Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Bocah tak tahu di untung!


Raut wajah datar itu lansung menatap kearah cermin dihadapannya, dahinya menyeringit melihat matanya serta pahatan yang begitu tampan tapi ada raut aneh yang terpancar saat terbayang wajah cantik itu.


"K..Kau siapa?"


Gumamnya mencengkram pinggir Wastafel yang ia genggam dengan kuat, kenapa ia merasa wanita itu sangat dekat dengannya? kenapa ia begitu sangat tertarik padanya.


Karna tak kunjung mendapat jawabannya ia lansung meninju Cermin dihadapannya.


Brakk...


"Sial!!!! Brengsek!!!"


Teriaknya memaki dirinya sendiri, ia mencengkram kepalanya kuat dengan punggung tangan yang sudah melelehkan darah yang kental, matanya sudah merah menggenang wajah itu yang baru saja mengotak-atik kepalanya.


"Kau..kau..Milikku, kau.. kau aku..aku menyayangimu, aku..aku mohon.."


"Tuan!!"


Teriak Asisten Kai lansung menerobos masuk ke dalam Kamar Mandi Tuannya hingga ia menatap nanar Tuannya yang sudah meringkuk disudut sana dengan keadaan yang kembali sama saat ia kembali mengingat sesuatu.


"A..Aku..jangan..jangan ambil dia.. dia.."


"Tuan, sadarlah!"


Asisten Kai lansung menelfon Dokter Khusus bagi Tuannya yang kembali Kambuh dengan penyakitnya, kalau sedang seperti ini ia tak bisa berbuat banyak selain menunggu Dokternya datang.


Pria itu terus membekap telinganya yang mendengar suara riuh yang teramat melengking, dentingan pedang dengan suara teriakan yang teramat keras memecah telinganya, tapi ia hanya ingin menangis tak rela tapi ia tak tahu ini apa.


"J..Jangan..jangan am..ambil dia, jangan..j..jangan.."


"Maaf, Tuan!"


Asisten Kay dengan wajah khawatir dari pahatan wajahnya yang bak orang Barat asli itu lansung mengambil Jarum untuk melakukan Injeksi, ini sudah biasa ia lakukan saat Tuannya kembali menjadi berbeda.


......


"Akhs, s..sayang."


Sofea mendesah halus mencengkram pinggir Meja kerjanya dengan suara lemahnya yang tak berhenti meloloskan suara kenikmatan yang sangat membakar darah Ardelof yang telah mendidih.


Ia sibuk menjilati bagain merah muda yang sangat segar merekah ranum membuat ia lapar dan kehausan terus menegguknya penuh keliaran membuat Tubuh Sofea lansung melenting keras menatap berat Ardelof yang juga sudah memburu panas.


"S..Sayang aku..aku mohon!"


Ardelof mengangkat kepalanya dari bagian Inti permianan itu lalu menatap Sofea yang sudah polos karnanya, sudah lama mereka bermain tapi masih saja belum puas mencoba berbagai Fantasi Estetik.


Posisi Tubuh Molek Sofea yang sudah pasrah terlentang diatas mejanya dengan kedua paha agak membuka memberikan akses pada Ardelof yang sudah tak bisa menahan geburan hasratnya.


"Ard,"


Panggil Sofea berat saat Ardelof malah sibuk menatap Tubuhnya yang sudah lembab terus dijelajahi mulut pria ini, senyum nakal Ardelof muncul saat melihat Gunung kembar Istrinya yang sudah merah akibat permainan liarnya yang seakan melahan semua keindahan ini.


"Mau posisi seperti apa?" tanya Ardelof nakal membuat wajah Sofea bersemu menutup wajahnya dengan Dokument disampingnya, sungguh wajah merah panas Ardelof dengan keringat yang menyuri otot dada yang sangat Atletis itu sangatlah menggiurkan. Ardelof hanya memakai Kemejanya saja itupun kancingnya sudah terbuka semuanya hingga Tubuh kekar nan Perkasanya tampak sangat Sexsi dengan rambut acak-acakan oleh tangan Sofea membuatnya malu sendiri.


"Ard, jangan menatapku begitu."


"Kau mau mencoba hal baru, hm?"


Dahi Sofea menyeringit menatap Ardelof yang menyeringai membuat ia menegguk ludahnya kasar, kalau sudah begini maka Ardelof pasti punya sesuatu yang sangat gila untuk dilakukan, apalagi tubuhnya sudah lunglai sedari tadi digempur tapi ia masih ingin saat melihat pusaka bertuah itu kembali menantang.


"Sayang, jangan yang aneh-aneh."


"Tidak!"


Jawab Ardelof serak mengangkat tubuh Sofea yang berkoala ke pinggangnya menuju Toilet hingga mata Sofea terbelalak melihat melihat apa yang ada didalam sini.


"Ard!!! kau..kau gila."


"Aku memang sudah gila, hm?"


Ardelof melangkah masuk mengunci Pintu Toilet dimana ruangan ini sangat luas ada Wastafel, tempat Shower dan Bathube, tapi jangan salah diruang sebelah kiri ada Kolom renang yang menghubungkan daerah luar hingga Sofea lansung menatap Ardelof yang sudah sangat tergesa.


"Sayang, aku sedang hamil! aku tak mai melakukan Posisi aneh-aneh."


"Sama sekali tak aneh!"


Jawab Ardelof menurunkan Sofea kepinggir Kolam yang dilapisi Matras yang lembut hingga keduanya lansung duduk berjuntai kaki kedalam Kolam hingga senyum Sofea mekar melihat bunga-bubga mawar indah ini mewarnai air birunya.


"Ada Bebeknya juga, Sayang!" mengapai Mainan Bebek karet disampingnya.


"Hm, kau mau bermain?"


"Main Bebek?" tanya Sofea yang agak bingung, Ardelof mengangguk masuk duluan kedalam Kolam hingga Sofea hanya mengayun-ngayunkan kedua kakinya mengacak air.


"Ayo turun."


"Sayang, aku bisa naik sendiri!"


Ardelof hanya diam memasangkan Mainan Karet itu ke tubuh Sofea yang dilengkapi keamanan, semuanya sangat lembut tak melukai sama sekali sesuai Persiapan Ardelof sebelumnya.


"Sayang, kau mau berenang, ya?"


Jawab Ardelof singkat tapi ia sudah melepas Kemejanya hingga ia menarik kedua kaki Sofea yang ada diatas Bebek bulat ini keatas bahunya membuat Sofea agak terhuyung kebelakang hingga Posisi bokongnya agak mengangkat membuat Sofea bingung.


"Sayang, aku bukan ayam! aku mau main i.. Ard!!!!"


Teriak Sofea keras saat Ardelof sudah memasukinya membuat mulut Sofea terperangak memeggang pinggir Boyah ini dengan Ardelof yang sudah menggeram merasakan sensasi yang membuat ia mendesis merasakan pijatan dinding ketat ini menyatu dengan endapan air Kolam.


"S..akhhs, Ard!!"


"Berteriaklah kencang!"


Sesuai keinginannya Sofea memang tak bisa menahan suaranya yang meraung keras saat pompaan ini seakan menghujam dalam batinnya, ia terus menyuruh Ardelof untuk berhenti tapi itu hanya kata-kata yang tak sejalan dengan tubuhnya yang melayang.


"Ard!!! Pe..Pekerjaan ku banyak!!!"


Ardelof hanya tersenyum lepas menggeleng merasakan ini sangatlah membakar tubuhnya, ia tak bisa bermain lamban sedangkan tubuhnya sudah melabung tinggi ke awang sana.


"Asss, shitt.. Lebih keras!!"


"Bocah!!!!"


Suara diluar sana membuat Ardelof lansung mengumpat tapi ia tetap melanjutkan permainannya sampai pada puncak yang menggebu membuat ombak di air ini menggebu lansung menelan suara Sofea yang sudah serak menjerit sedari tadi.


Setelah beberapa lama mereka bertempur tak memperdulikan suara geram diluar sana hingga Ardelof menyudahi kegiatannya.


"A..Ard!"


Sofea memburu dengan dada naik turun dan wajah yang basah akibat air yang menjiprat dahsyat, wajah Ardelof berbinar terang menarik Sofea ketepi membuat nafas wanita itu benar-benar sesak.


"K..Kau..Kau menyebalkan!" Sofea menepuk bahu Ardelof yang terkekeh kecil, sayangnya ini sangat singkat membuatnya tak leluasa melakukan Permaiananya.


"Bocah!!!!"


"Sayang, itu siapa?"


"Abaikan saja!"


Jawab Ardelof naik kepermukaan seraya duduk ditepi Kolam dan mengangkat Sofea ke pangkuannya, ia menggapai Handuk diatas Kursi disampingnya seraya berdiri menggendong Sofea menuju Shower dengan pangilan bariton diluar sana.


"Apa aku menyakitimu dan Baby?"


"Tidak, aku hanya sedikit terkejut!" Cengis Sofea memeluk Ardelof yang mendudukannya di kursi dibawah Shower karna tungkainya sudah gemetar, Ardelof membersihkan diri mereka berdua dengan telaten dengan Sofea yang hanya pasrah saat tubuhnya disabuni dengan lembut, tak hayal Ardelof memijat pinggangnya yang nyeri hingga ia tersenyum kecil berpeggangan ke pinggang Kekar Ardelof.


"Sayang."


"Hm?"


"Kau tak lelah?" tanya Sofea mengadah saat Ardelof mengkeramasi rambut panjangnya, ia heran kenapa Ardelof tak pernah lelah dan raut terpaksa itu tak juga ia lihat.


"Tidak, kenapa?"


"Em, kau minum obat, ya?"


"Obat apa?"


"Penguat, buktinya ini bisa sebesar.."


Plapp..


"As!!"


Sofea meringis memeggangi dadanya yang ditepuk Ardelof karna kesal, apalagi ia gemas melihat dua benda sintal ini begitu menggiurkan menggantung sekang.


"Sayang, kau sangat menyebalkan!"


"Hilangkan pikiran kotormu!"


"Apanya? aku kan hanya menebak, habisnya kau tak pernah lelah. ini saja masih .. teggang."


Ciut Sofea diakhir kalimatnya saat bagian Inti ini sudah menyapa wajahnya, sungguh Ardelof benar-benar menahan agar tak melanjutkan karna suara yang sangat ia kenal itu sudah terdengar sedari tadi.


"Hm, Aku tak ingin menganggumu disini!"


"Aku tak percaya, nanti pasti kau akan membuat suaraku hilang lagi." Ketus Sofea mengkalungkan kedua tangannya keleher Ardelof yang memasangkan Bathrobe dan handuk ke kepala Sofea lalu bergantian dengan dirinya tapi ia tak mengijinkan Sofea untuk membantu.


Tok..Tokk..


"Siapa?"


Tanya Sofea karna sedari tadi bersuara, ia menurut saat Ardelof menggendongnya untuk keluar kamar mandi hingga mata Sofea sangat penasaran mencari siapa yang mengganggu sedari tadi.


Kret..


"Bocah tak tahu diuntung!"


Degg..


.....


Vote and Like Sayang.,