
Ikatan rantai itu selalu mengerat ketika ia ingin memberontak, cucuran darah yang telah terserap lansung mengurangi tenaga Mahluk lemah yang sudah tak mampu dan tak berdaya bergerak dikurungan Dimensi Dark ini.
"L..Lepas!!!!"
Suara yang sangat lirih namun berusaha membentak, aneh rasanya wanita dengan rupa asli secantik Putri Bangsawan semestinya memiliki Budi yang luhur, tapi sayang sedari tadi ia hanya ingin menyerap jiwa-jiwa manusia yang menjadi sumber tenaganya.
"Kau ingin ini?"
Mata sayu Vanelope yang telah berubah wujudnya sendiri karna kekuatannya tak cukup melawan belenggu rantai berapi ini seketika lansung menatap kedepan sana.
"M..Makanan!"
Vanelope menggila memberontak saat melihat Ardelof yang sudah datang dengan Tampilan kekuasaanya tengah berdiri tegap disamping Bangkar yang telah menampakan 2 Tubuh Wanita tanpa pakaian tengah tak sadarkan diri menunduk dengan wajah tertutup rambut pirangnya, tentu Vanelope yang sangat membutuhkan Energi lansung ingin mendekat tapi belenggu ini semangkin membelitnya.
"Lepas!!!!! Lepaskan aku, Brengsek!!!"
"Siapa yang mengajakmu Bersekutu?"
Tanya Ardelof dengan suara datarnya, tak ada raut memaksa karna ia hanya ingin Vanelope membuka suara atas Pimpinan Black-Clover yang sampai sekarang belum menampakan jati diri aslinya bagaimana, seorang yang selalu bergerak dibelakang Perlindungan Bahawahannya.
Mendengar pertanyaan itu, Vanelope menyeringai dengan liur yang sudah mentes, matanya berubah merah dengan separuh wajah berubah menjadi Tengkorak, sungguh ini adalah siksaan yang sebenarnya.
"Walau aku tahupun, aku tak akan memberi tahumu."
"Kau yakin?"
Vanelope terbahak sampai ia terbatuk karna tersedak liurnya sendiri, tapi tetap saja keangkuhan dari wajahnya tak pernah surut seakan ia rela mati untuk itu.
"Putraku sangat menyayangi Wanita sialan itu, d...dan kau.."
Vanelope menggeram menatap Ardelof seakan mau menghisap semua jiwa raganya, rasa sakit yang ia rasakan atas ketidak adilan ini sangatlah besar sampai membuatnya rela mati demi membuat Hidup Wanita itu sengsara.
"KAU JUGA MENCINTAINYA!!!!!"
Whuss..
Kibasan angin dari tangan Ardelof membuat leher Vanelope tercekat kuat hingga darah itu sampai mengalir dihidungnya, rantai yang tadi hanya membelit tubuhnya lansung menjalar kearah lehernya.
Ardelof hanya diam, wajah yang mengeras dengan maga merah menyala serta urat biru bercahaya diwajahnya begitu tampak menakutkan membuat Vanelope Tunduk dengan sendirinya.
"Pilihanmu hanya 2, Hidup menjadi Klanku atau Mati dengan sangat menyenangkan!"
"K..Kau.."
"Tak perduli kau katakan atau tidak, tapi karna kau ISTRIKU CRLAKA!"
Brakk..
"Asss!!!"
Vanelope menjerit keras saat tiba-tiba bara api mendidih merah yang entah dari mana datangnya itu lansung menimpanya hingga Tubuhnya terasa dipanggang dengan sangat menyakitkan, wajah merah dan asap panas dari bara itu membakar setiap jengkal tubuh Vanelope yang menahan rasa sakit batin dan Fisiknya tapi, senyum liciknya gak pernah usai termakan bahaya.
"B..Bunuh! A..Aku..Aku sangat senang, hm?"
Fu yang melihat itu benar-benar tak menyangka, ruangan ini begitu remang dengan sedikit penerangan hingga ia melihat jelas Bara api dari butiran batu merah itu menyala membakar dagging yang nyaris tinggal tulang.
"Bunuh aku!!!!!"
Bentakan Vanelope menggelegar, itu terkesan perintah tapi dibaliknya ialah permohonan karna ia sudah tak sanggup hidup jika masih melihat kebahagiaan Ardelof dan Sofea menari diatas penderitaannya.
"Kau masih ingin bungkam?"
"Y..Yah, kau akan merasakan sakit yang teramat, Ard!!! Istrimu!!! Istrimu akan membunuhmu!!! Dia akan menghancurkan Kerajaanmu!!! Hahaha..!!!"
Ucapan itu membuat Fu terdiam membisu menatap Ardelof yang mencernanya baik-baik, tapi kepalan tangan Ardelof mengerat menghisap keberanian Vanelope yang ciut tapi ia sudah puas mengatakan kehancuran terbesar itu akan datang.
"Jangan biarkan dia bernafas!"
Ardelof kembali membuat Ilusinya menghilang hingga dua wanita yang tadi Vanelope lihat itu hanyalah Ilusi mata hingga membuat Vanelope benar-benar menatap murka Ardelof yang lansung menghilang keluar dari Dimensinya.
"Brengsek!!!"
"Itu sudah tentu!"
Jawab Fu mendecih, ia meninggalkan ruangan penyiksaan ini dengan Vanelope yang benar-benar pasrah. tapi ia puas karna Ardelof tak mendapat Infomasi darinya.
.........
Tatapan penuh kepuasan itu lansung meruak melihat Isi Nampannya, ada Sup Udang Saos Tiram, dan Ayam Fresto yang ia buat dengan sangat semangat dan ditatan penuh keindahan, tangan lentiknya masih ingin mencicipi apa rasanya sudah pas apa belum.
"Putri, biarkan kami yang membantu anda."
"Tidak usah, Bik! Aku sudah biasa."
Sofea berucap lembut membuat Ratu Lamoria dan Mama Netty melihat dari pintu Dapur Utama ini lansung menghangat, ada rasa bangga dihati Ratu Lamoria mempunyai Putri sempurna seperti Sofea, ia masih memakai Piyama Tidurnya karna sedari subuh ia memasak untuk semua orang tapi makanan khusus untuk Suaminya tak akan ia lupakan.
"Terimakasih!" Ucap Ratu Lamoria menggenggam tangan Mama Netty yang menyeringit.
"Untuk?"
"Mendidik Putriku dengan sangat baik, kau mengajarkan Nilai-nilai yang sangat bermanfaat, aku tak bisa menandingimu, Netty!"
Mama Netty tersenyum mendengarnya, walau rasanya ia tengah khawatir pada Putrinya Vanelope tapi ia juga tak menepis kalau Sofea memang sudah menjadi Putrinya yang juga ia sayangi.
"Sudahlah, dia juga Putriku! lagi pula, Vanelope juga begitu kau sayangi, tapi hanya dia yang membuat dirinya hancur!"
"Pagi!!"
Sofea membawa nampan yang ia peggang mendekati Ratu Lamoria dan Mama Netty yang lansung memberi senyum hangatnya menyambut Sofea yang lansung membalasnya dengan kecupan selamat pagi di Pipi mereka.
"Kau masak apa, Nak?"
"Bu! aku masak untuk Suamiku, tapi untuk kalian sudah ada di Meja Makan!" jawab Sofea penuh binar.
"Ouhh, baiklah! sekarang pergilah temui suamimu di Ruang Kerjanya!"
Sofea mengangguk dan pamit pergi melangkah menuju Lift ke Ruang Kerja suaminya, senyuman itu mekar menduga kalau Ardelof pasti akan kembali baik padanya, walau Sofea rasanya begitu rindu dengan pria itu karna semalaman Ardelof tak pulang kekamarnya.
Setelah beberapa lama, Sofea sampai ke lantai ruang Kerja Ardelof dengan keluar dari Lift menenteng Nampan berisi penuh makanan itu, walau tadi tangannya terkena minyak membuat punggung tangannya merah Sofea tetap tak mau menunda.
"Sayang!"
Sofea membuka pintu ruangan ini penuh senyuman hingga ia melihat Tubuh gagah seorang pria yang telah membuatnya gelisah semalaman karna sikap acuhnya.
Sofea menyeringit melihat pakaian Ardelof sudah berganti pakaian kerjanya, kapan pria ini kembali kekamar?
"Sayang, ini masih pagi. kau mau berangkat?"
Namun, Suara Sofea hanya dijawab kebisuan membuat langkah Sofea terhenti tepat didekat Kursi Ardelof yang hanya fokus dengan Laptopnya, mata biru itu terlihat menatap lurus tanpa memperdulikan Sofea yang merasa sendu, tapi percayalah Ardelof sendiri berusaha mengendalikan dirinya namun tetap mengawasi Istrinya.
"Ard, kau pasti belum makan, bukan? ini!"
Sofea menyodorkan Nampan ditangannya, tapi hati Sofea lansung mencolos saat menatapnya saja Ardelof tak mau hingga membuat matanya mulai memanas.
Lama Sofea terdiam tetap di posisi tangan menyodorkan sampai satu tetes air matanya lansung luruh dengan gemetar meletakan Nampan itu kesamping lengan Ardelof diatas meja.
"M..Maaf, k..kau..kau bisa memakannya atau..atau kau membuangnya!"
Suara Sofea bergetar lalu melangkah pergi tapi Ardelof termenung melihat punggung tangan putih itu merah dan seketika Ardelof lansung menatap kepergian Sofea diambang Pintu dengan raut khawatirnya.
.....
Vote and Like Sayang..