SENJA ASMARALOKA

SENJA ASMARALOKA
BAB 85. Rahasia Lama


...Setiap yang bernyawa akan merasakan bahagia, namun jangan lupa kesedihan sudah tentu juga akan menyapa....


...🍁...


Didalam sana.


Ruang dingin dengan cahaya terang lampu yang menyinari nya.


Asmara terbujur dengan kondisi lemah tak berdaya, jangankan menggerakkan tubuhnya, untuk bernafas saja sudah enggan rasanya.


Jiwa dan raga yang sudah lelah membuat dia nyaman dengan kondisinya, bahkan mungkin rasa sakit dalam raganya sudah tidak lagi bisa dia rasa. Sebab yang ada semua hanya sama bagi Asmara.


Beberapa orang terlihat mengenakan pakaian hijau tua lengkap dengan sarung tangan di sana , terlihat mereka tengah bersiap memulai tindakan nya.


Pertempuran dengan nasib yang baru akan Asmara mulai, berharap karena kemurahan Nya, serta bantuan mereka yang berseragam sama. Akan bisa mengembalikan Asmar dari kondisi kritisnya, harapan Asrama akan kembali seperti sedia kala.


Seperti sebelumnya, entah jodoh mana yang akan lebih dahulu menjemput Asmara, Malaika maut, atau sosok Loka Wiratmaja suaminya. Entah lah hanya Allah yang Mengetahui nya.


Sementara diluar sana.


Banyak doa dan Air mata yang banjir melihat nestapa yang menimpa Asmara untuk kesekian kalinya.


Mungkin mereka akan tertawa dengan tangis di bibirnya, betapa takdir selalu mengajak Asmara untuk bercanda.


Melihat betapa Asmara berjuang demi kebahagiaan nya. Membuat setiap pasang mata tak kuasa menahan derai Air mata nya.


Sungguh kemalangan yang seolah selalu melengkapi kehidupan wanita kuat seperti Asmara. Senang sekali rasanya takdir selalu menghampiri Asrama lengkap dengan semua ujian dan cobaan nya.


Tidak hanya Loka dan Luna yang berada di sana, namun terlihat pula pak Basuki dan Bu Retno, tidak ketinggalan Mbok Jum yang juga telah Loka terbangkan dari desa hingga saat ini mereka telah berada di sana bersama Loka dan yang lainya.


Siapa yang lainya ? , Tentu Bima, Senja, dan Mantan mertua Asmara yang masih mengenakan kursi roda turut menemani Mereka semua.


Tepat di hadapan mereka semua. Berdiri kokoh sebuah tempat perjuangan Asmara dan team medis lainnya. Hidup dan mati akan di tentukan. Tidak memiliki pilihan, hanya takdir Tuhan yang akan menentukan.


'Ruang Operasi'


Menjadi tempat paling di nanti, bukan di gemari atau di segani, tempat dimana Asmara bukan memadu cinta nya, namun tempat dimana Asmara kembali harus berjuang untuk mengukir cerita hidup nya.


Kematian, Sudah pasti !. Namun harapan orang-orang yang menunggu Asmara tentu bukanlah saat ini.


Tidak hanya Senja yang menangis menanyakan ibunya, namun semua orang tentu bertanya bagaimana kondisi Asmara.


Melihat semua orang di dekatnya menitihkan Air mata cukup membuat Senja memahami jika kondisi sang ibu saat ini tidak baik-baik saja.


Tangis dalam diamnya menjadi pertanda jika Senja pun merasakan kesulitan yang di alami oleh ibu nya di dalam sana.


"Apa Ibu akan meninggalkan Enja ?"


Lirih Senja tepat di telinga pak Basuki kakeknya. Sesenggukan Senja berusaha menanyakan kondisi ibunya.


Pertanyaan cucu kecilnya cukup menorehkan duka yang tidak terlihat dalam dada. Namun sangat menyakitkan bagi pendengar nya.


Terlihat senyum tua yang tertahan dari bibir kakek nya. Laki-laki paruh baya di hadapan Senja. Senyum yang cukup menjadi tanda jika dia juga begitu mengkhawatirkan Asmara, anak angkat yang sudah dia anggap seperti anak kandungnya sendiri.


"Enja berdoa ya. InshaAllah ibu akan baik-baik saja"


Anggukan kepala menjadi jawaban Senja atas ucapan kakeknya.


Keduanya saling berpelukan, saling menguatkan dan saling berdoa penuh harapan. Hanya satu tujuan yaitu keselamatan Asmara saja.


Kepanikan dan kekhawatiran senantiasa menyelimuti dan mendominasi keadaan. Tidak Kanya pada Loka, namun nyatanya hal itu juga dirasakan oleh Bima mantan suami Asmara yang terlihat khawatir dengan kondisi nya.


Jam makan malam telah lewat. Delapan jam sudah Asmara bertempur di dalam sana.


Entah masih berapa lama lagi dia bertahan di dalam sana dengan semua pesakitan dan takdir Tuhan.


***


Senja telah lewat, Bahkan sendakala telah menghilang dibalik gelapnya malam, menampakkan bintang dengan sejuta gemerlapnya.


Waktu menunjukan pukul 20.43.


Ditempat berbeda.


Ketegangan mendominasi suasana dengan tiga orang berada disana.


"Plakkk !!!!"


Sebuah tamparan keras mendarat tepat di wajah Bu Sukma.


Belum puas dengan putrinya. Oma Ima kembali melayangkan tamparan nya tepat di Pipi menantunya.


"Plakkk !!!!"


Lebih keras dan lebih sakit tentunya. Tepat mendarat di pipi Pak Adi.


Bekas gambar tangan Oma Ima mendarat sempurna di wajah anak dan menantunya.


Linangan Air mata cukup menjadi pertanda begitu wanita tua itu kecewa dan marah pada keduanya. Hingga tidak ada kata yang bisa keluar dari mulutnya selain tangan yang mewakili segala rasa yang menyesakkan dada.


"Kenapa ibu bisa melahirkan Penjahat seperti mu Sukma !!"


Tertunduk lemas tubuh Oma Ima di sofa empuk kediaman Bu Sukma.


Melihat ibu nya dengan kobaran api kemarahan dalam dada. Bu Sukma sudah menduga jika itu akan menimpanya, namun satu hal yang begitu tidak dia sangka.


Selama 51 tahun sudah menjadi putri tinggal Oma Ima, mungkin baru ini pertama kalinya Bu Sukma mendapatkan tamparan dari ibu kandungnya.


Kebingungan seketika menyelimuti hati Bu Sukma, mengapa Oma bisa begitu murka dan marah pada nya, hanya karena Asmara.


Bu Sukma sadar atas semua ketidak sengaja an yang terjadi pada Asmara, merupakan kesalahannya. Dan dia sudah berjanji akan bertanggung jawab dengan semua yang terjadi pada Asmara.


Namun yang belum dia pahami kenapa sosok Asmara begitu mendominasi dalam diri dan emosi ibu kandungnya 'Batin Bu Sukma'


"Duduk !!!"


Tunjuk Oma Ima pada putri dan menantunya. Lantai dingin tepat di hadapannya, menjadi tempat pilihan Oma Ima dimana Keduanya duduk disana, tepat di depan Oma Ima.


Tatapan tajam Oma Ima menghujam menusuk jiwa tidak hanya pak Adi saja, namun Bu Sukma juga merasa begitu takut melihatnya.


"Plakkkk !!! Ini untuk Baskara !!"


Sebuah tamparan kembali melayang di pipi kiri Pak Adi. Dengan di iringi sebuah nama yang mungkin tidak asing di telinga menantunya.


"Plakkk !!!" Ini untuk Halimah !!"


Kembali sebuah tamparan mendarat sempurna di pipi kanan Bu Sukma. Tidak lupa dengan sebuah nama yang di sebutkan oleh ibunya, yang tentu masih sangat segar dalam ingatan Bu Sukma siapa mereka yang di sebutkan oleh ibu kandungnya.


Keduanya hanya tetap diam saja, menyadari kesalahan yang sudah sejak lama mereka lakukan pada sosok Asmara.


Entah bagaiman jadinya dan pertanggung jawaban Seperti apa yang bisa pak Adi dan Bu Sukma berikan pada Asmara.


Derai Air mata seketika membasahi wajah Bu Sukma, sepertinya ada penyesalan dalam di sana, namun entah apa ?.


"Buk ??"


Bergetar suara Bu Sukma mendengar dua nama yang sudah lama menghilang dari pikiran dan hatinya. Namun saat ini kembali seolah mengingat kan pada Mereka betapa Budi keduanya masih sangat tertanam dalam jiwa Pak Adi dan Bu Sukma.


Nanar mata Bu Sukma mencari jawaban dan kebenaran dari ibu kandungnya, namun Oma seolah sudah tidak memiliki daya dan upaya untuk menggaungkan suaranya.


Tatapan Oma menerawang jauh dalam beberapa tahun sebelumnya, sangat lama, hingga anak dan menantunya sudah melupakan semua janji dan ucapanya.


Sedih. Sudah pasti !. Bahkan Oma Ima merasa gagal dengan semua kenyataan yang ada.


FLASHBACK ON


Kembali pada 28 tahun yang lalu.


Tepat satu tahun setelah Asmara di Lahir kan ke dunia oleh pasang anak manusia yang bernama Baskara dan Halimah. Mereka sangat bahagia, dan harmonis tentunya.


Kelahiran Asmara begitu dinanti oleh keduanya, setelah usia pernikahan 4 tahun lamanya, cukup lama mereka baru mendapatkan kesempatan dan kebahagiaan memiliki Asmara.


Di tahun yang sama bertepatan pula dengan usia Loka yang ke lima, tentu masih sangat lucu-lucu nya. Laki-laki yang saat ini sangat kaya Raya, tampan dengan segudang pesona nya. Lahir dari pasang anak manusia yang bernama Adi dan Sukma. Saat itu mereka juga sangat bahagia.


Baskara dan Adi bekerja di tempat yang sama. Yaitu, pabrik teh milik keluarga Wiratmaja, yang saat itu masih di pimpin sosok gagah mendiang kakek Loka yang bernama Hendarno Wiratmaja.


Pernikahan Adi dan Sukma sejujurnya sempat mengalami penolakan dari keluarga besar Wiratmaja, terutama dari orang tua Bu Sukma.


Karena status Adi yang hanya karyawan biasa, membuat kedua orang tua Sukma menolak lamaran Adi pada putrinya.


Sementara saat itu niatan Pak Hendarno adalah menjodohkan Baskara dengan Sukam. Yang pada saat itu pula Baskara menduduki posisi penting di perusahaan Pak Hendarno.


Namun Baskara menolak karena dia juga hanya mencintai Halimah yang merupakan sahabat dekat Sukma.


Beruntung berkat campur tangan Baskara, yang merupakan orang kepercayaan Pak Hendarno, Adi dan Sukma pada akhirnya mendapatkan restu dari kedua orang taunya. Hingga keduanya menikah dan memiliki putra bernama Loka Wiratmaja dan saat ini juga ada Zahra Wiratmaja.


Tepat 5 tahun usia Loka saat itu, bertepatan pula dengan vonis gagal ginjal yang harus dialami oleh Bu Sukma.


Kebahagiaan seolah hilang begitu saja, dua pasang sahabat yang sebelumnya selalu bersama dalam suka dan duka, sama-sama merasakan kepedihan yang dialami Sukma.


Dalam keterbatasan hidup yang juga baru saja di rasakan Sukma karena menikah dengan sosok Adi yang hidup dengan kesederhanaanya saat itu. Harus pula menanggung sakit yang cukup menguras emosi dan pikirannya.


Beruntung Adi dan Sukma memiliki sahabat sebaik dan setulus Baskara dan Halimah, Hingga Halimah merelakan satu ginjalnya untuk dia donorkan pada Sukma yang tidak lain merupakan ibu kandung Loka, dan saat ini menjadi mertua yang sangat membenci Asmara.


Tidak butuh waktu lama, 4 bulan pasca operasi Sukma sembuh total dari maut yang hampir saja menghampirinya, kembali hidup kedua keluarga itu bahagia seperti sebelumnya.


"Terima kasih Mba Yu...Kelak jika Loka sudah dewasa aku akan menjodohkannya dengan Ara !"


Ujar Sukma dengan begitu mantapnya. Disaksikan pula oleh Bu Sima, dimana kalimat itu jelas keluar dari mulut putri semata wayangnya Sukma.


Meski sempat menolak perjodohan mereka karena usia anak-anak yang masih sangat kecil tentunya, pada akhirnya Baskara dan Halimah menyetujui usulan Adi dan Sukma untuk menjodohkan anak-anak mereka kelak ketika sudah dewasa.


Dua tahun setelah kesembuhan Sukma. Adi dan Sukma memutuskan untuk hijrah ke ibu kota, mengadu nasib di sana, selain untuk menunjukan pada keluarga Wiratmaja jika Adi bisa berdiri diatas kakinya sendiri juga karena keinginan Adi dan Sukma untuk membangun sendiri usahanya.


Berangkatlah mereka ke ibu kota saat itu, dengan usia Loka yang menginjak 7 tahun.


Tidak berselang lama dari keberangkatan orang tua Loka ke ibu kota, bertepatan pula saat itu dengan tragedi kecelakaan yang menimpa kedua orang tua Asmara hingga keduanya berpulang ke Rahmatullah.


Meninggalkan Asmara sendiri bersama pamannya Basuki dan Retno.


Hingga bertahun-tahun lamanya, janji yang semula sangat kuat dan begitu mendarah daging dalam jiwa Adi dan Sukma seolah pudar begitu saja.


Kabar tentang Asmara pun juga tidak lagi mereka dengar setelah kedua orang tuanya tiada. Sama seperti janji mereka menikahkan Loka dan Asmara saat dewasa, begitu pula pada akhirnya Adi dan Sukma melupakannya.


FLASHBACK OFF


***