
Dentuman itu membuat separuh Bangunan Istana roboh sempurna, asap hitam yang tadi mengurai sekarang kembali bergabung hingga diatas langit berpetir sana tengah dikelilingi Klan Black-Clover yang berkumpul di wilayah Istana. masing-masing mereka mencekik Manusia-manusia yang menjerit minta dilepaskan tapi sayangnya, mereka harus pasrah dihisap jiwanya hingga darah itu menetes bercampuran dengan hujan.
Seringaian Deugon terangkat licik menatap Ardelof yang berdiri ditengah puing bangunan dan pepohonan yang roboh karna hantaman kekuatannya, matanya semangkin berubah mereka begitu kental dan sangat menyeramkan.
"Lihatlah! Tanah yang selama ini kau dan Ayahmu perjuangkan, telah musnah menjadi Tanah penuh darah kematian!"
Ucap Deugon yang membentangkan tangannya merasakan deres hujan berwarna merah dengan tetesan darah yang kental, netra biru Ardelof menatap nanar bangkai-bangkai Prajurit Istananya yang menjadi mayat jatuh dari atas sana.
"Y..Yang Mulia, uhukk!"
Para prajurit yang berucap lirih menatap penuh permohonan pada Ardelof dan jiwa kesatria membela, dari tatapan matanya ia sangat berharap jika pengorbanan nyawa mereka kembali membangkitkan tanah ini.
"Serang mereka!!!!!"
Panglima Lester yang baru saja datang lansung menyerang dengan angkara murka yang terlihat nyata, pasukan Kerajaan lansung mencoba menyerang dengan ilmunya masing-masing hingga membuat tanah lapang ini penuh dengan tumpukan manusia tapi juga dentingan sentaja Sakral mereka.
"Jangan menatap matanya!!!!"
"Baik!!!"
Mereka mengikuti arahan Panglima Lester yang meloncat diatas dahan-dahan pohon yang tumbang menyabitkan pedang Spiritnya hingga menimbulkan kilatan api yang tajam, ia terus berputar bak tornado liar tapi sayangnya Mahluk-Mahluk ini tak pernah habis, bahkan semangkin bertambah.
"Yang Mulia!"
Panglima Lester mendekati Ardelof yang berdiri tegap ditengah-tengah perperangan, Klan Elf juga membantu diatas sana membuat kilat dan petir semangkin menyambar keras.
Dipikiran Ardelof sekarang hanya satu, ISTRINYA yang pasti sangat kesakitan menahan pemecahan jiwanya, apalagi langit diatas sana mulai membentuk bayangan cakram dengan sinar putih merah beradu membentuk sebuah lingkaran.
"Y..Yang Mulia, langitnya.."
"Mereka tak akan mati walau kalian terus melawannya."
Jawab Ardelof mengadah menatap langit hingga darah ini benar-benar merendam kaki mereka, mata Panglima Lester melemah menatap Panglima Guina dari Kerajaan Hangalay yang membantu mereka, sedangkan setengah lagi tengah membantu Masyarakat Kota ini dari Mahluk haus akan darah.
"Lihatlah!!!! ini sangat menyenangkan!!!!"
Deugon yang melayang menghempaskan tangannya membuat 10 Prajurit yang menyerang lansung hangus walau ini hujan, ia terlihat sangat senang menari diatas jeritan rakyat Alison yang terkurung dalam Kekejamannya.
"Kenapa kalian diam? Ardelof Douglas Alison, ayolah, bekerja sama denganku maka Istrimu akan hidup aman!"
"Kau yakin?"
Degg..
Panglima Guina terkejut mendengar jawaban Ardelof yang menatap serius dan datar, tak ada raut bercanda atau sekedar tipuan.
"Y..Yang Mulia, kau.."
"Istriku adalah hal yang paling penting dalam hidupku."
"Tapi, anda mengorbankan ribuan nyawa!!!"
Panglima Guina tak habis pikir hingga membuat Deugon tertawa keras memekik telinga, ia suka dengan jawaban Ardelof yang pasti akan memilih Istrinya dari pada Tanah ini.
"Pilihan yang benar!!! aku tahu betapa kau mencintai istrimu itu, Yang Mulia Putra Mahkota, dia pasti sudah menjerit kesakitan merasakan Jiwanya sudah akan terbelah menjadi dua bagian."
"Aku akan memberikan tanah ini, jika kau membebaskan Istriku."
"Kau sialan!!!"
Panglima Lester lansung menyerang Panglima Guina yang berani memaki Yang Mulianya, pertengkaran keduanya membuat para Prajurit kebingungan kenapa bisa jadi begini? tentu itulah maksud Deugon yang suka memecah belah keyakinan setiap orang hingga ia mudah mendapatkan Jiwa Suci seorang Dewi tertinggi itu.
"Baiklah, sekarang bawa aku menuju Istrimu."
"Aku akan percaya, tapi lakukan satu hal!" tegas Ardelof dengan intonasi tak main-main membuat Deugon agak berfikir.
"Kau membodohiku?"
"Kau mengaku Bodoh?" tanya Ardelof membuat Deugon lansung menggeram.
"Baiklah, tak ku sangka karna Cintamu itu kau mengorbankan Tanah yang diperjuangkan Ayahmu Mati-matian, tapi aku suka!"
Deugon menyeringai dengan Wujud tengkoraknya, ia pikir memang betul Karna Ardelof sudah terdesak, apalagi selama ini ia melihat sendiri kalau Ardelof sangat mencintai Si Mahadewi itu dan tak ada alasan untuk mengorbankan apapun untuk melindungi wanita itu.
"Mendekatlah!"
Titah Ardelof mutlak memeggang kalungnya membuat Deugon begitu bahagia melihat kalung berliontin merah separuh bulan itu karna ia bisa mengambil kekuatan Ardelof dengan benda itu seperti yang ia punya sekarang milik Raja Petra yang asli berliontin biru, itu karnanya Ardelof sangat sulit mengalahkannya.
"Berikan! kau sangat cerdas memilih."
"Hm, ambilah!"
"Jangan, Yang Mulia!!!!"
"Ouhh, jangan perdulikan dia, kita akan menguasai tanah ini bersama! Istri dan anakmu akan selamat."
Rayuan itu membuat Ardelof tertegun terus mengulur tangannya hingga Deugon mendekat mengulur tangan tengkoraknya yang membangkai hingga mata hitam berkobar merah itu lansung membayang dengan Liontin yang dipeggang Ardelof.
"Kembalilah pada Tuanmu, hm?"
Tangannya perlahan memeggang benda itu dengan sangat mendebarkan dengan gejolak angin yang menguat, matanya terkunci dengan Liontin merah delima yang berkilau ditangannya, namun, ia segera tersadar saat merasakan hembusan angin yang menerpa tangannya hingga ia terkejut kalung yang tadi ia peggang berubah menjadi ranting.
"Kauu!!!"
Ardelof dengan cepat bergerak merampas kilas dengan tarikan kuatnya keleher bangkai ini hingga membuat para Mahluk diatas sana yang tengah berpesta tadi lansung berteriak mencekik lehernya.
"Mahluk bodoh!"
Deugon semangkin murka melihat Ardelof yang tak menapak ketanah tengah memeggang liontin birunya hingga membuat para Klan Black-Clover itu lansung berteriak seperti merasa kesakitan.
"L..Lepaskan kalung itu!!!!!"
"Kenapa?"
Tanya Ardelof memperlihatkan kalung dipeggangannya membuat Deugon merasakan separuh kekuatannya telah hilang karna ia bisa sekuat itu membaca gerakan Ardelof karna kalung Raja Petra yang asli.
"Dasar sialan!!!"
Whusss...
Ardelof menghindar menerima bongkeman api panas itu hingga ia menggunakan sihirnya membuat ilusi untuk mengelabui para Klan Black-Clover yang tengah berada dalam kurungannya.
"Berikan liontin itu!!!!"
Brakkk..
Tempat ini terporak-poranda akan kemarahan Deugon yang lansung mengadahkan tangannya keatas hingga angin dan kabut hitam ini memutar air yang bergelumbung besar berwarna merah, putaran angin seperti Topan menggulung benda apapun disekitarnya hingga Panglima Lester dan Panglima Guina memporoskan sihirnya dengan membuat Tameng agar tak terkena putara angin dan air yang menggulung pepohonan dan Puing beton Istana.
Cetassss..
Suara petir menyambar keras tanah ini hingga membuat retakan terbelah dari tanah ini.
"Menjauh dari lapangan!!!!" Teriak Panglima Lester mulai kaku.
Para Prajurit yang masih tersisa lansung berlari menjauh dari tanah yang terbelah menyemburkan lahar panas yang membakar, hujan ini seakan menjadi penambah membenamkan para bangkai manusia yang terpanggang didalam cairan merah membara yang begitu panas bak lahar Gunung meletus.
Ardelof sungguh sangat tak menyangka, ia berfikir kalau dulu Ayahnya menghadapi kemarahan Deugon dengan cara mengorbankan dirinya untuk menutup Portal yang sebentar lagi akan terbuka dan Mahluk sejenis ini akan keluar menambah kehancuran Tanah ini.
"Kau begitu berani!!!!!"
Suara Deugon bak tiupan terompet perang yang menggelegar membuat Panglima Lester terbatuk darah terjatuh ke tanah jauh dari Lapangan yang tepat dibawah Kaki Ardelof yang tak menapak.
Tubuh Deugon yang semulanya bangkai berubah menjadi Ular besar bertaring berwarna hitam yang melingkari Lapangan luas ini, membuat Panglima Guina dan para prajuritnya benar-benar terkejut melihat Mahluk sekeji ini.
"Sayang!"
Gumam Ardelof meredam rasa sayangnya karna pasti wanita itu tengah bertaruh nyawa didalam sana, ia tak bisa mencegah Portal diatas sana terbuka dengan Cakram Grimoire berdaun lima emas telah membuka segel dengan perbuhan Wujud ke 3 dari Deugon yang sebenarnya.
"Hancurkan mereka!!!!!!"
Cakram dilangit itu lansung berputar membuat gulungan angin yang tadinya kuat bertambah keras hingga Istana Alison hancur terhisap keatas sana, lahar panas ditanah ini menggumpal saling menggunung seakan melebar kesemua penjuru.
Para prajurit sana gemetar, mereka manusia normal yang tak pernah melihat peristiwa seperti ini, hal yang begitu menyeramkan seakan Dunia ini akan hancur.
"A..Apa k..kita akan mati?"
Gumam salah satu Prajurit yang sudah pucat, apa Negara-Negara tetangga mereka tak tahu peristiwa ini?
"Ini Tanah Ilusi, kita sekarang bertarung dengan kurugan Ilusi oleh Yang Mulia Putra Mahkota, hancur atau tidaknya, orang luar tak akan melihat karna hanya Tanah Alison dan Masyarakatnya yang tahu."
Mereka terdiam bungkam. berarti Ardelof sudah tahu Tanah ini akan hancur itu karnanya ia menyembunyikan Kota ini agar tak ada orang yang melihat bencana dahsyatnya.
Para Masyarakat Alison yang melihat langit dari persembunyian mereka lansung menangis melihat bagaimana petir itu menyala dengan kilat yang mewarnai sebuah Protal Cakram besar bersinar merah disana, tungkai mereka gemetar merasakan takut yang teramat.
"A..Apa ini akhir dari segalanya?"
.......
Vote and Like Sayang..