SENJA ASMARALOKA

SENJA ASMARALOKA
BAB 79. Perdebatan


...Tidak ada perbandingan antara Matahari dan Bulan. Karena mereka akan bersinar saat waktunya tiba....


...🍁...


Mentari Pagi.


Ibukota yang tidak pernah sepi dengan semua keramaiannya, Hiruk pikuk kota dengan semua aktifitas penduduknya membuat Asmara merasa asing sejujurnya.


Meski sebelumnya Asmara juga merupakan bagian dari salah satu penduduk ibukota, namun setelah lama pindah ke desa, rasa-rasanya keramaian ibukota membuatnya tidak betah berlama-lama.


Panas dan bisingnya kota, membuat Asmara merasa gerah dan ingin segera kembali ke desa.


Asmara selalu merindukan damainya suasana di desa. Karena Kertagiri selalu di hati.


"Kita sarapan sekarang ?"


Ajak Bima yang menyadari Asmara telah selesai dengan aktifitas nya mengikat rambut putri mereka.


Asmara dan Senja baru saja selesai membersihkan diri, mengganti baju dan tidak lupa Asmara merapikan pakaian dan rambut putrinya.


"Memang tidak papa kita tinggal ibuk ?"


Asmara agak ragu dengan ajakan Bima, pasalnya baru beberapa menit lalu ayahnya juga pamit untuk pulang kerumah, meski hanya untuk mandi dan membersihkan diri, serta mengambil baju ganti untuk ibu Bima, serta akan kembali secepatnya, namun agaknya Asmara sedikit tidak tega meninggalkan nya sendirian disana.


"Kalian sarapan dulu saja Asma" titah ibu Bima


Asmara mengulas senyum di bibirnya, nyatanya pertanyaan pada Bima justru mendapatkan jawaban dari mantan ibu mertuanya.


Atau mungkin saja, Ibu Bima mendengar apa yang Asmara katakan pada Bima sebelumnya.


Ah. Entah lah, yang jelas Asmara merasa sedikit tidak enak jadinya.


"Ibuk tidak papa kita tinggal ?"


Anggukan kepala menjadi jawaban dari ibu Bima atas pertanyaan Asmara. Terlihat pula senyum manis di wajah wanita tua di hadapan Asmara.


Setelah cukup meyakinkan diri nya, pada akhirnya Asmara menurut saja, dan setelahnya Asmara, Senja juga Bima berencana ke kantin untuk sarapan.


"Ibuk .. Enja mau temani nenek saja"


Baru saja Ketiganya akan melangkah kan kaki keluar, Senja telah kembali menghentikan langkah mereka.


Agaknya melihat sang nenek dengan kondisi lemah, Senja tidak tega meninggalkan nya sendiri saja, Gadis kecil itu bahkan merengek dan memaksa untuk tetap bersama neneknya.


Asmara sedikit ragu meninggalkan Senja bersama neneknya, bukan apa-apa hanya saja dia khawatir justru Senja akan merepotkan neneknya, sementara kondisi sang nenek juga masih sangat lemah.


Namun melihat bagaimana putrinya begitu memaksa dan memohon pada Asmara, pada akhirnya Asmara menyetujui permintaan Senja untuk menemani neneknya.


Senja memang sangat mirip seperti Asmara, gadis kecil itu mewarisi semua sifat baik dari ibunya. Kebaikan dan ketulusan hatinya membuat banyak orang begitu mencintai dan menyayanginya. Namun sayang kasih sayang itu dia dapatkan bukan dari Ayahnya.


Setelah Asmara dan Bima sama-sama menyetujui permintaan putri kecil mereka, Bima lantas membawa Senja agar dekat neneknya.


Sebelum Asmara benar-benar meninggalkan Senja, tidak lupa dia memberi sedikit nasehat untuk putrinya. Dan Senja begitu patuh dengan ucapan ibu nya, hingga anggukan kepala saja yang terlihat menjadi jawaban Senja.


Bima beranjak keluar bersama Asmara, tujuan keduanya hanya di kantin saja. Sebelumnya Bima sempat menawarkan untuk sarapan di luar lingkungan rumah Sakit, namun Asmara menolak ajakan Bima untuk sarapan di luar dengan alasan karena tidak ingin meninggalkan Senja dalam waktu yang lama.


Meski Bima sangat ingin, namun penolakan Asmara membuatnya tidak bisa memaksa kan keinginan nya begitu saja.


Tidak butuh waktu lama keduanya telah sampai di kantin rumah sakit. Karena masih sangat pagi jadi suasana juga masih terasa sepi.


Nyatanya disana hanya ada Bima dan Asmara saja yang terlihat ingin mengisi perutnya, selain Bima dan Asmara hanya terlihat para pedagang yang mulai bersiap membuka lapaknya.


Keduanya duduk di sebuah meja yang letaknya cukup dekat dengan taman di luar sana, karena hanya di sana tempat makan yang terlihat telaah siap dengan menu menu masakannya. Bima memesan beberapa makanan untuk Asmara juga dirinya. Tidak lupa juga dengan minuman untuk mereka.


Segar di ingatan Bima jika dulu Asmara selalu menyukai nasi goreng jawa, tidak lupa Bima memesankan itu untuk mantan istrinya.


Setelah memesan makanan, Bima menghampiri Asmara yang telah lebih dulu duduk di sana.


Suasana hening, membuat kecanggungan diantara mereka seketika menyapa.


"Asma" panggil Bima


"Em?" jawab Asmara


"Kau baik-baik saja ?"


Mendengar pertanyaan dari Bima, Asmara hanya tersenyum saja.


Tidak mungkin Asmara mengatakan jika dirinya sedang menahan rasa mual nya.


Beruntung Asmara sempat membawa anti mual dari rumahnya sebelum dia dan Bima berangkat ke ibukota, dan sempat dia minum pagi tadi, hingga rasa mual itu sedikit berkurang meski tidak begitu saja hilang.


"Em. Baik" singkat jawaban Asmara


"Tapi kamu terlihat pucat sekali"


Bima menautkan kedua alisnya, menatap jeli pada sang mantan istri.


Meski terdapat riasan di wajah Asmara, namun tidak begitu saja menghilangkan rona pucat di wajah Asmara.


Sempat hidup dan tinggal dalam waktu yang cukup lama, membuat Bima tahu jika saat ini Asmara sedang tidak baik-baik saja, hanya saja Bima melihat Asmara tidak ingin membuka suaranya.


Beruntung tidak butuh waktu lama, makanan yang sebelumnya di pesan Bima telah datang, sehingga Asmara bisa fokus dengan sarapannya.


"Nasi goreng Jawa ?"


Asmara sedikit tidak percaya jika Bima masih sangat mengingat makanan yang sangat dia suka.


Anggukan kepala menjadi jawaban Bima, tidak lupa terlihat pula senyum terbaik diwajah tampan Bima.


Melihat nasi goreng favoritnya, Agaknya Asmara mulai tidak sabar untuk segera melahapnya. Aroma bumbu yang menguar di udara membuat Asmara merasakan air liurnya ingin keluar begitu saja.


Benar saja binar bahagia seketika terlihat di wajah cantik Asmara tatkala menikmati suapan demi suapan yang begitu saja bisa masuk kedalam perutnya.


Entah mengapa melihat Nasi goreng kesukaannya, membuat mual yang sebelumnya Asmara rasa, hilang begitu saja.


Begitu juga Bima yang pada akhirnya hanya mengaduk-aduk saja makanan pesanannya, pasalnya melihat bagaimana Asmara sangat lahap dengan makanan nya, membuat Bima merasa bahagia, dan juga seketika menjadi kenyang rasanya.


Cukup singkat, hingga Asmara telah menghabiskan semua makanan nya, dan Asmara baru menyadari jika makanan milik Bima hanya berkurang sedikit saja.


"Mas Bima nggak makan ?"


"Aku sudah kenyang"


Asmara menakutkan kedua alisnya, sejujurnya dia tidak begitu memperdulikan Bima, hanya saja melihat dia yang hanya sedikit makan makanan nya, membuat Asmara lantas membuka suara.


"Ya sudah kalau gitu kita langsung kembali ke kamar ibu saja"


Tidak ada lagi urusan dan kegiatan yang ingin Asmara lakukan, sehingga kembali ke kamar mantan ibu mertuanya menjadi pilihan satu-satunya.


Sejujurnya Bima masih sangat ingin berlama-lama, namun melihat bagaimana Asmara ingin segera kembali, membuat Bima pada akhirnya menurut saja.


Sekuat tenaga Bima berusaha kembali mengakrabkan diri dengan Asmara, namun sepertinya usahanya itu masih terasa sia-sia saja, Asmara masih begitu erat menutup pintu hatinya.


Keduanya lantas berjalan kembali, menyusuri lorong-lorong yang masih terasa cukup sepi. Hingga langkah Asmara terhenti karena sesuatu mencekal tangannya.


Asmara memalingkan wajahnya, dan seketika dua buah manik mata nya membulat sempurna, menyadari siapa sosok yang tengah berdiri di hadapannya.


Deg.


'Mas Loka'


Tatapan Asmara beradu dengan sosok Loka Wiratmaja. Desiran aneh yang entah darimana datangnya, muncul begitu saja di jiwa Asmara.


Untuk sesaat nafas dan jantungnya memompa dengan begitu kencang nya, menatap sosok laki-laki yang baru saja menorehkan luka dalam hatinya. Namun juga merupakan laki-laki yang belum sepenuhnya bisa Asmara lupa.


Sudah hampir satu setengah bulan lamanya, dan sudah sejak saat itu pula ternyata keduanya sudah tidak lagi saling sapa, hingga Asmara begitu terkejut tatkala melihat wajah Loka muncul di hadapannya.


"Asmara kita harus bicara !"


Asmara masih terdiam dalam lamunannya, hingga pada saat Loka mengajaknya berbicara.


Namun belum sempat Asmara menjawab pertanyaan Loka, Bima nyatanya lebih dulu menghempaskan tangan Asmara dari cengkeraman Loka.


Dengan wajah garang nya, Bima menatap tajam Loka yang seenaknya saja menghadang langkah Asmara.


"Lepaskan dia !"


Tatapan Bima beradu dengan begitu ganasnya dengan sosok Loka Wiratmaja. Begitu juga Loka yang tidak gentar menghadapi lawan di hadapannya.


"Ck. Punya hak apa kau melarang Asmara, dia istriku !!" tegas Loka.


Mendengar ucapan Loka, bukan Menjadi takut, nyatanya Bima justru tertawa dengan begitu kerasnya. Sontak hal itu juga semakin mengundang kemarahan dari Loka.


"Istri dari mana ?"


"Status Kita sama. Hanya mantan suami dari Asmara !!"


Bima berbicara dengan begitu tenangnya, mengingatkan Loka jika saat ini mereka berstatus sama. Sama-sama menjadi bagian dari masa lalu Asmara.


Sementara Bima dan Loka tengah berdebat, Asmara hanya terus diam saja. Entah pikirnya telah melayang kemana.


Sejujurnya Asmara sangat malu ketika Bima mengatakan kenyataan jika Asmara pernah bersuami dua. Sungguh kenyataan yang begitu melukai hatinya.


Ingin rasanya saat itu juga Asmara menghentikan dunia, dan menghilang begitu saja. Tatapan orang terhadap dirinya seolah begitu mengintimidasi Asmara.


Tempat yang semula sepi sepi saja, kini mulai terlihat ramai dengan perdebatan antara Bima dan Loka yang menjadi tontonan nya.


Jangan kan Asmara , sudah pasti banyak wanita di luar saja akan merasa terluka jika dia mengalami kegagalan dalam berumah tangga, terlebih dua kali Asmara mengalaminya.


Jujur Asmara sendiri tidak menginginkannya, namun takdir seolah menginginkan dia melewati semua nya.


Hingga Asmara merasakan pusing dan mual, melihat dan mendengarkan pertengkaran antara Bima dan Loka agaknya cukup membuat Asmara merasa lemas seketika.


Brug...


Suasana menjadi gelap dan Asmara merasakan tubuhnya bagai di udara.


***