Sayang, kamu sudah datang ?"


Seorang wanita menyapa dengan senyum bahagia atas kedatangan putra nya.


Terlihat wanita paruh baya, yang masih terlihat jelas jejak kecantikan di wajahnya, wanita yang di yakini Asmara tidak lagi muda. Kini berjalan menghampiri Loka dan Asmara berada.


"Mama kangen sekali sama kamu Loka"


Belaian lembut di pipi kanan Loka, cukup menjadi bukti bagi Asmara jika wanita paruh baya itu sangat menyayangi putranya.


Asmara tampak melepaskan Pegangan tangan nya dari Loka, sementara itu Loka memeluk sang mama yang sudah sejak lama menantikan kedatanganya.


"Asmara. Kenalin ini Mama"


Loka mengenalkan mamanya pada Asmara, sementara itu Asmara tampak mengangguk kan kepala tidak lupa dengan senyuman terbaiknya.


"Asmara Tante " Asmara Mengulurkan tangan dengan sopan.


"Sukma. Mamanya Loka !" Wanita paruh baya itu tampak menjabat tangan Asmara, Terdengar Tegas dan Lugas bagaimana mama Loka berbicara.


Senyum pun tidak lupa dia berikan pada Asmara, namun entah mengapa dari senyuman itu justru Asmara merasa ada rasa tidak suka dari orang tua Loka pada dirinya.


Terlebih dari bagaimana Bu Sukma menatap Asmara, Asmara meyakini ada sesuatu yang dianggap salah oleh orang tua Loka.


Namun Asmara memilih abai saja, karena sejatinya dia tidak ingin mengotori hati dan pikirannya dengan perasaan dan pikiran buruk yang belum tentu nyatanya.


"Ehh... Ayoo ayooo.. Kalian pasti capek, Yuk Tante kenalin sama Papanya Loka" ajak Bu Sukma setelah puas memandangi wajah Asmara.


Loka kembali mengandeng tangan Asmara, berjalan menghampiri Suami Bu Sukma yang tidak lain adalah papa nya Loka.


Sama seperti sebelumnya, Loka memperkenalkan Asmara pada papa nya, dan Asmara pun sigap menjabat tangan orang tua calon suaminya.


Sosok laki-laki paruh baya yang juga masih sangat kental dengan wibawanya. Laki-laki yang memperkenalkan diri sebagai papa dari calon suaminya, yang Asmara ketahui bernama Adi.


Pak Adi dan Bu Sukma, begitulah biasa orang-orang menyapa orang tua Loka.


Sama seperti Bu Sukma, kini Pak Adi pun tampak menatap Asmara dengan tatapan penuh tanda tanya, hingga Asmara hanya berani menundukkan wajahnya.


Hal itu cukup menyita perhatian Loka, bagaimana Asmara merasa begitu gugup.


Loka pun memilih membawa Asmara untuk duduk dimana sebelumnya kedua orang tuanya juga duduk disana.


Kini empat orang tersebut duduk bersama. Untuk sesaat kembali orang tua Loka memindai bagaimana Asmara. Yang sebelumnya telah mereka ketahui jika Loka ingin menikahinya.


"Bagaimana perjalanan kalian?" Pak Adi tampak mencairkan suasana.


"Em. Lumayan Pah, ini pertama kalinya" Loka menjawab dengan entengnya.


Mendengar jawaban Loka, Pak Adi tampak mengulas senyum di wajahnya, namun berbeda dengan Asmara yang sedikit kaget dengan penuturan Loka sebelumnya.


Asmara hanya tidak menyangka ini kali pertama juga bagi Loka melakukan perjalanan panjang menggunakan mobilnya.


Suasana masih di dominasi rasa canggung dan ketegangan diantara mereka. Hingga Loka membuka suara.


"Jadi ma ---"


"Loka !. Mama sudah tau apa yang ingin kamu katakan"


"Tapi apa semua sudah kamu pikirkan ?"


Bu Sukma tampak berbicara pada Loka , namun tatapan mata tertuju pada Asmara.


Belum juga Loka menyelesaikan ucapanya Bu Sukma sudah lebih dulu menyela nya, dari sini Asmara tahu jika Mungkin saja orang tua Loka memang tidak begitu menyukainya.


Namun dari nada bicara Bu Sukma, dia baru menanyakan bagaimana pendapat Loka saja, bukan penolakan terhadap Asmara.


Asmara bergelut dengan pikirannya yang kini telah melayang entah kemana.


"Tentu saja ma, Loka sudah mempertimbangkan semuanya, seperti yang sudah Loka katakan pada mama sebelumnya. "


Bu Sukma Tampak mengangguk-anggukkan kepala seraya menatap pada keduanya. Begitu juga Pak Adi yang terlihat hanya menatap pada Loka dan Asmara.


Namun dari bagaimana cara Bu Sukma dan pak Adi menatap keduanya, Asmara Cukup paham jika kedua orang tua Loka tidak begitu yakin dengan dirinya yang di pilih sang putra untuk menjadi calon istrinya.


Asmara merasakan hatinya kini sudah tidak baik-baik saja, namun dia tetap diam dan menghormati kedua orang tua Loka. Meski sejujurnya tatapan nya itu cukup membuat Asmara sedikit tidak nyaman.


"Buk Makanan Sudah siap "


Seorang pelayan yang baru saja datang dan seketika memecah keheningan diantara mereka.


"Em. Siapkan saja di meja, sebentar lagi kami akan kesana" Titah Bu Sukma pada pelayan nya.


"Baik Bu" Jawab sang pelayan dengan menunduk hormat.


Meski tegang namun tidak jarang Asmara menangkap senyuman dari wanita paruh baya yang kini duduk di hadapannya.


"Sebaiknya kita makan dulu saja, Kalian juga pasti lelah" Ajak Pak Adi.


Setelah ajakan dari orang tua Loka, tampak semua orang beranjak dari duduknya, begitu juga dengan Loka dan Asmara yang berjalan di belakang kedua orang tuanya.


Lagi-lagi Asmara cukup terpukau dengan Desain rumah tersebut, sejak melangkahkan kaki, wangi dari aromatherapy menguar di setiap sudut ruangan.


Sejujurnya sangat menenangkan bagi Asmara yang tengah merasakan ketegangan.


Semua orang tampak duduk bersama di meja makan, Menikmati suapan demi suapan nasi, keheningan begitu terasa tatkala yang terdengar hanyalah Suara sendok dan piring yang saling bersahutan.


"Mama ...!!"


Hingga sebuah suara memecah keheningan diantara mereka.


Sosok wanita muda yang terlihat begitu cantik, tengah mencium mesra Bu Sukma dan Pak Adi. Gadis cantik yang diyakini Asmara merupakan Adik Loka, karena Loka pernah bercerita jika dirinya dua bersaudara, dan adiknya itu perempuan seumuran dengan Asmara.


"Zahra !!, Kamu itu kebiasaan deh, kalau pulang itu langsung bersihkan diri dulu baru kesini" Ujar Bu Sukma kesal dengan putrinya.


"Laper ma" Jawab Zahra dengan memanyunkan bibirnya.


Sikap manja dan kekanak-kanakan Zahra memang tidak pernah berubah, dia selalu saja bertingkah sesuka hatinya.


"Ehh ada Babang Tamvan" Goda Zahra pada kakaknya.


"Zahra... !!"


"Iya iya Mas "


Loka sangat tidak suka jika adiknya itu memanggilnya dengan sebutan yang menurutnya sangat aneh, meski keduanya saling menyayangi, namun tidak jarang mereka juga saling menggoda dan mencela.


"Za, kenalin ini--"


"Iya Udah tau, Mba Asmara kan ?"


Zahra menyela ucapan Loka. Tampaknya keluarga Loka memang sangat suka menyela ucapan orang lain, sama seperti kedua orang tuanya. Begitu batin Asmara


"Halo Mba, kenalin Aku Zahra, Adiknya mas Loka yang paling Cantik"


Loka terkekeh mendengar penuturan Adiknya, sejujurnya itu sudah sering dia dengar dari mulut adiknya, namun selalu saja dia tertawa ketika Zahra memuji diri ya sendiri.


"Hai Zahra, Sepertinya Kita seumuran, Panggil Asma Saja"


Asmara tampak mengakrabkan diri pada Adik kandung calon suaminya itu. Begitu juga dengan Zahra yang menurut Asmara paling baik responnya diantara yang lainya.


Sejujurnya semua baik, hanya saja mungkin perasaan Asmara yang terlalu mengkhawatirkannya. Hingga yang terasa oleh Asmara adalah pikiran tidak di terima.


Bagaimana ekspresi orang tua Loka melihat keakraban anak-anaknya, sudah tentu bahagian, namun terlihat berbeda ketika menatap Asmara.


Meski begitu keduanya terlihat Ramah pada Asmara, tak jarang keduanya juga tersenyum ketika tanpa sengaja mereka bersitatap. Hal itu tentu membuat Asmara merasa gamang.


Dimeja makan kini bertambah satu orang yaitu Zahra, yang juga ikut makan bersama mereka.


Beberapa saat berlalu, satu persatu telah selesai dengan sendok dan garpu nya. Kembali menyimpan nya diatas piring yang sudah selesai mereka gunakan.


"Loka , Papa tunggu di ruang kerja ! "


Pak Adi tampak mengakhiri kegiatan makan malam tersebut. Sementara Loka hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Kamu tunggu sebentar ya"


Tidak lupa Loka mengatakan pada Asmara sebelum dia meninggalkan Asmara untuk bertemu dengan papa nya.


Setelah kepergian pak Adi dan Loka, di meja makan hanya tersisa Asmara, Bu Sukma, dan Zahra saja. Zahra tampak masih asyik memainkan ponselnya, sementara Bu Sukma terlihat beberapa kali menengguk sisa minumannya.


"Maaf Tante Asma boleh Numpang Sholat?"


Agaknya Asmara ragu untuk mengatakannya, namun dia juga tidak mungkin menunda ibadahnya.


Mendengar ucapan Asmara Bu Sukma hanya tersenyum dengan anggukan kepala.


"Sholat di kamar Zahrah aja Mba"


Zahra yang melihat mamanya hanya diam saja mengalihkan perhatian Asmara dengan mengajak Asmara ke kamar nya.


Keduanya lantas bersama, menyusuri satu persatu anak tangga yang ada di kediaman orang tua Loka.


Untuk penghuni rumah mungkin hanya kamar Zahrah saja yang berada di lantai atas, karena kamar kedua orang tua dan Loka berada di lantai bawah. Sementara untuk para pelayan mereka memiliki Kamar khusus yang berada di bagian belakang rumah utama, yang letaknya terpisah dari Rumah utama yang di tempati Zahra dan keluarganya.


Panjang lebar Zahra menceritakan semua tentang keluarganya, usia keduanya memang hanya berjarak 2 tahun saja, jika Asmara berusia 29 tahun maka Zahra berusia 27 tahun.


Mungkin karena itu keduanya lebih mudah akrab, selain karena Zahra memang anaknya humbel dan mudah akrab dengan orang baru.


"Mba Sholat di sini saja, Zahra Mandi dulu"


Asmara bergegas mengambil wudhu, dan setelah Itu Zahra pun juga meninggalkannya untuk membersihkan diri.


Asmara selesai dengan ibadah wajibnya, Duduk diatas hamparan sajadah panjang yang tidak pernah lupa dia bawa kemanapun perginya Asmara.


"Sudah selesai mba ?"


"Udah Za, kamu mau sholat?"


Mendengar pertanyaan Asmara, Zahra hanya nyengir saja, sejujurnya dia jarang sholat malah bisa di bilang tidak pernah, KTP mungkin Islam namun hanya sebatas status saja.


"Lagi M mba"


Asmara terkekeh mendengar jawaban Zahra. Karena dari kata M yang dia sebut tentu Asmara tahu jika itu berarti M 'Males'.


***