SENJA ASMARALOKA

SENJA ASMARALOKA
BAB 45. Ternyata


...Tidak ada Hidup tanpa masalah. Dan tidak ada perjuangan Tanpa Rasa Lelah....


...🍁...


Melihat bagaimana Senja yang begitu sedih dalam pelukan Asmara, sungguh hal itu membuat Loka semakin merasa bersalah.


Entah karena sebab Apa, dia juga merasakan emosinya kian membara, Menyadari sikap kedua orang tuanya yang begitu berlebihan menentang hubungannya dengan Asmara.


Pak Basuki yang juga berada di sana tidak tega melihat Senja ikut merasakan kesedihan ibunya.


"Senja sama kakek dan nenek ya"


Pak Basuki tampak mengurai pelukan Asmara dan Senja.Sadar dengan situasi dan kondisi yang dialami Asmara dan Loka, Pak Basuki berniat untuk meninggalkan keduanya.


Mungkin dengan begitu keduanya bisa saling mendinginkan hati dan perasaan, setidaknya komunikasi antara keduanya akan lebih mudah untuk di sampaikan.


Mendengar ajakan kakeknya, Senja langsung menurut begitu saja, memeluk Sang kakak dengan begitu eratnya.


"Nak Loka, bapak percaya sama kamu, Jangan Buat Asma Kecewa"


Pesan pak Basuki sebelum beliau meninggalkan keduanya, Loka pun menganggukkan kepala sebagai jawaban atas permintaan orang tua angkat Asmara.


Pak Basuki, Senja dan juga istrinya beranjak pergi meninggalkan keduanya, kini pak Basuki memilih untuk membawa senja ke rumahnya saja, tentu alasannya Agar gadis kecil itu segera melupakan kesedihan ibu nya.


Di dalam kamar Asmara kini hanya ada dua orang yang saling menyapa lewat tatapan mata.


Banyak kata yang ingin di sampaikan, Namun kenyataan semua masih tetap tersimpan dalam diam nya.


Hening


Hingga tanpa aba-aba Loka begitu saja memeluk Asmara. Terlihat jelas bagaimana Loka sangat mengkhawatirkan Asmara.


"Maafkan aku Asmara"


Bergetar suara Loka mengatakan itu pada Asmara


Mendengar ucapan Loka sejujurnya membuat jantung Asmara berdesir seketika, namun mengingat bagaimana perlakuan orang tua Loka pada dirinya sungguh hal itu cukup menambah luka batin Asmara.


"Maafkan aku, Seharusnya aku menemanimu"


Asmara masih betah dalam kebisuannya, hingga hati kecilnya tergerak untuk berkata.


"Lupakan hubungan kita Mas !"


Lelehan bening merembes begitu saja dari sudut mata Asmara. Sama hal nya dengan Loka, dia juga begitu tidak percaya jika Asmara akan menyerah begitu saja.


Tertunduk lesu dalam diamnya, Asmara merasa dirinya sudah tidak lagi berselera meski hanya untuk menatap wajah Loka.


Hal ini tentu sangat berbanding terbalik dengan sehari sebelumnya, dimana kerap Asmara memandangi wajah tampan calon suaminya, Namun entah mengapa hal itu kini terasa Hambar baginya.


"Maafkan aku Asmara, Maafkan aku"


Loka berusaha kembali meyakinkan Asmara jika memang semua adalah kesalahannya.


"Tidak perlu meminta Maaf, Kamu tidak salam mas, Keadaan yang membuat kita terpaksa harus mengalah" Lirih Asmara dengan mata yang terlihat begitu sayau.


"Tidak. Tidak. Kita tidak bisa menyerah begitu saja Asma !!"


Loka tetap saja berusaha untuk meyakinkan Asmara. Menyadari mungkin saja benih cinta itu sudah muncul di hati Loka.


Melihat betapa kekeh nya Loka membujuk Asmara, cukup membuat Asmara merasa bahagia, namun lagi-lagi hal itu sudah tidak berlaku untuk hatinya.


Gelengan kepala menjadi pertanda jika Asmara sudah lelah dengan hatinya, bahkan hubungannya dengan Loka tak ubah nya hubungan Asmara dengan Bima.


Loka tidak ingin Asmara menyerah begitu saja, semalaman terpisah dari Asmara dalam keadaan yang cukup kalut, Hati serta pikirannya tersiksa, memikirkan bagaimana Asmara dan dimana dirinya berada.


Loka semakin menyadari jika dirinya telah mulai mencintai Asmara.


*FLASHBACK ON*


Di Ruangan kerja yang bernuansa serba abu-abu milik papa nya, Loka terlihat tengah bersitegang dengan keyakinan nya pada Asmara.


"Papa tidak setuju dan tidak akan pernah merestui Rencana mu!!"


Loka hanya mendengar kan ocehan papanya, sejujurnya memang sudah sejak pertama kali Loka mengatakan rencana nya menikahi Asmara papa dan mama nya memang sudah menolak dan tidak menyetujuinya.


Bahkan rencana perkenalan ini hanya Loka saja yang memaksa, sementara orang tuanya tidak pernah menginginkannya.


"Ini hidup Loka pa, Bukan Bisnis keluarga kita !!"


Lantang Loka menentang orang tuanya.


"Loka !!!"


Wajah Pak Adi tampak memerah menahan Amarah.


Loka dengan tegas menolak perjodohan dirinya dengan anak rekan kerja papanya yang diketahui bernama Luna.


Bagaimana Loka tidak begitu saja menolaknya, jika dia memaksa menerima Luna maka ini akan menjadi yang kedua kalinya dia menerima perjodohan dari orang tuanya.


"Papa tidak mau tahu, kau harus tetap menikah dengan Luna !!"


Ck. Loka hanya tertawa mendengar ucapan Ayahnya.


"Loka tahu ini hanya untuk kepentingan Bisnis papa


.Lantas kenapa tidak papa saja yang menikah dengan Luna ??"


"Loka !!! Lancang kamu "


Plak !!!!


"Kau akan tahu akibatnya !!" Pak Adi mengancam putranya, namun hal itu juga tidak mempan lagi bagi Loka.


"Ingat Loka !! Kau tidak akan pernah mendapatkan apa-apa jika menikahi wanita itu"


Pak Adi begitu tidak Sudi memiliki mantu seperti Asmara, jelas dan tegas dia katakan penolakan itu pada putranya.


"Apapun masalahnya, Loka akan tetap menikahi Asmara!"


Loka tetap kekeh pada pendiriannya.


Bagaimana dia tidak membantah orang tuanya, pernikahan pertamanya juga merupakan hasil perjodohan yang di lakukan kedua orang tuanya, dan nyatanya berakhir begitu saja karena mantan istrinya berselingkuh dengan teman lelakinya.


Cukup sekali itu saja, dan Loka sudah berjanji tidak akan mengulanginya untuk yang ke dua kali nya.


"Maaf pa. Jika memang Loka harus kehilangan semua dari papa, itu tidak masalah bagi Loka"


Loka beranjak dari duduknya, meninggalkan pak Adi yang masih duduk di tempatnya. Menatap kepergian putra sulungnya yang semakin menghilang dibalik pintu ruang kerjanya. Sungguh hal itu membuat pak Adi semakin geram rasanya.


Setelah dari ruang kerja Papa nya Loka merasa sudah muak dengan tingkah kedua orang tuanya, Loka memilih untuk segera membawa pergi Asmara dari kediaman orang tuanya.


Situasi akan semakin kacau jika dia tidak segera membawa Asmara keluar dari rumahnya.


"Asmara!!"


"Asma !!"


"Asmara!!"


Loka berteriak memanggil nama calon istrinya, Namun entah dimana Loka tidak juga mendapati keberadaan Asmara.


Di teras belakang, di meja makan, bahkan di rumah tamu, Loka tidak menemukan sosok Asmara . Sampai di sini pikiran Loka semakin kacau, mengingat mungkin saja mama nya bertindak tanpa batas pada Asmara.


"Mas Loka !"


Sebuah panggilan yang jelas Loka tahu dari siapa.


'Zahra' ya dialah yang saat ini memanggil Loka. Zahra meminta Loka untuk masuk ke dalam kamarnya, wajah pucat Zahra semakin menambah kekalutan hati Loka.


Disana Zahra memperlihatkan sebuah video yang dengan sengaja dia rekam.


Video yang memperlihatkan bagaimana Bu Sukma begitu tidak suka dan melayangkan ucapan penuh intimidasi pada Asmara.


Sontak hal itu cukup membuat jantung Loka bergemuruh seketika, terlebih melihat bagaimana Asmara tetap diam menahan setiap kalimat hinaan dari mama nya.


Meski sebelumnya Zahra menolak ajakan Asmara dengan Alasan ingin istirahat, Namun belakangan di ketahui jika Zahra ternyata menyusul Asmara, karena dia juga ingin mendekatkan diri dengan calon Kakak iparnya.


Namun Kenyataan lain dia ketahui jika Mama nya tengah mengintimidasi Asmara.


Dari ujung tangga, Dengan jelas Zahra melihat bagaiman mama nya begitu tidak suka dan menekan Asmara untuk meninggalkan Loka.


Tidak pikir panjang Zahrah pun dengan sengaja memvideokan kejadian Itu, karena dia sadar hal itu akan di butuhkan oleh kakak nya.


Setelah mengetahui kenyataan pahit yang baru saja dialami Asmara bergegas Loka keluar dan meninggalkan rumahnya.


Sepanjang malam Loka mencari Asmara, Bahkan dia mengerahkan semua asisten dan team IT khususnya untuk menyelidiki keberadaan Asmara.


Hingga tidak butuh waktu lama Loka dapat melacak keberadaan calon istrinya, Namun nahas Ternyata Asmara tengah bersama Bima mantan suaminya.


Tidak pikir panjang Loka segera mencari keberadaan Bima, yang ternyata memutar jalur Laju mobilnya, yang awalnya mengarah ke stasiun mamun seperti dengan sengaja Bima memutar Arahnya.


Hingga Loka dapat menemukan keberadaan mobil Bima, namun sayangnya Asmara sudah tidak berada disana.


"Katakan Dimana Asmara!!"


Loka menekankan suaranya, Berhadapan dengan mantan suami Asmara agaknya membuat Loka semakin terbakar hatinya.


"CK. Untuk apa kau mencari Asmara, Kau saja membuangnya begitu saja"


Bima begitu asal bicara, dan hal itu semakin memancing kemarahan Loka Wiratmaja.


Brug.


Sebuah bogem mentah melayang di wajah Bima begitu saja. Namun secepat itu pula Bima membalas perlakuan Loka.


Hingga keduanya mendapatkan Satu sama.


Tidak sampai di situ, Loka kembali melayangkan pukulan beberapa kali hingga Bima tidak kuasan menahan gerakan cepat dari lawanya.


"Katakan !!!.. Kemana kau membawa Asmara!!"


Loka sudah tidak bisa menahan emosinya.


Melihat tatapan Tajam seorang Loka Wiratmaja, Agaknya cukup membuat Bima takut melihatnya.


"A a aku menurunkan Asmara di perempatan Lampu Merah Jalan Delima"


Dengan kesal Loka menghempaskan Tubuh Bima dari cengkeraman nya.


Loka kembali mengendarai mobilnya, mencari dan berusaha menyusul Asmara.


Berdasarkan informasi yang dia dapatkan dari Anak buahnya Asmara menuju Stasiun, Namun kenyataan berkala lain, setelah menyisir setiap sudut stasiun Loka tidak juga menemukan keberadaan Asmara.


Hingga pilihan Loka langsung saja kembali ke Tanah kelahiran Asmara, Karena dia merasa saat ini tujuan Asmara adalah hanya kesana.


*FLASHBACK OFF*


***