Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Pergi dari Istana!


Tatanan makanan itu terlihat sangat rapi dan menggiurkan, berbagai jamuan membuat perut bergejolak menarik liur untuk menetes, semuanya dibuat Spesial dan sangat khas untuk Tamu malam ini dan tentu persiapan itu tak sia-sia dilakukan.


Dari hiasan ruang makan Istana yang dibuat secantik dan Seindah mungkin membuat mata semangkin tenang dibuatnya. Ratu Lamoria mengarahkan ketua pelayan Istana ini untuk menambah menu penutup dengan kesukaan Digo.


"Buatkan Puding Coklat satu, ya?"


"Baik, Yang Mulia!"


Kepala pelayan itu pergi hingga ia puas melihat semua ini, para pelayan berderet dibelakang kursi untuk menunggu perintah lanjutan, sementara tatapan datar Sofea sama sekali tak bernafsu melihat berbagai makanan ini.


"Nak, kau suka makanannya?"


"Bu, Putraku pasti bangun! aku ingin melihatnya."


"Nak, disana sudah ada Babysisternya, Ibu yakin Baby Aron belum bangun, hm?"


Sofea mengumpat diam dikursinya, ia hanya memakai Piyama biasanya sangat berbeda saat dikamar tadi, tentu Ratu Lamoria tak bisa melarang Sofea karna itu haknya mau memakai apa.


Namun, saat Sofea sudah bosan menunggu dan ingin berdiri suara diarah pintu sana lansung terdengar lantang.


"Maaf, aku terlambat!!"


Senyum Ratu Lamoria merekah melihat Digo yang sudah tampan dengan Stelan Jas Formal berwarna Toska menambah kesan Dermawan dan manis di wajahnya, Sofea tak melihatnya melainkan ia fokus menatap piring yang tertata dihadapannya.


Digo datang bersama Raja Hangton yang tadi menunggunya didepan hingga ia merasa bersalah pada Sofea yang terlihat masih saja berpakaian seperti itu.


"Apa kau marah?"


Sofea hanya diam membuat Ratu Lamoria lansung mengambil alih.


"Tak apa, Nak! kami memang mengerti kau sangat sibuk, ayo silahkan duduk!"


"Terimakasih!"


Digo ingin duduk di samping Sofea namun ia enggan saat tangan Sofea lansung terpapar diatas permukaan kursi itu menandakan ini tak bisa ia duduki.


"Sofea, kau.."


"Ini tempat Suamiku!"


Mereka akhirnya diam dengan Raja Hangton yang menghela nafas halus, entah mau bagaimana lagi ia membuat Putrinya mengerti.


"Emm, Baiklah! aku duduk disini saja."


"Kau mau makan apa?"


Ratu Lamoria melayani dengan baik seraya menatap Sofea penuh isyarat untuk mengambilkan makanan ke piring Digo, tapi Sofea hanya acuh mengambil makanan untuknya sendiri dan memakannya hingga Digo tersenyum halus.


"Yang paling Spesial disini, Bu!"


"Baiklah, Sofea bisa ambilkan itu yang.."


Sofea menyudahi makannya dan ingin pergi hingga bentakan Raja Hangton lansung membuat ia terhenti.


"Sofea!!!"


Degg..


Ratu Lamoria terkejut melihat suaminya mulai habis kesabaran hingga sampai membentak Sofea yang hanya diam dengan kedua tangan terkepal.


Raut wajah Raja Hangton sudah mendidih menatap Sofea murka, dengan cara halus dan lembut Sofea juga tak luluh membuat semuanya kacau.


"Jaga sikapmu!"


"A..Ayah, sudahlah dia.."


"Lihat, dia sama sekali tak masalah dengan semua yang kau lakukan padanya, dan kau apa, ha?"


Digo menatap Sofea yang berbalik memandangnya dengan angkara murka yang nyata, terlihat raut kebencian yang tak bisa dijabarkan sama sekali dari wajah Sofea.


"Ayah hanya ingin kau mengerti, sudah cukup menyiksa dirimu sendiri, Nak!"


"Aku yang tak mengerti atau kalian yang EGOIS?"


Raja Hangton terdiam berdiri hingga mereka semua berdiri, Digo merasa bersalah hingga ia ingin meminta maaf tapi keberaniannya ciut melihat mata Sofea yang tak bersahabat.


"Jawab aku!"


"Ayah hanya ingin kau bangkit, Sofea yang ceria, Putriku yang manja dan tak pendiam! Ayah sakit melihatmu seperti ini terus, Nak!"


"Tapi, kau tak mengerti! aku semangkin sakit jika kau menyuruhku melupakan Ardelof."


Geram Sofea membuat hati Raja Hangton teriris, tak ada embel Ayah atau sebagainya Sofea berucap selayaknya Sebaya. sungguh itu semua membuat mereka sesak.


"Baiklah, tak usah melupakannya tapi Ayah mohon cobalah berteman dengan Digo."


"Sofea akan ikut denganku!'


Suara itu membuat mereka lansung menatap kearah pintu, yah, Renoval telah berdiri kekar disana dengan raut tak bersahabatnya menatap mereka semua, melihat itu Sofea lansung mendekati Renoval yang mengulur tangannya menggenggam tangan Sofea.


"K..Kau.."


"Dia akan tinggal bersamaku!"


Raja Hangton dan Ratu Lamoria terkejut bukan main, pikiran mereka melayang soal hubungan Renoval dan Sofea yang terlihat sangat dekat, bahkan Sofea berani memeluk Renoval yang juga mendekapnya mesra.


"K..Kalian.."


"Dia kekasihku!"


Duarr..


Digo terlonjak kaget hingga ia tak mampu berdiri hingga terduduk di kursi makan menatap Sofea yang terlihat sangat intim, Raja Hangton tak mampu bicara selain menunjukan kepucatan dari rautnya.


"K..Kekasih?"


"Yah, Ardelof menginginkan aku menjaga Sofea dan aku rasa tak ada yang pantas baginya."


Tegas Renoval menatap Digo yang termenung diam, harapannya seketika hancur menatap Sofea dengan lemah dan raut kekecewaan yang kuat, tapi Digo tersenyum kecil berdiri dengan raut biasanya.


"Baguslah, kalau Yang Mulia Putra Mahkota Ardelof memilih anda, karna saya tahu anda Pria yang bertanggung jawab!"


"Hm, aku ingin dia kembali ke Istana. malam ini juga!"


"Kau tak bisa membawanya!"


Raja Hangton berdiri menatap Renoval dengan tajam, tapi Renoval sudah merencanakan ini dengan Sofea sedari siang agar Raja Hangton tak kekeh menjodohkan Adiknya.


"Kenapa?"


"Aku tak percaya padamu, Ardelof tak mungkin menitipkan Sofea padamu sedangkan kami masih ada,"


Renoval tersenyum kecut menatap Sofea yang juga memandangnya lembut hingga semua itu terlihat intim menyapa mata mereka terasa sangat tak mungkin Sofea bisa melupakan Ardelof secepat ini.


"Ardelof sendiri sudah meyakinkan Istrinya soal tanggung jawabku, mulai sekarang dan seterusnya Sofea adalah Hak ku."


"Tidak, kau.."


"Ayah, aku ingin tinggal bersama. Noval!"


"Pergilah!"


"Ayah, aku hanya.."


"Pergilah, kemana yang kau mau."


Jawab Raja Hangton lalu melangkah pergi hingga membuat Ratu Lamoria menangis, Digo pun tak bisa berkata banyak selain diam seribu kebungkaman.


"Ibu, aku.."


Ratu Lamoria juga pergi hingga membuat Sofea menatap nanar mereka semua, apa ia salah jika harus memilih jalan sendiri? ia meneriakan kalau Ardelof masih hidup tapi mereka tak percaya dan tak mau percaya.


"Hey!"


Digo mendekat melihat mata Sofea berkaca-kaca menatap kepergian Kedua orang tuanya, satu hari ia disini terasa sangat singkat dengan kenyataan yang ia lihat.


"Aku akan mengurus mereka, kau tenang saja!"


"Kau! Kenapa kau datang kesini, ha? kau membuat semuanya runyam!!!"


Geram Sofea pada Digo yang merasa ditikam, rasanya sakit tak tergambarkan tapi, ia paham itu karna Sofea merasa terganggu dengan kedatangannya.


"Ayahmu yang memintaku untuk mendekatimu, tapi aku mohon, tak bisa jadi Pendamping, jadikan aku teman atau..atau pelayanmu itu sudah sangat berharga, bagiku."


Niat tergambar di mata Digo sangatlah tulus membuat Renoval terdiam sesaat, ia memang teringat jika bocah ini ada hubungan dekat dengan Keluarganya di Asia.


"Kembaliah ke Negaramu! kau pikirkan harga dirimu."


Geram Sofea lalu melangkah pergi menuju kamarnya dengan pelayan yang Renoval isyaratkan untuk membantu Sofea berkemas, sementara itu ia tinggal menatap Digo dengan datar.


"Pasti Putra Mahkota sangat beruntung mendapatkannya."


"Kau mencintainya?" tanya Renoval datar.


"Kalau bisa, Iya! tapi bagaimana bisa, Tuan! pertama bertemu saja dia sudah seakan mencekikku."


Digo masih bisa bersenda gurau walau kepahitan itu ia rasakan, kekehan dimulutnya hanya menutupi wajah kecewa itu.


"Dia hanya tak mau membuka cela!"


Lirih Renoval yang tahu akan sikap kasar Sofea hanya menutupi dirinya sendiri.


"Aku tahu, tapi aku akan berusaha.."


Mata Renoval kembali menyala membuat Digo mencengir menggaruk tengkuknya.


"Maksudku berusaha menjadi teman, kau terlalu sensitif, Tuan!"


"Jaga batasanmu."


Digo mengangguk bersikap biasa terlihat tak masalah, bahkan ia menunggu Sofea agar bisa membantu wanita itu berpindahan.


Sementara Renoval, ia membuat Rakyat Alison ikut bermain dalam hal ini untuk menyiapkan penyambutan bagi Sofea saat pagi nanti, tentu semua itu akan sangat meriah karna karena tadi Sofea mulai berkomunikasi pada Petinggi Kerajaan untuk kembali menjalankan Roda Pemerintahan.


"Kak!"


Sofea yang sudah selesai lansung turun dengan Baby Aron digendongannya, memang ia merasa sangat jahat pada kedua orang tuanya tapi, Sofea tak mau berlama-lama disini jika hanya memperburuk Suasana.


"Sudah selesai, hm?"


"Sudah, tapi Ayah dan Ibu se.."


"A..Apa?"


Digo yang tadi sedang asik mengicip Puidng yang baru matang lansung mendekati Sofea yang membelo jengah.


"Maaf, aku tadi mau membantu."


"Tidak usah!"


"Biarkan saja dia menangani Ayah dan Ibu!"


Akhirnya Sofea mengangguk dengan ucapan Renoval hingga mereka melangkah pergi ke luar bersama para Pelayan yang mengiringnya, sementara Digo membuntuti dari belakang.


Baby Aron membuka matanya saat merasa ada yang membentengi tenpat ini, wajahnya pun mulai merasa ada aura yang tak bersahabat datang ketempat ini.


"Kenapa, hm?"


Tanya Sofea menatap wajah merah putranya yang terlihat tak nyaman, ia juga tersigap saat merasa ada yang seakan membentengi Istana ini agar mereka tak pergi.


"Ayah!"


Gumam Sofea menghela nafas halus, pasti sekarang Ayahnya tengah dilanda amarah dan rasa sakit hingga tak mau bicara tapi ia melayang dengan melindungi pintu utama agar ia tak pergi.


"Kak, Ayah akan sakit hati jika kita pergi dalam keadaan begini."


"Biarkan saja, ada Ibu bersamanya!"


Ucap Renoval tanpa didengar Digo yang asik melihat Istana Hangalay yang megah, tapi ia mencuri-curi pandang pada Bayi mungil Tampan itu.


Whusss,..


"Uhukk"


Digo terbatuk saat ada yang menyerangnya hingga ia berpeggangan ke dinding disampingnya, dadanya terasa nyeri seperti diberi bongkeman mentah seseorang.


"Sial!! nyamuk di Istana ini memang sangat besar."


Gumam Digo mengelus dadanya yang sakit, ia melihat Para petinggi Kerajaan mengantar Sofea keluar bersama Panglima Elianter dan bawahannya, tak lupa penjagaan dari pengawal yang tak ingin Putri Kerajaan ini terluka.


"Kami akan mengantar anda sampai ke Bandara, Yang Mulia!"


"Tak usah, jaga saja Ayah dan Ibuku."


Ucap Sofea tapi mereka tak merespon karna mereka dititahkan sediri oleh Yang Mulia Raja Hangton untuk mengantar Putrinya dengan selamat ke tempat tujuan.


Dan yah, sekuat apapun Raja Hangton ingin marah tapi ia tak bisa melihat Sofea marah padanya, ia sendiri merasa benci karna membentak putrinya.


"Aku Ayah yang tak berguna."


Gumam Raja Hangton menatap dari atas Balkon kamarnya, Iring-iringan Istana mengawal Sofea menuju Mobil hingga rasanya ia tak tahu harus apa.


"Sudahlah, kau sudah cukup melakukan yang kau bisa! biarkan dia memilih, lagi pula dia sudah Dewasa."


Ucap Ratu Lamoria mengelus punggung suaminya, ketakutan Raja Hangton membuat jarak antara ia dan Sofea yang sangat dicintainya, putri satu-satunya dan begitu ia manjakan.


"Kalau aku bisa, akan menggantikan Ardelof agar dia tetap bahagia. Ria!"


"Hm, pasti Tuhan punya cara lain, hm? kita lindungi dia dari apapun dari sini."


Akhirnya Raja Hangton menyerah, tapi ia sudah memberi pesan pada Digo agar tetap menjaga Putrinya karna hanya Digo yang menurutnya mampu menjalankan tugas ini.


........


Vote and Like Sayang..