Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Benarkah?


Tak ada yang tahu badai akan berlalu kapan, tapi saat berhenti dia tetap menyisakan luka bahkan mengambil apapun tanpa sapaan, terkadang hidup itu tak bisa diatur sesuai apa yang kita harapkan bahkan, tak ada yang bisa menebak apa tang terjadi besok dan apa yang akan kita lakukan menghadapinya.


Seperti itulah yang sekarang terjadi, semuanya bergerak cepat membangun kembali hal yang telah hancur. bahkan sekarang mentaripun sudah enggan ingin memuncak hingga memilih pergi ke ufuk barat, tapi kenapa ia tetap tak mau mengambil luka yang tersisa diatas Dunia ini?


Tanpa sadar, ternyata sudah Satu Minggu Sofea merenggu didalam kamarnya, tak ada suara berlebih yang keluar melainkan hanya sisa air mata yang terus menetes jatuh ke pipi mulusnya, ia hanya bisa diam bersandar ke kepala ranjangnya menatap lurus kedepan dengan tangan menepuk bokong mungil putranya yang tengah meminum Asi.


Ia juga tak mengurus tubuhnya, matanya sudah begitu lelah dan terus sembab menatap lurus dengan dunianya sendiri.


"A..Aku tak bisa melihat dia seperti itu terus!"


Ratu Lamoria tak mampu melihat Sofea yang sejak kejadian itu tak mau bicara banyak, dia hanya mau mengurung diri di kamar dengan Putranya yang masih belum ada nama, saat ditanya Sofea hanya menyebutkan nama Suaminya dan itu membuat mereka bungkam.


Ratu Rosmeryna pun sangat terpukul, ia beberapa hari ini mencoba untuk berusaha tegar tapi ia juga sudah patah, apalagi Sofea yang pasti sangat terpukul dan tak akan menerimanya dengan mudah.


"Aku..Aku tahu, dia pasti sangat sakit."


"Dia hanya makan sesuap setiap harinya, itupun dipaksa untuk memberi Asi pada putranya, aku takut..aku takut dia malah jatuh sakit, Mery!"


Ratu Lamoria yang mengintip Sofea dari balik pintu kamar, mereka sudah ada di Kerajaan Hangalay yang tak mengharapkan Sofea datang kesini dengan wajah muramnya, tapi apalah daya yang menimpa bencana kehendak Tuhan yang kuasa.


"Noval!"


Mereka yang menatap Renoval yang baru datang setelah beberapa hari ini mengurus Kota Batalion, wajah tampan Renoval hanya memberi senyum singkat melangkah mendekat.


"Salam, Yang Mulia!"


"Hm, bagaimana? apa semuanya baik-baik saja?"


Tanya Ratu Rosmeryna membuat Renoval menghela nafas, ia masih belum memberi tahu jati dirinya tapi Ratu Lamoria dan Raja Hangton sempat terkejut dengan perlakuan Renoval pada Sofea dan saat pengakuan badai itu.


"Yah, semuanya baik-baik saja. pembangunan juga kembali dilaksanakan!"


"A..Apa tak ada yang.."


"Tak ada apapun disana!"


Potong Renoval membuat Ratu Rosmeryna terbungkam, ia sangat berharap ada petunjuk dari masalah ini agar semuanya mempunyai titik terang.


"Dia.."


"Tetap sama!"


Jawab Ratu Lamoria lalu menepuk bahu Renoval dan melangkah pergi, ia tak bisa melihat putrinya seperti itu terus dan tak mau mendengarkan perkataannya.


Ratu Rosmeryna juga melangkah pergi meninggalkan Renoval yang menatap Sofea dengan sendu, ia membawa Paper-bag ditangannya dan ini adalah barang-barang Ardelof dari Kediaman Kakek Brent dan satunya lagi tempat makan.


"Sayangku!!!"


Renoval berusara seceria mungkin melangkah masuk kedalam kamar Sofea yang didekorasi warna putih dan abu karna Sofea sempat menolak dekorasi mewah ceria kamarnya, tentu semuanya tak masalah selagi Sofea aman dan nyaman.


"Pagi, Ponakan Uncel!"


Renoval melangkah kedekat ranjang hingga duduk disamping Sofea yang hanya diam masih menatap lurus kedepan, si mungil itu tampak menggeliat dari pangkuan Sofea yang menutupi dadanya kembali membawa Bayi Tampan ini untuk berbaring dipahanya.


"Fea, aku mau gendong. Ponakanku!"


Renoval mengambil alih Si mungil berwajah imut tapi mata datar menajamnya itu meebuat sudut bibir Renoval terangkat, benar-benar menuruni sifat Ardelof, saat digendong Sofea dia akan melemah sedangkan digendongan orang lain matanya berubah menajam seperti elang kelaparan.


"Hey, lama tak bertemu, Jagoan!"


Putra Sofea hanya diam menatap tak suka Renoval lalu mentap lembut Sofea yang lansung mengambilnya kembali ke gendongannya hingga raut wajah Bayi merah ini kembali seperti semula, tenang dan damai memejamkan netra birunya.


"Kau tak adil, pada kakak! Kakak juga mau menggendongnya."


Sofea hanya membalasnya dengan wajah datar yang membaut Renoval menghela nafas mengusap puncak kepala Sofea yang menatap lama wajah Putranya, hanya dengan ini ia melepas rasa rindunya walau masih belum cukup dan tak pernah cukup.


"Sudah!"


"Tapi, Kakak bawa makanan kesukaanmu!" sendh Renoval dijawab kebisuan Sofea yang asik dengan Dunianya sendiri. karna tak ingin Sofea seperti ini terus Renoval lansung mengeluarkan Kemeja hitam dari Paper-bagnya hingga aroma Parfum khas itu lansung membuat Sofea mengangkat kepalanya menatap arah aroma ini.


"A..Ard!"


Gumam Sofea berbinar melihat Kemeja itu membuat tangannya lansung bergerak bak kesetanan ingin mengambilnya tapi Renoval lansung menjauhkannya membuat wajah Sofea mengeras.


"Berikan!!"


Geram Sofea dengan mata menajam membuat Renoval benar-benar merasakan perubahan wanita ini, Sofea tak lagi bisa berkata lembut jika sudah menyangkut tentang Ardelof.


"Kau makan, baru ku berikan!"


"Kau.."


"Makan, setidaknya demi Putramu!" tegas Renoval membuat Sofea kembali menatap putranya, akhirnya setelah berfikir ia mengangguk tapi tetap meminta Kemeja itu.


"Baiklah, tapi berikan itu!"


"Makan!"


Sofea mengangguk hingga Renoval membuka tempat makananya, ia meletakan Paper-bag itu ke sampingnya lalu mengaduk makanannya, tapi Sofea sudah lebih dulu menyambar Paper-bag itu membuat Renoval menatap tak percaya.


"A..Ard!"


Sofea tersenyum melihat Kemeja hitam yang selalu Ardelof pakai ketika menginap ke Kediaman Kakek Brent, mata si mungil itu terbuka mencium aroma Maskulin ini hingga ia menatap kemeja hitan yang dipeggang Sofea dengan sangat bahagia walau matanya mengembun.


"B..Baby, ini..ini punya Dady, Nak!"


Tangan mungil itu terulur menyentuh kancing kemejanya hingga keduanya asik dengan dunia sendiri, Renoval menghela nafas halus tersenyum kecil mengelus kepala Sofea yang tampak sangat merindukan pria itu.


"Seandainya aku bisa, aku yang akan menggantikanmu, Ardelof!"


Batin Renoval menutup kembali tempat makannya, tak,ada yang bisa membujuk wanita ini makan tak seorang pun kecuali hal yang berhubungan dengan Ardelof dan Putranya.


Tak ingin membuat suasana hati Sofea kembali sendu, Renoval mengemas semuanya tapi meletakan tempat makan itu diatas meja, lalu melangkah keluar membiarkan Sofea larut dengan dunianya sendiri.


Whusss..


Seketika Sofea mematung saat hembusan nafas ini menerpa wajahnya dan Putra Sofea yang mematung melihat kearah samping, keduanya mematung ditempat dengan pikirannya masing-masing.


Perlahan Sofea merasakan pinggangnya menghangat hingga dahi Sofea menyeringit merasakan keberadaan pria itu disini, bahkan aromanya juga sama.


"A..Ard!"


Gumam Sofea menatap kesampingnya, tapi tak ada orang. ia mulai gelisah menatap kesemua arah tapi tak menemukan siapapun hingga Sofea berdiri dengan Bayinya yang ia baringkan keatas ranjang.


"Sayang! Ard!"


Sofea menatap kearah sampingnya, tetap tak ada orang hingga membuat bibir Sofea bergetar berpeggangan ke meja dihadapannya, air mata Sofea kembali menetes mencengkram pinggir meja.


"K..Kau jahat, hiks!"


"Benarkah?"


Degggg...


.....


Vote and Like Sayang..