
...Tidak ada masa lalu yang akan hidup Selalu, Yang ada hanyalah karena kita yang selalu mengenangnya...
...🍁...
Setelah cukup lama bergulat dengan minyak angin dan segala macam nya, Asmara mulai merasa tubuhnya siap untuk diajak bekerja.
Meski masih harus susah payah dia menyiapkan dirinya, namun tuntutan bekerja tetap harus Asmara lakukan. Selain untuk tetap memenuhi tuntutan kehidupan, juga bekerja merupakan tugas dan tanggung jawabnya.
Ingin sekali Asmara tetap berdiam diri di rumah nya. Namun tentu tugas dan tanggung jawabnya tidak akan selesai begitu saja.
Cukup lama Asmara menyiapkan dirinya, hingga saat ini dia telah siap dengan seragam dinasnya. Tidak lupa Asmara mengenakan riasan ala kadarnya , tentu untuk mengaburkan pucat di wajah cantiknya.
Sudah barang pasti Asmara tidak akan percaya diri jika menghadapi pasien dengan kondisi yang justru memprihatinkan. Sementara mereka datang untuk mendapatkan pelayanan.
Mungkin untuk sarapan akan Asmara tunda, selain karena belum berselera, juga karena Asmara merasa perutnya akan kembali mual jika Asmara mengisinya, lagi pula saat ini dia sudah harus berangkat kerja.
Berjalan dengan langkah gontai , berusaha mengeluarkan motor Scoopy nya, sejenak Asmara melihat mobil pemberian Loka, mungkin akan nyaman jika dia mengendarainya, namun mengingat hadiah itu saja agaknya cukup membaut Asmara kembali merasakan sesak di dada.
Tinn... !!!
Bunyi klakson yang terdengar memekakkan telinga, dan tentu seketika membuyarkan lamunan Asmara. Belum sempat Asmara mengeluarkan motor Scoopy nya, kini dia beranjak keluar dari garasi, dan benar saja pemandangan berbeda terlihat oleh pasang mata Asmara.
"Rani ?"
Sedikit tidak percaya ketika Asmara mendapati Sahabatnya telah berdiri di depan pintu rumah nya.
"Bu Bidan.... !"
Panggil Rani dengan gaya centilnya.
"Tumben pagi-pagi kesini, belum mau lahiran kan ?" Tanya Asmara.
Asmara masih tidak percaya jika sahabat nya datang, hingga yang terlintas dalam otaknya adalah Rani dengan perut buncitnya.
"Ya nggak lah Ma, baru juga 7 mau 8 bulan. Masih lama "
Mendengar jawaban sahabatnya, justru membuat Asmara merasa bingung jadinya. Karena tidak biasa Rani mendatanginya sepagi ini. Jika bukan untuk urusan kehamilan dan persalinan, lalu untuk apa Rani mendatangi rumahnya.
"Terus mau ngapain ?" Tanya Asmara , dengan memutar bola mata nya.
Tidak menjawab pertanyaan Asmara , Rani langsung saja menggandeng tangan sahabatnya, dan membuka pintu mobil bagian penumpang.
Disana juga sudah ada Bagas suami Rani yang selalu setia mengantar jemput Rani kemana pun dia pergi.
"Lho Ran, kita mau kemana ?" Tanya Asmara dengan kebingungannya.
Asmara hanya duduk dengan menyimpan kebingungan di wajahnya, sementara Bagas hanya diam saja.
"Kerja Asma !!"
Asmara semakin bingung dengan ucapan Sahabatnya, itu artinya kedatangan Rani dan Bagas memang sudah mereka rencana.
"Jadi kalian sengaja jemput ?" Tebak Asmara dengan menautkan kedua alisnya.
"Iya lah Asma, kita kan ----"
Belum sempat Rani menyelesaikan ucapanya, Bagas telah lebih dulu menarik tangan Rani, Terlihat seperti Bagas tengah memperingati.
Mata Asmara juga menangkap Rani cepat-cepat menutup mulutnya. Namun meski begitu Asmara memilih untuk diam saja. Entah apa maksud nya , yang jelas dengan kedatangan mereka, Asmara cukup di untungkan dan tidak perlu berangkat menunggangi Motor Scoopy nya.
"Mulai sekarang kita ke kantor sama-sama aja Ma. Lagian kita kan searah"
Ucap Rani mencoba meyakinkan sahabatnya, Namun dari penjelasan Rani, bukan menjadi yakin, justru Asmara semakin merasa curiga.
'Searah dari mana' batin Asmara, jelas jelas arah rumah keduanya berlawanan, jika di tarik garis dari Puskesmas maka arah rumah Rani ke bagian timur, sementara arah rumah Asmara ke barat.
"Memangnya kalian pindah rumah ya ?" Asmara yang mulai curiga lantas bertanya.
"Kita Ngga---"
Untuk yang kedua kali Bagas memperingati sang istri, hingga Rani terlihat kembali gagap di hadapan Asmara.
"Kita pindah ke Girimulya Asma, Kamu tidak perlu khawatir, Karena searah, mulai sekarang aku akan mengantar jemput kalian berdua"
Bagas yang menyadari Kebocoran sang istri, mulai angkat bicara untuk memberi penjelasan pada sahabat istrinya, agar Asmara tidak semakin berfikir kemana-mana.
Mendengar penjelasan dari Bagas, agaknya Asmara mengerti maksudnya, dan dia mengangguk saja pada akhirnya.
Tidak berselang lama, mobil yang di kemudikan Bagas telah parkir tepat di depan tempat kerja keduanya.
'Puskesmas Kertagiri'
Sekilas Asmara melihat Rani dimana saat itu sahabatnya tengah mencium tangan suaminya. Iri rasanya, karena pada kenyataan nya dia tidak akan pernah bisa melakukanya.
Asmara masih setia menunggu sahabatnya yang nyatanya masih melakukan ritual perpisahan, usapan lembut di perut dan puncak kepala menjadi pemandangan yang begitu menyenangkan namun juga menyedihkan bagi Asmara.
"Yuk !" ajak Rani
"Udah ?" tanya Asmara
Setelah semua ritual Rani selesai, keduanya berjalan menyusuri koridor Puskesmas yang masih tampak sepi, hanya ada beberapa yang tampaknya sudah datang.
Keduanya tiba di ruang kerja, ruang KIA tempat dimana Asmara dan Rani menjalankan tugas profesi.
Ruangan tersebut masih tampak basah, karena petugas kebersihan baru saja selesai mengepel lantainya. Hati-hati sekali Asmara berjalan kearah tempat duduknya, begitu juga Rani yang memang tengah hamil besar tentu dia juga akan sangat hati-hati untuk berjalan.
Waktu menunjukan pukul 07.15. Masih cukup pagi untuk mereka memulai bekerja, karena sebelum itu mereka harus melaksanakan Apel pagi bersama seluruh karyawan, barulah mereka memulai pekerjaan nya.
"Asma"
"Em"
Rani melihat Asmara mulai menyibukkan dirinya, dia juga menangkap jika Asmara tengah mengunyah permen dalam mulutnya, hal ini tentu bukan kebiasaan sahabatnya.
"Kamu baik-baik aja kan ?"
Rani mencoba memancing Asmara untuk mau bercerita.
"Maksudnya?"
"Nggak papa, Aneh aja kamu dari tadi ngunyah permen terus"
Rani masih dengan mode pura-pura nya bertanya pada Asmara.
Mendengar pertanyaan sahabatnya, Asmara lantas hanya tersenyum saja, entah jawaban apa yang tepat untuk dia katakan pada Rani.
"Kalau ada masalah. Kamu bisa cerita Ma, kamu percaya kan sama aku"
Rani meyakinkan Asmara jika dia bisa menumpahkan segala keluh kesah dan emosinya pada Rani sahabatnya. Entah mengapa Rani yang saat ini sangat berbeda dengan Rani yang biasa menggoda Asmara.
Untuk sesaat Asmara terdiam dalam lamunannya, sudut mata indahnya mulai menampakkan kaca bening yang seolah ingin tumpah begitu saja.
Menyadari Asmara tidak sedang baik-baik saja, Rani bergegas untuk mendekati dan mengusap lembut punggung Asmara.
Terlihat Asmara menghela nafas panjang nya, berusaha mengusir kepenatan yang mungkin saja terasa menghimpit jiwa.
"Aku hamil Ran"
Isak tangis dari Asmara keluar begitu saja, lirih namun terasa sangat puilu menusuk pendengaran sahabatnya.
Tidak ada kata, Rani hanya tetap diam saja, dan terus mengusap punggung Asmara, berharap tindakan kecilnya bisa sedikit mengurangi beban di hati sahabatnya.
Rani jelas tahu bagaimana kondisi Asmara saat ini, belum juga dia sembuh dari luka lama, merasakan perpisahan untuk yang kedua kalinya, dan kini harus menanggung beban kehamilan seorang diri saja.
Mungkin saja jika itu Rani dia sudah akan bunuh diri, namun melihat betapa kuat dan tegar nya Asmara, Rani seolah ingin sekali selalu menghibur Asmara, sekedar untuk mengurangi beban pikirannya.
"Aku harus gimana Ran" Lirih Asmara.
"Anak ini akan lahir tanpa Ayahnya Ran"
Isak tangis kembali terdengar pilu tatkala Asmara semakin haru dalam cerita nya. Hal itu tentu membuat Rani juga tidak kuat untuk terus menahan air Mata.
Dua wanita hamil itu kini tengah menangis bersama, keduanya berpelukan untuk saling menguatkan.
Rani merasa begitu berat beban sahabatnya, dua anak nya akan tumbuh tanpa kasih sayang ayah nya. Dia saja yang saat ini tengah mengandung, sangat merasakan bagaimana sulit dan tersiksanya , membawa perut besarnya kemana-mana.
Lalu bagaimana dengan Asmara yang akan melalui semuanya sendiri saja.
"Sabar Asma, Aku yakin bahagia akan segera menyapa" Rani mencoba menyemangati
Mendengar ucapan Rani, sejujurnya Asmara cukup merasa lega, berada di dalam pelukan sahabatnya juga membuatnya merasa bahagia, namun semua itu tidak cukup untuk mengurangi beban di pikirannya.
***