
...Kenyataan paling menyedihkan, Ketika Sangat mencintai Seseorang Yang jelas kita tahu tidak akan Mungkin bisa Kita dapatkan...
...🍁...
Malam semakin larut, semilir angin mulai menyusup melalui celah jendela rumah Asmara.
Keputusan yang sebelumnya diambil oleh Asmara nyatanya mulai dia realisasikan dalam kehidupan nyata.
Hingga keduanya saat ini sudah mulai untuk tidak tidur bersama, Asmara tidur di kamarnya, sementara Loka tidur di kamar Senja.
Sakit ?. Tentu saja, bagaimana dua orang yang sebelumnya saling mencinta, tinggal dalam satu atap, kini masih tetap hidup bersama namun dengan rasa yang jauh berbeda.
Meski Loka sempat menolaknya, namun agaknya Asmara telah begitu yakin dengan keputusannya.
Ini seperti kembali di masa Awal keduanya tinggal bersama dalam keadaan yang tidak saling mengenal satu sama lainya. Kala itu Loka membutuhkan bantuan Asmara untuk merawat dirinya dari cedera di kakinya.
Namun kondisi saat ini tentu sangat berbeda dan jauh lebih menyakitkan untuk Loka dan tentu Asmara.
Lelah bergelut dengan pikiran dan semua pertanyaan yang tidak kunjung menemukan jawaban hingga tanpa sadar Asmara terlelap dalam tidurnya.
***
Alarm Alam.
Pesona suara Ayam jago yang berkokok pada dini hari, diyakini merupakan pertanda jika malaikat datang menyapa.
Asmara terbangun dengan sembab di matanya, Hingga dia sadar sepenuhnya, dan beranjak dari duduknya menuju kamar mandi.
Seperti kebiasaan Asmara akan menunaikan Sunah dua raka'at malam.
Hamparan sajadah panjang dia bentangkan, bersimpuh bersujud dengan semua keyakinan jika semua yang telah di gariskan merupakan sebuah kebaikan dan ketetapan dari Illahi Robbi.
Tangisan Asmara pecah begitu saja, mengingat nasib buruk yang silih berganti datangnya.
Hingga pagi menyapa Asmara masih betah berada diatas sajadah panjangnya.
Ingatannya seketika melayang jika dia tidak hanya sendiri saja, Loka yang masih berstatus sah sebagai suaminya, mungkin saja juga masih berada di kamar Senja.
Bergegas Asmara melepas mukenanya, menyimpan dan merapikan kembali tempat ibadahnya.
Ceklek.
Menyusuri lorong pendek rumah tua milik mendiang orang tuanya, tidak butuh waktu lama Asmara telah sampai di depan kamar putrinya.
Agak ragu Asmara untuk membuka pintu nya, hingga begitu pelan Asmara membuka handle pintu di hadapannya.
'Dimana mas Loka'
Kesan pertama yang terlihat di pikiran Asmara tatkala mendapati Loka tidak ada disana.
Helaan nafas saja yang terdengar keluar dari jiwa Asmara. Sungguh mungkin saja Loka telah kembali pada istri kedua nya. 'Batin Asmara'
Asmara meraih ponselnya dan menekan sebuah nomor disana.
Tut.. Tut.. Tut..
"Assalamualaikum Asma"
Jawab sosok dari ujung telepon yang tersambung dengan Asmara.
"Waalaikumsalam Rani" jawab Asmara
"Tumben pagi-pagi telpon ?, Ada apa buk ?"
Rani begitu antusias dengan ucapanya, pasalnya hal ini tidak biasa terjadi. Dimana Asmara menghubungi di jam-jam sepagi ini.
Untuk sesaat Asmara terdiam dalam lamunannya, hingga pada Akhirnya dia berkata.
"Aku sedang sakit Ran. Maaf hari ini aku cuti"
Kalimat yang keluar begitu saja, sebagai Alasan dari Asmara untuk mangkir dari pekerjaan serta tugas dan tanggung jawabnya.
Mungkin nantinya Asmara akan sangat merasa berdosa karena telah membohongi bahkan membodohi sahabatnya, namun mungkin hal itu baik adanya untuk Asmara saat ini.
"Lho perasaan kemarin baik-baik aja, kamu sakit apa Ma ??"
Tut Tut Tut ...
Pertanyaan terakhir Rani tidak lagi Asmara jawab karena dia sadar semakin lama akan semakin banyak kebohongan yang keluar dari mulutnya. Sehingga menutup telepon mungkin menjadi solusi terbaik bagi Asmara.
Setelah menghubungi sahabatnya, Asmara yang begitu malas untuk melakukan sesuatu kini hanya duduk dengan memegang secangkir teh madu di tangannya.
Sejujurnya sangat menyenangkan, namun kenapa saat ini terasa begitu menjemukan.
Entah lah.
***
Di tempat yang berbeda.
Sebuah kamar dengan nuansa Putih bersih, fasilitas lengkap dan pelayanan eksklusif , menjadi pilihan orang tua Loka untuk merawat dirinya.
Hanya gejala tifus biasa, Namun seolah mereka tengah di Landa sakit yang begitu mengancam jiwa.
"Pa, Mama bahagia banget akhirnya anak kita menikah dengan Luna"
Bu Sukma begitu bangga dan bahagia karena pada akhirnya Loka menikah i wanita pilihan nya.
"Iya ma, papa juga bahagia"
Keduanya tampak tersenyum dengan begitu manisnya.
Bu Sukma dengan telaten dan sabar melayani suaminya, menyuapi potongan buah pisang yang baru saja dia kupas, karena menurut penuturan dokter itu sangat baik untuk kesehatan Suaminya.
"Jika kondisi papa semakin baik, mungkin Lusa kita bisa pulang"
Bu Sukma begitu bersemangat mengatakan kabar baik itu pada suaminya.
"Iya ma, papa pasti akan cepat sembuh, karena Loka telah menikah dengan Luna" ujar pak Adi.
Senyum kembali terlihat di wajah Bu Sukma.
"Tidak sia-sia usaha mama memisahkan ****** itu dari putra kita"
Begitu sinis Bu Sukma mengatakan rasa tidak sukanya pada Asmara, hingga dalam benaknya Asmara hanyalah wanita penggoda.
Menyedihkan sungguh, sebuah kenyataan yang tersemat dalam diri Asmara, yang seolah tak ubahnya seperti wanita penggoda.
Namun yang tidak di sadari oleh keduanya adalah ternyata Luna telah berdiri diambang pintu kamar papa mertuanya.
Tidak percaya jika kedua orang tua di dalam sana dengan sengaja memisahkan Loka hanya Demi sebuah nama besar saja.
Namun disini Luna sadar jika dia sama hal nya dengan kedua orang tua Loka, tahu jika Loka telah berkeluarga namun masih juga mau untuk menjadi istrinya.
Rasa cinta nya pada Loka nyatanya membuat Luna tidak lantas menolak perjodohan nya, meski dia tahu Loka hanya mencintai Asmara.
Sebulan menikah dengan Loka nyatanya belum sekalipun Loka menerima pernikahan mereka.
Hal itu tentu membuat Luna sedikit merasa kecewa, namun begitulah resiko dari wanita yang menikah dengan laki-laki yang telah beristri.
Sesaat Luna larut dalam lamunannya, hingga sebuah tangan menariknya paksa.
"Auch"
Sakit terasa sebuah cengkeraman tangan yang menghimpit lengannya Luna. Hingga dia mendongakkan wajahnya, menatap sosok laki-laki yang telah sah menjadi suaminya.
"Sakit mas !"
Luna berusaha mengibaskan tangannya, berusaha melepaskan cengkeraman Loka yang terasa menyakitkan baginya.
Namun bukan mengindahkan ucapan Luna, Loka justru menarik paksa Luna agar mengikutinya.
Beberapa kali Luna memohon agar Loka melepaskan dirinya, namun nyatanya dia-sia saja, Loka semakin keras menarik paksa dirinya.
Hingga tepat berada di parkiran Loka menghempaskan tangan Luna.
"Masuk !!"
Lantang suara Loka memerintah wanita yang juga telah sah menjadi istrinya.
Tidak bisa menolak, namun sejujurnya Luna juga enggan untuk menuruti nya. Namun melihat bagaimana wajah Loka, Agaknya Luna tidak begitu memiliki cukup nyali untuk menolak.
Keduanya kini telah berada dalam satu mobil, entah kemana Loka akan membawa Luna, yang jelas di detik ini Luna merasa takut dengan wajah lain dari suaminya.
Sosok yang sebelumnya dia kenal dengan pembawaan ya yang penuh wibawa, kini begitu jauh berbeda dengan sikap kasar dan arogan nya.
"Mas kita mau kemana ?"
"Diam !!!"
***