SENJA ASMARALOKA

SENJA ASMARALOKA
BAB 65. Firasat


...Untuk Semua Semoga yang masih dalam tahap Usaha, Jangan Lupa berdoa ya...


...🍁...


Tarik semakin menyapa saatnya kini untuk Asmara berangkat bekerja.


Setelah drama mobil selesai, Asmara harus kembali pada tugas dan tanggung jawabnya, dan Loka pun melakukan hal yang sama dengan Kembali ke tempat proyeknya pembangunan lokasi wisata milik nya.


Apakah Asmara akan menggunakan mobilnya?, Tentu saja tidak, untuk saat ini mungkin Asmara belum akan menggunakannya, namun entah nanti.


Agaknya Asmara akan sedikit telat sampai di Puskesmas, karena ternyata urusan dengan orang-orang showroom cukup banyak menyita waktu nya.


Setibanya di Puskesmas Asmara langsung masuk ke ruang KIA, karena untuk apel pagi ternyata telah usai sejak tadi.


Seperti biasa Rutinitas pekerjaan Asmara di Puskesmas tentu juga akan banyak menyita waktu nya. Selain di KIA terkadang Asmara juga harus kunjungan ke daerah.


Kunjungan balita, kunjungan ibu hamil, kunjungan Lansia dan masih banyak kunjungan-kunjungan lainya. Melelahkan namun begitulah kegiatan yang harus ikhlas di jalani oleh Asmara, setidaknya dia masih jauh lebih beruntung dari kebanyakan wanita lainya.


Entah mengapa akhir-akhir ini Asmara selalu merasa malas untuk bekerja, jika tidak ingat dia terikat tugas dan tanggung jawab dengan pemerintah mungkin lebih memilih untuk tidur di rumah saja.


Mengingat sehari saja tidak bekerja, sama saja dengan dia makan gaji buta, dan hal itu sangat di hindari oleh Asmara.


Sempat Rani menanyakan hal itu juga pada Asmara, mengenai dirinya yang sekarang lebih sensitif dan mudah lelah.


Rani sempat merasa jika sahabatnya tengah berbadan dua, namun nyatanya Ketika beberapa Minggu lalu Asmara memeriksa, hasil tes masih bertanda garis satu saja.


Bisa jadi perubahan psikologisnya karena memang akhir-akhir ini Asmara tengah banyak masalah yang yang begitu mengganggu pikirannya.


Waktu pulang kerja telah tiba, Asmara bergegas untuk kembali ke rumahnya, Rani lebih dulu pulang dari pada Asmara karena Bagas telah menjemputnya.


Dengan mengendarai kuda besi nya, Asmara kembali menyusuri jalanan Desa Kertagiri.


Cuaca sore ini tidak se terik pagi tadi, sehingga Asmara tidak perlu menggunakan Jaket dan sarung tangannya.


Setibanya di rumah seperti biasa Asmara akan langsung membersihkan dirinya, tidak lupa kewajiban nya pada sang Maha Kuasa, baru lah dia merebahkan tubuhnya meski hanya untuk sesaat, karena sore hari sudah pasti Asmara akan kembali kedatangan pasien-pasien di rumah nya.


Bip.


Suara pesan Whatsapp yang masuk kedalam ponsel Asmara.


Dari layar depan saja sudah terlihat siapa pengirim nya. Bergegas Asmara meraih ponselnya, dan menggeser tampilan layar ponselnya.


💌 Assalamualaikum Sayang.


💌 Sudah sampai Rumah ?. Bagaimana kegiatan di kantor tadi ?


💌 Jangan Lupa Istirahat dan Makan ya


Begitu banyak pesan dari Loka yang merupakan ungkapan kasih sayang berupa perhatian, Sungguh Membaca nya saja Asmara merasa begitu bahagia.


💌 Asma. Maaf mungkin hari ini hingga tiga hari kedepan aku akan ada banyak pekerjaan. Dan mungkin saja aku juga tidak akan pulang.


💌Aku harap kau tidak marah


💌 Maaf aku tidak memberitahumu sebelumnya.


Sinar bahagia di wajah Asmara seketika pudar begitu saja, tatkala Asmara selesai membaca pesan singkat dari suaminya.


'Kenapa mendadak ?'


'Tidak bisakah dia mengatakan sebelumnya'


Entah dari mana namun saat ini Asmara merasakan otaknya penuh dengan segala pertanyaan. Bagaimana dan kenapa Loka seolah tengah menghindari nya.


'Pekerjaan ?' Pikir Asmara


Karena seingat Asmara bulan lalu sempat loka pernah mengatakan jika proyek pembuatan tempat wisata akan selesai lebih kurang satu bulan saja.


'Atau mungkinkah Loka memiliki pekerjaan lainnya'


Asmara tidak hentinya bermonolog dengan pikirannya. Namun apa pun itu alasan Loka, Asmara selalu berusaha untuk mempercayai suaminya.


💌 Iya mas, Jaga diri Mas Loka


💌 I love u Mas Loka


Pesan balasan yang akhirnya Asmara kirimkan pada suaminya.


Meski berkecamuk pertanyaan di pikirannya, namun Asmara selalu berharap dan berdoa semoga Loka selalu baik-baik saja di manapun dia kini berada.


15 menit berlalu pesan terakhir yang Asmara kirim untuk suaminya belum juga terbaca, terlihat dari tanda centang di sana yang tidak kunjung menjadi biru.


Beberapa kali Asmara melongo pada layar ponselnya, namun hasilnya sama saja.


'Atau bisa jadi mas Loka sedang dalam perjalanan' gumamnya.


Cukup lama Asmara menunggu pesan balasan dari Loka, namun nyatanya hal itu hanya sia-sia bahkan Loka sudah tidak lagi terlihat tanda online di sana.


Sesibuk apa Loka hingga bahkan dia tidak membuka pesan dari Asmara, pikiran buruk seketika kembali menyapa nya.


Namun dalam detik berikutnya Asmara berusaha untuk tetap tenang, karena Loka selalu meyakinkan dirinya jika apapun yang terjadi Loka tidak akan pernah meninggalkan Asmara dan Senja.


Tidak hanya sekali namun berulang kali Loka mengulangi kalimat yang sama hanya untuk meyakinkan Asmara jika dia tidak akan pernah meninggalkan nya seperti perlakuan Bima dulu pada Asmara.


Dan Asmara pun begitu meyakini jika Loka tidak akan pernah mengingkari janji nya.


Hal itu cukup membuat hati Asmara kembali lega, meski saat ini dia belum mendapatkan kabar dari suaminya.


Sugesti positif nyatanya mampu menenangkan kegalauan hati Asmara yang mungkin saja saat ini sudah sangat merindukan Suaminya.


***


Hari berikutnya.


Asmara yang baru saja selesai dengan semua pekerjaan kantornya bergegas untuk kembali pulang ke rumahnya.


Sebelum pulang, sempat Asmara melihat layar ponselnya, mungkin saja Loka telah menghubunginya, namun ternyata masih sama dengan sebelumnya.


Hingga pada akhirnya Asmara memilih untuk langsung pulang saja.


Asmara telah bertekad untuk menghargai barang pemberian sang suami, dengan bekerja menggunakan mobil baru pemberian suaminya, seperti harapan Loka saat menyerahkan mobil itu pada Asmara.


Dan Asmara pun akan memanfaatkan pemberian Loka dengan sebaik-baik nya.


Banyak yang tidak menyangka seorang Asmara akan ke kantor dengan mobil yang tidak banyak orang memiliki nya.


Bukan pula bermaksud sombong atau ingin pamer, Asmara hanya ingin menghargai apa yang telah diberikan oleh suaminya saja.


Cukup terik siang hari ini, dan beruntung Asmara, karena dia bisa menggunakan AC untuk mendinginkan kepala dan tubuhnya. Mobil yang menjadi pilihan Loka saat ini sangat luar biasa bagi Asmara yang hanya seorang bidan saja.


Asmara cukup bahagia dan tidak menyangka bisa mengendarai sendiri mobil milik nya, pasalnya seingat Asmara belajar menyetir saja dia juga baru beberapa kali.


Meski bahagia, namun Asmara juga tidak sedikitpun melupakan suaminya, Bagaimana, dan dimana kini Loka berada selalu menjadi pertanyaan besar bagi Asmara.


Jujur saja kini Asmara juga sangat merindukan Loka, entah mengapa pesan terakhir yang Asmara kirimkan padanya belum juga terbaca, bahkan beberapa panggilan telepon dari nya tidak dapat tersambung.


Helaan nafas dalam saja yang bisa Asmara lakukan untuk mengurangi kepenatan dalam jiwa dan raganya.


Setibanya di rumah, pemandangan lain Asmara lihat di teras rumah nya. Asmara tidak menyangka jika pak Basuki telah lama menunggu nya.


"Bapak ?, Sudah lama ?, Kenapa tidak di dalam saja ?"


Sapa Asmara yang baru saja keluar dari mobilnya.


"Nggak Nduk, bapak pengen ngadem di sini"


Ucap pak Basuki dengan menyesap Rokoknya yang tinggal seujung jari.


Menyadari pak Basuki mungkin saja sudah cukup lama menunggu dirinya, Asmara tidak langsung masuk kedalam rumah ya dan memilih untuk berbincang bersama orang tua kedua nya itu.


"Bapak tumben siang-siang kesini ?"


Karena memang tidak biasanya Pak Basuki menemui Asmara, terlebih saat tidak ada apa-apa atau sesuatu yang perlu di bicarakan.


"Bapak kemarin ketemu sama Oma di pabrik--"


Pak Basuki terlihat menjeda ucapanya, begitu juga Asmara yang langsung menautkan kedua alisnya karena menahan rasa penasarannya.


"Oma ima memberi data-data nak Loka pada bapak, katanya Bapak diminta segera mengurus Surat Nikah kamu dan suami mu, agar pernikahan kalian segera sah dan diakui oleh negara"


Mendengar penuturan dari bapaknya, Asmara lantas mengangguk-anggukan kepala dan setuju atas usul Oma Ima pada bapak nya.


"Sebenarnya Asma juga sudah berpikir tentang itu pak, tapi Asma belum sempat membicarakannya dengan Mas Loka"


"Dan jika memang itu permintaan Oma, Asma setuju-setuju saja pak"


Jawab Asmara dengan binar bahagia di wajahnya, lagi pula Loka juga pasti tidak akan keberatan mengenai rencana Oma ini.


"Baiklah, kalau memang begitu besok bapak akan ke KUA untuk memastikan semuanya"


Anggukan kepala menjadi jawaban yang di pilih asmara atas pernyataan bapaknya.


Setelah cukup berbincang dengan Asmara pak Basuki lantas pamit untuk segera pulang ke rumah nya.


***