
Jari-jari lentik itu lansung bergerak menggenggam satu pena yang menciptakan goresan tinta di atas kertas polos yang telah separuh teirisi kata-kata yang sangat bermakna dalam, mata indahnya sangat berkonsentrasi seraya menatap keluar kelangit sana.
Ia tengah duduk diatas Sofa diatas Balkon dengan penerangan yang sangat cukup membantunya dalam menulis inspirasi membuat sebuah Lagu, menyatukan irama dan nada yang ia buat sesuai dengan suasana hatinya sekarang.
"Hm..hm.. na..na.."
Gumam Sofea mengalunkan sebuah nada berirama santai diawal dan memiliki alunan yang merdu, ia butuh satu inspirasi lagi hingga satu Irama dari Libreto naskah lagu yang ia buat jadi dengan sempurna.
Begitu sibuknya dengan Dunia sendiri, Sofea tak tahu kalau Ardelof yang baru saja masuk kekamar setelah keluar dari ruang kerjanya itu sedari tadi menatap Istrinya dari kejahuan, ia sangat jengkel wanita itu kalau sudah bergelut dengan buku dan pena maka akan lupa waktu dengan sendirinya.
"Apa aku tambah ini saja, ya?"
Sofea bicara sendiri mengkoreksi tulisannya, memang ia butuh Inspirasi yang lebih mendalam agar nanti emosi dalam setiap bait yang ia tulis bisa bermakna dalam.
Sofea seketika berfikir, ia bisa membawa rancangannya ke Lest Musik yang tadi ia lihat. walau Ardelof masih belum membuka suara atau Izin, Sofea hanya mengantisipasi kalau nanti Suaminya mengizinkan untuk bekerja.
"Ehm.."
Ardelof berdehem tapi Sofea malah memasang Digital Record ditelinganya hingga ia tak mendengar itu, apalagi ia sudah terlalu fokus sampai tak melihat kanan-kiri ada orang atau tidak.
"Jadi kalau misalnya ini aku.."
"Ehm!!"
"Eh!"
Sofea terlonjak kaget saat suara deheman Ardelof sedikit meninggi hingga membuat ia sadar tertarik ke Dunia nyata, wajah Ardelof tampak berubah datar dengan kedua tangan berlipat didada seraya memeggang selimut dengan tubuh bersandar di pembatas Balkon. terlihat sekali wajah kesalnya saat Sofea tak perhatian seperti itu.
"Sayang, kau sudah selesai?"
"Hm, dan kau tak tahu!" suara Ardelof masam membuat Sofea mencengir menepuk tempat disampingnya hingga dengan lunglai Ardelof melangkah duduk disana, lalu membalutkan Selimut tebal yang ia bawa ke tubuh Sofea karna cuaca mulai dingin.
"Maaf, aku baru saja mengerjakan, Libreto naskah laguku!"
"Hm."
Acuh Ardelof bersandar ke punggung Sofea dengan kedua kaki bertopang akuh dan satu tangan bersandar ke atas Sofa dan satunya lagi mengetuk peggangan Sofa seraya membuang muka tak mau memandang Sofea yang tersenyum geli.
"Ada yang merajuk, Baby?"
"Siapa?"
"Emm, Entahlah. tapi menurut Momy dia pengganggu waktu kita!"
Ardelof bertambah jengkel mendengar ucapan Sofea yang mengelus perut datarnya, terkadang rasanya sangat sulit mengacuhkan wanita ini walau ia ingin.
"Dadymu sedang Mode masam."
"Kau jangan menjelek-jelekan aku!" sambar Ardelof menyentil kening Sofea pelan dengan suara datarnya tapi terselip nada jengkel.
"Apanya, Sayang? aku sedang mengajarkan Putra kita agar nanti dia menjadi anak yang berguna bagi nusa bangsa."
"Kau pikir ini lagu Nasional? selalu menulis Naskah kau sampai berubah menjadi Comopser!" ketus Ardelof sinis seakan mengatakan Sofea adalah pembuat lagu dengan nama Composer.
"Baby, kalau besar nanti jangan jadi seperti Dady, hm?"
"Kauu!!"
"Dadymu itu Galak, dia suka marah-marah tak jelas lalu Monsnter Pencemburu."
"Ohh, kau berani mengatai suamimu sendiri, ha?" Ardelof menatap menyelidik Sofea yang masih saja ingin menggoda Ardelof yang terpancing.
"Iya, kau memang Galak bukan? kalau kau marah mata birumu itu seakan mau meneggelamkan lautan, jadi Sayang! aku mengajarkan hal-hal yang baik." Sofea berucap sambil terkikik.
"Jangan dengarkan, Momymu! dia ini suka menyihir dan merubah seseorang, kau hati-hati dengan Nenek sihir satu ini."
"Ehhh, tidak. Baby! Dadymu itu selain Galak dia suka berbohong! dia pembohing sejati. dan ..Aaaard!!!"
Sofea terpekik diakhir kalimatnya saat Ardelof lansung menggelitikanya hingga ia meliut kegelian diatas Sofa sana menghindari tangan Ardelof yang menggelikan hingga tawanya pecah.
"Aaadr!!! haha..Aku..aku mohon.."
"Apa? kau masih mau, hm?"
"T..tidak.. aku..aku .."
Sofea ngos-ngosan memeggang tangan Ardelof yang masuk kedalam sela bajunya hingga ia bisa merasakan tubuh Sofea bergetar karna tertawa kegelian membuatnya nyaman mendengarnya.
"Sayang, sudah! aku..aku susah bernafas!"
"Cih, tadi kau sok kuat, Nona!" Ucap Ardelof menarik Sofea kepelukannya dengan kepala wanita itu tersandar ke dada bidangnya dengan nafas Sofea yang perlahan membaik.
Lama keduanya terdiam menikmati kehangatan ini dengan satu tangan Ardelof membelai kepala Sofea lembut sesekali mengecupi puncak kepala wanita itu penuh cinta dengan tangan satunya lagi dimainkan oleh jari-jari lentik Sofea.
"Sayang."
"Hm? ada apa?"
"Bagaimana yang tadi?" tanya Sofea mengadah menatap Ardelof yang tampak berwajah datar namun tak ada raut marah dari wajah tampannya.
"Kau begitu ingin bekerja?"
"Bukan bekerja yang tak berhasil, Sayang! aku hanya mau punya kegiatan setidaknya aku tak bosan jika menunggumu pulang."
Ardelof menghela nafas, ia sudah sedari tadi berfikir bagaimana memenuhi Permintaan Sofea? sedangkan bisa saja nanti akan banyak bahaya yang datang. tapi Ardelof tak ingin Egois, ia paham jika Sofea punya keinginan dan ia rasa ia tak bisa mengekang wanita ini.
"Kau mau bekerja dimana? aku bisa meletakanmu kedalam Agensi ternama di Negara ini dan.."
"Ard, aku mau mulai dari yang Nol! aku sudah mencarinya dan aku rasa Tempat yang tak jauh dari Istana ini cocok denganku yang punya kelainan ini." jawab Sofea menyambar, ia tak ingin Ardelof ikut campur dalam pekerjaannya karna ini urusannya sendiri.
"Kau yakin?"
"Hm, besok akan ku antar kesana!"
"Tidak usah, aku pergi bersama Quxi saja! kau kan Sibuk besok, Ard!"
Ardelof hanya mengangguk, tapi Sofea agak aneh tak biasanya Ardelof hanya mengangguk tanpa ada bantahan. tapi ia senang karna besok ia sudah bisa bekerja.
"Tapi setelah itu, apa kau mau bertemu Kakek dan Nenekku?"
Degg..
Sofea lansung tercekat, dari suara Raja Petratolison dan Ratu Rosmeryna saja ia sudah berfikir dua manusia itu pasti akan menyudutkannya. latar belakang keluarga Alison memang sangat menyeramkan.
"Apa kau mau?"
"Aku mau, tapi mereka tak akan memakanku, kan?"
Pertanyaan Sofea benar-benar membuat Ardelof tersenyum kecut, terkadang wanita ini berubah menjadi Ratu Bijaksana lalau berubah menjadi anak-anak dan sekarang ia menjadi bocah 7 Tahunan.
"Aku yang akan memakanmu!"
"Tapi.."
Sayangnya Ardelof sudah lebih dulu menarik Sofea kedalam dekapannya hingga ia lansung menggendong ringan wanita itu menuju ranjang, senyum mesum Ardelof membuat Sofea malu hingga pria itu melemparnya pelan keatas ranjang empuk ini.
"Ard, jangan menatapku begitu!"
"Aku ingin merasakannya lagi!"
Sofea bersemu menarik bantal hingga menutupi wajahnya sendiri, ia sudah menduga Pria ini akan meminta Haknya setiap 2 kali sehari atau jika ia tak hamil maka Ardelof bisa menggila lebih dari itu. setiap waktu luang akan terisi dengan kehangatan dari keduanya.
Drett..
Ardelof mengumpat saat ia sudah ingin mengungkung tubuh Istrinya tiba-tiba Ponselnya berdering, dengan kelam Ardelof mengangkatnya seraya duduk ditepi ranjang dengan Atasan yang sudah terbuka, tentu Sofea tak pernah tahan dengan Tubuh Atletis suaminya hingga ia mendekap dengan hangat dari belakang kedua kakinya berkoala ke pinggang Ardelof yang menelfon.
"Yang Mulia!" .
"Kau ingin mati, ha?"
"Ma..Maaf, tapi dua pelayan Istana ditemukan tak bernyawa didekat Taman!"
Ardelof lansung terdiam menjauhkan Ponselnya dari Sofea, menurut laporan Klannya bahwa di Istana selalu ada seulat bayangan hitam yang beraktifitas jika dimalam hari. bayangan itu sangat mirip dengan Klan Black Clover tapi ia masih akan menyelidiki orangnya.
"Hm, kau urus saja."
"Baik!"
Ardelof mematikan sambungannya, ia punya satu duggaan tapi ia masih harus mencari kenyataan karna orang yang ia curigai bukanlah orang biasa dan itu sangat berpengaruh.
"Sayang, apa ada masalah?"
"Tidak, apa kau mau tidur duluan?"
Sofea merenggut memeluk erat Ardelof yang sebenarnya ingin melanjutkan tapi ia harus cepat menangani ini selagi belum menyerang Sofea.
"Tapikan tadi kita mau itu, Sayang!"
"Apa kau juga mau?"
"Haiss, terserah kau saja! pergilah, sana!"
Sofea lansung melepas pelukannya lalu masuk kedalam selimut, bisa-bisanya Ardelof memberinya harapan palsu, padahal tadi ia sudah bersemangat untuk berbagi malam ini.
Melihat itu Ardelof tersenyum lembut, niatnya ingin pergi tak jadi terlaksana karna ia juga menginginkannya malam ini. setidaknya dinihari nanti ia bisa mencari semuanya tapi yang jelas Istrinya harus tidur lebih dulu.
"Hey, kau marah, hm?"
"Tidak, hanya kesal!"
Gumam Sofea memejamkan matanya mencoba tidur tapi sayangnya Ardelof lansung melepas semua pakaian yang membalut tubuh kekarnya hingga ia masuk kedalam selimut memeluk Sofea posesif.
"Aku suka Aroma Tubuhmu!" .Ardelof berbisik nakal menjelajahi leher Sofea yang menyunggingkan senyum gelinya, entahlah ia sangat liar akhir-akhir ini hingga hasratnya melambung tinggi.
Satu tangan Ardelof yang tadi membelit pinggang Sofea lansung naik menggerayai bagian empuk itu membuat Sofea tak tahan untuk diam, ia mulai menggeliat menoleh menatap Ardelof yang juga menatapnya berat dengan jarak wajah sehelai kertas memberi rasa panas.
"Aku yang memimpin."
Cup..
Sofea menyambar bibir Ardelof yang tersenyum kecil terbaring pasrah membiarkan Sofea memberikan Servis terbaiknya, ia tambah mabuk akan pesona wanita ini yang mampu membuat batin dan fisiknya selalu terbang begitu saja.
Ardelof tak pernah tahan akan pijatan lebut itu hingga ia terus merasa Spesial dilayani dengan sangat baik, semangkin hari Sofea selalu memanjakannnya dengan permainan yang selalu diluar batas akal sehatnya hingga ******* kecil itu terus meraung keras dengan erangan penuh kenikmatan itu.
Keduanya berbagi kehangatan dengan Panorama Cinta yang teramat dalam, Ardelof tak sanggup untuk menahan suara paraunya yang selalu menyebut nama sang Istri yang sudah menerbangkannya ke langit ke 7 sana.
"Ouss shhitt, Sayang!"
Keduanya larut sampai tak mengindahkan aura yang mulai menyeruk, Ardelof sadar ada yang ingin menyerang tapi ia tetap memberi pagar pembatas di wilayah ini agar semuanya tak terganggu.
Lurmuan darah itu menyelumbungi tangan lentiknya yang tengah berdiri diluar Gerbang Istana, matanya berubah merah dengan taring yang mulai muncul tapi kali ini wajahnya sangat menyeramkan dibaluti jubah hitam itu.
Rasa panas didadanya tak terjabarkan membakar habis akal sehatnya, ia merasakan jelas bagaimana bahagianya sepasang Insan itu diatas Penderitaannya.
"Nikmatilah, sampai air mata darahpun aku tak akan mengampuni Kalian."
....
Vote and Like Sayang..