
...Meski pada Akhirnya dua Manusia sepakat untuk tidak lagi bersama. Namun akan selalu ada ruang Untuk hati mengenang Masa lalu yang mungkin tidak bisa terganti...
...🍁...
Siang sudah benar-benar menampakkan cahaya nya. Menembus dedaunan melewati dahan pohon yang goyang karena sapuan angin.
Indahnya Kertagiri mungkin tidak akan pernah se indah hati yang kembali tersakiti.
Sebuah kenyataan terpampang nyata dihadapan pasang mata anak manusia yang kini tengah tegang karena rasa yang begitu menyesakkan dada.
Melihat bagaimana hancurnya hati Loka, melihat dia yang begitu memohon pada Asmara, sejujurnya cukup membuat Luna juga merasa kecewa.
Tidak hanya Asmara saja, kenyataan mengatakan jika Luna juga merupakan istri sah dari Loka Wiratmaja.
Membuat dia merasakan hancur tatkala Laki-laki yang begitu dia cinta, lebih berpihak pada istri yang lainya.
Wanita mana yang juga tidak merasakan kesedihan jika suaminya memilih Wanita selain dirinya. Begitu juga dengan Luna. Dia yang juga sangat mencintai Loka mungkin saja juga merasakan begitu terluka.
Namun dia tidak dapat berbuat apa-apa karena semua ini terjadi juga atas mau nya, menerima Loka yang jelas telah memiliki pemilik hati.
Bagai duri dalam daging, dan Luna pun harus ikut merasakan kepedihan menjadi Asmara, meski tidak sepenuhnya, namun nyatanya diabaikan dan terabaikan itu sangat sakit rasanya.
"Apa kau sudah benar-benar yakin dengan keputusanmu ?"
Mungkin karena merasa sudah tidak lagi ada celah bagi Loka untuk kembali mengisi hati Asmara. Maka Loka memilih untuk mengikuti kemauan Asmara.
Anggukan kepala menjadi jawaban Asmara Atas pertanyaan Loka.
Melihat bagaimana reaksi dan respon Asmara, Loka benar-benar yakin jika Asmara sudah tidak lagi menginginkan dirinya.
"Baiklah jika ini mau mu"
Lirih Loka katakan hal itu pada Asmara.
Setelah mendengar kalimat yang mengisyaratkan setujunya Loka untuk berpisah dengan Asmara. Sungguh di saat itu pula Asmara merasakan begitu sesak di dada.
Mulai hari ini Asmara akan kembali menyandang status Janda, dan senja akan tetap menjadi Anak yang tumbuh tanpa sosok Ayah nya.
Menyedihkan kehidupan yang harus kembali Asmara rasakan.
Bertubi dan berkali-kali tersakiti, namun seolah Takdir tidak puas mempermainkan dirinya.
Asmara bangkit dari duduknya, tidak lupa dia membawa piring kotor milik nya dan milik dua orang di hadapannya.
Entah dari mana datangnya, Asmara kembali menjatuhkan air matanya. Beberapa kali Asmara terlihat memukul dadanya, mengurai kepenatan dalam jiwa.
Sakit batin nya sungguh menyiksa Asmara, hingga dia tidak lagi kuasa untuk menahan air mata.
"Masih belum terlambat jika kalian ingin bersama"
Sebuah suara yang seketika muncul di telinga Asmara. Sudah Asmara duga jika itu adalah Luna.
Dan benar saja, nyatanya Asmara masih begitu hapal dengan suara wanita yang telah mengetuk pintu rumahnya, dan membawa pula separuh hatinya pergi dari kehidupannya.
Jika saja boleh menyesali, mungkin saat itu Asmara memilih untuk tidak membukakan pintu rumahnya untuk Luna, jika pada akhirnya ganjaran besar harus kembali dia terima.
Seolah kini hatinya terasa mati, mengingat kedekatan antara dirinya dan Luna, hingga dia juga menjadi salah satu istri dari suaminya.
Cepat-cepat Asmara mengusap sisa air matanya. Dan kembali fokus pada sisa pekerjaannya, Mencuci piring bekas makan suami dan madu nya.
"Lalu apa kau bahagia jika aku melakukanya ?" Tanya Asmara
Asmara sangat dingin dan santai ketika berbicara, karena berhadapan dengan Luna memang tidak membutuhkan urat tegang.
Mendengar pertanyaan tersebut, seketika Luna hanya dapat terdiam saja, karena pada kenyataannya dia pun juga tidak siap untuk kecewa dan terluka.
"Lalu jika aku melakukan nya, tidak akan ada bedanya aku dan dirimu"
"Rela mengorbankan kebahagiaan wanita lain demi untuk kebahagiaan diri sendiri"
"Maaf. Tapi aku tidak seperti itu"
Kalimat sindiran yang seketika menjelaskan pada Luna betapa hina nya dirinya. Tega mempermainkan hati wanita sebaik Asmara hanya untuk kebahagiaan dirinya sendiri.
Sungguh saat ini Luna begitu merasakan malu yang mencapai dasar ***********, Bagai kacang lupa pada kulitnya, sudah di tolong malah melindas juga. Itulah peribahasa yang paling tepat menggambarkan sosok Luna saat ini.
"Hiduplah bahagia bersama mas Loka, aku harap kau tidak merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan"
Ucap Asmara sebelum dia meninggalkan Luna.
Tatapan Luna seolah menerawang jauh, bagaiman dan kenapa dia bisa saat itu begitu saja menerima Loka tanpa mempertimbangkan perasaan Asmara, sementara Luna sendiri tahu bagaimana baik dan lembutnya hati seorang Asmara.
Tidak hanya terhadap Asmara, Mungkin saja Luna juga akan merasa berdosa pada Senja, gadis kecil yang sempat menjadi penghiburnya, saat ini akan kehilangan sosok ayah nya, dan sebab dari itu semua adalah dirinya.
***
Bagai petir di siang bolong, dengan tegas Loka mengatakan kesungguhannya untuk menceraikan Asmara.
Tidak ada lagi ikatan ataupun hubungan antara Asmara dan Loka.
Ikrar talak tidak hanya di saksikan oleh Asmara dan Luna, namun disana juga Ada pula pak Basuki yang turut menemani.
Sungguh mendengar nya saja sangat membuat hati pak Basuki kecewa, lalu apa kabar Asmara ?.
Status janda kembali menghampiri, tinggal bagaimana Asmara memulai kembali untuk menata hati.
Karena mungkin hatinya kini sudah sangat terluka, hingga tidak dapat lagi terobati, dua kali sudah tersakiti, mungkin kedepannya Asmara lebih baik sendiri.
Peribahasa yang tepat menggambarkan keadaan yang dialami Asmara.
"Terima kasih mas"
Lirih Asmara mengatakan kalimat itu pada Loka.
Sungguh Loka merasa sangat berdosa, wanita sebaik dan selembut Asmara harus menerima semua perlakuan buruk darinya, sejujurnya masih tidak rela, namun ini sudah merupakan keputusan Asmara dan Loka pun menyetujuinya.
"Begitu pula Asma. Maafkan atas semua sikap dan tutur kata yang mungkin saja menyisakan Luka di hati mas Loka"
"Dan saat ini pula Asmara membebaskan Mas Loka dari semua tanggung jawab Mas Loka terhadap diri Asma"
Untuk yang kedua kalinya Asmara kembali mengatakan kalimat yang sama, seperti saat dirinya berpisah dengan Bima.
Tidak ada tuntutan, tidak ada permintaan , meski Loka menawarkan, namun tegas Asmara menolak semua bantuan.
Bagi Asmara awal mula hubungan keduanya adalah baik-baik saja, maka ketika kini pada akhirnya harus selesai, semua juga harus dengan baik adanya.
***
Hari baru.
Setelah serangkaian nestapa, duka, dan lara yang menyelimuti hati Asmara. Saat ini sudah saatnya pula Asmara kembali dalam kehidupan nyata nya.
'Kembali bekerja'
Rutinitas yang selalu Asmara jalani, dan hingga saat ini tidak pernah dia khianati.
Kehidupan harus tetap kembali berjalan, dan Asmara juga harus.kembali menjadi penopang kehidupan. Mau tidak mau Asmara sudah harus kembali kuat dan siap.
"Bengong aja buk"
Rani yang baru saja datang langsung mengagetkan.
"Tumben pagi banget datangnya, biasanya mepet apel baru Dateng"
Hal ini tentu juga bukan kebiasaan Asmara, mungkin memang Asmara sangat di puji dalam hal pekerjaan, namun untuk datang pagi sekali rasa-rasanya ini baru pertama kali.
Asmara hanya terkekeh mendengar ucapan Rani.
"Ya udah besok aku telat lagi"
Menyadari serba salah, Asmara pun memilih untuk kembali pada mode semula. Hingga dia terkekeh kembali dengan ucapanya
"Ma. Kamu nggak papa kan ?"
Melihat bagaimana sahabatnya tertawa, rasa-rasanya Rani justru tidak tega. Sedikit banyak kejadian yang menimpa Asmara sudah cukup di dengar oleh pasang telinga Rani.
Karena pak Basuki selalu menceritakan semua hal yang berkaitan dengan Asmara, meski hanya secara singkat, namun tujuannya hanya untuk Rani agar bisa menjadi dan ikut menghibur Asmara.
Anggukan kepala menjadi jawaban Asmara atas pertanyaan sahabatnya.
"Antrian Pertama !!" Teriak Asmara
Bukan menjawab pertanyaan sahabatnya, Asmara memilih untuk kembali fokus pada pekerjaan nya.
Setelah 2 hari mangkir dari tugas dan tanggung jawabnya, agaknya Asmara harus kembali memperbaiki reputasi dan kinerja nya.
Melihat bagaimana Asmara bersikap Rani hanya bisa menghela nafas saja, ketika pasien telah di panggil itu artinya mereka sudah harus siap kembali bekerja.
Lebih kurnag berkutat dengan antrian, Asmara merasa kesedihannya sedikit teralihkan, ketika berhadapan dengan pasien nyatanya memberi hiburan tersendiri bagi Asmara, dia jadi tahu bagaimana realita dan kehidupan yang di jalani pasiennya, tidak jarang ada pula yang lebih menyedihkan daripada dirinya.
Hingga waktu pulang kerja telah tiba, Asmara seperti biasa akan menunggangi kuda besinya, sementara Rani akan di jemput oleh suaminya.
Terkadang asmara merasa iri pada Rani, Rani begitu beruntung mendapatkan Bagas yang baik dan pengertian, meski Bagas hanya seorang pelaksana proyek namun keduanya saling menyayangi.
Tidak butuh waktu lama , asmara telah sampai di depan rumahnya.
Namun pemandangan berbeda terlihat menyapa Asmara yang baru saja menstandart kan Motor nya.
***