SENJA ASMARALOKA

SENJA ASMARALOKA
BAB 87. Jawaban


...Karena seumur hidup itu lama. Maka carilah pasangan yang Tidak hanya bisa Mencinta, namun juga bisa membimbing dan membawa mu ke surga Nya. Bukan hanya pintar Berkata-kata Gombal semata. ...


...🍁...


Langkah gontai Loka berjalan di belakang petugas medis yang mengantarkan dia ke ruang dokter dimana sebelumnya Asmara mendapatkan penanganan dari nya 'Prof. Dr. Indrawan Kusuma Sp.B.,M.Kes.' Begitu Loka mengingat nama lengkap dengan gelar di depan dan belakangnya.


Terdengar sangat bonafit , profesional dan tentu meyakinkan rasanya, namun semua usaha dan kerja keras beliau tetap tangan Allah yang bisa menyelamatkan istrinya. Dokter mungkin saja memang sebagai perantara kesembuhan Asmara. Namun juri nya tetap pada Allah SWT saja.


Loka tetap sadar jika kekuatan doa lah yang bisa membawa semua kembali seperti sebelumnya.


Membayangkan betapa indahnya hidup bersama wanita yang begitu dia cinta, dengan anak-anak mereka menemani disana, sangat indah dan terasa menyenangkan, sekedar membayangkan saja, nyatanya cukup menghibur kegalauan hati.


Kejadian ini mungkin menjadi pelajaran sangat berharga untuk mama nya, namun Loka sendiri juga begitu merasa jika hal ini pun merupakan pelajaran berharga untuk dirinya sendiri.


Ceklek.


Dengan ramah dokter Indra menyambut kedatangan Loka, sosok pria muda dengan segudang prestasi dan pesonanya, tentu dokter Indra juga tidak asing dengan siapa sosok Loka Wiratmaja.


"Bagian kondisi istri saya dok ?"


Seolah tidak lagi memiliki tenaga, Loka berbicara dengan begitu pelan nya. Seperti sebelumnya senyuman selalu menghiasi wajah dokter di hadapannya.


Helaan nafas dalam terlihat dari hidung mbangir dokter tua di hadapan Loka. Tidak lagi muda namun wibawa dan prestasi nya tentu masih sangat membanggakan.


Pengalaman dan tingginya jam terbang membuat sosok dokter tersebut menjadi kebanggaan Rumah sakit. Selain terus berdoa pada Sang Maha Kuasa, Loka juga menggantungkan harapan nya pada tangan-tangan terampil dokter Indrawan.


"Jadi begini pak"


Helaan nafas kembali terasa dari dokter di hadapan Loka


"Untuk saat ini operasi memang telah selesai. Namun kondisi Bu Asmara sendiri masih sama"


"Bu Asma belum melewati masa kritisnya, Sehingga masih sangat di butuhkan pemantauan, dan tindakan pencegahan jika di butuhkan"


"Cedera di otak yang dialami Bu Asma cukup parah, kemungkinan Amnesia ada, Kecacatan bisa pula terjadi padanya, dan tentu kematian yang paling buruk dari semuanya"


Loka hanya diam dan mendengarkan semua penuturan yang di sampaikan dokter di hadapannya, Karena sejatinya dari awal dokter Hendra sudah mengatakan semua, Dan Loka sendiri juga telah mengetahui segala kemungkinan yang akan terjadi.


"Kami segenap dokter dan seluruh team medis telah melakukan upaya semaksimal kami bisa. Namun semua bergantung pada Takdir yang akan menentukan nya"


"Saya harap pak Loka dan keluarga tetap kuat menghadapi semua, jangan bosan berdoa dan meminta pada sang Maha Kuasa, untuk kesembuhan Istri anda"


Anggukan kepala menjadi jawaban Loka atas semua penjelasan panjang lebar dari dokter di hadapan nya.


Sungguh sangat teliti dan hati-hati, serta tanpa basa basi dokter Indra menyampaikan hasil temuan nya pada Loka. Tentu alasannya hanya satu agar semua pasiennya bisa bersiap atas semua kemungkinan yang mungkin akan terjadi pasca operasi.


Setelah semua penjelasan dari dokter Indra, Loka dengar dengan sempurna, Kini dia beranjak meninggalkan ruangan dokter yang telah menangani istrinya.


Lorong rumah sakit menjadi saksi betapa seorang Loka Wiratmaja begitu tersiksa atas semua kenyataan yang ada, wanita yang begitu dia cinta masih dalam masa kritisnya, sementara janin yang sudah sejak lama dia harapkan tentu juga ikut menjadi taruhan.


Waktu menunjukan pukul 03.07


Sudah hampir pagi rupanya, selain melewatkan waktu istirahat dan makan malamnya, Loka tentu telah melewatkan beberapa ibadah sebelumnya.


Loka memang bukan sosok sempurna yang selalu ibadah dan menjalankan perintah Allah, sesuai dengan ajaran dan tuntunan, namun dia sadar hanya Allah yang akan selalu memberi jalan dari setiap kesulitan.


Beruntung kegalauan Loka membawanya menuju tempat yang biasa banyak orang menyebutnya 'Rumah Allah' .


Dinihari buta, Loka menyandarkan harapannya, diatas sajadah panjang, dia utarakan semua ingin dan harapannya atas kesembuhan sang istri tercinta.


Berharap pagi esok dia akan mendapati senyum diwajah cantik Asmara, meski semua terasa jauh adanya, namun Loka selalu meminta kebaikan atas diri Asmara.


Hingga subuh menjelang Loka masih setia duduk diatas sajadahnya.


Tidak butuh waktu lama, dua raka'at kewajiban pagi sebagai umat muslim telah Loka selesaikan dengan berjamaah bersama imam dan para makmum lainya.


Meski semua masih sama, namun dengan doa panjang lebarnya, Loka merasa cukup lega. Hingga dia siap menghampiri dan menemani perjuangan panjang istri dan calon buah hati nya.


Setelah dari Masjid Loka langsung menuju ruang ICU tempat Diaman Asmara dipindahkan setelah selesai operasi sebelumnya.


Dari kejauhan Loka menangkap sosok Bu Sukma yang tidak lain merupakan mama nya, tengah duduk di depan ruang dimana Asmara berada di dalamnya.


Masih sangat pagi, karena saat ini waktu masih menunjukan pukul 05.01 terutama untuk kebanyakan orang yang tinggal di ibukota.


Mungkin saja penyesalan Bu Sukma tidak akan pernah akan membuat dia merasa bersalah seumur hidupnya, pada dua sahabat yang sudah cukup lama namanya menghilang dari hati kecilnya.


Namun seolah mendapatkan tamparan keras, Asmara membawa datang membawa diri ke kehadapan Bu Sukma dan pak Adi Lengkap dengan semua janji janji.


Mungkin tidak secara langsung Asmara mengetahui perjanjian Bu Sukma dengan mendiang kedua orang tuanya, namun kehadiran Asmara dalam kehidupan Loka cukup menegaskan betapa kekuatan Allah begitu Maha Dahsyatnya.


'Janji adalah hutang' begitu orang bijak berkata, dan Bu Sukma tetap harus membayarnya, meski entah bagaimana kedepannya, apakah Asmara masih akan menerima dirinya atau justru membencinya.


"Mama menyesal ka"


Ucap Bu Sukma setelah menyadari putranya duduk tepat di sampingnya.


Sejujurnya Loka masih begitu marah dan tidak terima atas semua perbuatan kedua orang tuanya, namun Loka sadar semua itu tidak lagi ada gunanya, karena Bu Sukma telah meminta maaf dan menyesali semua perbuatan nya.


Loka hanya berharap kejadian serupa tidak akan kembali terjadi di kemudian hari.


"Mama berdoa saja, Semoga semua usaha bisa membawa Asmara kembali seperti sedia kala"


Lirih Loka dengan menundukkan kepalanya, sungguh sejujurnya sangat berat bagi dia untuk sekedar berkata, dan menguatkan mama nya, sementara dia sendiri pun butuh untuk di kuat kan.


Keheningan yang mendominasi suasana, tidak lah lama, karena pagi ini pak Basuki Serta istri, tidak lupa Senja juga sudah datang mengunjungi Asmara.


"Pak ?"


Sapa Loka dengan sopan pada Bapak mertuanya, Sapaan dan wajah dingin masih jelas tergambar di wajah paruh baya pak Basuki yang masih pula sah sebagai bapak mertuanya Loka.


"Iya. Bagaimana kondisi Asma ?"


Dingin pak Basuki bertanya pada Loka. Mungkin saja karena masih ada rasa kecewa dalam hati nya.


Mendengar pertanyaan bapak mertua nya, untuk sesaat Loka hanya bisa diam dalam lamunannya, hingga helaan nafas menjadi tanda jika Loka begitu sangat merasakan sesak di dada.


Sementara kedatangan pak Basuki nagi Bu Sukma tentu sudah cukup membuat nya merasakan kembali penyesalan yang saat ini begitu menghimpit dada.


Sekelebat wajah pak Basuki mengingatkannya pada sosok Halimah, mendiang orang baik yang semasa hidupnya menjalin persahabatan dengan dirinya.


Sungguh perasaan yang sangat menyiksa, namun mungkin itulah hukuman yang harus Bu Sukma terima.


Tidak berselang lama dari kedatangan Pak Basuki dan yang lainya. Luna pun hadir pula untuk membesuk Asmara.


Tentu tidak ada orang yang akan memperdulikannya, sekalipun itu Bu Sukma, wanita yang sempat begitu mendambakan calon mantu seperti Luna. Hanya Loka saja yang terlihat mengulas senyum kecil di wajahnya, sebagai sambutan dan ucapan terima kasihnya atas perhatian terhadap Asmara.


Tidak semua orang bisa bebas keluar masuk ruang ICU, sehingga hanya beberapa orang saja yang memang di perbolehkan dokter untuk melihat secara langsung kondisi Asmara.


Pak Basuki menjadi orang ke dua setelah Loka untuk masuk ke ruang ICU dimana Asmara tertidur dengan begitu pulas nya disana.


Sementara Bu Retno, Senja, dan yang lainya bergilir untuk masuk dan menyapa Asmara.


"Nduk."


"Bangun Nduk.. Bapak kangen sama kamu"


Bergetar suara pak Basuki, menahan tangisnya dalam dada. Berharap Asmara nya akan kembali seperti dulu kala.


"Kamu pergi. Pamit kesini untuk besuk, kok malah kamu sekarang yang di besuk"


Pak Basuki mulai menyeka lelehan Air mata yang membasahi pipinya. Sungguh semua kejadian yang menimpa putrinya sangat membuat hatinya terluka. Meski bukan bapak kandungnya namun Asmara sudah seperti darah dagingnya.


"Bangun yo Nduk. Kita pulang sama-sama ke Desa"


Bisikan lembut seorang bapak pada putrinya, harapan besar kesembuhan Asmara selalu ada, meski entah bagaimana nanti hasilnya, setidaknya mereka telah berusaha.


Cukup lama pak Basuki berada di dalam sana bersama Asmara, hingga cukup lega dan tenang hatinya. Setidaknya melihat wajah pucat putrinya. Pak Basuki cukup merasa bahagia.


Meski Asmara belum bisa diajak berbicara, setidaknya dia yang masih bertahan diantara mereka yang mencintainya, itu saja sudah cukup membuat pak Basuki merasa Lega.


Setalah cukup dengan semua urusannya bersama Asmara, barulah pak Basuki beranjak dari duduknya dan keluar dari ruang dimana Asmara lelap dalam tidurnya.


Sekelebat wajah Asmara menjadi penyejuk Jiwa bapaknya, Gadis kecil yang dulu selalu ceria kini hanya diam saja tanpa suara.


***