
...Biarkan seperti ini dulu, Aku hanya Lelah bukan Menyerah....
...🍁...
Waktu menunjukan pukul 03. 45
Asmara telah berada diatas sajadah panjangnya sejak 30 menit yang lalu. Mengharap ridho dari setiap doa yang terucap melalui kata-kata sederhana.
Harapan dan doa yang tersusun melalui rangkaian kata-kata, semoga Menjadi sebuah kisah nyata Antara Asmara dan Loka.
Hingga untuk beberapa saat Asmara tertunduk dalam doa serta lamunannya.
Semua keperluan telah Asmara siapkan, hanya tinggal hati dan mental yang perlu untuk selalu di kuatkan.
Menunggu datangnya adzan subuh sembari menenangkan hati, mencurahkan segala isi hati, tentu pilihan yang paling tepat bagi Asmara saat ini.
Mungkin bercanda dengan Sahabatnya adalah sebuah hiburan bagi Asmara, namun untuk kali ini sholat tentu merupakan solusi nya. Karena sejatinya Asmara hanya butuh ketenangan bukan hiburan.
Tanpa terasa kumandang adzan subuh telah terdengar menyapa telinga Asmara. Bergegas dia melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.
Tidak butuh waktu lama, dua raka'at telah dia selesaikan lengkap dengan doa-doa serta harapannya pada sang maha Kuasa.
Bergegas Asmara mengemasi kembali sajadah dan mukena nya, serta tidak lupa menaruh kembali pada tempatnya.
Karena Loka mengatakan jika dia akan menjemput Asmara pagi-pagi maka setelah subuh Asmara memilih segera bersiap untuk mandi.
Sejujurnya hari ini masih merupakan hari kerja, namun sebelumnya Asmara telah meminta izin pada kepala Puskesmas, serta tidak lupa mengatakan pada sahabatnya jika dia akan ke ibukota.
Suara gaduh di luar terdengar memekakkan telinga Asmara.
Ternyata Senja sudah bangun lebih awal dari dugaan Asmara, disana juga telah siap pak Basuki dan Bu Retno menemani Senja.
Sejujurnya masih sangat pagi, bahkan matahari saja masih berada di dalam tempatnya, namun kedua orang tua Asmara itu sudah siap siaga mengantarkan kepergian nya.
"Ibuk..."
Sambutan putri kecilnya yang masih terlihat wajah lelahnya, mungkin hal itu karena Senja juga baru saja bangun dari tidurnya.
" Enja Sayang, Sekarang sama Kakek sama nenek dulu ya, jangan nakal, Enja harus Nurut, Okay !"
Senja tampak menganggukkan kepala, memperlihatkan dua jari jempol tangan miliknya pada Asmara. Hal itu tentu membuat Asmara merasa lega.
Bagaimana tidak, mengasuh senja yang dari awal selalu dia lakukan sendiri tentu menjadi kerepotan tersendiri bagi Asmara, namun tidak dengan anak seperti Senja, Asmara sangat beruntung memiliki putri seperti Senja, dia sangat penurut dan tidak sekalipun merepotkan Asmara.
Seolah tahu jika ibunya akan meninggalkannya, Senja tidak lantas tantrum dan ingin ikut dengannya, justru Senja begitu bahagia karena kepergian ibunya bersama paman Loka.
Mungkin karena sebelumnya pak Basuki telah mengatakan sesuatu yang membuat hati putrinya bahagia, sehingga saat ini mudah saja bagi Asmara untuk menitipkan Senja pada orang tua angkatnya.
Jam dinding yang terpasang di ruang tamu menunjukan angka 05.15.
Senja berada dalam pangkuan Asmara, gadis kecil itu tampak bersemangat menceritakan kegiatan nya kemarin bersama pak Basuki dan Bu Retno.
Begitu juga Asmara yang selalu antusias untuk mendengarkan celotehan putri kecilnya.
Hingga tanpa terasa waktu bergulir begitu saja, suara mobil terdengar berhenti di depan rumah Asmara.
Benar saja mobil tersebut tidak lain dan tidak buka merupakan milik Loka.
Dengan sigap Bu Retno mengangkat Senja dari pangkuan Asmara, sementara pak Basuki tengah membantu Asmara mengangkat kopernya.
Tidak banyak yang Asmara bawa, hanya sebuah koper berukuran kecil, juga beberapa oleh-oleh yang rencananya akan dia berikan pada keluarga Loka.
Ceklek.
Pintu baru saja Asmara buka, disana menampilkan sosok Loka yang selalu mempesona di mata Asmara. Untuk sesaat kedua mata itu saling bertemu.
"Assalamualaikum pak, Buk" Sapa Loka pada pak Basuki dan istrinya
"Waalaikumsalam Nak Loka. Mau berangkat sekarang ?"
Loka tampak menganggukkan kepala, tidak lupa memberikan senyum terbaiknya.
"Baiklah kalau begitu, titip Asmara ya nak Loka"
Selayaknya orang tua yang akan berpisah dengan anaknya, pak Basuki pun sama tidak lupa untuk selalu memberikan wejangan bagi Asmara dan Loka tentunya.
"Baik pak, Saya berjanji akan menjaga Asmara "
Mantap dan terdengar kesungguhan dari ucapan Loka. Sementara Asmara hanya mendengarkan nasihat bapak nya, dengan sesekali mengangguk kepala.
Setelah berpamitan pada semua orang, Asmara dan Loka bergegas masuk kedalam mobil. Hingga mobil melaju meninggalkan kediaman Asmara, senja terlihat terus melambaikan tangannya
Tidak sedikitpun terlihat guratan kesedihan di wajahnya Senja, justru kini Asmara lah yang malah menitihkan air matanya.
"Tenanglah, Senja akan baik-baik saja, kita juga tidak akan lama"
Melihat Asmara dengan kesedihannya sungguh hal itu cukup membuat Loka tidak tega.
Loka tahu jika mungkin ini merupakan perpisahan pertama antara Asmara dan Senja. Namun semua itu tentu sudah berdasarkan keputusan Asmara, yang juga telah memikirkan bagaimana baiknya untuk Senja.
Cukup lama keduanya akan berkendara, beruntung Loka selalu memiliki stamina prima.
Loka sengaja tidak menempuh jalur udara, karena dia ingin memanfaatkan waktu yang ada untuk bersama Asmara. Tentu untuk mendalami karakter dari Asmara yang masih sulit dia tebak bagaimana dalamnya.
Kurang lebih 8 Jam perjalanan j CCika di tempuh via tol, dan lebih dari 14 jam jika di tempuh melalui jalur biasa.
"Istirahatlah jika capek, kamu tidak perlu menemaniku sepanjang waktu"
Loka tampak begitu memperhatikan kondisi Asmara, tentu hal itu juga begitu dirasakan oleh Asmara.
"Mas Loka juga ya, tidak usah di paksa, kalau capek istirahat saja"
Tanpa terasa Asmara terlelap begitu saja, meninggalkan Loka yang setia menjadi supir pribadinya.
Menatap teduhnya wajah Asmara, membuat hati Loka merasa bahagia, Asmara memang selalu cantik namun ketika tidur dia terlihat lebih cantik, tenang, dan seolah hidupnya tanpa beban.
Puk puk
Asmara merasakan sebuah ketukan lembut di pipi kanan nya. Mengerjakan mata beberapa kali, ternyata Loka telah berada di depannya beberapa jengkal dari wajahnya berada.
Cepat-cepat Asmara merapikan rambut dan pakaian yang mungkin kusut, setelah cukup lama dia tidur.
"Apa kita sudah sampai ?"
Loka menggelengkan kepala, dengan senyuman terbaik menghiasi wajah tampannya.
"Ini Restarea terakhir sebelum kita sampai di rumah papa dan mama"
"Mungkin kurang dari 2 jam kita akan tiba, Kita istirahat di sini dulu, sekalian makan siang"
Ajak Loka dengan lembut pada Asmara, sementara Asmara hanya mengangguk saja.
Setelah mendengar ucapan Loka, kesadaran Asmara kembali dengan begitu cepatnya.
Bagaimana tidak, Loka mengatakan jika keduanya sudah akan sampai di kediaman orang tua Loka.
Keduanya turun dari mobil, menuju sebuah Restarea yang tidak jauh dari tempat keduanya berada. Loka memesan beberapa makanan dan minuman untuk dirinya dan juga Asmara.
Sementara Asmara tengah berada di toilet sejak beberapa saat yang lalu. Asmara hanya mengatakan pada Loka jika dia akan membersihkan wajah nya dulu.
Benar saja beberapa saat berlalu, bahkan makanan yang di pesan Loka telah tersaji di meja, Asmara baru saja menampilkan batang hidungnya.
Namun pemandangan berbeda Loka lihat dari Asmara yang kini tampak lebih segar dengan riasan tipis di wajah cantiknya, Tidak hanya itu dia juga mengganti pakaian yang sebelumnya dia gunakan dengan pakaian baru yang telah dia siapkan.
Kali ini Asmara tampak sempurna di pandangan Mata Loka, meski sejujurnya Loka tidak ingin membuat Asmara terbebani dengan pertemuan nya dengan kedua orang tuanya. Tapi tampaknya Asmara ingin menampilkan sisi terbaiknya.
Melihat bagaimana Loka menatap Asmara, agaknya Asmara sedikit tidak yakin dengan usahanya.
"Apa aku terlihat aneh?"
Asmara menebak isi pikiran Loka, Karena sedari tadi Loka tidak sekalipun mengedipkan matanya.
"Tidak. Tidak. Kau justru sangat cantik Asmara"
Puji Loka setelah dirinya berhasil menguasai hati dan pikirannya.
Untuk sesaat pesona Asmara cukup mampu mengalihkan dunia Loka.
"Makanlah, aku pesankan beberapa untukmu, pilih saja yang kau suka, atau kau bisa habiskan semua" seloroh Loka mencairkan suasana.
Sama seperti respon Asmara pada sahabatnya, ucapan Loka ini cukup menohok bagi Asmara, hingga untuk sesaat dia membulatkan kedua bola matanya, menatap tidak percaya dengan apa yang dikatakan Calon suaminya.
"Mana ada mas Asma makan sebanyak ini"
Keduanya tampak tertawa bersama, sembari menikmati makan siang yang sedikit tertunda. Loka juga tampak menceritakan bagaimana mama dan papanya.
Sejauh apa yang di katakan Loka semua tampak baik dan aman-aman saja, namun bagi Asmara yang belum mengetahui bagaimana orang tua Loka, tentu tetap saja merasa gugup dan canggung untuk pertemuan pertamanya.
Setelah cukup mengisi perut, keduanya sepakat untuk langsung meninggalkan Restarea. Karena tentu keduanya tidak akan berlama-lama.
"Mas Loka tidak istirahat dulu ?"
Asmara tampak mencemaskan Loka, pasalnya berkendara berjam-jam dan tanpa di temani supir rasa rasanya itu sangat melelahkan.
"Kalau aku mau istirahat , Maunya di hotel "Kelakar Loka tanpa dosa.
"Isshh Mas Loka ini ..." Asmara semakin merasa Loka mirip sahabatnya.
Loka tampak kembali menghidupkan mesin mobilnya, kembali melaju di tengah padatnya jalan tol kota Jakarta.
Seperti yang Loka katakan sebelumnya jika mereka akan sampai sebentar lagi.
Sepanjang perjalanan hanya obrolan singkat yang terdengar dari mulut keduanya, Mungkin saat ini tidak hanya Asmara namun juga tampaknya Loka merasakan kegugupan yang sama dengan Asmara.
Namun meski begitu Loka tetap terlihat biasa saja.
Terlihat Mobil yang di kemudikan Loka telah keluar dari gerbang tol, dan melaju di jalanan padat kota Jakarta, Dan itu semakin menambah kacau suasana hati Asmara.
Segala doa dia rapalkan untuk menahan gugup yang memenuhi dada.
Hingga mobil melaju masuk kedalam sebuah komplek perumahan elit, berjajar rumah-rumah bergaya eropa yang terlihat seperti istana Cinderella.
Sungguh meski telah beberapa tahun sebelumnya tinggal di ibu kota, namun agaknya Asmara baru sekali ini tahu jika ada rumah-rumah seperti yang saat ini dia lihat.
Untuk sesaat Asmara cukup terpaku menyaksikan keindahan arsitektur setiap rumah yang terkesan sangat mewah.
Sampai Loka menyentuh tangan Asmara, seolah lamunan nya sirna begitu saja.
"Apa kamu gugup ?"
Loka tampak memastikan perasaan calon istrinya. Asmara lantas tersenyum dengan anggukan kepala.
Anggukan kepala dari Asmara sudah cukup mewakili bagaimana perasaannya saat ini.
Cup.
Sebuah kecupan hangat mendarat dipunggung tangan Asmara, wujud dukungan yang bisa Loka berikan pada Asmara.
***