Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Kejahilan Ardelof!


Sofea menatap kesekelilingnya yang masih saja kosong memutih dan sunyi, helaan nafasnya muncul seraya berdiri tegap lalu menitik poroskan tubuhnya didepan pintu yang tadi tertutup lalu memejamkan matanya.


Bayangan wajah Tampan itu menyeruk mengukir indah dikepalanya, wajah datar yang selalu membuatnya tak ingin jauh dengan kesempurnaan yang ia miliki.


Saat sudah hanyut, Sofea menyatukan tubuhnya dengan suasana di ruangan ini, ia seperti berada diambang-ambang antara sadar dan tidak hingga ia mulai merasakan hembusan angin yang begitu dingin dikakinya.


Whusss..


Satu kibasan angin itu seperti membawa Alam baru disekitar tubuh Sofea, rambut hitam nan panjangnya tergerak halus sesuai belaian angin ini, dahi Sofea menyeringit merasakan suasana sejuk seperti diatas pantai atau dkdekat air dengan aroma bunga yang harum.


Perlahan, Kelopak matanya terbuka dan dengan cepat membulat melihat daerah disekitar tubuhnya.


"Woww!!"


Sofea terkagum keras melihat lantai yang tadinya putih berganti dengan rerumputan seperti karpet yang sangat rata dan lembut, pepohonan rindang yang berakar membentuk Ayunan dibawahnya dengan bunga Tulip, Mawar, Melati, Lily dan Bunga Mawar Hitam yang ternyata juga ada disini mengelilingi tempat ia berdiri.


"A..Apa ini?"


Sofea tak menyangka ada tempat seindah ini, langit diatas sana juga biru dengan suasana memang seperti alam yang asli. namun, Sofea tergerak untuk menoleh kebelakang saat ada suara air terjun yang deras berhantaman dengan batu hingga ia perlahan melangkah menyusuri jalan setapak yang dipenuhi rerumputan empuk ini.


"Suasananya sangat tenang."


Gumam Sofea memutar tubuhnya merasakan ketenagan dan damai, kupu-kupu yang tengah berpesta sari bunga disampingnya lansung berterbangan mengelilingi Sofea yang memang suka dengan hewan-hewan seperti Burung dan serangga cantik lainnya.


"Hey, bisa katakan padaku. dimana suamiku?"


Tanya Sofea saat satu Kupu-Kupu berwarna merah merekat ke lengan putih mulusnya, ia takut nanti dia menyasar karna ini hutan yang sangat luas tapi begitu terurus. seakan mengerti dengan ucapan Sofea, gerombolan Kupu-Kupu dan burung-burung kecil berwarna indah itu lansung membimbing melanjutkan perjalanan menyusuri jalan yang ada kearah deburan air terjun.


"Aku tak menyangka ada tempat sebagus ini."


Gumam Sofea masih membelaikan tangannya pada kuntum-kuntum yang semangkin mekar karna belaian itu disepanjang langkah Sofea yang gembira, aroma tubuhnya menyatu dengan alam ini hingga semua yang berhubungan dengan Dunia dan tanah maka Sofea akan menyuburkan lahannya.


"Dimana suamiku?"


Tanya Sofea lagi saat sudah sampai didekat semak-semak yang menutupi daerah didepannya, mata Sofea menyipit menyelidik seakan ini tipuan.


"Kau menipuku, ya?"


Segerombolan Kupu-kupu itu berterbangan pergi sedangkan burung-burung kecil itu berubah menjadi sepasang Merpati Putih yang bertengger didekat dahan semak belukar yang menutupi pandangannya.


"Kalian menipuku!"


Decah Sofea ingin berbalik tapi seketika angin ini menghembus agak kuat dari belakangnya hingga langkah Sofea terhenti ditempat, ia memejamkan matanya menghirup aroma Maskulin yang sangat ia kenal dan aura keberadaannya disini.


"A..Apa dia.."


Degg..


Sofea berbalik seketika mematung melihat kearah depan sana, Air terjun yang mengalir deras tapi begitu teratur menjatuhkan dirinya berhantaman dengan batu menciptakan air biru jernih dan pelangi dibekangnya membias.


Kehijauan rerumputan ini sampai membuat Sofea hampir saja hanyut melangkah maju padahal ada kolam didepannya.


"Ard!"


Mata Sofea berbinar saat melihat kearah Peraduan diatas batu besar tepat ditengah aliran air yang memercik pelan, Tubuh tegapnya tanpa atasan itu tengah duduk bersila dengan sangat gagah menunjukan Kelakian yang sangat perkasa disertai tubuh Atletis yang begitu mempesona dimata kaum wanita. kedua lengan kekarnya bertumpu diatas paha dengan sikap tegap dan siap membuat mata Sofea menatap penuh kerinduan.


"S..Sayang!"


Gumam Sofea tersenyum hangat tak bisa membendung rasa rindunya hingga ia melangkah menuju bebatuan yang membawanya keatas Batu besar yang diatasnya itu ada Peraduan bergumpal seperti Rerumputan hijau yang terlihat luas sesuai ukuran batunya yang lebar.


Sofea berjalan diatas batu dan meloncat kecil karna jaraknya juga tak jauh, apalagi kaki jenjangnya tanpa alas itu begitu gesit seperti menari dengan keseimbangan yang pas, sesekali Sofea meletakan tangannya ke derasnya air terjun yang sejuk membuat ia ketagihan bermain disini.


"Sayang!"


Pangil Sofea tapi tak ada jawaban dari Ardelof yang tengah berada di Meditasi Alamnya, melihat itu Sofea terdiam, sepertinya ia salah menganggu Ardelof yang pasti mau memulihkan keadaannya.


"Baiklah, Dadymu tengah tidur jadi kita main sebentar, Baby!"


Gumam Sofea mengelus perutnya seraya melangkah menuju Batu besar yang diduduki Ardelof hingga ia mencapai puncak keindahan itu hingga mata Sofea sangat puas melihat pemandangan dari bawah sini, entahlah walau sudah mendaki setinggi ini tapi Sofea rasa seakan ada yang menopangnya untuk naik.


"Tempatnya sangat indah!"


Gumam Sofea menelisik kebawah dan kesekelilingnya yang adem, bagian atasnya ditutupi dedaunan dari pohon yang rimbun hingga cahaya mentari sana tak sepenuhnya menerpa mereka.


Tapi, mata Sofea menatap punggung kekar Ardelof yang masih duduk tegap dengan begitu gagahnya membuat wajah Sofea bersemu tengah berfikiran kotor disini.


Sofea membatin menepuk keningnya agar tak mesum ditempat ini, ia tak sadar sudut bibir pria tampan yang semangkin bersinar itu tengah terangkat mendengar batinan Sofea yang menurutnya sangatlah menggelikan.


Karna tak tahu apapun, Sofea juga tak mau menggaggu Ardelof tapi ia tak bisa mengkondisikan tubuhnya hingga ia memeluk Ardelof dari belakang dengan kedua tangan masuk kesela ketiak Ardelof yang masih tampak membatu, Sofea membenamkan wajahnya kepunggung kekar ini dengan mata yang tampak begutu sayu karna ia masih ingin tidur.


"Sayang, aku ngantuk!"


Gumam Sofea lirih, tapi ia mendecah saat Ardelof tak menjawabnya hingga Sofea mengurai pelukannya lalu mengecup bahu kekar Ardelof kilas.


"Sayang, apa aku boleh mandi disini?"


Tanya Sofea lalu kembali berucap menirukan suara aardelof yang berat namun tegas dan yang paling penting Sexsi.


"Hm, Pergilah!"


"Terimakasih, kau memang yang terbaik."


Jawab Sofea girang lalu terkekeh sendiri akan tabiatnya, ia membuka Piyamanya satu persatu, dari Bera, Celana hingga ia hanya memakai Daleman berwarna merah dengan Bera karna ia begitu bersemangat melihat air kolam yang tergenang dari jipratan air terjun tepat dihadapan Ardelof.


"Temani, Momy mandi. Baby!"


Ucap Sofea mengelus perutnya seraya hati-hati turun kebawah berpijak ke satu persatu batu yang seakan menjadi tangga baginya hingga perlahan satu kaki Sofea lansung masuk kedalam air yang anehnya ini hangatnya pas seperti pemandian air panas sangat berbeda dengan air yang jatuh tadi ia peggang.


"Inilah yang disebut aneh tapi nyata itu, Nak!"


Gumam Sofea mengelus perutnya seraya masuk kedalam Kolam yang didalamnya ada batu seperti Bathube, benar-benar nyaman dan memijat tubuhnya dengan lembut hingga Sofea bersandar dipinggir batu dengan separuh tubuh yang masuk ke air, tiba-tiba saja Dedaun pohon diatas sana menjatuhkan bunga Kamelia ungu yang membuat Sofea memejamkan matanya menikmati harum dan hangatnya air ini.


"Inilah yang namanya, hidup!"


Gumam Sofea melelapkan tubuhnya begitu hanyut dalam keindahan ini, ia menggerakan kakinya didalam air seperti berlabuh diatas salju yang empuk.


Grr..


Mata Sofea lansung terbuka saat merasakan ada yang menggelitiki kakinya hingga membuat air ini bergelombang.


"A..Apa ada orang?"


Gumam Sofea menatap kedalam air, tak ada ranting atau dedaunan yang menggelitik kecuali kelopak bunga ungu ini hingga ia hanya menghalu dan kembali memejamkan mata, tapi kali ini ada yang meraba pahanya membuat Sofea lansung bangun dari ketenangannya.


"Kau siapa?"


Geram Sofea menatap kesekelilingnya, jika Ardelof maka pria itu tengah bermeditasi, lalu siapa yang bermain didalam air ini? seketika wajah Sofea pucat menduga kalau Tempat ini mempunyai penunggu seperti hantu atau sejenis Hantu air.


"S..Sayang!"


Gumam Sofea berpeggangan ke pinggir batu hingga matanya membulat melihat air yang seperti bergelembung dan itu adalah ciri-ciri buaya.


"Ard!!!"


Pekik Sofea lansung naik keatas permukaaan, ia kembali mendaki bebatuan dengan cepat menghindari air kolam yang bergelembung hingga Sofea lansung berhambur memeluk Ardelof yang hanya menahan kegelian.


Nafas Sofea memburu memeluk Ardelof dari belakang, tapi air terjun dibawahnya juga seakan tersenyum mengukir air seperti hidup dan bernyawa.


"S..Sayang!"


Sofea mengguncang bahu Ardelof yang tetap diam, ia membiarkan Sofea ketakutan sendiri hingga sampai menyelip kebawah ketiaknya hingga lansung menyelipkan kaki jenjangnya ke paha Ardelof yang tetap diam diposisi yang sama.


Tubuh Sofea sudah ada dihadapannya seperti berkoala dengan kedua tangan membelit leher kokoh Ardelof yang sesekali membuka matanya menatap wajah pucat Sofea yang memandang ciut kearah belakang Air terjun.


"Sayang, ayo kita keluar!"


Rengek Sofea tak bisa menunggu lama, disini memang begitu indah tapi sangat menyeramkan dengan keanehannya. ide licik Ardelof lansung muncul saat melihat Sofea sangat takut melihat ke air kolam, walau ia sangat bahagia melihat rona kehidupan diwajah wanita ini tapi jelas ia ingin melihat Istrinya marah-marah dengan mata indah melototnya.


"Apa ada orang?"


Ciut Sofea menatap kebelakang tubuh Ardelof tepatnya di Air terjun sana, Ardelof merasakan jantung Sofea berdegup lebih kencang dan pasti sangat gugup.


"Buaya!!!!"


"Aaaaa!!!!"


.....


Vote and Like Sayang..